Simeon: Sebuah Nyanyian Pengharapan (Lukas 2:25-35)

Posted on 06/12/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Simeon-Sebuah-Nyanyian-Pengharapan-(Lukas-2-25-35).jpg Simeon: Sebuah Nyanyian Pengharapan (Lukas 2:25-35)

Momen-momen menjelang Natal sudah sepantasnya diwarnai dengan kegembiraan dan keceriaan. Ada banyak cara menungkapkan perasaan sukacita ini. Salah satu ekspresi terbaik adalah pujian kepada Allah. Pujian merupakan pengakuan dan ucapan syukur kita atas karya Allah yang ajaib. Itulah yang dilakukan oleh Simeon di Lukas 2:25-35.

Simeon: identitasnya (ayat 25-27)

Dalam tradisi Kristen di luar Alkitab pada abad permulaan, Simeon dipahami sebagai seorang imam dan berusia 112 tahun. Jika kita membaca Lukas 2:25-35, tidak ada petunjuk apapun tentang jabatan dan usia Simeon. Fakta bahwa ia berada di bait Allah dan memberkati Yusuf dan Maria bukan berarti bahwa ia adalah seorang imam. Keterangan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias paling jauh hanya menyiratkan usianya yang tua, namun tidak ada dasar untuk menebak detil usia Simeon. Begitulah karakteristik sebuah tradisi: berusaha menambahkan sesuatu agar terlihat lebih jelas atau menarik, tetapi belum tentu lebih benar.

Lukas justru memilih untuk memfokuskan pada spiritualitas Simeon. Satu-satunya petunjuk yang tidak berhubungan langsung dengan kerohanian Simeon adalah domisilinya di Yerusalem (2:25). Sama seperti Lukas menyoroti kesalehan orang tua Yesus dalam menaati ritual kitab suci (2:21-24, 27), demikian pula ia lebih menandaskan spiritualitas Simeon (2:25-27).

Simeon adalah seorang yang benar (dikaios, 2:25). Istilah ini memiliki makna yang beragam dalam Alkitab. Dalam tulisan Paulus, dikaios lebih menekankan status legal orang percaya di hadapan Allah. Melalui iman kepada penebusan Kristus yang sempurna, semua orang percaya telah diubah statusnya dari orang berdosa menjadi orang benar. Status sebagai orang benar mencakup semua orang percaya tanpa terkecuali. Dalam tulisan Lukas (dan kitab-kitab injil lain), dikaios lebih mengarah pada keteladanan hidup. Lukas secara khusus menyebut Zakharia (1:6) dan Kornelius (Kis 10:22) sebagai orang benar. Sebutan ini menyiratkan posisi yang terhormat, sebagaimana tersirat dari fakta bahwa orang-orang benar seringkali dikaitkan erat dengan para nabi (Mat 10:41; 13:17; 23:29, 35; 2 Pet 5:7-8). Jadi, dikaios tidak selalu bisa diterapkan pada semua orang.

Simeon juga seorang yang saleh (eulabēs, 2:25). Dalam Perjanjian Baru istilah ini hanya muncul dalam tulisan Lukas. Istilah eulabēs dikenakan pada semua orang Yahudi dari berbagai tempat yang berziarah ke Yerusalem untuk merayakan Hari Raya Pentakosta (Kis 2:5). Sesudah Stefanus mati dirajam batu, orang-orang saleh segera menguburkan mayatnya (Kis 8:2). Di Kisah Para Rasul 22:12 Lukas secara khusus menyematkan istilah eulabēs pada Ananias, dan mengaitkannya dengan ketaatan kepada Taurat dan kebaikan pada semua orang. Dalam literatur sekuler Yunani kuno, eulabēs merujuk pada warga negara ideal yang selalu berhati-hati dan teliti dalam mengikuti peraturan masyarakat dan negara.

Selain benar dan saleh, Simeon juga menantikan penghiburan ilahi (2:25). Yang dimaksud penghiburan bagi Israel adalah kelepasan Yerusalem (2:25 “menantikan [prosdechomenos] penghiburan bagi Israel”; 2:38 “menantikan [prosdechomenois] kelepasan untuk Yerusalem”) yang akan dilakukan oleh Mesias (2:26, 30). Ide tentang penghiburan memang mendominasi nubuat mesianis di Perjanjian Lama (Yes 40;1; 49:13; 51:3; 57:18; 61:2). Pada periode selanjutnya para rabi Yahudi menyebut Mesias sebagai Menahem (Penghibur). Kedatangan Kristus ke dalam dunia merupakan penghiburan ilahi. Tidak heran, kisah Natal di Lukas 1-2 dipadati dengan ide tentang sukacita dan pujian (1:14, 41, 44, 46-47, 58, 64, 68; 2:20, 28, 38).

Spiritualitas Simeon juga ditandai dengan karya Roh Kudus yang nyata dalam dirinya (2:25b-27a). Tiga kali Roh Kudus muncul di ayat ini. Sebagaimana Yohanes Pembaptis sejak di dalam kandungan (1:15), Elizabet (1:41), dan Zakaria (1:67) dipenuhi oleh Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus ada atas Simeon. Roh memberikan pewahyuan khusus kepadanya tentang Mesias (2:26). Roh memimpin dia ke bait Allah dan mempertemukannya dengan bayi Yesus (2:27).  

Simeon: pujiannya (ayat 28-32)

Posisi Simeon tatkala memuji Allah tampaknya signifikan. Lukas menginformasikan bahwa Simeon menyambut dan menatang bayi Yesus sambil memuji Allah (2:28). Dalam teks Yunani tertulis: “dan ia menerima Dia di lengannya dan memuji Allah serta berkata…” (LAI:TB “menyambut”). Bukan Simeon yang mengambil bayi Yesus. Ia hanya menerima bayi itu. Ini merupakan tanda bahwa apa yang Simeon sudah nantikan selama ini sudah diberikan Allah kepadanya. Begitu pentingnya hal ini, sampai-sampai dalam tradisi Kristen Simeon disebut Theodochos (lit. “Penerima-Allah”).

Dalam pujiannya, Simeon menyiratkan siapa dia di hadapan Allah (2:29). Ia adalah hamba (doulos) dan Allah adalah tuan (despotēs). Penggunaan kata despotēs di sini dimaksudkan sebagai penekanan terhadap kedaulatan Allah sebagai tuan (bdk. NIV “Sovereign Lord”). Simeon benar-benar sadar posisinya di depan Allah.

Ungkapan “biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera” (2:29, lit. “lepaskanlah hambamu ini dalam damai sejahtera”) sebaiknya dipahami dalam konteks kematian. Kata “melepaskan” (apolyō) memang kadangkala dikaitkan dengan kematian (Kej 15:2 “akan meninggal” = apolyomai; Bil 20:29 “telah mati” = apelythē), begitu pula dengan kata “damai sejahtera” (Kej 15:15 “tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dalam sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu”).

Ungkapan di atas merupakan respon Simeon sesudah ia menyaksikan bagaimana rencana Allah sudah digenapi di dalam hidupnya (2:29 “sesuai dengan firman-Mu”; bdk. 2:26). Simeon sadar bahwa waktu kematiannya sudah tiba. Permohonannya tidak didorong oleh kekecewaan, kegagalan, maupun penyakit yang serius. Bagi Simeon, akhir hidup yang sungguh-sungguh dalam damai sejahtera adalah tatkala rencana Tuhan sudah digenapi di dalam hidup kita.

Salah satu alasan terbaik dalam pujian adalah keselamatan. Itulah yang melandasi pujian Simeon (2:30 “sebab mataku telah melihat keselamatan dari-Mu”). Ada beberapa karakteristik dari keselamatan ilahi ini. Pertama, universal. Pemunculan “segala bangsa” (2:31) dan “bangsa-bangsa lain” (2:32) menjelaskan jangkauan keselamatan yang tidak dibatasi oleh etnis atau budaya. Siapa saja yang percaya dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus sebagai Mesias (bdk. 2:26) akan diselamatkan. Jadi, sifat universal ini tidak berarti universalisme (setiap orang pada akhirnya akan diselamatkan, terlepas dari jenis iman dan tindakannya).

Kedua, telah direncanakan oleh Allah (2:31). Kata “telah Engkau sediakan” (hētoimasas) sebaiknya diterjemahkan “telah Engkau persiapkan”. Kata hētoimazō digunakan untuk Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus (1:17, 76; 3:4), murid-murid yang mempersiapkan segala sesuatu menjelang kematian Yesus Kristus (9:52; 22:8-9, 12-13), orang kaya yang menyiapkan masa depannya secara keliru (12:20) maupun hamba yang tidak mempersiapkan diri menjelang kedatangan tuannya (12:47). Jadi, Allah memang mempersiapkan keselamatan di dalam Kristus sudah sejak lama. Ini bukan hasil pemikiran sesaat atau peristiwa kebetulan.

Ketiga, berisi terang ilahi (2:32). Pemunculan terang di sini berkaitan dengan keadaan semua bangsa yang berada dalam kegelapan (1:79). Melalui kehidupan dan penebusan Yesus Kristus, Allah memberikan sinarnya kepada semua bangsa (Kis 26:23).

Bagi bangsa-bangsa lain, terang itu adalah penyataan (apokalypsis, 2:32b), sedangkan bagi Israel terang itu adalah kemuliaan (doxa, 2:32b). Dua sisi dari terang ini merupakan penggenapan dari Yesaya 60:1-3. Melalui terang yang datang atas Israel, semua bangsa akan ditarik untuk datang kepada terang itu. Kemuliaan atas Israel bukan untuk dinikmati mereka sendiri, melainkan sebagai sarana untuk membawa orang lain mengenal TUHAN.

Simeon: tindakannya pada orang tua Yesus (ayat 33-35)

Sikap heran yang ditunjukkan oleh Yusuf dan Maria (2:33) dianggap aneh oleh sebagian penafsir. Mereka berdua sudah mengetahui siapa Yesus, sehingga tidak perlu heran dengan ucapan Simeon. Anggapan seperti tampaknya kurang tepat. Penekanan pada universalitas karya Yesus Kristus (3:32) sebelumnya belum dinyatakan. Pujian Maria terfokus pada Israel (1:46-55), demikian pula dengan nubuat Zakharia (1:67-79). Di samping itu, keheranan sesudah menerima wahyu ilahi merupakan hal yang wajar dalam tradisi Yahudi, terlepas dari isi wahyu tersebut.

Sebagai respon terhadap orang tua Yesus, Simeon memberkati mereka (2:34a). Menariknya, berkat ini tidak selalu terlihat menyenangkan. Perkataan Simeon kepada Maria menyiratkan sisi lain dari kehidupan dan pelayanan Yesus.

Dalam kaitan dengan banyak orang, keberadaan Yesus akan menimbulkan perbantahan (2:34b). Maksudnya, orang akan memberikan respon berlainan terhadap Dia: sebagian menerima, sebagian menolak. Yang menerima akan dimuliakan Allah (“membangkitkan”, bdk. Yes 28:13-16), yang menolak akan direndahkan (“menjatuhkan”, bdk. Yes 8:14-15). Perbedaan respon ini sekaligus mengungkapkan keadaan hati seseorang (3:35b).

Dalam kaitan dengan Maria, keberadaan Yesus juga dalam taraf tertentu akan menimbulkan kepedihan. Gambaran kesedihan ini semakin kentara sebab kata “pedang” (rhomphaia) yang muncul di sini merujuk pada pedang yang panjang. Pedang panjang itulah yang akan menusuk jiwa Maria. Kisah-kisah selanjutnya menerangkan kepedihan ini. Maria harus belajar menerima kenyataan bahwa Yesus Kristus akan lebih taat kepada Bapa-Nya daripada orang tua jasmaninya (2:49). Di penghujung hidup Yesus, Maria harus menyaksikan penderitaan anaknya di atas kayu salib (23:49; Yoh 19:25).

Jika Simeon yang hanya memandang cicipan keselamatan bisa memuji Allah, apalagi kita yang sudah melihat penggenapan keselamatan Allah yang jauh lebih besar. Jika dengan berbekal pengharapan Simeon sudah puas dengan hidupnya, apalagi kita yang sudah melihat dan menikmati realisasi dari pengharapan itu. Tidak ada alasan untuk takut dan kuatir. Selalu ada alasan untuk memuji dan bersyukur. Soli Deo Gloria.

Perayaan Natal mula-mula berbeda dengan perayaan Natal sekarang. Apa yang dahulu masih sebagai pengharapan, kini sudah menjadi kenyataan. Apa yang dahulu masih terbentang jauh di depan, sekarang sudah menjadi pengalaman. Jika sebuah pengharapan saja sudah cukup bagi Simoen untuk bersukacita dan memuji Allah, apalagi sekarang. Kita seharusnya jauh lebih bersukaria, karena kita telah melihat penggenapan dari pengharapan tersebut.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community