Mengapa Tuhan Yesus mengajarkan prinsip hidup jangan kuatir dengan mengambil salah satu contoh yaitu bunga bakung (Mat. 6:28)?

Posted on 24/01/2021 | In Do You Know ? | Leave a comment

 Mengapa Tuhan Yesus mengajarkan prinsip hidup jangan kuatir dengan mengambil salah satu contoh yaitu bunga bakung (Mat. 6:28)?

Setiap orang yang hidup di dunia pasti mengalami kekuatiran di dalam hidup, meskipun tingkat kekuatiran masing-masing orang berbeda. Menanggapi kekuatiran tersebut, Kristus mengajar umat-Nya agar jangan kuatir akan seluruh hidup kita (Mat. 6:25). Salah satu wujud jangan kuatir adalah jangan kuatir akan pakaian. Kristus melanjutkan pengajaran-Nya dengan memberikan ilustrasi, “bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal” (ay. 28). Pertanyaannya, mengapa Kristus menggunakan bunga bakung di ladang sebagai ilustrasi?



Anemone coronaria

Kata “bunga bakung” dalam teks Yunaninya krina dari kata krinon yang berarti “bakung.” Kata ini mungkin mencakup bunga crocus musim gugur, bunga bakung Turki, anemon, atau gladiol (W. Arndt, F. W. Danker, dan W. Bauer, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 567).  Beberapa ahli menduga bahwa bunga bakung yang dikatakan Kristus sangat mungkin merujuk pada bunga Anemone coronaria (The Eerdmans Bible Dictionary, 657 dan Harper's Bible Dictionary, 561). Bunga ini berwarna ungu-biru, merah tua, merah muda, atau/dan putih. Bunga yang tumbuh di ladang terbuka dan di perbukitan daerah Timur Dekat ini mulai mekar pada pertengahan atau akhir musim semi dan bertahan selama sekitar empat minggu (The Eerdmans Bible Dictionary, 657 dan https://www.gardenia.net/plant-variety/anemone-coronaria-poppy-anemone). Bunga yang sangat menawan ini menarik kupu-kupu, memiliki ketinggian sekitar 25-40 cm dan lebar sekitar 15-22 cm, dan mudah tumbuh di tanah yang berpasir, kelembaban sedang, dan tanah dengan drainase baik (https://www.gardenia.net/plant-variety/anemone-coronaria-poppy-anemone).



Anthemis palrestina

Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh Ha - Reubeni, professor ilmu tumbuh-tumbuhan Alkitab di Yerusalem. Ia menduga bahwa Yesus mungkin sedang merujuk pada Anthemis palrestina, camomile, tanaman mirip bunga aster putih (Fauna and Flora in the Bible, 135). Tanaman ini berbunga pada bulan Maret, April, Mei, dan Juni. Tanaman ini merupakan tanaman utama di antara “bunga di padang” (Ibr.: tzitz ha-sadeh) yang digunakan sebagai simbol ciptaan yang berumur pendek (Mzm. 103:15; Yes. 40:6; 1Ptr. 1:24). Istilah Ibrani tzitzit (jumbai) mungkin berasal dari frase tzitz ha-sadeh (bunga di ladang). Ketika seseorang memakai dan menatap tzitzit-nya (Bil. 15:37-39), dia memahami bahwa dia seharusnya memaksimal potensinya untuk mewujudkan tujuan hidupnya (http://www.flowersinisrael.com/Anthemispalestina_page.htm). Ahli lain berpendapat bahwa Yesus mungkin sedang merujuk pada Gladiolus byzantinus di mana warna ungu pada tanaman ini cocok dengan warna ungu pada jubah Salomo (Fauna and Flora in the Bible, 136). Namun teks tidak menjelaskan bunga spesifik apa yang Kristus maksudkan. Intinya adalah bunga tersebut termasuk bunga liar yang indah (berwarna cerah) yang mekar dengan cerah pada musim semi dan tumbuh di ladang Galilea (Kamus Gambaran Alkitab, 186, Ben Witherington III, Matthew, 152, dan Donald A. Hagner, Matthew 1-13, 164).



Gladiolus byzantinus

Bunga bakung ini dijelaskan Kristus “tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal.” “Bekerja” di sini berarti bekerja keras di ladang dan “memintal” di sini berarti “menjahit pakaian di rumah” (Craig L. Blomberg, Matthew, 125). Kedua kata kerja ini mungkin merujuk pada “karakteristik pekerjaan pria dan wanita dalam budaya pedesaan k  uno” (Blomberg, Matthew, 125). Artinya bunga bakung ini tidak perlu bekerja keras menarik beberapa serat dan memutarnya menjadi satu untuk membuat benang untuk menjahit suatu pakaian (Hagner, Matthew 1-13, 164). Singkatnya, bunga bakung itu “tidak bekerja membuat kain untuk pakaian itu sendiri” (Barclay M. Newman dan Philip C. Stine, A Handbook on the Gospel of Matthew, 188). Dengan kata lain, tidak seperti manusia yang harus membuat kain dan menjahitnya untuk dijadikan pakaian, bunga bakung itu tidak perlu melakukannya untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena Allah memelihara bunga bakung itu.

Bunga bakung sebenarnya merupakan salah satu makhluk hidup yang rapuh dan umurnya lebih pendek dari manusia. Orang-orang bahkan memetik tumbuhan dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk oven tempat mereka memanggang roti. Jika Allah memelihara tanaman tersebut, maka Ia juga lebih memelihara kehidupan umat pilihan-Nya (Blomberg, Matthew, 125). Oleh karena itu, orang percaya tidak perlu kuatir akan hidup mereka.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community