The Paraclete: What Is He Doing for the World? (Yohanes 16:4b-11)

Posted on 05/10/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The Paraclete: What Is He Doing for the World? (Yohanes 16:4b-11)

Di tengah maraknya fenomena kerohanian di kalangan tertentu yang menekankan pengalaman-pengalaman mistis di dunia roh – misalnya petualangan ke sorga atau neraka, berbagai penglihatan, dan bisikan Roh – kita perlu mengupas sisi lain dari karya Roh Kudus yang tidak kalah hebatnya. Berbeda dengan fenomena sekarang yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, karya Roh Kudus yang akan kita pelajari hari ini bersifat lebih pasti dan bisa diukur. Berbeda dengan fenomena sekarang yang cenderung memisahkan karya Roh dari kematian dan kebangkitan Kristus, Yohanes 16:46-11 mengajarkan keterkaitan yang tidak terpisahkan.

 

Persiapan untuk sebuah perpisahan (ayat 4b-6)

 

Bagian ini termasuk dalam khotbah-khotbah perpisahan Yesus (Yoh 13-17) sebelum Ia ditangkap dan disalibkan (Yoh 18-19). Selama masa persiapan ini Yesus memberitahukan apa yang akan terjadi sesudah Ia naik ke sorga. Semua ini dimaksudkan sebagai persiapan bagi murid-murid untuk meneruskan tugas Yesus di bumi (20:21).

Salah satu topik yang disinggung oleh Yesus adalah penganiayaan yang akan menimpa murid-murid-Nya di kemudian hari. Kata tauta (LAI:TB “semuanya ini”) di 16:4b merujuk balik pada ancaman penganiayaan di 15:18-16:4a. Murid-murid akan mengalami ancaman dan penganiayaan sesudah Yesus naik ke sorga. Yesus sengaja tidak membicarakan hal ini di awal pelayanan-Nya, karena selama Ia masih bersama-sama mereka, fokus serangan lebih diarahkan pada Yesus (15:18, 20) dan Ia pun menjaga mereka semua (17:12). Contoh konkrit tentang hal ini adalah perlindungan yang Ia berikan kepada murid-murid-Nya pada waktu Ia ditangkap (18:8-9). Setelah kepergian-Nya nanti ke sorga, situasi akan berubah. Murid-murid-Nya akan menjadi target serangan, penindasan, dan penganiayaan. Yesus pun tidak bersama mereka lagi di dunia.

Mendengar perkataan Yesus, murid-murid-Nya mengalami kebingungan dan kesedihan. Kebingungan mereka terlihat dari kegagalan mereka untuk menanyakan ke mana Yesus akan pergi (16:5b). Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, baik Petrus (13:36) maupun Thomas (14:5) sudah menanyakan tujuan kepergian Yesus. Tidak ada jawaban yang jelas dari Yesus, kecuali teguran kepada dua murid tersebut (13:38; 14:6-7). Ketika Yesus memberitahukan lagi tentang kepergian-Nya, tidak ada seorang pun yang menanyakan tujuan kepergian Yesus seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Mungkinkah kebingungan begitu menguasai mereka sehingga mereka memilih untuk diam? Ataukah mereka sudah menebak bahwa jawaban Yesus akan sama membingungkannya dengan dua jawaban-Nya sebelumnya? Apakah konsep populer Yahudi tentang figur mesias secara politis begitu menguasai pikiran murid-murid sehingga mereka sulit mencerna maupun menerima perkataan Tuhan Yesus tentang kematian di kayu salib dan kepergian-Nya ke sorga? Kemungkinan mana pun yang benar, kita sulit menyangkal bahwa murid-murid sedang berada dalam kebingungan.

Bukan hanya diliputi kebingungan, murid-murid juga dirundung kesedihan (16:6). Dalam teks Yunani dikatakan: “kesedihan itu telah memenuhi hati kalian” (mayoritas versi Inggris “sorrow has filled your heart”). Kata “memenuhi” (plēroō) menyiratkan tingkat kesedihan yang mendalam. Penggunaan perfect tense peplērōken menunjukkan bahwa kesedihan ini (hē lypē) terjadi dalam durasi tertentu. Ini bukan kesedihan sekejap.

Poin di atas diperkuat oleh pemunculan kata lypē di 16:20-22. Murid-murid akan mengalami kesedihan selama di dunia. Walaupun demikian, semua dukacita ini akan berubah menjadi sukacita pada saat mereka bertemu kembali dengan Kristus. Kesedihan mendahului kegembiraan (16:20). Tingkat kesusahan yang besar akan diimbangi dengan kegembiraan tak terkatakan (16:21).  Dukacita yang sementara mempersiapkan jalan bagi sukacita yang kekal (16:22).

 

Solusi bagi kebingungan dan kesedihan (ayat 7)

 

Tuhan Yesus tidak tinggal diam pada saat melihat kebingungan dan kesedihan murid-murid-Nya. Ia memberitahukan sebuah solusi yang Ia sudah pikirkan. Solusi ini bukan berbentuk peniadaan penganiayaan atau kekebalan terhadap rasa sedih. Solusi ini juga bukan berupa mujizat pelepasan yang spektakuler dari segala macam penganiayaan. Solusi terbaik adalah kehadiran Roh Kudus (Penghibur, ho paraklētos).

Kehadiran ini bersifat pasti (ayat 7a). Frase “namun benar yang Kukatakan ini kepadamu” (all’ egō tēn alētheian legō hymin, lit. “tetapi Aku, aku mengatakan kebenaran itu kepada kalian”) di awal ayat 7 mengandung penekanan. Pemunculan kata egō (“Aku”) menegaskan siapa yang sedang berkata-kata. Secara mendasar, frase egō tēn alētheian legō hymin sejajar maknanya dengan amēn amēn legō (“Aku berkata sesungguhnya...”) di 1:51; 3:3, 5, 11; 5:19, 24-25; 6:26, 32, 47, 53; 8:34, 51, 58; 10:1, 7; 12:24; 13:16, 20-21, 38; 14:12; 16:20, 23; 21:18. Karena Yesus adalah kebenaran (14:6), kita dengan tenang dapat meyakini bahwa apa yang Ia ucapkan juga pasti benar (16:7). Bahkan sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Tuhan Yesus secara simbolis telah memastikan penerimaan Roh Kudus oleh murid-murid-Nya (20:22).

Kehadiran Roh Kudus juga bersifat tidak terelakkan (ayat 7c). Ucapan Yesus bahwa Roh Penghibur tidak akan datang kalau Ia tidak naik ke sorga seolah-olah memberikan kesan bahwa ada pembagian pekerjaan dan waktu yang tegas dan kaku dalam diri Allah Tritunggal. Yesus hanya bekerja selama Ia ada di dunia, sedangkan Roh Kudus baru bekerja sesudah Yesus naik ke sorga. Kesan semacam ini ternyata keliru. Yesus (Logos) sudah berkarya sejak kekekalan (1:3). Roh Kudus juga sudah memberikan kesaksian pada saat baptisan Tuhan Yesus (1:32-33). Jika Roh baru berkarya sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, lalu bagaimana para pengikut Tuhan Yesus pada waktu itu dapat dilahirkan dari air dan Roh (3:3, 5)?

Ucapan Yesus di 16:7 sebaiknya ditafsirkan berdasarkan konteks Injil Yohanes. Yang mengutus Roh Penghibur adalah Yesus (16:7), sehingga tidak mungkin yang mengutus dan yang diutus berada bersama-sama pada waktu dan tempat yang sama (kalau demikian, untuk apa pengutusan perlu dilakukan?). Di samping itu, pengutusan Roh Kudus juga dilakukan oleh Bapa atas dasar permintaan Anak (14:16-17, 26), sedangkan permintaan ini baru bisa dilakukan pada saat Anak kembali kepada Bapa-Nya. Jadi, sama seperti kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga adalah peristiwa tak terelakkan dalam rencana keselamatan Bapa, demikian pula kedatangan Roh Kudus ke dunia. Kehadiran Roh Kudus menjadi bukti bahwa karya Kristus di dunia sudah genap dan sebuah zaman yang baru telah dimulai. 

Kehadiran Roh Kudus juga membawa manfaat yang lebih besar bagi murid-murid (ayat 7b). Kata “lebih berguna” (sympherei) hanya muncul tiga kali di Injil Yohanes. Dua pemunculan lainnya keluar dari mulut imam besar Kayafas yang menubuatkan (tanpa menyadarinya) bahwa kematian Yesus adalah lebih baik daripada kebinasaan bangsa Yahudi (11:50; 18:14).

Makna “lebih berguna” (sympherei) di 16:7 sebaiknya dilihat berdasarkan 14:12 dan 15:26-27. Kehadiran Roh Penghibur dalam diri murid-murid akan memampukan mereka untuk melakukan hal-hal yang lebih besar daripada yang Yesus lakukan (14:12, 16-17). Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kita memiliki kuasa yang lebih besar daripada Yesus. Seperti sudah disinggung sebelumnya, kedatangan Roh Penghibur merupakan tanda penahbisan dari zaman keselamatan yang baru dan perjanjian yang baru. Kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap orang yang percaya memampukan kita untuk bergerak cepat memberitakan kebenaran injil di mana saja dan kapan saja. Dalam konteks inilah kita – dengan kuasa Roh Kudus dalam diri kita – melakukan hal-hal yang lebih besar.

 

Karya Roh Penghibur (ayat 8-11)

 

Penganiayaan yang akan dilakukan dunia kepada para pengikut Kristus tidak dibiarkan begitu saja oleh Roh Kudus. Walaupun penganiayaan itu tidak dicegah atau dihilangkan, namun bukan berarti Roh Kudus berdiam diri saja. Ia terus berkarya bagi dunia yang memusuhi Allah.

Ia akan “menginsyafkan” (LAI:TB, elenxei) dunia (ayat 8). Terjemahan LAI:TB “menginsyafkan” (juga RSV “convince”) menyiratkan bahwa dunia pasti menyadari kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah. Makna ini sayangnya terlalu jauh. Dua pemunculan kata dasar elenchō di Injil Yohanes menunjukkan bahwa kata ini berarti upaya untuk mengungkapkan atau membuktikan kesalahan seseorang (3:20; 8:46). Hasil dari upaya ini tidak selalu berupa penyesalan atau keinsyafan, walaupun dua hal ini tetap mungkin terjadi. Kata elenchō sebaiknya dipahami dalam konteks hukum, sama seperti penegak hukum yang menyatakan seseorang bersalah dalam sebuah persidangan (mayoritas versi Inggris “convict”; NRSV “prove the world wrong”).

Penggunaan elencho kata dalam konteks hukum ini sangat relevan bagi murid-murid. Di mata dunia yang membenci Tuhan Yesus tanpa alasan (15:25), penganiayaan dan tuduhan yang mereka timpakan kepada para pengikut Yesus dianggap sebagai sesuatu yang baik (16:2). Pengikut Yesus mungkin tidak akan mendapat pembelaan dari siapa pun. Sama seperti Yesus yang sebenarnya tidak bersalah – paling tidak menurut penilaian Pilatus (18:38; 19:4, 6) – tetapi tetap dihukum bagaikan penjahat besar yang melakukan kejahatan serius, demikian pula murid-murid akan berada pada situasi yang sama (lihat 15:18-20). Semua mata akan tertuju kepada kita dan melemparkan semua kesalahan ke atas bahu kita. Walaupun demikian, kebenaran akan terkuak. Kehadiran Roh Kudus akan membalikkan keadaan: dunia sebagai terdakwa di hadapan Allah!

Pertama, Roh Kudus akan menghakimi dunia dalam hal dosa (16:9). Keberdosaan yang serius di dalam Injil Yohanes terutama bukan terletak pada kegagalan untuk melakukan apa yang baik, namun pada kegagalan untuk mempercayai Yesus sebagai solusi bagi dosa manusia (8:21, 24). Orang-orang Yahudi menganggap diri tidak berdosa (8:33-34; 9:40-41). Mereka bukan hanya tinggal di dalam kegelapan, tetapi secara sengaja menghindar dari terang (3:19-21). Walaupun perkataan (15:22) dan pekerjaan (15:24) Tuhan Yesus memberi bukti yang cukup bagi keberdosaan mereka, mereka tetap tidak merasa bersalah. Melalui kekuatan Roh Kudus dalam kesaksian murid-murid, dunia akan dibuktikan bersalah, ditegur, dan dibawa kembali kepada Allah. Contoh pertama yang konkrit adalah pada saat para peziarah yang merayakan Pentakosta mendengar khotbah Petrus dan hati mereka disentuh oleh penyesalan (Kis 2:37). Tanpa karya Roh Kudus tidak mungkin seseorang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan (1 Kor 12:3).

Kedua, Roh Kudus akan menghakimi dunia dalam hal kebenaran (16:10). Di mata orang-orang Yahudi Yesus bukanlah seorang yang benar. Ia dianggap orang Samaria, kerasukan setan, dan gila (8:48; 10:20). Ia disamakan dengan penjahat (18:30). Walaupun orang-orang Yahudi tidak berhasil menemukan kesalahan dalam perkataan-Nya, Ia tetap diperlakukan seperti seorang penjahat yang bersalah (18:23).

Kedatangan Roh Kudus adalah bukti ketidakbersalahan Yesus. Mengapa? Kedatangan Roh Kudus baru dimungkinkan jika Yesus sudah kembali kepada Bapa-Nya (16:7). Jika ini yang terjadi, maka kenaikan Tuhan Yesus ke sorga merupakan bukti tak terelakkan bahwa pekerjaan Anak di dunia telah memuaskan hati Bapa (17:4-5). Dengan kata lain, kenaikan ke sorga menjadi bukti ketidakbersalahan Anak. Bapa membenarkan Anak (1 Tim 3:16). Sama seperti Paulus yang terkejut dan mengalami perubahan radikal setelah Ia menyaksikan orang yang dia anggap sebagai penghujat Allah ternyata justru berada di sorga bersama dengan Allah (Kis 9), demikian pula kehadiran Roh Kudus seharusnya mengarahkan mata dunia pada pembenaran ilahi untuk Yesus.

Ketiga, Roh Kudus akan menghakimi dunia dalam hal penghukuman (ayat 11). Hal ini ditunjukkan melalui penghukuman atas penguasa dunia ini. Beberapa kali Yesus sudah menyinggung tentang penghakiman (penghukuman) atas penguasa dunia ini (12:31; 14:3). Kematian Kristus di kayu salib bukan kekalahan dan kelemahan bagi Dia (14:30). Sebaliknya, salib merupakan jalan menuju kehancuran Iblis (12:31). Keberhasilan Iblis dalam merasuki pikiran Yudas justru merupakan kegagalan Iblis (13:2, 27), karena salib dan kebangkitan merupakan bukti bahwa Anak berkuasa untuk memberikan nyawa-Nya maupun untuk mengambilnya kembali (10:18). Kedatangan Roh Kudus yang menyertai kenaikan Yesus ke sorga merupakan bukti sempurna bahwa semua kuasa sudah ditaklukkan di bawah kaki Kristus (Ef 1:19-21; Ibr 1:3-4; 1 Pet 3:21-22).

Penghukuman atas penguasa dunia merupakan berita yang menghiburkan bagi para pengikut Tuhan Yesus yang akan mengalami penganiayaan oleh dunia. Yohanes 16:33 berkata: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Kita telah mengalahkan si jahat karena kuasa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristsu ke sorga (1 Yoh 2:13-14). Semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia (1 Yoh 5:4). Apa yang sudah dikerjakan oleh Yesus – yaitu kemenangan atas Iblis – harus kita tuntaskan melalui pertolongan Roh Kudus. Beritakan injil kebenaran dengan berani dan bersandar pada kuasa Roh! Ungkapkan semua kebohongan Iblis yang membelenggu dunia! Kenakan seluruh senjata Allah dan bersiaplah untuk berperang bagi Dia! Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community