Sumpah Yefta (Hak 11:30-31) (Bagian 2)

Posted on 12/07/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/sumpah-yefta-hakim-hakim-11-30-31.jpg Sumpah Yefta (Hak 11:30-31) (Bagian 2)

 (Lanjutan tgl 5 Juli 2020)

Argumen yang menerima

  1. Yefta pasti memikirkan kurban manusia, karena binatang tidak akan ‘keluar rumah untuk menemui’ Yefta (ay. 31). Seandainyapun ada binatang yang dipelihara di dalam rumah pada zaman itu, binatang itu kemungkinan besar adalah anjing, namun hal ini tampaknya tidak mungkin: anjing termasuk binatang yang haram dan tidak layak dipersembahkan sebagai kurban bakaran. Selain itu, persembahan binatang saja tidak akan sesuai dengan signifikansi kemenangan yang Yefta akan lakukan. Ia tidak akan hanya menjanjikan persembahan binatang kepada TUHAN. Intinya, tidak ada yang istimewa seandainya Yefta hanya menjanjikan binatang.
  2. Dari seluruh pemunculan katA ‘olah (‘kurban bakaran’, ay. 31) yang lebih dari 250 kali di Perjanjian Lama, tidak ada satupun yang dipakai secara simbolis. Semua menunjuk pada tindakan mempersembahkan binatang sebagai kurban bakaran di atas altar. Bahkan ketika Tuhan memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan anaknya, Ishak, kata Ibrani yang dipakai untuk kurban bakaran juga sama, yaitu ‘olah.
  3. Kisah ini sesuai dengan karakteristik kitab Hakim-hakim. Dari segi struktur, kitab ini menunjukkan kualitas hakim-hakim yang disusun ‘downward spiral’ (semakin lama semakin memburuk atau jelek). Yefta, figur utama nomer dua dari akhir, ditampilkan sebagai hakim yang semakin merosot dari segi kualitas.
  4. Selain itu, dari segi teologi, berkali-kali kitab ini menampilkan skema: menderita – bertobat - ditolong TUHAN – meninggalkan TUHAN – menderita, dst. Skema itu semakin didukung oleh tema kitab Hakim-hakim secara umum: karena tidak adanya yang memerintah mereka, setiap orang melakukan apa yang dianggap baik oleh mereka.
  5. Teks Hakim 11 secara eksplisit maupun implisit menampilkan figur Yefta bukan sebagai teladan yang baik.

ο Ia memiliki latar belakang keluarga yang kurang baik (ay. 1-2).

ο Setelah ia diusir dari lingkungan keluarga, ia menjadi perampok (ay. 3).

ο Meskipun ia telah membawa masalah kepada TUHAN (ay. 11) dan Roh TUHAN sendiri telah menghinggapi dia (ay. 29), ia merasa masih perlu untuk ‘memastikan’ kemenangan melalui sumpahnya (ay. 30-31).

ο Ia tidak memahami bahwa memenuhi sumpahnya tersebut jauh lebih berdosa daripada tidak memenuhinya.

  1. Allah memang melarang persembahan manusia sebagai kurban bakaran, tetapi ini bisa dipahami seandainya seseorang pada zaman Yefta – zaman dengan pemahaman terhadap Firman TUHAN yang sangat minim – melakukan hal tersebut. Yefta menganggap tindakannya tersebut menghormati TUHAN, padahal sebetulnya itu tidak dikehendaki TUHAN. Selain itu, praktek persembahan manusia sebagai kurban bakaran adalah bagian yang sangat biasa bagi bangsa-bangsa lain yang hidup pada waktu itu. Tidak tertutup kemungkinan Yefta juga terpengaruh oleh hal ini.
  2. Peristiwa ini selanjutnya diperingati oleh bangsa Israel (ay. 40). Inti peringatan tersebut bukanlah ‘keturunan Yefta yang terputus’, tetapi ‘anak perempuan Yefta’. Seandainya ia hanya dipersembahkan sebagai pelayanan TUHAN seumur hidup di bait Allah, bangsa Israel tidak perlu meratapi peristiwa tersebut setiap tahun.
  3. Tidak ada bukti Alkitab yang jelas bahwa perempuan yang melayani di bait Allah harus perawan (belum menikah). 1 Sam 2:22 bahkan memberitahu sebaliknya.

Bersambung…………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community