Mengapa Yesus bangkit pada hari ketiga?

Posted on 20/04/2014 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Mengapa Yesus bangkit pada hari ketiga?

             Alkitab beberapa kali mencatat bahwa Yesus bangkit ‘pada’ atau ‘sesudah’ hari ketiga (1 Kor 15:4; Mar 8:31; Mat 12:40). Mengapa kebangkitan dikaitkan dengan ‘hari ketiga’? Dalam hal ini Alkitab tidak memberikan petunjuk eksplisit tentang alasan di balik peristiwa ini. Dari data yang tersedia, kita dapat menarik beberapa poin penting.

             Pertama, sebagai pembuktian bahwa kematian dan kebangkitan Yesus merupakan rencana Allah. Yesus beberapa kali menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya supaya pada saat hal itu terjadi murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Luk 24:5-7). Mengingat orang-oang Yahudi secara umum memegang konsep tentang kebangkitan di akhir zaman (bdk. Yoh 11:23-24), Yesus perlu memberitahukan waktu kebangkitan yang lebih spesifik. Dalam hal ini Ia memilih hari ketiga.

Kedua, sebagai penegasan terhadap kebebalan bangsa Yahudi. Yesus beberapa kali menyebut kebangkitan sebagai tanda Yunus (Mat 12:39-41; 16:4; Luk 11:29-32). Sama seperti Yunus di perut bumi selama tiga hari, demikianlah Anak Manusia di dalam kubur selama tiga hari pula. Walaupun demikian, kesamaan dengan kisah Yunus bukan terletak di situ saja. Konteks Matius 12:39-41 menunjukkan bahwa tanda Yunus ditujukan pada generasi yang jahat (ayat 39). Inti dari perbandingan antara Yunus dan Yesus dijelaskan di ayat 40-41: jika penduduk Niniwe yang jahat saja bertobat melalui pelayanan Yunus (padahal Yunus tidak mengadakan suatu tanda pun!), maka seharusnya bangsa Yahudi pada zaman Yesus bertobat pada waktu mendengar khotbah Yesus, karena Ia jauh lebih besar daripada Yunus. Kenyataannya, sebagian besar bangsa Yahudi tetap menolak Kristus. Ini membuktikan betapa serius kebobrokan rohani mereka.

Ketiga, sebagai petunjuk bahwa Yesus benar-benar mati. Tulisan para rabi Yahudi mengajarkan bahwa kematian baru dapat dipastikan pada hari ketiga (Lev. Rab. 18.1 tentang Im 15:1; Eccles. Rab 12.6; m. Yebam 16.3; Semaḥot 8, peraturan 1). Seandainya Kristus langsung bangkit sesudah kematian-Nya di kayu salib, banyak orang akan menyangka bahwa Ia sebelumnya hanya mengalami pingsan atau mati suri. Kebangkitan pada hari ketiga menegaskan kesungguhan dari kematian Kristus. Ironisnya, walaupun Kristus benar-benar mati selama tiga hari, sebagian orang tetap menganggap Ia sekadar pingsan atau mati suri! Bisa dibayangkan seandainya Ia langsung bangkit pada hari yang sama Ia mengalami kematian?

Keempat, penggenapan kitab suci bahwa Allah tidak membiarkan tubuh orang pilihan-Nya mengalami kebinasaan (Mzm 16:10//Kis 2:27). Dalam khotbahnya pada Hari Pentakosta Petrus membela kebangkitan Kristus dengan mengutip teks PL. Ia meyakini bahwa teks itu berbicara tentang mesias, bukan tentang Daud. Karena teks itu menyatakan bahwa Allah tidak akan membiarkan tubuh Mesias mengalami kebinasaan, Allah segera membangkitkan Dia dari kematian. Mempertimbangkan hal ini dan konsep Yahudi tentang kesungguhan kematian (poin 3 di atas), kebangkitan pada hari ketiga adalah yang paling masuk akal: tidak terlalu cepat sehingga nanti diragukan kematian-Nya, tetapi juga tidak terlalu lama sehingga terlanjur hancur total di dalam tanah.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community