The Spirit and Dry Bones (Yehezkiel 37:1-14)

Posted on 31/08/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The Spirit and Dry Bones (Yehezkiel 37:1-14)

Ketika segala macam usaha sudah tidak lagi membawa manfaat. Saat segala daya dan upaya tercurah tanpa hasil. Dan jika tidak ada hal lagi yang dapat dilakukan maka keputusasaan menjadi kenyataan yang akan dihadapi semua orang. Kehidupan tanpa harapan bukan hal mustahil dialami manusia. Tetapi jika Tuhan berkenan memberi pemulihan, maka tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat menghalangi dan tidak ada kondisi yang terabaikan dari karya pemulihan Allah tersebut.

Bangsa Yehuda adalah bangsa yang dikasihi Allah dan pernah diijinkan ditindas oleh bangsa kafir. Tidak ada lagi harapan bagi bangsa Yehuda. Tidak memiliki kekuatan untuk melawan bangsa Babel dan hidup dengan rasa malu karena Allah Israel direndahkan oleh penyembah dewa-dewa kafir. Dalam kondisi ini Allah berjanji tidak tinggal diam. Dia akan memulihkan kondisi bangsa Yehuda (Yehezkiel 13:1-14). Karena itu Allah yang dikenal dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang sangat membenci dosa sehingga kehidupan yang tidak taat akan mendatangkan hukuman tetapi sekaligus kasih dan janji Tuhan tidak akan pernah berubah bagi umat pilihannya. Dalam kondisi terpuruk, saat umat tidak dapat melakukan apa-apa, maka Tuhan akan bertindak bagi umat-Nya.

Kesesakan bangsa Yehuda

Perikop ini mengindikasikan bahwa bangsa Yehuda telah sekian lama berada dalam pembuangan (1:1). Situasi kesesakan yang dialami Yehuda digambarkan dalam suatu penglihatan apokaliptik tentang tulang-tulang kering yang bertaburan di lembah. Beberapa gambaran penting tentang tulang-tulang tersebut antara lain: pertama, tulang-tulang itu sangat banyak bertaburan memenuhi lembah (ay.2). Ini adalah gambaran kematian dalam suatu peristiwa besar. Ayat 9 mengatakan “orang-orang yang terbunuh” bisa diterjemahkan “tersembelih”. Mungkin ini adalah kematian dari peperangan atau penaklukan. Ini adalah gambaran bagaimana Yerusalem jatuh, orang  Yehuda terserak, terjajah dan hidup dalam pembuangan.

Kedua, tulang-tulang tersebut disebutkan sangat kering (ay.2). Beberapa penafsir berpendapat bahwa pembuangan bangsa Yehuda telah terjadi dalam waktu yang sangat lama setelah penaklukan. Tidak ada lagi harapan bangsa Yehuda akan bangkit kembali menjadi suatu bangsa berdaulat seperti dahulu. Hal ini di gambarkan dalam ayat 3a sebagai pertanyaan retoris yang tentang tidak adanya kemungkinan atau kemustahilan bahwa tulang yang sudah kering dapat hidup kembali.

Ketiga, tulang-tulang kering  yang sangat benyak tersebut berada di lembah (1, 2). Ini adalah kondisi yang lebih memprihatinkan. Selain menunjukan kematian yang hanya dimungkinkan sebagai akibat kekalahan perang dalam jumlah besar, lembah adalah suatu tempat yang tidak terhormat. Sebab, kematian yang dikuburkan akan lebih terhormat dibanding kematian yang tidak dikuburkan. Kematian jauh dari kota atau lembah adalah simbol kehinaan. Jadi, jika dikaitkan dengan kondisi tuang belulang saja sudah menunjukan kematian yang tidak layak, maka letak tulang-tulang tersebut di lembah semakin menggambarkan kematian yang sangat hina.

Keempat, tulang-tulang tersebut berserakan atau tercerai berai yang disebabkan terpisah dari setiap sendi-sendi. Pernyataan dalam ayat 7 tentang suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain yang menunjukan keterpisahan. Selanjutnya kata “kami sudah hilang” dalam ayat 11 seharusnya diterjemahkan dengan “terpisah” untuk menggambarkan tulang-tulang yang terpisah dari sendi-sendinya dalam ayat 6-8. Dalam penglihatan ini, bangsa Yehuda telat tercerai-berai. Ada yang masih tinggal di tanah Yehuda (2 Raja 25:21, di Mesir (2 Raja 25:26) dan di pembuangan (2 Raja 24:14-16; 25:11). Berarti bisa juga dikatakan bangsa Yehuda terpisah dari tanah perjanjian (bdk. “dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel” dalam ay. 12).

Kesesakan yang dialami bagsa Yehuda benar-benar membawa pada kondisi tanpa harapan. Kekuatan manusia tidak akan sanggup memulihkan kondisi bangsa tercerai berai, tertawan dan lemah. Sampai saat itu belum ada bangsa besar lain yang nantinya diharapkan mampu menjatuhkan Babel. Tidak ada pintu terbuka untuk kembali.

Pemulihan bangsa Yehuda

Dalam kondisi kesesakan demikian Allah tidak tinggal diam. Melalui Yehezkiel, Allah menyampaikan nubuat pemulihan. Ini adalah harapan besar bahwa Allah sendiri yang akan memulihkan umat-Nya. Pemulihan dari Allah meliputi pemulihan fisik maupun spiritual yang di gambarkan dalam penglihatan ayat 1b-10 sekaligus dalam arti dari penglihatan pada ayat 11-14.

Gambaran pemulihan fisik yang ada dalam penglihatan Yehezkiel adalah berkaitan dengan kondisi tulang-tulang kering yang berserakan di lembah yang akan diberikan uarat-urat dan daging lalu menutupi dengan kulit yang menyatukan mereka (ay.4-8). Sedangkan dalam ayat 12-14 juga menunjukan pemulihan fisik yang di tunjukan dengan janji pemulihan tanah sebagai simbol eksistensi sebuah bangsa. Meski demikian hal ini tidaklah cukupdan juga bukan satu satunya hal yang penting. Sebab dalam penglihatan tersebut, seandainya tulang-tulang kering tersebut sudah menjadi tubuh  yang memiliki urat, daging dan kulit, mereka belum memiliki kehidupan atau belum di hidupkan.

Sasaran utama pemulihan bagi bangsa Yehuda adalah pemulihan spiritual. Setelah pemulihan fisik, Allah akan menghidupkan tubuh-tubuh tersebut melaui Roh-Nya. Allah tidak memulihkan secra langsung tetapi secara bertahap. Meskipun tulang-tulang kering tersebut sudah menjadi tentara yang besar tetapi hal tersebut hanya terjadi jika dilaksanakan oleh Roh.

Kata “ruah” memang dapat diartikan “nafas’, “angin” dan “roh”. Hal ini berbicara tentang kekuatan atau tenaga kehidupan yang tidak kelihatan, tidak diketahui, tetapi dampaknya terasa dan bahkan sangat dahsyat. Kata “ruah” di sini diengerti sebagai kuasa cipta Roh Kudus yang melampaui kemampuan manusia. Allah yang  telah meniupkan kehidupan kepada Adam demikian juga dalam Yehezkiel gambaran itu juga sama tentang Roh Kudus yang berhembus ke atas orang-orang mati  dan hidup kembali. Israel tidak akan lagi menjadi tulang-tulang kering yang berserakan (ay. 1,13). “Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali ... Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN." (ay. 14).

Segala yang terjadi pada bangsa Yehuda secara fisik, yaitu kekalahan perang, keterserakan, pembuangan dan sebagainya, adalah akibat dari kehidupan spiritual yang bejat pada masa lalu. Allah sengaja membangkitkan bangsa yang besar, yaitu Babel menjadi hukuman sekaligus nantinya Allah juga akan menyiapkan suatu generasi baru yang rohani.

 

Melihat kedaulatan Allah

Jika di teliti lebih lanjut, perikop pemulihan bangsa Yehuda tersebut sebenarnya menekankan “kedaulatan TUHAN”. Pernyataan fase “dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN” muncul sebanyak 3 kali (ayat 6b, 13a, 14b). Selanjutnya frase “beginilah Firman TUHAN” ternyata muncul sebanyak 4 kali (ayat 4, 5, 9, 12). Para penafsir melihat fase-fase yang berkaitan dengan kedaulatan Allah ini sangat penting karena berkaitan dengan kekalahan bangsa Israel yang bukan hanya berakibat bagi bangsa Yehuda saya tetapi berkaitan dengan nama baik Allah yang mereka sembah.

Jadi kekalahan bangsa Yehuda bukan hanya sekedar berdampak secara fisik, tetapi juga bercampak spiritual, khususnya kuasa atau eksistensi TUHAN Allah Israel. Sebab jika suatu bangsa kalah dalam peperangan, pemikiran kuno beranggapan bahwa dewa atau allah bangsa itu tidak lebih berkuasa dari dewa atau allah bangsa yang menang. Dengan kata lain TUHAN (yang dimaksud di sini adalah YHWH sebagai Allah Israel) tidak lebih berkuasa atas dewa Marduk atau yang lainnya.

Melalui penglihatan tersebut, Allah ingin menunjukan kedaulatan dan kuasanya kepada umat-Nya. Tulang belulang menjadi tentara yang besar adalah karena Allah. Tubuh-tubuh yang mati menjadi hidup juga karena Roh Allah. Allah memberikan pengharapan sejati dalam kedaulatan dan kuasa-Nya bagi bangsa Yehuda dan Israel supaya mereka menjadi umat-Nya dan TUHAN menjadi Allah mereka sehingga umat harus bergantung kepada Dia.

Aplikasi

Melalui perikop tersebut setiap orang percaya belajar bahwa tetap berdaulat atas kehidupan setiap orang. Ketika kesesakan yang sangat besar terjadi bukan berarti Allah meninggalkan kita. Justru dengan penderitaan Allah mampu memulihkan kita secara total meskipun dahulu kita adalah pemberontak. Tetapi kita melihat kasih Allah lebih besar dari segalanya sehingga kita dipulihkan dan memiliki pengharapan sejati kepada Dia. Jika penderitaan terjadi dan tidak ada jalan keluar, maka mata kita harus melihat Allah dan bukan beralih daripada-Nya. Bangsa Yehuda telah dipulihkan Allah, saat inipun Allah mampu memulihkan kita baik jasmani dan rohani. Ketika Allah sudah berjanji maka akan tergenapi dan jika Allah bertindak maka tidak ada kuasa yang menghalangi. Tuhan mengasihi kita. Amin.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community