Makna menimbun bara api diatas kepala

Posted on 07/08/2016 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/makna-menumpuk-bara-api-diatas-kepala.jpg Makna menimbun bara api diatas kepala

Dalam Amsal 25:21-22 dikatakan demikian:

Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti,

dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.

Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya,

dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Roma 12:20 mengutip ayat ini juga:

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan;

jika ia haus, berilah dia minum!

Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

Baik kitab Amsal maupun Roma memunculkan frase ini dalam konteks melakukan perbuatan yang baik kepada sesama atau secara khusus kepada musuh. Jika seseorang berbuat baik kepada musuhnya, yaitu memberi makan kepada yang lapar dan memberi air kepada yang haus, tindakan tersebut dikategorikan ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’. Beberapa terjemahan bahasa Inggris memberikan tambahan kata yang jauh lebih mengerikan pada kata ‘bara api’

KJV : coals of fire (bara api)

NRSV :burning coals (bara api yang sedang menyala)

REB : live coals (bara api yang sedang menyala)

NJB : red-hot coals (bara yang pans kemerah-merahan)

Bagi pembaca modern, tindakan ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’ akan menimbulkan pertanyaan besar dengan membayangkan bara api yang diletakkan di kepala seseorang. Bukankan tindakan itu justru membahayakan bahkan dapat melukai fisik orang lain? Bagi pendengar kitab Amsal maupun surat Roma, frase ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’ pastilah merupakan ungkapan yang sangat umum dikenal mereka sebab tidak mungkin Paulus mengutip frase tersebut jika pendengarnya tidak memahami frase tersebut. Dengan demikian, apakah arti frase ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’?

Frase ini ditemukan asal usulnya berasal dari kebiasaan orang Mesir yang dikenal dengan ‘ritual pertobatan’. Dalam kisah yang dituturkan dalam Seton Chaemwese, dikisahkan tentang seseorang yang mencuri buku dari sebuah kuburan. Pencuri ini akhirnya menyadari kesalahannya dan hendak mengembalikan barang curiannya. Maka dia meletakkan sebuah panci yang berisi bara api yang panas di atas kepalanya untuk menunjukkan kesadaran dan sikapnya yang memalukan, sekaligus bertobat dan akhirnya mau memperbaiki diri. Dengan bara api di atas kepalanya, orang tersebut datang, entah kepada pribadi atau kelompok masyakarat yang dia rugikan, untuk menunjukkan ketulusan dari pertobatannya. Perlu dicatat, bahwa bukan bara api yang diletakkan di atas kepala seseorang itulah yang membawa pertobatan, namun hal itu merupakan bukti yang dilihat dari luar bahwa sebuah pertobatan telah terjadi.

Walaupun Alkitab tidak pernah mencatat adanya kebiasaan tersebut yang dicatat oleh Alkitab, hal itu tidak  berarti kalau ritual tersebut memang tidak pernah ada. Salah satu kisah Alkitab yang hampir mirip dengan tindakan ‘menimbun bara api’ adalah kisah yang dialami nabi Yesaya dalam pasal 6:1-8. Yesaya mengatakan bahwa dia celaka dan akan binasa karena bibirnya najis (ay. 5). Apa yang dilakukan malaikat Tuhan untuk mentahirkan kenajisan Yesaya? Malaikat itu mengambil bara api dari mezbah dan menyentuhkannya pada mulut Yesaya (ay. 6) serta berkata, “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Walaupun nabi Yesaya tidak perlu meletakkan bara api di atas kepalanya, namun cerita ini menggambarkan hubungan antara bara api dengan pertobatan dan pentahiran. Tindakan yang dialami Yesaya merupakan contoh simbolis bahwa pertobatan dan pentahiran telah berlangsung.

Pada akhirnya, ketika seseorang  dikatakan ‘memberi makan dan memberi minum’ musuhnya, maka tindakan tersebut dikatakan bahwa orang tersebut dapat dikatakan sedang menekankan usaha untuk memperlakukan musuh dengan keramahan dan kebaikan. Dengan kebaikan yang ditunjukkan, maka ada kemungkinan musuh justru bertobat dari tindakannya yang memusuhi. Tidak perlu membalas perbuatan jahat musuh dengan perbuatan jahat atau yang lebih jahat lainnya supaya musuh tersebut sadar. Justru dengan membalas via perbuatan baik, hal itu memungkinkan musuh menyadari kesalahannya. 

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community