Penalaran Logis Lebih Tinggi Daripada Otoritas Alkitab?

Posted on 10/03/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/penalaran-logis-lebih-tinggi-daripada-otoritas-alkitab.jpg Penalaran Logis Lebih Tinggi Daripada Otoritas Alkitab?

Beberapa minggu lalu saya mendapatkan pertanyaan dari seseorang tentang Alkitab. Dia mempersoalkan upaya memberikan alasan-alasan logis untuk membuktikan bahwa Alkitab adalah firman Allah. Menurut dia, upaya ini terkesan menggantikan otoritas Alkitab dengan penalaran logis. Kebenaran Alkitab seharusnya ada pada dirinya sendiri. Keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tidak mungkin keliru seyogyanya dibangun di atas iman, bukan penalaran.

Benarkah demikian? Apakah pada saat seseorang memberikan pembelaan logis terhadap Alkitab orang itu sedang menempatkan diri di atas Alkitab? Benarkah keyakinan terhadap Alkitab murni persoalan iman dan bukan penalaran?

Untuk menghindari kesalahpahaman, kita perlu melakukan beberapa pembedaan sebagai upaya klarifikasi. Pembedaan pertama adalah proses dan hasil pengilhaman Alkitab. Proses pengilhaman tidak mungkin bisa dibuktikan. Kita mengetahui dan meyakini pengilhaman dari klaim Alkitab sendiri (2Tim. 3:16; 2Pet. 1:20-21). Tidak ada cara atau alat untuk verifikasi hal ini, entah untuk mengiyakan atau menyangkalinya.

Walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa hasil pengilhaman tidak dapat diuji. Jika Alkitab memang benar-benar diilhamkan oleh Allah, kita berharap akan menemukan petunjuk-petunjuk ke arah sana. Petunjuk-petunjuk ini dapat diketahui dan diterangkan melalui penelitian dan penalaran.

Pembedaan selanjutnya adalah antara meyakini, mengetahui, dan menunjukkan kebenaran. Orang yang meyakini sesuatu belum tentu mengetahui alasan-alasan logis yang mendukung keyakinan tersebut. Ketidaktahuan ini tidak secara otomatis menyebabkan keyakinannya keliru. Orang yang mengetahui dukungan logis bagi suatu keyakinan belum tentu langsung menerima keyakinan itu. Meyakini sesuatu bukan hanya mencakup aspek intelektual. Ketika seseorang ingin mengajak orang lain untuk menerima keyakinannya, orang itu perlu menunjukkan mengapa keyakinannya memang patut untuk diterima.

Dalam kaitan dengan keyakinan kita terhadap Alkitab, Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk mempercayai Alkitab sebagai firman Allah. Iman datang lebih dahulu daripada pengetahuan. Namun, iman yang benar selalu disertai dengan pertumbuhan pengetahuan (Ef. 4:13). Kita mulai menambahkan alasan-alasan rasional tertentu ke dalam iman tersebut. Bukan sebagai penyebab atau fondasi iman, melainkan sebagai penjelasan. Pada saat mendiskusikan keyakinan itu kepada ateis atau penganut agama lain, kita berusaha membangun pijakan bersama, yaitu logika dan fakta. Bukan berarti mengabaikan iman atau intervensi Roh Kudus. Sebaliknya, kita meyakini bahwa Allah mampu mengerjakan iman dalam hati orang-orang tertentu melalui pemaparan yang logis dan faktual.

Jadi, pembelaan secara logis terhadap Alkitab sama sekali tidak menggantikan otoritas Alkitab maupun fondasi iman kita. Upaya ini justru berfaedah untuk menunjukkan bahwa keyakinan kita memang masuk akal. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community