Mengapa Orang Yang Tidak Percaya Bisa Sukses?

Posted on 03/11/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/mengapa-orang-yang-tidak-percaya-bisa-sukses.jpg Mengapa Orang Yang Tidak Percaya Bisa Sukses?

Salah satu situasi yang kadangkala membingungkan orang-orang percaya (Kristen) adalah kesuksesan orang-orang yang tidak percaya (non-Kristen). Kesuksesan di sini tentu saja yang diasumsikan adalah secara jasmani: kekayaan, kesehatan, keberhasilan, dsb. Situasi ini akan terkesan lebih membingungkan jika dikaitkan dengan keadaan sebagian orang-orang percaya yang tidak sukses.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana kita seharusnya menyikapi situasi ini?

Hal pertama yang perlu ditegaskan di sini adalah perbedaan antara Teologi Kemakmuran dan ajaran Alkitab. Mereka yang memegang Teologi Kemakmuran pasti mengalami kesulitan untuk menjelaskan situasi ini. Dalam ajaran ini ditekankan berkali-kali bahwa setiap orang Kristen yang beriman sungguh-sungguh pasti akan kaya, sehat, dan berhasil. Mereka akan jauh lebih sukses daripada orang-orang dunia.

Dari persektif Alkitab, pertanyaan di atas lebih mudah untuk dipahami. Situasi seperti itu tidak terlalu mengagetkan. Beberapa tokoh Alkitab pernah mengalaminya. Asaf mengalami kebingungan dengan keberhasilan orang-orang fasik, sampai akhirnya dia menyadari bahwa yang terpenting adalah Allah, bukan berkat-berkat-Nya (Mzm. 73). Yesus Kristus hidup dalam kemiskinan (2Kor. 8:9). Paulus mengalami berbagai kesusahan dalam pelayanannya (2Kor. 4:8-9; 11:23-28).

Hal kedua yang perlu dipikirkan adalah ukuran keberhasilan. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa semua yang ditawarkan oleh dunia – kekayaan, popularitas, kekuasaan – adalah sia-sia. Itulah inti dari Kitab Pengkhotbah. Alkitab bahkan memberikan larangan tegas bagi kita untuk tidak mengingini apa yang disedikan oleh dunia:  keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup (1Yoh. 2:16). Mencintai dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).

Kesuksesan hidup menurut Alkitab adalah penggenapan rencana Allah. Dalam doa-Nya sebelum Dia ditangkap, Yesus berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” (Yoh. 17:4). Kesuksesan-Nya terlihat jelas di ayas kayu salib, ketika Dia berkata: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30).

Hal ketiga yang perlu dipahami di sini adalah kebaikan dan keadilan Allah atas semua orang. Alkitab berkali-kali menandaskan kebaikan universal ini. Allah menurunkan hujan dan matahari untuk semua orang (Mat. 5:45). Dia mengatur musim untuk keperluan semua manusia supaya mereka bisa menikmati hasil bumi (Kis. 14:17). Dia sudah menetapkan sebuah aturan bahwa semua orang yang rajin dan mau berjerih-lelah akan mendapatkan upah dari pekerjaannya (Ams. 13:4). Sebaliknya, para pemalas tidak akan mendapatkan upah dari kemalasannya (Ams. 20:4; 21:25). Jadi, siapa saja yang rajin dan mau berjerih-lelah akan menuai hasilnya (secara jasmani). Itulah bukti kebaikan dan keadilan Allah bagi semua orang. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community