The King Is Our Brother (Ibrani 2:10-18)

Posted on 21/12/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The King Is Our Brother (Ibrani 2:10-18)

Pendahuluan:

Di dalam budaya-budaya tertentu peranan seorang saudara laki-laki sangat penting. Mereka akan terlibat aktif di dalam pengambilan-pengambilan keputusan penting. Di dalam sebuah keluarga apabila kepala rumah tangga sudah meninggal, maka yang berperan di dalam pengambil keputusan dan berperan sebagai pelindung keluarga bukan seorang ibu, tetapi seorang anak laki-laki tertua.

Persoalannya adalah dosa membuat saudara laiki-laki yang kita miliki melakukan tugasnya dengan tidak sempurna. Jika saudara memiliki saudara laki-laki, bukankan kita banyak menyimpan kekecewaan? namun Firman Tuhan hari ini memberi tahu kita bahwa kita memiliki saudara laki-laki yang berbeda dari semua saudara laki-laki yang kita punya. Nama-Nya Yesus. Yesus adalah Saudara laki-laki kita yang tertua, Dia tidak pernah gagal di dalam menjalankan peran-Nya. Bagaimana Firman Tuhan menjelaskan peran Yesus sebagai Saudara kita?

 Ia Saudara yang Rela Menderita Bahkan Mati Demi Menyelamatkan Saudara-Saudara-Nya (Ay.10)

Ayat ini didahului dengan  kata "Prepo" atau "clearly seen" yang berarti "jelaslah terlihat". Apa yang jelas terlihat? pertama,  Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan semuanya diciptakan untuk Dia. Kedua, Ia membawa banyak orang (LAI), anak laki-laki dan perempuan (NIV) ke dalam kemuliaan. Terjemahan LAI ini menurut saya cukup tepat, namun NIV menerjemahkannya secara berbeda, terjemahan NIV  bisa menolong pembaca untuk memahami. Allah membawa anak-Nya laki-laki dan perempuan ke dalam kemuliaan. Ini menjelaskan status kita di hadapan Allah, kita adalah anak-anak Allah. Jika Yesus adalah anak Allah yang sulung maka, Jesus is our old Brother".

Frase "menyempurnakan Yesus" bisa membuat orang salah tafsir. Kata "Yesus" tidak ada dalam versi asli, ditambahkan oleh penerjemah. Kebanyakan versi Inggris menerjemahkan, "harus membuat pelopor keselamatan mereka sempurna melalui penderitaannya" (Ibr 2:10 NIV). Ini tidak berarti bahwa Kristus kurang sempurna dan harus disempurnakan secara moral dan rohani, yang disempurnakan adalah peranan-Nya sebagai pemimpin. Sebagai Pioneer (Archegos), Ia harus berjalan lebih dahulu untuk membuka jalan bagi orang lain yang hendak mengikuti. Ia hanya dapat menjadi Juruselamat yang sempurna bagi semua orang percaya, apabila terlebih dahulu menderita dan mati sebagai manusia. Kata "menyempurnakan" kerap kali dipakai dalam Ibrani untuk mengungkapkan berbagai hasil karya Kristus dalam hubungan manusia dengan Allah (Ibr 11:40).

Dengan cara apa anak-anak Allah masuk ke dalam kemuliaan? di ayat 10 bagian akhir menjelaskan bahwa caranya adalah melalui penderitaan Yesus. Penderitaan dan kematian Kristus melaksanakan kehendak Allah. Maka kematian itu menjadikan Kristus sempurna sebagai Juruselamat yang bertugas mengantar manusia masuk ke dalam kemuliaan Allah (Ibr 2:17-18; 4:15; 5:2-3)

Ia adalah Saudara yang mampu menyelamatkan saudara-saudara-Nya. Jika di dunia ini kita banyak kecewa dengan saudara kita, saya ingin beri tahu  kita punya satu Saudara yang berbeda. Ia adalah saudara yang sempurna, yang rela menderita demi saudara-saudara-Nya, bahkan mati bagi mereka.

 Ia Saudara yang Tidak Malu Mengakui Kita Sebagai Saudara (Ay.11-13)

Kata "malu" di sini adalah kata yang penting. Di dalam Sosial budaya Yunani-Romawi, keinginan untuk mendapatkan kehormatan dan menghindari sesuatu yang memalukan adalah sesuatu yang penting baik bagi diri sendiri juga bagi keluarga. kehormatan dan kehinaan diberikan oleh masyarakat dan Allah. Banyak pengakuan memberikan kualifikasi bahwa seseorang dapat dipercaya dan memiliki kepribadian yang cukup baik.

Tentang hal ini sudah dinubuatkan di dalam  Yesaya 8:18 "Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang telah diberikan TUHAN kepadaku adalah tanda dan alamat di antara orang Israel dari TUHAN semesta alam yang diam di gunung Sion". Nubuatan ini berbicara tentang diri Yesaya dan kedua anaknya. Nama Yesaya berarti "Yahwe is Salvation" (Tuhan adalah keselamatanku). Kedua anak Yesaya semuanya mengandung pesan bagi orang Israel, yang pertama "Syear Yasyub (Isa 7:3) artinya, "suatu sisa akan kembali". Anak yang kedua adalah "Maher-Syalal Hash-Bas" (Isa 8:3), artinya, "cepat menjarah/merusak". Baik Yesaya maupun anak-anaknya adalah simbol antara Israel dan Allah. Anak-anak Yesaya merupakan sebuah kesaksian terhadap kehadiran dan kuasa Allah yang konsisten di antara umat Israel dan juga kepercayaan Yesaya sendiri kepada Allah. Di dalam Kitab Ibrani, Yesus yang Maha Tinggi kepada mereka yang diidentifikasi sebagai "anak-anak Allah yang sudah diberikan kepadaKu". Yesus membuat sebuah pengakuan bahwa kita adalah saudara-saudara-Nya.

Pengakuan Yesus terhadap kita sebagai saudara merupakan kehormatan yang besar. ini pengakuan teragung yang pernah kita peroleh. Hubungan persaudaraan ini bukan diciptakan oleh dua orang yang saling membutuhkan, bukan pula kita peroleh karena kita bisa berfungsi baik sebagai saudara. Persaudaraan ini dibuat sendiri oleh Allah, melalui penderitaan besar Yesus Kristus. Apakah pengakuan ini memberikan Saudara sukacita besar?

Di dalam bagian ini, Yesus Raja yang Maha Besar itu  tidak malu mengakui kita sebagai saudara-saudara-Nya. Ini adalah jaminan terhadap relasi ini. Pengakuan bahwa kita adalah Saudara Yesus, seharusnya memberikan keberanian bagi kita di dalam mengikuti pimpinan-Nya.

Sebagai Saudara, Ia tidak hanya menyelamatkan kita, tidak hanya memberikan pengakuan tanpa malu bahwa kita adalah saudara-Nya. tetapi Ia juga membebaskan kita.

 Ia Saudara yang Membebaskan Saudara-Saudara-Nya Dari Ketakutan Akan Maut (Ay. 14-15)

Gambaran pembebasan dalam surat Ibrani ini mirip dengan gambaran pembebasan di dalam Yesaya 41:8-10, "Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;  engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau";   janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu". (Yes 41:8-10 ITB).

Dua ayat di dalam kitab Ibrani ini mendengungkan kembali element-element yang ada di dalam kitab Yesaya tersebut: "keturunan Abraham" (2:16), ditolong oleh Allah (2:16), Ia berkata jangan takut" (2:15), "percayalah pada pertolongan Allah" (2:18). Di dalam Yesaya, keturunan Abraham merujuk kepada Israel, tetapi di dalam kitab Ibrani keturunan Abraham merujuk kepada orang percaya.

Seumur hidup, kita diikat dan diperhamba oleh Dosa dan bayang-bayang maut. Satu-satunya yang diharapkan dalam kondisi ini adalah pembebasan. dan itulah yang Yesus lakukan bagi kita. Penderitaan dan kematian Yesus mengerjakan 2 hal: pertama, memusnahkan Iblis dan kedua, membebaskan saudara-saudara-Nyadari ketakutan akan maut.

Kata "Memusnahkan" (Katargeo) tidak berarti bahwa Iblis sudah dihancurkan atau dibinasakan atau dibasmi habis. di dalam kitab Ibrani ada indikasi bahwa  kematian dan iblis masih ada (Ibr 3:12; 9:27). Kata kerja ini artinya bahwa kehancuran kematian dan iblis sudah dimulai namun belum sepenuhnya komplit. NIV menerjemahkan, "he might break the power of him who holds the power of death--that is, the devil" (Heb 2:14 NIV). Artinya manusia tetap akan mati dan hari-hari ini iblispun masih akan ada, tapi mereka tidak memiliki kuasa atas kita, karena kuasanya sudah dihancurkan oleh Yesus. Kehancuran itu akan sempurna pada akhir jaman ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya (Why. 12:7-8; 20:1-3, 10; 1 Kor. 5:5; 15:24-26).

Kita adalah orang yang dibudak iblis yang  terus menerus melakukan dosa. Itu sebabnya manusia dipenuhi dengan ketakutan akan maut. Kematian Yesus bukan hanya menghancurkan kuasa iblis dan kematian, tetapi juga pada saat yang sama akan membebaskan saudara-saudara-Nya dari ikatan kuasa maut dan iblis.

Kita tidak akan pernah memiliki Saudara laki-laki yang  dapat melakukan perannya demikian sempurna, kecuali Yesus. Ia Saudara laki-laki kita yang memberikan nyawanya demi kita, Ia Raja yang tidak malu mengakui kita sebagai saudara-Nya, Ia juga mampu membebaskan kita dari setiap rasa takut akan maut. Bukankah Dia adalah Saudara paling sempurna yang pernah kita miliki?

Ia Menjadi Imam Besar (Ay. 17-18)

Ada dua gambaran yang dilakukan Yesus sebagi imam besar: pertama, Ia adalah imam besar yang penuh dengan belas kasihan. Kedua, Ia membuat penebusan bagi orang berdosa.

Ketika Ia ada di bumi, Ia bukanlah imam, karena Ia tidak lahir dari suku Lewi, tetapi Ia lahir dari suku Yehuda. Ia tidak memiliki garis keturunan keimamatan dari keluarga Harun, tetapi Ia memiliki keturunan dari garis keluarga Daud. Ketika Ia datang ke Bait Suci, Ia tidak datang untuk memimpin upacara korban, tetapi Ia datang untuk mengajar tentang jalan Tuhan, yaitu ketika Ia masuk ke Bait Suci dan rumah-rumah ibadat Yahudi. Tetapi di Sorga dalam kemuliaan, Ia adalah Imam Besar kita untuk selama-lamanya. Bukan menurut peraturan Harun tetapi menurut peraturan Melkisedek yang melayani seluruh generasi dan sampai selama-lamanya. Ia adalah representatif simpatik dan perantara serta pendoa syafaat kita di Sorga. Ia adalah Imam Besar kita yang lemah lembut dan murah hati yang menjadi seperti salah satu dari kita dan merasakan apa yang kita rasakan.

Ia memahami kelemahan kita. Ia menguatkan dan memberikan dukungan kepada orang yang sedang kelelahan. Ia yang ada di Sorga sama seperti ketika Ia ada di sini di dunia ini ketika Ia menjadi manusia. Ia memiliki simpatik dan merasakan apa yang kita rasakan dan memahami setiap jeritan hati kita.

 Ketika berada di tengah kerumunan orang banyak tiba-tiba Ia berhenti dan bertanya, “Siapa yang menjamah Aku?” Simon Petrus menjawab: “Guru orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau, namun bagaimana Engkau bertanya siapa yang menyentuh Aku?” Tetapi Tuhan Yesus menjawab, “Ada seseorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.” Wanita lemah yang telah mengalami pendarahan itu berkata dalam hatinya, “Asal ku jamah saja jubah-Nya aku akan sembuh.”

 Pada masa hidup-Nya di dunia Dia dapat merasakan apa yang dirasakan Bartimeus buta. Bartimeus buta berseru kepada Yesus ketika orang yang ada di sana berkata, “Huss, Nabi besar dari Nazareth itu terlalu banyak hal besar yang harus Dia lakukan, jadi jangan susahkan Dia.” Namun Yesus berhenti dan berkata “Bawalah dia kepadaku.”  Dan Ia membuka mata orang buta itu sehingga melihat.

 Ketika Yesus sendiri sedang menghadapi kematian, pencuri yang disalibkan di sisi-Nya menengok kepada Tuhan dan berkata, “Yesus ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai raja.” Dan Tuhan menjawab, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku dalam Firdaus.”

 Seperti itulah perhatian-Nya kepada umat manusia di masa Ia hidup di dunia, dan  penulis Kitab Ibrani berkata Yesus Kristus tetap sama sampai sekarang dan selamanya. Ia turut merasakan apa yang kita rasakan. Ia memahami kelemahan-kelemahan kita. Ketika seseorang berdoa dan berseru kepada-Nya, Ia menundukkan kepala-Nya dari sorga untuk mendengar dan memandang orang itu.

Ia hadir di sini sebagai Imam Besar yang penuh kasih dan perhatian. Adakah sesuatu yang lebih indah dari ini?

 

Penutup:

Kita sangat berdosa untuk dapat menyelamatkan diri, kita terlalu lemah untuk dapat bertahan hingga akhir, namun jaminan kita terletak pada Yesus "Our Old Brother". Ia yang memberikan nyawanya demi menyelamatkan kita, Ia Raja yang tidak malu mengakui kita sebagai saudara-Nya, Ia juga mampu membebaskan kita dari setiap rasa takut akan maut. Ia juga yang akan berdoa syafaat bagi kita.  Dia yang menyelamatkan kita, juga memelihara kita, menjaga kita dan suatu hari nanti menyambut kita masuk ke dalam hadirat-Nya yang  agung di Sorga.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community