Waktu Itulah Orang Mulai Memanggil Nama Tuhan (Kej. 4:26) (Bagian 2)

Posted on 26/08/2018 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/waktu-itulah-mulai-memanggil-nama-tuhan-kejadian-4-26.jpg Waktu Itulah Orang Mulai Memanggil Nama Tuhan (Kej. 4:26) (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 19 Agustus 2018)

Para penafsir modern mencoba menilai perbedaan ini sebagai sebuah kontradiksi. Mereka meyakini bahwa teks-teks yang berkaitan dengan permulaan penyebutan nama “TUHAN” berasal dari tradisi yang berbeda dan saling bertentangan. Bagaimanapun, pendapat ini sulit untuk dipertahankan. Seandainya teks-teks tersebut memang bertentangan, maka orang-orang Yahudi sejak dahulu pasti sudah mengetahui dan mengubah semua itu agar terlihat harmonis. Kita sebaiknya menerima teks apa adanya dan berusaha mencari sebuah solusi yang mendapat dukungan dari teks.

Sebelum menyelidiki Kejadian 4:26 dan Keluaran 6:2 secara detil, ada dua hal yang perlu dipahami terlebih dahulu. Yang pertama adalah konsep orang Yahudi tentang nama. Bagi mereka, nama bukan hanya berfungsi sebagai panggilan, seperti orang modern memahaminya. Nama bagi mereka merupakan ekspresi dari kepribadian, misalnya Nabal berarti “bodoh” (1Sam 25:25). Tidak heran, perubahan nama dilakukan pada beberapa orang yang telah mengalami perubahan karakter. Contoh: nama “Yakub” yang berarti pemegang tumit (Kej 25:26) diganti dengan “Israel” yang berarti bergumul dengan Allah (Kej 32:28). Perubahan nama Yakub ini menandai fase penting dalam hidupnya. Ia dahulu selalu berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya sudah dijanjikan Allah (Kej 25:23), misalnya memperdayai kakaknya untuk mendapat hak kesulungan (Kej 25:29-34) dan menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat (Kej 27:1-29). Setelah peristiwa perubahan nama di Kejadian 32, Yakub tidak lagi menipu atau memperdayai orang lain. Dalam bagian lain Alkitab, nama Allah seringkali dipakai untuk mewakili seluruh Pribadi Allah. Hal ini tercermin dari ungkapan seperti larangan untuk menyebut nama Yahweh dengan sembarangan (Kel 20:7; Im 24:16; Ul 5:11), pujian untuk nama Yahweh (Mzm 17:18; 113:1). 

Hal kedua yang perlu dipahami adalah konsep orang Yahudi tentang mengenal Allah. Dalam Perjanjian Lama (sekitar 26 kali), mengenal Allah bukan hanya melibatkan aspek kognitif (intelektual), tetapi juga aspek relasional (hubungan atau pengalaman). Makna ini diilustrasikan dengan jelas melalui arti kata Ibrani yada. Kata ini bisa berarti mengetahui (Kej 3:5, 7, 22; 4:9) atau bersetubuh (Kej 4:1, 17). Berdasarkan penggunaan ini kita perlu melihat apakah arti kata mengetahui atau mengenal di suatu teks bersifat intelektual saja atau sekaligus relasional.

Mari kita mulai dengan menyelidiki Kejadian 4:26. Kita sebaiknya memahami 4:26 sebagai permulaan ibadah secara umum (public worship). Sebelum jaman Enos, orang memang sudah beribadah kepada Yahweh (4:1-5), namun ibadah tersebut sifatnya masih individualistik (perorangan). Sejak jaman Enos, orang mulai melakukan ibadah umum kepada Yahweh.

Ada beberapa alasan yang mendukung pendapat di atas. Pertama, seperti sudah disinggung sebelumnya, 4:17-26 bertujuan membandingkan dua macam keturunan, yaitu keturunan Kain yang berdosa dengan keturunan Set sebagai pengganti Habel, orang yang benar itu.

Bersambung…………….

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community