The Genealogy of Christ (Luke 3:23-38)

Posted on 07/12/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The Genealogy of Christ (Luke 3:23-38)

Tidak semua kebudayaan memberikan nilai penting yang sama bagi sebuah silsilah. Dalam budaya Yahudi kuno, silsilah sangat dipentingkan. Kejelasan silsilah berhubungan dengan banyak hal, misalnya hak atas tanah dan warisan, hak untuk menjual dan membeli properti, dasar dari pajak, garis keturunan keimaman dan  raja. Karena itu, orang Yahudi begitu memperhatikan dan memelihara silsilah. Yosefus, seorang sejarahwan Yahudi di abad ke-1, juga mencantumkan silsilah imam dalam tulisannya. Beberapa silsilah kuno pada periode yang sama juga Catatan Matius (Mat 1:1-18) dan Lukas (Luk 3:23-38) menyiratkan penghargaan terhadap silsilah tersebut.

 

Perbedaan silsilah antara Matius dan Lukas

 

Pembacaan sekilas sudah cukup untuk menemukan perbedaan antara silsilah di Matius 1:1-18 dan Lukas 3:23-38. Jumlah nama di Injil Lukas jauh lebih banyak (77 nama). Kalau Matius mengelompokkan menjadi 14 x 3, Lukas memakai struktur 7 x 11 (Yusuf dan “anak Allah” tidak dihitung). Urutan Matius dari atas ke bawah (dari leluhur ke Yesus), sedangkan urutan Lukas justru sebaliknya (dari Yesus ke leluhur). Titik awal leluhur juga berlainan (Matius berhenti sampai di Abraham, sedangkan Lukas melanjutkan terus sampai Adam). Matius menyertakan beberapa nama perempuan (Tamar, Rahab, Ruth, Maria), sedangkan Lukas hanya mencantumkan nama laki-laki saja. Matius menelusuri garis keturunan Daud melalui Salomo, sedangkan Lukas melalui Nathan (anak Daud yang lain).

Semua perbedaan di atas menimbulkan beragam interpretasi. Beberapa penafsir menjadikan hal ini sebagai alasan untuk meragukan kredibilitas dua silsilah yang ada. Pandangan semacam ini tidak didukung oleh bukti atau argumen yang kuat. Daftar silsilah seseorang pasti sangat panjang, sehingga tidak mungkin menuliskan setiap nama. Nama mana yang perlu dicantumkan dan nama mana yang bisa diabaikan adalah pilihan penulis silsilah. Ia mendapatkan daftar lengkap di catatan publik di masing-masing daerah, tetapi ia berhak untuk menyeleksi nama-nama yang ada. Penyelidikan terhadap berbagai silsilah kuno menunjukkan bahwa penyeleksian nama yang dicantumkan dalam sebuah silsilah adalah hal yang tidak terelakkan. Seleksi tersebut seringkali berkaitan dengan tujuan tertentu yang dipikirkan oleh penulis sebuah silsilah.

Kita sebaiknya menjelaskan perbedaan silsilah di Matius dan Lukas dengan cara melihat silsilah di Injil Matius sebagai garis keturunan Yusuf, sedangkan silsilah Injil Lukas mengikuti Maria. Ini adalah penjelasan yang paling sederhana, karena orang Yahudi memang menyimpan dua jenis silsilah: satu dari pihak ibu, satu dari pihak ayah.

Untuk mendukung teori bahwa silsilah di Lukas 3:23-38 mengikuti garis keturunan Maria, kita perlu memperhatikan bagaimana Maria mendapat sorotan lebih di Lukas 1-2 daripada Yusuf. Beberapa perempuan lain juga ditekankan di Lukas 1-2 (Hana dan Elisabet). Di samping itu, keterangan “menurut anggapan orang Ia adalah anak Yusuf” (ōn huios, hōs enomizeto Iōseph) menyiratkan bahwa silsilah di Lukas 3:23-38 berasal dari Maria. Jadi, silsilah di Matius 1:1-18 mengikuti garis Yusuf secara legal dan royal, sedangkan Lukas 3:23-38 mengikuti Maria secara biologis dan royal.

 

Yesus Kristus, Juruselamat semua orang

 

Perbedaan antara silsilah Matius dan Lukas sebaiknya dipahami dalam konteks masing-masing kitab. Baik Matius maupun Lukas memikirkan tujuan tertentu melalui versi silsilah masing-masing. Apa tujuan dari silsilah di Lukas 3:23-38?

Sebagaimana disiratkan dalam pendahuluan (1:1-4), Lukas menuliskan kitabnya untuk orang non-Yahudi, entah “Teofilus” di ayat itu berfungsi sebagai nama orang atau sebutan untuk orang-orang yang mengasihi Allah. Lukas ingin mengajarkan bahwa keselamatan bukan hanya untuk bangsa Israel, tetapi untuk semua bangsa (24:47). Tujuan ini juga diteguhkan oleh kitabnya yang kedua, yaitu Kisah Para Rasul. Sejak awal ia sudah menyiratkan bahwa keselamatan harus sampai ke ujung bumi (1:8). Secara khusus ia juga mengisahkan pertobatan bangsa-bangsa lain, misalnya orang-orang Samaria (8:5-25), sida-sida dari Etiopia (8:26-40), dan Kornelius (10:34-43).

Sejalan dengan tujuan di atas, Lukas pun memaparkan silsilah di Lukas 3:23-38 dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah juruselamat dunia. Hal ini dicapai melalui perbandingan antara Adam dan Yesus Kristus. Ada beberapa petunjuk dalam teks yang mengarah pada kesimpulan ini.

Pertama, Yesus Kristus ditampilkan sebagai keturunan Adam. Pemunculan nama Adam di dalam silsilah agak mengejutkan. Semua orang memang berasal dari Adam (bdk. Kis 17:26a “dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi”), sehingga tidak perlu disebutkan secara khusus. Jika tetap disebutkan secara khusus, hal itu pasti mengandung maksud tertentu. Dalam konteks Injil Lukas, Yesus Kristus sedang dikaitkan dengan seluruh umat manusia melalui Adam.

Kedua, Yesus Kristus dan Adam sama-sama disebut sebagai Anak Allah. Pada waktu peristiwa baptisan (3:21-22) – tepat sebelum pemaparan silsilah (3:23-38) – Bapa di sorga memproklamasikan Yesus Kristus sebagai Anak yang Dia kasihi dan yang berkenan kepada-Nya (3:22). Di akhir silsilah Adam disebut sebagai “anak Allah”. Penambahan ini sebenarnya tidak diperlukan di dalam silsilah, karena “anak Allah” bukan merujuk pada orang tua Adam. Sebutan ini ditujukan untuk Adam. Walaupun konsep “anak Allah” di 3:22 dan 3:38 berbeda, tetapi keterkaitan antara Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Adam sebagai anak Allah tidak dapat dibantah. Lukas memang sedang mengontraskan kedua tokoh ini.

Ketiga, berbeda dengan Adam sebagai anak Allah yang gagal, Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berhasil. Untuk memahami poin ini kita perlu mengetahui bahwa silsilah Yesus Kristus diletakkan persis di tengah-tengah dua perikop yang menyoroti status Yesus Kristus sebagai Anak Allah, yaitu baptisan (3:21-22) dan pencobaan di padang gurun (4:1-13). Penempatan silsilah semacam ini jelas unik, karena kita berharap seorang penulis akan memaparkan silsilah di bagian paling awal sebuah kitab.

Dalam posisi di antara baptisan dan pencobaan, Yesus Kristus bukan hanya sekadar ditampilkan sebagai anak Allah secara umum (seperti sebutan untuk Adam di 3:38), namun sebagai Anak Allah yang lebih baik dan lebih besar daripada Adam. Di 3:22 Yesus disebut sebagai Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan oleh Allah. Dalam kisah pencobaan – di mana status Yesus sebagai Anak Allah dipertaruhkan (bdk. 4:3, 9 “Jika Engkau Anak Allah...”) – Yesus Kristus akhirnya keluar sebagai pemenang. Intinya, tidak seperti Adam yang gagal di Taman Eden (Kej 3:1-6), Yesus Kristus menang di padang gurun.

Untuk menegaskan kontras antara kegagalan Adam dan keberhasilan Kristus, Lukas sengaja mengatur silsilahnya secara naik, dari Yesus Kristus ke Adam. Dengan pengaturan semacam ini maka Adam (3:38) semakin didekatkan dengan kisah pencobaan (4:1-13). Namanya muncul tepat sebelum kisah pencobaan. Dengan demikian pembaca akan tertolong untuk melihat kontras yang ada secara lebih mudah dan jelas.

 

Yesus Kristus, kulminasi sejarah umat manusia

 

Dengan menampilkan Yesus Kristus sebagai Adam yang baru dan lebih besar, Lukas sekaligus sedang mendaratkan sebuah poin teologis yang penting: Yesus Kristus sebagai kulminasi dari sejarah umat manusia.

Dalam perspektif Alkitab sejarah tidak bersifat memutar (siklus), tetapi linear. Ada permulaan, ada titik akhir. Sejarah terus bergerak ke depan. Titik puncak dari semua ini adalah Yesus Kristus.

Tanpa kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia, arah sejarah akan menjadi sebuah bola salju yang liar. Tanpa kelahiran Yesus Kristus, beragam peristiwa sejarah hanyalah pengulangan yang tanpa makna. Puji Tuhan! Sejarah telah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Dari awal sejarah (Adam) sampai puncaknya (karya Kristus di dunia) Allah terus mengontrol.

Kebenaran ini seyogyanya menghibur kita. Kita tidak pernah tahu hari esok kita. Tetapi, satu hal kita tahu dengan pasti, yaitu bahwa Allah mengontrol sejarah dan bahwa sejarah tidak terpisahkan dari Yesus Kristus. Sampai sekarang pun seluruh sejarah tetap mengarah pada Kristus, sebagaimana dikatakan oleh Paulus: “sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Ef 1:10).

Sebuah pepatah populer secara sempurna mengekspresikan kebenaran di atas: History is His Story (Sejarah adalah Kisah-Nya). Sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa yang tidak terkait dan tidak bertujuan. Sejarah tidak lain hanyalah realisasi dari rencana kekal Allah. Dia berdaulat atas sejarah. Dia memberi arti pada sejarah. Dia mengarahkan sejarah untuk kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community