Misi Global Allah: Amanat Budaya (Kejadian 1:28)

Posted on 11/10/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Misi-Global-Allah--Amanat-Budaya-(Kejadian-1-28).jpg Misi Global Allah: Amanat Budaya (Kejadian 1:28)

Dalam kekristenan dikenal dua macam amanat: amanat budaya (Kejadian 1:28) dan amanat agung (Mat 28:19-20). Walaupun keduanya sama-sama diajarkan di dalam Alkitab secara jelas, keterkaitan antara keduanya kadangkala masih kabur. Sebagian orang memandang yang satu sebagai kontras terhadap yang lain. Mereka yang mengakui keterkaitan keduanya pada tingkatan konseptual pun seringkali menceraikan keduanya pada tingkatan praktis. Tidak berlebihan apabila disimpulkan bahwa di kalangan gereja-gereja injili, amanat budaya seringkali kurang mendapat perhatian yang layak.

Esensi amanat budaya

Amanat budaya dapat diringkas dalam dua kata kerja: menaklukkan dan menguasai (Kej 1:28). Dua kata ini tidak terpisahkan, namun dapat dibedakan. Tidak terpisahkan, karena penguasaan bumi hanya dimungkinkan melalui penaklukan. Dapat dibedakan, karena penaklukan lebih dikaitkan dengan alam secara lebih luas (obyeknya adalah bumi), sedangkan penguasaan lebih terkait dengan makhluk hidup di dalamnya (obyeknya adalah binatang).

Amanat budaya ini sangat berbeda dengan konsep mitologi kuno. Bangsa-bangsa di sekitar Israel pada waktu itu menganggap alam semesta sebagai sesuatu yang ilahi. Beberapa benda di alam disembah, misalnya matahari, bulan, bintang, gunung, sungai, dan binatang-binatang tertentu. Mereka juga memandang bahwa para dewa menguasai daerah atau benda tertentu di alam. Misalnya, ada dewa gunung, ada dewa daratan (1 Raj 20:23, 28). Dalam amanat budaya, semua itu justru berada di bawah dominasi manusia.

Beberapa orang menuduh bahwa Alkitab turut berperan dalam perusakan alam, karena kata kerja “menaklukkan” (kābaš) dan “menguasai” (rādâ) dianggap memiliki muatan kekerasan. Sebagai contoh, mereka menunjukkan bahwa kata kābaš muncul dalam konteks konteks: perbudakan (2 Taw 28:10; Neh 5:5; Yer 34:11, 16), pelecehan fisik atau verbal (Est 7:8), maupun pendudukan militer secara paksa (Bil 32:22, 29; Yos 18:1).

Apakah benar amanat budaya menyiratkan kekerasan terhadap alam dan makhluk hidup? Tentu saja bukan. Kita tidak boleh menceraikan kābaš dari rādâ. Walaupun rādâ bisa mengandung konotasi negatif (tergantung pada subyek dari kata kerja itu), tetapi kata ini juga berkali-kali digunakan dalam arti yang positif. Imamat 25 memperingatkan para tuan untuk tidak menguasai budak mereka dengan kekerasan. 1 Raja-raja 4:24 mengindikasikan suasana pemerintahan yang penuh damai di bawah kekuasaan Salomo. Raja yang berkuasa di Mazmur 72 juga merupakan pelindung bagi orang miskin dan terpinggirkan.

Di samping itu, penyelidikan konteks Kejadian 1 secara teliti pun mendukung penafsiran di atas. Makanan manusia tetap dibatasi oleh Allah, yaitu tumbuhan berbiji dan berbuah (1:29). Memakan daging binatang baru dibolehkan setelah kejatuhan ke dalam dosa (9:3). Makanan untuk manusia dan binatang pun dibedakan oleh Allah (1:29-30) supaya tidak terjadi kompetisi. Kejadian 2:15 secara eksplisit menunjukkan bahwa tugas manusia adalah mengerjakan dan memelihara, bukan merusak. Pada saat amanat ini diucapkan kembali oleh Tuhan Allah kepada Nuh pasca air bah, Alkitab secara jelas menilai ketundukan binatang pada manusia sebagai berkat Allah (9:2; bdk. 1:26). Fakta bahwa selama air bah Allah memerintahkan Nuh untuk menyelamatkan binatang-binatang menunjukkan bahwa tindakan semena-mena terhadap binatang merupakan tindakan yang keliru. Bagian lain dari tulisan Musa mengajarkan pelestarian binatang (Ul 22:6-7; 25:4; bdk. Ams 12:10; 27:23). Jadi, amanat budaya bukan eksploitasi alam maupun binatang.

Kalau demikian, apakah esensi dari amanat budaya? Sesuai dengan konteks dalam kisah penciptaan, kita sebaiknya memahami amanat budaya sebagai tugas manusia untuk memelihara,  meneruskan, dan mengembangkan apa yang sudah dilakukan Tuhan Allah atas bumi. Dengan kata lain, manusia diberi mandat untuk mengembangkan kebudayaan yang merefleksikan tindakan-tindakan dan sifat-sifat Pencipta. Alam semesta dibudayakan secara bertanggung-jawab untuk keperluan manusia. Nilai-nilai kerajaan Allah diresapkan dalam setiap aspek kehidupan umat manusia.   

Karakteristik amanat budaya

Ada beberapa poin penting yang perlu dicermati dari cara Allah memberikan amanat budaya di Kejadian 1:28. Pertama, amanat ini sebenarnya merupakan berkat (1:28a). Ayat 28 dimulai dengan “Allah memberkati mereka”. Ide tentang “berkat” akan muncul berulang-ulang secara konsisten dalam Kitab Kejadian. Kata  berākâ dapat merujuk pada keturunan (9:1; 17:16, 20; 22:17) maupun hal-hal lain (12:2-3; 14:19-20; 24:1; 27:27-29; Ul 28:1-14). Makna yang sama kita temukan di 1:28.

Pemunculan di awal menandaskan bahwa amanat budaya lebih sebagai berkat daripada perintah. Hal ini perlu digarisbawahi. Banyak orang terlalu sering menganggap berkat sebagai konsekuensi dari ketaatan. Mereka lupa bahwa ketaatan didahului oleh berkat. Artinya, ketaatan adalah ucapan syukur adalah berkat Allah. Karena itu, ketaatan tidak boleh dilakukan dengan keterpaksaan, melainkan dengan penuh sukacita. Itulah yang diungkapkan oleh Daud di Mazmur 8. Ia terpesona dengan berkat ilahi ini. Manusia yang begitu kecil dibandingkan dengan seluruh alam semesta ternyata justru diciptakan dalam kemuliaan dan dipercayakan amanat yang sedemikian agung. 

Kedua, amanat ini bersifat universal. Obyek dari kata “menaklukkan” adalah dunia, sedangkan obyek dari “menguasai” adalah seluruh binatang (1:28). Dalam kaitan dengan amanat budaya, semua orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Amanat ini memberikan ruang yang cukup luas bagi orang Kristen untuk bermitra dengan yang lain, walaupun dalam beberapa hal nilai-nilai positif yang diterapkan didorong oleh konsep yang berbeda. Misalnya, penganut Gerakan Zaman Baru memelihara alam karena dianggap memiliki nilai ilahi, sedangkan kita melakukannya dengan kesadaran bahwa kita adalah penatalayan. Kita bisa bergandengan tangan dengan siapa saja untuk menentang perbudakan, perdagangan manusia, maupun eksploitasi alam. Kita sama-sama diundang untuk membasmi korupsi, kolusi, dan berbagai kebobrokan yang lain. Dengan cara yang sama, kita berusaha mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur: kasih, belas kasihan, keadilan, perhatian, kerja sama, dsb. Dalam kalimat lain, orang Kristen dapat bekerja sama dengan semua orang dari perspektif anugerah umum.

 Ketiga, amanat ini tidak terpisahkan dari hakekat manusia. Menguasai bumi bukan hanya sebuah berkat atau perintah. Ini juga merupakan tujuan hidup manusia. Kejadian 1:26 dengan jelas mengajarkan hal ini. Manusia diciptakan untuk menguasai bumi. Pengabaian terhadap hal ini atau kegagalan dalam melaksanakannya merupakan penyangkalan serius terhadap hakekat manusia. Binatang dan tumbuhan tidak diberi amanat budaya. Para malaikat pun tidak.

Untuk merealisasikan tujuan di atas, Allah telah menciptakan manusia dengan cara yang sangat unik, yaitu sebagai gambar Allah (1:26-27). Banyak diskusi sudah dilakukan untuk menjelaskan apa arti gambar Allah (Imago Dei). Sebagian memahami istilah ini dari sisi spiritual atau moralitas: sama seperti Allah yang adalah roh dan mempunyai sifat-sifat yang terpuji, demikian pula dikarunia kapasitas untuk mencerminkan hal yang sama. Sebagian lagi melihat istilah ini dari sisi historis: gambar atau patung dalam budaya kuno menggambarkan perwakilan atau pencerminan dari seorang dewa atau penguasa. Beberapa usulan lain juga ditawarkan untuk memahami Imago Dei.

Dalam hal ini kita mungkin tidak harus memilih salah satu dan membuang alternatif yang lain. Berdasarkan pemunculan kata “gambar/rupa” yang diterapkan pada manusia di dalam Alkitab, istilah Imago Dei memang cukup luas. Yang jelas, gambar Allah menunjukkan keunikan, kehormatan, dan keutamaan manusia dibandingkan binatang (Kej 1:26-27; 9:6). Kita juga tahu bahwa dosa tidak menghilangkan Imago Dei (5:1, 3). Dalam konteks Kejadian 1:26-27, Imago Dei dikaitkan dengan amanat budaya, sehingga sebaiknya ditafsirkan sebagai rujukan pada segala aspek atau kapasitas manusia yang memampukan mereka untuk mengemban tugas menguasai bumi (1:28). Manusia memiliki aspek-aspek spiritual yang mencerminkan sifat-sifat Allah. Manusia mempunyai akal budi dan kreativitas untuk mengembangkan bumi. Dengan semua kelebihan ini, manusia diharapkan mampu mengatur alam sebaik-baiknya: mengoptimalkan yang ada, membaginya untuk kepentingan bersama, dan menerapkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam kehidupan bermasyarakat.

Persoalannya, semua rancangan yang baik ini tidak mungkin akan terwujud melalui kekuatan manusia sendiri. Dosa telah merusak seluruh aspek Imago Dei (3:1-24). Tindakan manusia tidak lagi mencerminkan sifat-sifat Allah. Relasi antara manusia menjadi rusak (3:12, 16). Demikian pula relasi manusia dengan alam (3:17-19).

Di tengah situasi yang sangat buruk dan tanpa harapan inilah Allah berintervensi secara nyata dan penuh anugerah. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dalam dunia. Ia adalah gambar Allah yang sempurna (Kol 1:15; Ibr 1:3). Melalui penebusan Kristus di atas kayu salib, orang-orang berdosa yang percaya kepada-Nya ditransformasi hari demi hari “untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rom 8:29), sehingga “kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18).

Setiap orang tua ditantang untuk menemukan talenta, hasrat, dan kelebihan tertentu dari anak-anak mereka, sehingga mereka bisa mengenali panggilan Tuhan yang khusus bagi mereka. Panggilan ini akan memampukan mereka untuk berkecimpung di dalam suatu bidang secara bermakna. Bukan hanya untuk mencari penghasilan, tetapi mengoptimalkan kebaikan-kebaikan ilahi yang Allah sudah letakkan di alam semesta. Orang tua juga diundang untuk turut memoles spiritualitas dan moralitas anak-anak, sehingga mereka mampu mengimplementasikan nilai-nilai kerajaan Allah di dalam dunia. Anak-anak perlu mendengar Injil Yesus Kristus. Mereka butuh bimbingan rohani yang disengaja dan terencana.

Setiap anak muda juga ditantang untuk menangkap panggilan Allah yang khusus. Belajar dengan tekun atau bekerja dengan keras seharusnya menjadi hal yang biasa bagi kita. Mengubah beragam budaya yang rusak oleh dosa menjadi budaya yang merefleksikan nilai-nilai kerajaan Allah merupakan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Bidang apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita, marilah kita lakukan lakukan yang terbaik untuk kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community