Penampilan fisik dalam perjanjian lama

Posted on 23/08/2015 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/penampilan_fisik_dalam_perjanjian_lama.jpg Penampilan fisik dalam perjanjian lama

Dalam Alkitab, acapkali penampilan fisik seseorang dipaparkan secara mendetil. Kitab  Kidung Agung merupakan satu-satunya kitab dalam Alkitab yang memaparkan penampilan fisik seseorang secara mendetil. Tetapi mungkin ada beberapa orang yang mempertanyakan definisi atau kriteria cantik/ganteng dalam Alkitab dan membandingkannya dengan definisinya dalam konteks dunia modern sekarang ini. Hal ini berkenaan dengan gambaran yang diberikan oleh Alkitab, misalnya Sarah dikatakan cantik (Kej. 12:11), bahkan sangat cantik (ay. 14). Pujian “(sangat) cantik” yang dikenakan kepada Sara akan sulit dipahami oleh orang modern mengingat usia Sara yang tidak mudah lagi.

Istilah cantik dalam bahasa Ibrani memakai kata yofi. Selain itu ada juga kata dukungan untuk menggambarkan kecantikan seseorang, yaitu Hen. Jika yofi secara mendasar menggambarkan ciri khas  keindahan seseorang (misalnya bentuk badan, keindahan wajah), maka Hen merujuk pada kualitas yang menawan  dan bergantung pada sikap subyektif seseorang terhadap obyeknya. Namun pada padasarnya kedua kata itu mengarah pada menarik-nya seseorang atau kesan yang menarik pada diri seseorang. Dalam banyak kasus, kedua kata itu muncul bersamaan:

Mazmur 45:2.Engkau yang terelok (yofi) di antara anak-anak manusia, kemurahan (Hen) tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.

Amsal 31:30.Kemolekan (Hen) adalah bohong dan kecantikan (yofi) adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Ester pun dikatakan cantik (2:7) malahan menimbulkan kasih sayang (Hen) pada siapa saja yang melihat dia (2:17).

Literatur Alkitab dan tulisan para rabi secara umum memuji keindahan fisik seseorang. Setelah Ayub mengalami pemulihan, Ayub dikaruniai 3 orang anak perempuan yang digambarkan ,”di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik (yofi) anak-anak Ayub…” (42:15). Dalam tulisan para rabi, utamanya Talmud dan Midrash, dikatakan bahwa Hawa, ibu dari segala ciptaan, jauh lebih cantik dari Sara; begitu pula dengan Adam, karena Adam adalah manusia pertama yang diciptakan menurut gambar Allah. Para rabi percaya bahwa keindahan fisik merupakan salah satu dari tujuh hal (kebijaksanaan, kekuatan (fisik), kemakmuran, umur panjang, keturunan dan kehormatan) yang layak diberikan kepada orang benar.

Dalam tulisan orang Yahudi tentang gaya hidup mereka, dikatakan bahwa  jika seseorang melihat ciptaan yang indah (entah manusia atau binatang), maka orang itu harus berkata,”Terpujilah Dia yang menciptakan makhluk yang begitu indah di dunia-Nya”. Dalam dunia Israel kuno, merupakan hal yang wajar jika dalam acara pesta perkawinan para undangan menari mengelilingi pengantin perempuan dan memuji kecantikannya. Kebiasaan ini mengakibatkan pertentangan antara 2 aliran, yaitu aliran Shammai dan Hillel. Menurut Shamai, pengantin perempuan harus dipuji menurut kualitas fisik yang sesungguhnya, sedangkan menurut Hillel, seorang pengantin perempuan harus dipuji “cantik dan menarik”.

Pada era Bait Allah kedua, pada bulan Ab pada hari ke -15 dan pada hari raya pendamaian, merupakan kebiasaan para gadis menari di depan para pria muda yang akan memilih pengantin buat mereka. Gadis-gadis yang berasal dari keluarga yang baik akan berkata,”Hi pria-pria, lihat keluarga kami. Karena seorang istri berfungsi hanya berfungsi untuk melahirkan anak.” Hal ini dikatakan untuk memberitahukan bahwa seorang gadis yang berasal dari keluarga yang baik akan memiliki anak dengan kualitas spiritualitas yang baik pula. Gadis-gadis yang cantik akan berkata, “Hi pria-pria, lihatlah kecantikan, karena seorang istri dipilih karena masalah kecantikannya. Sedangkan gadis-gadis yang tidak berasal dari keluarga yang baik maupun tidak cantik fisiknya, akan berkata,”Hi pria-pria, ambillah istri untuk kepentingan sorga”, artinya untuk kepentingan tujuan moral sebagaimana yang diperintahkan pada permulaan penciptaan.

TAMPAN

Yusuf

Kejadian 39:6 menggambarkan Yusuf itu ‘manis sikapnya dan elok parasnya’. Ekspresi yang sama dalam bahasa Ibrani juga ditujukan kepada ibu Yusuf, Rahel : ‘Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya’ (Kej. 29:17). Menurut tulisan Yosephus, gambaran keindahan fisik yang dimiliki Yusuf, disebut sebagai ‘warisan dari ibunya, Rahel’. Jika LAI menerjemahkan kondisi Yusuf sebagai orang yang ‘manis sikapnya dan elok parasnya’, maka beberapa terjemahan Inggris memiliki perbedaan:

KJV : a goodly person, and well favoured

NAB : handsome in countenance and body

NIV : well-built and handsome

RSV : handsome and good-looking

Dalam istilah Ibraninya, terjemahan literal yang tertulis adalah bahwa Yusuf itu ‘handsome in form and appearance’. Ketampanan Yusuf telah menjadi subyek bagi banyak dongeng dan legenda. Dalam dongeng Yahudi diceritakan bahwa karena ingin mempertontonkan ketampanan Yusuf, istri Potifar mengundang para wanita di kota dalam sebuah pesta. Istri potifar menyajikan buah jeruk dan pisau untuk para wanita undangannya itu. Diceritakan, karena terpesonanya para wanita dengan ketampanan Yusuf, mereka tidak sadar bahwa mereka telah memotong jari mereka (yang dikira adalah buah jeruk) dan mulut mereka penuh dengan darah karena makan buah jeruk yang telah bercampur dengan lelehan darah dari jari mereka. Terlepas benar tidaknya kisah tersebut, hal ini sangat mendukung untuk menggambarkan ketampanan seorang Yusuf.

Saul

Dalam 1 Samuel 9:2 Saul digambarkan sebagai “seorang muda yang elok rupanya (†ôB); tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” Kegantengan yang dimiliki Saul setidaknya dinilai dari 2 sisi, yaitu wajahnya dan tinggi badannya. Untuk menonjolkan kegantengan yang dimiliki Saul, penulis kitab 1 Samuel bahkan membandingkannya dengan seluruh laki-laki di Israel. Tinggi badannya sangat mencolok, bahkan dinyatakan 2 kali (1 Sam. 9:2 dan 10:23-24).

Daud

Selain Saul, penampilan fisik Daud juga digambarkan secara menonjol dalam 1 Sam. 16:12 “kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.” Penampilan fisik Daud ini juga dikorfirmasi oleh Goliat, musuhnya, ketika mereka akan berperang (1 Sam. 17:42). Rupanya “kemerah-merahan” merupakan salah satu kriteria ganteng untuk seorang lelaki pada jaman itu (band. Kid. 5:10).

Absalom

Di atas semua itu, keindahan fisik yang digambarkan oleh Alkitab mencapai gambaran yang sempurna pada perincian fisik Absalom, anak Daud. Dalam 2 Samuel 14:25-27 tidak digambarkan satu persatu kondisi fisik Absalom. Alkitab hanya memakai kata “Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya.” Penampilan fisik yang baik dan tidak adanya cacat juga muncul dalam penggambaran anak-anak muda Israel yang dibawa sebagai tawanan di kerajaan Babel (Dan. 1:4). Cacat yang dimaksud memang tidak digambarkan, namun dari Imamat 21:18-20 dipaparkan beberapa kriteria yang dimaksud dengan cacat tubuh. Namun ada yang menarik dari pemaparan ketampanan Salomo, yaitu pemaparan detil tentang rambutnya (ay. 26). Namun pada kekuatan rambutnya yang dibanggakan itu, pada rambutnya pulalah penyebab kematiannya (2 Samuel 18:9). 

Selain itu bentuk tubuh tertentu digambarkan merupakan idealisme seorang laki-laki (Dan. 1:15). Rambut dan janggut seorang laki-laki juga mendapatkan perhatian untuk mendukung penampilan fisiknya (2 Sam 14:26; Kid. 5:11). Kemampuan fisik untuk bergerak secara cepat juga menjadi sasaran kriteria keindahan fisik seorang laki-laki (2 Sam 1:23; Kid. 2:8,9,17; 8:14). Semua kumpulan kriteria di atas (dan pastinya ada beberapa lainnya yang tidak disebutkan di Alkitab), terkumpul menjadi satu dan diwakili oleh satu kata †ôB, yang dalam LAI seringkali diterjemahkan dengan “elok parasnya” untuk menggambarkan keindahan fisik seorang laki-laki.

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community