Sejarah Singkat Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris (Bagian 2)

Posted on 21/04/2019 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/sejarah-singkat-penerjemahan-alkitab-ke-dalam-bahasa-inggris.jpg Sejarah Singkat Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 14 April’19)

Kemunculan terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin bukan berawal dari Roma, melainkan dari Afrika Utara. Selama 2 abad pertama, gereja di Roma masih memakai bahasa Yunani, baik literatur-nya, nama-nama bishop-nya, maupun liturgi-nya. Versi-versi Alkitab Latin yang ditemukan di Afrika Utara (sekitar pertengahan abad 3 M) dapat ditermukan pada tulisan-tulisan Cyprian dan Tertulianus. Tetapi versi-versi ini terlihat sederhana, kasar dan berciri khas masing-masing provinsi dimana versi itu ditulis. Ketika gereja di Itali mulai menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa resminya (kemungkinan sekitar akhir abad ke-3 M), ciri khas dari versi Alkitab Latin mereka yang berbau Afrika Utara, jelas tidak cocok jika dipakai di gereja Roma yang ciri khasnya lebih sopan.  Maka mereka membuat versi Alkitab Latin sendiri yang disesuaikan dengan ciri khas provinsinya. Begitulah gambaran sekilas munculnya berbagai versi Alkitab Latin yang berciri khas masing-masing provinsi.   

Munculnya bidat-bidat.

Selain karena faktor ketidaknyamanan dalam berkotbah dan melaksanakan liturgi dengan berbagai variasinya, gereja  membutuhkan satu teks berotoritas melawan para bidat yang bermunculan saat itu. Adanya beberapa versi Alkitab Latin yang dalam beberapa bagian teksnya justru membela pendapat para bidat serta tidak adanya versi Alkitab stanbdar membuat gereja semakin sulit untuk membuktikan kebersalahan bidat-bidat itu. Apalagi, orang-orang Yahudi , dengan satu teks otoritasnya, malahan mentertawakan orang-orang Kristen yang bingung dengan bermacam-macam versi Alkitab mereka.   

Perpisahan gereja Barat dan Timur

Ketika Kaisar Constantine memindahkan ibukota Roma ke kota Konstatinopel (kota yang dibangunnya sendiri dengan memberi nama sesuai dengan namanya) pada tahun 330, maka tindakan ini memicu perpisahan gereja-gereja di Barat dan Timur baik secara politik maupun urusan gerejawi. Gereja-gereja di Barat dan Timur masing-masing ingin memiliki standar teks Alkitab sendiri untuk mengklaim otoritas mereka masing-masing.

Maka mulailah Jerome melaksanakan tugasnya hingga tahun 405 dia berhasil menerjemahkan seluruh PL dan PB serta beberapa kitab Apokrifa. Hasil terjemahan Jerome ini diberi nama  Latin Vulgata (versio vulgata) yang artinya adalah terjemahan yang diperuntukkan untuk umum. Menjelang tahun 500 M, Alkitab telah diterjemahkan (tidak secara lengkap) ke dalam sekitar 500 bahasa. Namun satu abad berikutnya (sekitar 600 M), gereja  Roma Katolik (selanjutnya disingkat RK) sebagai institusi yang mendapat klaim ‘gereja yang universal’ sekitar tahun 170 M, melarang pemakaian terjemahan-terjemahan Alkitab, kecuali terjemahan Latin Vulgata. Orang-orang yang memiliki terjemahan Alkitab selain Latin Vulgata akan mendapat hukuman mati.

Larangan ini berkenaan dengan hak istimewa yang dimiliki para rohaniwan gereja RK untuk mempelajari bahasa Latin. Dengan keistimewaan ini gereja memperoleh kekuasaan mutlak untuk membuat berbagai pengajaran gereja tanpa adanya keberatan dari kaum awam karena ketidakmampuan mereka untuk membaca Alkitab dalam bahasa Latin. Selain itu jika kaum awam dapat membaca Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti, maka pendapatan gereja akan berkurang. Hal ini berkenaan dengan proyek-proyek gereja, misalnya dengan menjual indulgensia, yaitu surat penghapusan dosa dan purgatory, yaitu melepaskan orang yang kita kasihi tetapi sudah meninggal dari purgatory (api penyucian).        Supremasi gereja RK dalam menyatakan otoritas Latin Vulgata mencapai puncaknya pada Konsili Trente pada 8 April 1546. Dalam Konsili ini ditetapkan, “But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as thay have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin Vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn (condemn) the traditions aforesaid; let him be anathema” (Tetapi jika ada orang yang tidak menerima sebagai kitab-kitab yang suci dan kanonik, yaitu kitab-kitab yang disebutkan dengan bagian-bagiannya, sebagaimana yang dulunya dibaca oleh gereja Katolik dan yang terdapat dalam edisi Latin Vulgata, dengan sadar dan sengaja menghakimi tradisi-tradisi yang disebutkan sebelumnya; maka terkutuklah dia).

 

Bersambung……………..

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community