Nama Pasangan Adam : Perempuan atau Hawa? (Bagian 1)

Posted on 26/07/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Nama-Pasangan-Adam-Perempuan-atau-Hawa.jpg Nama Pasangan Adam : Perempuan atau Hawa? (Bagian 1)

Ada yang menanyakan sebenarnya siapakah nama pasangan Adam, perempuan atau Hawa? Kej. 2:23 mengatakan, “Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Tetapi di bagian lain yaitu di Kej. 3:20 dikatakan demikian, “Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.” Jadi sebenarnya nama yang mana yang benar? 

 

PEREMPUAN

Ketika Adam memberi nama makhluk lain yang diciptakan Allah untuknya ketika dia dibuat tertidur oleh Allah (Kej. 2:21-22), dia berkata : Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (ay, 23).  Sebagian penafsir meyakini bahwa istilah “daging dan tulang” tidak hanya menginformasikan tentang bahan yang dipakai Allah untuk membentuk Hawa (2:21-22), tetapi juga mengandung makna tambahan yang lain. Di satu sisi, dalam PL ungkapan “daging atau tulang” beberapa kali menyiratkan relasi kekeluargaan atau hubungan darah (29:14; 37:27; Hak 9:2; 19:13). Di sisi lain, ungkapan tersebut juga dipakai dalam pengertian sebuah loyalitas (perjanjian). Di 2 Samuel 5:1 orang-orang dari daerah utara menghadap Daud dan menyatakan bahwa mereka adalah darah-dagingnya. Sesuai dengan konteks yang ada, ungkapan ini jelas tidak berarti bahwa mereka memiliki relasi kekeluargaan dengan Daud. Ungkapan ini menunjukkan loyalitas dan komitmen mereka kepada Daud. Di antara dua alternatif ini, yang terakhir tampaknya lebih dapat diterima. Dalam konteks Adam-Hawa jelas tidak ada relasi kekeluargaan.

Dalam konteks ucapan yang dilontarkan Adam, ungkapan “daging dan tulang” bukan hanya menyiratkan ide tentang perjanjian atau loyalitas, tetapi juga perpaduan antara kekuatan dan kelemahan. Dalam konsep anthropologi PL daging (bāšÄr) seringkali menyiratkan makna kelemahan dan kefanaan hidup manusia. Sebaliknya, “tulang” (‘eÅŸem) merefleksikan makna kekuatan. Kata dasar ‘esm memiliki arti ‘menjadi atau menjadikan kuat’ (Kej. 26:16; Mzm 105:24; Dan 8:8, 24). Ketika seseorang mati, dagingnya akan cepat musnah, sedangkan jasadnya hanya diwakili oleh tulang-tulang (50:25). Perpaduan inilah yang di kemudian hari dijadikan dasar dari kekuatan pernikahan.

Di 2:23 kesamaan antara Adam dan Hawa ditegaskan melalui beberapa cara. Selain Hawa adalah daging dan tulang Adam (2:23a), Hawa juga disebut ‘perempuan’ (’iššâ). Orang Yahudi pasti tidak kesulitan untuk menemukan permainan kata antara “laki-laki” (’iš) dan “perempuan” (’iššâ). Sebagaimana manusia disebut “Adam” (’ādām) karena berasal dari tanah (ādāmâ), demikian pula ’iššâ berasal dari ’iš.

 

HAWA

Adam beberapa kali diberi tugas untuk memberi nama:  kepada binatang-binatang (2:19-20) dan memberi nama kepada istrinya, Hawa (3:20). Selanjutnya Adam dan Hawa sendiri juga akan memberi nama kepada anaknya (4:26; 5:3). Pemberian nama ini secara tersirat mengekspresikan keutamaan Adam atas Hawa (2:23; 1 Kor 11:8-9), walaupun keutamaan ini tetap tidak menghilangkan kesepadanan mereka sebagai gambar Allah (2:18; 1:26-27). Secara khusus hal ini mungkin dimaksudkan sebagai petunjuk awal bahwa bagaimana pun perempuan berusaha menginginkan kekuasaan dari laki-laki, laki-laki tetap akan berkuasa atas dia (3:16).

Beberapa penafsir memandang tindakan Adam di 3:20 sebagai bentuk penghinaan kepada perempuan, karena perempuan diperlakukan sama seperti binatang (bdk. 2:19-20). Pendapat ini jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab sebelum kejatuhan ke dalam dosa pun Adam sudah menamakan pasangan hidupnya sebagai “perempuan” (2:23b). Nama yang diberikan pun bernada positif (kecuali kita menafsirkan ini sebagai sebuah sindiran).

 

Bersambung………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community