Perlukah Sebuah Gereja Menganut Teologi Tertentu?

Posted on 20/06/2021 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/06/Perlukah-Sebuah-Gereja-Menganut-Teologi-Tertentu.jpg Perlukah Sebuah Gereja Menganut Teologi Tertentu?

Bagi sebagian orang, menganut teologi tertentu dipandang sebagai sebuah hal yang negatif. Berbagai label siap disematkan pada individu atau gereja yang memegang teguh suatu tradisi teologi tertentu: berpikiran sempit, ketinggalan zaman, kurang berpusatkan pada Alkitab, dan segudang ekspresi lainnya. Serangan akan menjadi semakin menggila apabila suatu gereja berani menetapkan teologi tertentu sebagai acuan keyakinan bagi seluruh jemaat dan keharusan bagi setiap pimpinan rohani di sana.

Gereja REC dan saya secara pribadi beberapa kali menerima serangan seperti itu. Ada yang menganggap saya/REC telah menjadikan Teologi Reformed sebagai pengganti Alkitab. Ada pula yang menilai bahwa penetapan teologi tertentu sebagai acuan keyakinan merupakan penolakan terhadap prinsip Sola Scriptura (hanya kitab suci saja).

Tidak sulit untuk menemukan kekeliruan dalam anggapan-anggapan di atas. Sukar untuk dipahami bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai penganut Teologi Reformed tetapi pada saat yang sama dia menolak Sola Scriptura? Bukankah prinsip ini yang menjadi salah satu karakteristik Teologi Reformed? Adalah tidak konsisten apabila seseorang mengaku diri Reformed tetapi menjadikan teologi ini sejajar (atau lebih tinggi) dengan Alkitab dalam hal otoritas kebenaran.

Selain keliru, anggapan-anggapan di atas juga terlihat terburu-buru. Orang yang mengucapkannya belum tentu benar-benar memahami kerumitan dalam isu ini. Istilah “berdasarkan Alkitab saja” tidak sesederhana seperti yang selama ini dibayangkan. Masing-masing penganut aliran teologi pasti meyakini bahwa tradisi dan teologi mereka yang paling Alkitabiah. Mereka juga dengan cepat akan mengakui semboyan Sola Scriptura (hanya kitab suci saja). Anehnya, dengan keyakinan dan pengakuan seperti itu, hasil penafsiran mereka tetap beragam.

Keragaman ini dapat dipahami. Ketika seseorang menafsirkan kitab suci, dia tidak berada dalam kevakuman. Banyak faktor turut memengaruhi penafsirannya: ketrampilan hermeneutis, pengetahuan biblikal, muatan personal dan kultural, paradigma teologi, dan sebagainya.

Situasi ini tentu saja tidak berarti bahwa semua orang berhak menafsirkan kitab suci semaunya sendiri atau bahwa setiap penafsiran adalah benar. Setiap interpretasi pada akhirnya akan diuji melalui koherensi dengan konteks suatu ayat, karakteristik penulisan dan teologi penulis Alkitab, dan konsistensi dengan ajaran-ajaran utama Alkitab. Di sinilah setiap penganut teologi diundang dan ditantang untuk menguji teologi yang dia yakini. Jadi, walaupun teologi turut berperan dalam penafsiran, namun teologi itu sendiri pada akhirnya juga akan menjadi objek pengujian selama proses penafsiran.

Meyakini suatu teologi pada dirinya sendiri merupakan hal yang wajar. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk rasional. Dengan natur seperti ini, manusia cenderung mencari konsistensi logis dalam pemikirannya. Hanya sedikit orang yang mau memegang kontradiksi-kontradiksi dalam pandangannya. Manusia selalu berusaha untuk menjadikan segala sesuatu “masuk akal.”

Hal ini tentu saja bukan penolakan terhadap hal-hal yang melampaui akal (misteri). Bahkan manusia cenderung memahami misteri sebagai sesuatu yang rasional (wajar jika manusia yang terbatas tidak bisa memahami segala sesuatu). Hal ini juga tidak berarti penolakan terhadap hal-hal yang non-rasional (misalnya perasaan). Ada ruang untuk hal-hal tersebut. Namun, bagaimanapun juga, manusia juga tetap akan mencoba memahami hal itu secara rasional. Bahkan tindakan-tindakan yang terkesan tidak rasional juga seringkali diterangkan maupun dibenarkan secara rasional.

Nah, di sinilah teologi memainkan peranan yang krusial. Setiap teologi pasti memiliki kerangka teologis-logis tertentu. Teologi bukan sekadar kumpulan ide tanpa benang merah. Teologi yang baik bahkan seharusnya bersifat sistemik. Artinya, teologi itu memiliki runtutan berpikir yang jelas, teratur dan konsisten. Menganut teologi tertentu justru sesuai dengan kecenderungan berpikir manusia.

Alkitab juga menyediakan beberapa petunjuk tentang pentingnya ajaran tertentu dalam gereja. Paulus menerangkan bahwa pertumbuhan gereja tidak dapat dilepaskan dari “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah” (Ef. 4:13). Walaupun kita tidak dapat mengetahui sejauh mana kesatuan doktrinal ini perlu diterapkan, ayat ini paling tidak menyiratkan pentingnya suatu gereja lokal untuk memiliki keyakinan doktrinal tertentu. Dengan kata lain, setiap gereja yang benar perlu memiliki kesamaan doktrinal dalam hal-hal yang pokok. Itulah yang ditekankan oleh para rasul (Kis. 15; 1Kor. 11:16).

Apakah ayat-ayat ini memberi pembelaan terhadap penerapan teologi tertentu dalam suatu gereja? Tidak juga. Namun, ayat-ayat itu juga tidak melarang suatu gereja untuk memegang teguh suatu teologi tertentu. Yang penting gereja tersebut memertimbangkan beberapa poin berikut ini.

Pertama, teologi yang dianut harus selaras dengan ajaran-ajaran mayor dalam Alkitab. Apa saja yang termasuk dalam kategori mayor memang bisa diperdebatkan, tetapi kita memiliki alasan yang kuat untuk meletakkan Injil sebagai fondasi teologi (pengakuan terhadap kematian dan kebangkitan Yesus yang membuktikan ke-Tuhanan-Nya, Rm. 10:9-10). Pengakuan terhadap kebenaran dan otoritas Alkitab juga menjadi keyakinan pokok bagi jemaat mula-mula. Inkarnasi Anak Allah menjadi pembeda ajaran yang benar dan yang salah (1Yoh. 4:2, 15).

Kedua, penganut teologi itu tidak meremehkan atau menjelek-jelekkan aliran teologi lainnya. Sebaliknya, keunikan teologi tidak boleh menghalangi sebuah gereja untuk bekerja sama dengan gereja-gereja lain demi kemajuan kerajaan Allah di muka bumi. Ada perbedaan yang besar antara meyakini kebenaran suatu teologi dengan merasa paling benar sendiri.

Ketiga, gereja yang menerapkan teologi tertentu tetap berani mengkritisi teologi, tradisi maupun praktek religius yang dianut. Tidak ada teologi yang sempurna. Teologi selalu berkembang sesuai zaman dan perkembangan penelitian Alkitab. Demikian pula dengan Teologi Reformed. Gereja Reformed harus berani terus-menerus mereformasi dirinya sendiri. Soli Deo Gloria.

Photo by Chris Karidis on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community