Ular yang berbicara dan identifikasi setan (Kejadian 3:1)

Posted on 16/04/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Ular-yang-berbicara-dan-identifikasi-setan-Kejadian-3-1.jpg Ular yang berbicara dan identifikasi setan (Kejadian 3:1)

Pertanyaan minor namun yang seringkali dipertanyakan adalah “mengapa kita bisa tahu bahwa ular yang disebutkan dalam Kej. 3 adalah representasi dari iblis” dan “mengapa ular bisa berbicara?”

Ular: simbolis atau real?

Banyak penafsir menyatakan bahwa kemunculan  ular di Kej. 3 hanya bersifat simbolis yang sebenarnya menggambarkan setan yang sedang berbicara dalam hati Hawa. Namun penafsiran ini berlawanan dengan maksud penulis Kejadian:

- dalam 3:1, ular dibandingkan dengan binatang di darat lainnya yang diciptakan Tuhan; jika binatang darat lainnya adalah sesuatu yang nyata, maka ularpun pasti sesuatu yang nyata, bukan simbolis

- dalam 3:13, Hawa mempersalahkan ular dan bukan iblis

- dalam 3:14, penghukuman terhadap ular dan keturunannya juga bersifat nyata, yaitu ular akan menjalar dengan perutnya dan debu tanah akan menjadi makanannya

- dalam bahasa Ibraninya, tidak ada indikasi bahwa ular tersebut adalah u lar simbolis. 

Kata Ibrani nahas  (ular) adalah kata yang umum dipakai dalam bahasa Ibrani (sekitar 30 kali) untuk merujuk pada ular (bdg. Bil. 21:7-9; Ul. 8:15; Ams. 23:32).  Dalam bagian Alkitab lainnya, mis 2 Kor. 11:3,  Paulus mengutip kisah penciptaan dengan menyebut ular, bukan iblis, yang memperdayai Hawa.

Dengan demikian kesimpulan yang didapat adalah bahwa ular tersebut adalah ular real secara fisik. Namun apa yang dilakukannya terhadap manusia tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada pengaruh dari luar, yaitu setan.

Hubungan ular dan iblis

Penafsir Yahudi dan Kristen awalnya mengidentikkan ular dengan setan atau iblis, namun karena tidak adanya kaitan antara ular dan setan pada tulisan-tulisan PL yang awal, maka penafsir modern meragukan hal ini. 

- Ada yang menafsirkan bahwa ular adalah simbol dewa kesuburan orang Kanaan sehingga  Kejadian 3 sebenarnya sedang mengilustrasikan tentang alternatif pilihan untuk taat pada Tuhan atau Baal.  Namun pandangan ini banyak ditentang para sarjana.

- Westermann menyatakan pendapat bahwa penyebutan ular sebagai makhluk ciptaan Allah merupakan perwakilan pernyataan atau kontras terhadap musuh terbesar dari iman yang sejati.

- Ada pula sarjana yang menyatakan bahwa ular-ular jaman kuno dulu merupakan symbol dari kehidupan, hikmat dan ketidak teraturan.

Namun para sarjana mayoritas menafsirkan ular identik dengan iblis. Ada beberapa indikasi yang menghubungkan ular dengan iblis:

  1. Dari frase “yang paling cerdik (arum) dari segala…” Kata ini tidak memiliki konotasi moral atau dengan kata lain, kata ini merupakan kata biasa (netral). Namun kata ini menjadi lebih berarti bila dihubungkan dengan gambaran tentang ular, yaitu binatang yang jitu berstrategi dengan sangat hati-hati dalam melakukan dialog dengan Hawa. ‘Kepiawaian’ ular untuk  berstrategi ini dihubungkan dengan ‘kepiawaian’ iblis dalam mencobai sasarannya (bdg. 1 Taw 21:1). Beberapa sarjana menghubungkan ‘kecerdikan’ ular ini dengan ketepatannya memilih sasaran, yaitu Hawa, bukan Adam. Ada yang mengatakan bahwa ular memilih Hawa karena dia tidak ada pada saat Allah menyatakan larangan tersebut (bdg. 2:16-17 dan 2: 22) sehingga lebih muda membujuk Hawa daripada Adam. Midrash mengatakan bahwa pemilihan terhadap Hawa lebih masuk akal karena wanita lebih muda diperdayakan daripada laki-laki. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ‘jika ular lebih cerdik dibanding binatang darat lainnya, maka wanita ini lebih menarik dibandingkan suaminya, lebih cerdik, lebih agresif dan perasaannya lebih mudah dipermainkan.’
  1. Dalam Alkitab sendiri, misalnya dalam Yoh. 8:44; 1 Yoh 3:18, setan dihubungkan dengan pembohong dan pembunuh sejak permulaan. Dan dalam Wahyu 12:9; 20:2 setan dihubungkan dengan ular.
  1. Gambaran tentang setan yang memasuki dunia (yang selanjutnya diidentikkan dengan kisah Kej. 3) didapatkan melalui sumber-sumber lain di luar Alkitab, misalnya:

- dalam kitab Kebijaksanaan Salomo 2:24 “tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.”

- dalam tulisan-tulisan Yahudi lainnya, Sammael (Malaikat Maut) disebut sebagai “Ular Tua.”

- Gilgamesh Epic menceritakan kisah bagaimana Gilgamesh menemukan sejenis tanaman yang dapat menghindarkannya dari kematian. Sayangnya ketika dia sedang berenang di sebuah kolam, seekor ular muncul dan menelan habis tanaman tersebut. Dengan keadaan tersebut, dia berpotensi menjadi makhluk yang immortal

- Orang Roma mengidentifikasikan setan (dalam istilah mereka, Teitan) dengan “ular yang mengajar manusia” yang membuka mata manusia (kecuali orang buta) dan memberikan pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Pandangan ini juga dianut di Pergamus dan Asia Kecil. Utamanya di Pergamus,  tempat bertahtanya setan (yang menyatakan kedudukan/keilahian matahari) disembah dalam wujud seekor ular dan dikenal dengan nama “Aesculapius” artinya manusia yang memerintah ular”

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah:

  1. Ular dalam Kejadian 3:1 adalah benar-benar ular, bukan iblis. Namun ular ‘dimanfaatkan’ oleh iblis untuk melakukan tipuannya terhadap manusia.
  2. Pengidentikan ular dan iblis terjadi setelah kisah ini. Melihat ‘kerja’ ular pada bagian ini yang memperdayai Hawa, orang pada jaman itu dan generasi selanjutnya (melalui tradisi oral) memahami dan menghubungkannya dengan ‘cara kerja’ setan. Dari identifikasi ini, kisah tentang ular yang adalah iblis atau dijadikan sarana/perwujudan dari iblis, berkembang.

Ular yang berbicara

Permasalahan selanjutnya adalah jika ular yang dimaksud adalah binatang ular, bukan iblis, bagaimana mungkin ular bisa berbicara dan dengan bahasa apa dia dapat meyakinkan Hawa?

                 Ada beberapa pandangan tentang hal ini:

  1. Midrash dan Ibn Ezra menafsirkan bagian ini secara literal. Menurutnya, sebelum ular dikutuk Allah pada 3:14-15, ular bisa berbicara dan berdiri tegak. Sebagaimana hikmat yang diberikan Allah kepada manusia, maka hikmat yang sama diberikan pada si ular.
  2. Radak berpendapat bahwa ketika ular bisa berbicara, sebenarnya Allah yang memberikan kemampuan berbicara yang tidak biasa dimiliki oleh binatang. Dengan kemampuannya tersebut, ular dapat memperdayai Hawa. Chizkuni menambahkan sebagaimana Allah membuka mulut keledai Bileam, maka Allah juga membuka mulut ular.
  3. Abarbanel menentang pandangan Radak dan Chizkuni dengan menyatakan bahwa ular bukanlah makhluk ciptaan yang dapat berbicara dan Alkitab tidak menuliskan bahwa Allah membukakan mulut ular sehingga dia bisa berkata (bdg. Bil. 22;28). Menurutnya, ular berbicara kepada Hawa melalui tindakannya yang memanjat pohon dan memakan buahnya dan menunjukkan kepada Hawa bahwa dia tidak mati setelah makan buah tersebut.
  4. Hampir senada dengan pandangan Abarbanel, Hoffmann menyatakan bahwa ular sebelum kutukannya dapat berkomunikasi dengan Adam dan Hawa dengan cara yang dapat dipahami mereka (bdg. Salomo juga dapat berbicara dengan makhluk ciptaan lainnya: 1 Raja 4:33).

Dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  1. Pandangan bahwa ular bisa berbicara seperti bahasa manusia sebelum kutukan Allah dalam 3:14-15 bertentangan dengan isi kutukan itu sendiri “…dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu…“ Tidak ada indikasi bahwa salah satu isi kutukan terhadap ular adalah ular tidak lagi bisa berkomunikasi seperti sebelumnya,
  1. Seandainyapun Allah tetap memberikan karunia supernatural untuk berbicara kepada ular, Alkitab pasti akan memberikan catatan tambahan tentang hal tersebut, maka kemungkinan terbesar adalah bahwa antara Hawa dan ular terjadi semacam ‘percakapan dalam bentuk gerakan’ yang mampu dipahami oleh mereka berdua. Dan kemungkinan (jika digambarkan dalam interpretasi subyektif penulis), tindakan Hawa-lah (yang makan buah terlebih dahulu namun dia tidak mati) yang membuat Adam tergoda untuk makan buah yang sama. Kalaupun mereka akhirnya malu, itu terjadi karena mereka berdua telah sama-sama melihat hal yang membuat mereka menjadi malu dalam perspektif masing-masing.

Kalau Alkitab menggambarkan ‘ular yang berbicara’, hal itu merupakan salah satu cara penulis Alkitab untuk memudahkan pembaca memahami apa yang terjadi dengan cara yang efektif. 

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community