Keluarga Yang Bersaksi Bagi Kristus (Mat. 5:13-16)

Posted on 23/02/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/keluarga-yang-bersaksi-bagi-kristus-matius-5-13-16.jpg Keluarga Yang Bersaksi Bagi Kristus (Mat. 5:13-16)

Selama Bulan Keluarga 2020 ini kita sudah membahas tentang keluarga yang berantakan tetapi bukan berarti tanpa harapan (Minggu ke-1). Kristus datang untuk membawa pemulihan (Minggu ke-2). Setiap anggota keluarga dimungkinkan untuk mengalami pertumbuhan, baik secara personal maupun komunal (Minggu ke-3). Sangat tepat apabila di penghujung Minggu ini kita menutupnya dengan tema “Keluarga Yang Bersaksi Bagi Kristus”.

Pemulihan Allah atas keluarga kita tidak hanya dimaksudkan untuk kesenangan kita. Allah bekerja di dalam kita supaya Dia juga bisa bekerja melalui kita. Tujuan akhir dari semua karya yang menakjubkan itu adalah kemuliaan Allah. Keluarga yang bermasalah dipulihkan supaya memuliakan Allah. Dari masalah berujung pada Allah. Dari kehancuran berujung pada kesaksian.

Teks hari ini juga sangat sesuai sebagai penutup rangkaian Bulan Keluarga. Yesus mengumpamakan kesaksian Kristen seperti garam dan pelita. Dua benda yang selalu ada di setiap keluarga. Sulit membayangkan sebuah keluarga bisa menghabiskan hidup sehari saja tanpa garam atau pelita.

Khotbah kali ini akan dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama kita akan menyelidiki inti dari perumpamaan garam dan terang. Poin utama apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam teks ini? Yang kedua kita akan membahas tujuan akhir dari menggarami dan menerangi dunia. Untuk apa kita menjadi saksi di tengah-tengah dunia?

 

Inti: hanya kebodohan yang menghalangi kesaksian (ayat 13-15)

Pernahkah kita melihat air yang tidak basah? Atau api yang tidak panas? Pertanyaan semacam ini pasti terdengar sangat konyol. Menanyakannya sama saja dengan menunjukkan kebodohan orang yang bertanya. Namun, tahukah kita bahwa kita juga sering melakukan kekonyolan seperti ini? Kegagalan orang Kristen dalam menggarami dan menerangi dunia merupakan sebuah kebodohan. Itulah inti dari ayat 13-16.

Teks memberi petunjuk yang cukup melimpah yang mengarahkan pada inti ini. Kata “menjadi tawar” (mōrainō) di ayat 13 juga bisa mengandung arti “menjadi bodoh”. Mayoritas penafsir Alkitab melihat penggunaan kata ini sebagai sebuah kesengajaan. Dua arti yang terkandung di dalamnya, yaitu menjadi tawar dan menjadi bodoh, sengaja ditampilkan bersama-sama (dalam istilah sastra gaya penulisan ini disebut double entendre). Ada permainan arti dan kesan di sana.

Dugaan ini tidak berlebihan. Garam yang sudah kehilangan rasa asinnya (menjadi tawar) jelas tidak ada gunanya untuk dicelupkan ke dalam masakan. Garam pada zaman itu biasanya diambil dari Laut Mati. Garam itu bercampur dengan batu dan residu-residu lainnya. Semakin sering dicelupkan ke dalam masakan, garam itu semakin berkurang. Yang tersisa hanyalah batu dan residu yang masih menempel. Tidak ada gunanya sama sekali. Jika batu itu tetap dicelupkan ke dalam masakan, orang akan menganggap itu sebagai kebodohan.      

Dukungan yang didapat dari ayat 14. Kota yang terletak di atas bukit pada malam hari tidak mungkin tidak terlihat. Jika semua rumah di kota itu menyalakan pelita, dari kejauhan kota itu pasti sudah terlihat. Terang selalu mengalahkan kegelapan. Jumlah terang yang banyak pasti tidak mungkin disembunyikan. Satu-satunya alasan kota itu tidak terlihat adalah orang mematikan pelitanya di malam hari. 

Ayat 15 juga memberi petunjuk ke arah dugaan tadi. Ada seorang yang menyalakan pelita, lalu meletakkannya di bawah gantang. Gantang adalah semacam tempat biji-bijian yang terbuat dari tanah liat atau anyaman bambu yang sangat rapat. Satu gantang bisa memuat 9 liter biji-bijian (jika diisi beras bisa menampung sekitar 6,7 kg). Apa yang akan dipikirkan oleh orang lian ketika melihat pelita yang dinyalakan itu hanya diletakkan di bawah gantang? Tentu saja orang akan menganggapnya sebagai kebodohan. Ketika seseorang menyalakan pelita, tujuannya adalah untuk menerangi seluruh ruangan. Paling tidak, supaya terangnya terlihat. Menutup pelita dengan gantang sangat berkontradiksi dengan tujuan menyalakan pelita itu!

Begitulah kehidupan sebagian orang Kristen. Mereka tidak menggarami dan menerangi dunia. Mereka tidak membawa perubahan apa-apa bagi dunia. Mereka ada atau tidak ada, dunia rasanya tetap akan sama saja.

Ada beberapa alasan mengapa kegagalan ini merupakan sebuah kebodohan. Pertama, identitas kita memang sebagai garam dan terang. Yesus berkata: “Kamu adalah garam/terang”. Kata “adalah” lebih merujuk pada keadaan (identitas). Kita tidak diperintahkan untuk “menjadi”. Di dalam Kristus kita sudah mengalami pembaruan. Kita adalah garam/terang. Terang yang dibawa oleh Kristus (4:15-16) telah menerangi kita. Jadi, tugas kita hanyalah menggarami atau menerangi, bukan menjadi garam atau menjadi terang.

Kedua, garam dan terang sangat dibutuhkan. Metafora garam sudah sedemikian terkenal pada zaman itu. Fungsi garam begitu beragam. Garam bermanfaat sebagai bahan pengawet makanan (Ay. 6:6; Kol. 4:6), tambahan pada kurban persembahan (Im. 2:13; Ez. 6:9; Yeh. 43:24), penyucian (Kel. 30:35; 2Raj. 2:19-22), kesuburan tanah (Luk. 14:34-35), dan penyucian bayi yang baru dilahirkan (Yeh. 16:4). Dari sekian banyak fungsi ini, mana yang sedang dipikirkan oleh Yesus Kristus di bagian ini? Susah untuk ditebak. Yesus mungkin sengaja tidak menyebutkan fungsi tertentu. Tujuannya justru untuk menegaskan betapa banyaknya fungsi garam. Garam tidak terelakkan dalam kehidupan.

Hal yang sama bisa dikatakan tentang terang. Pada zaman dahulu banyak orang takut atau benci terhadap kegelapan. Bukan kebetulan kalau banyak bangsa menyembah dewa matahari. Kegelapan memang terkesan lebih menakutkan pada zaman dahulu daripada sekarang. Orang membutuhkan pelita di rumah maupun di perjalanan. Di tengah situasi seperti inilah, keberadaan terang (pelita) sangat diperlukan. Tidak ada orang yang tidak memerlukan pelita.

Jika semua orang membutuhkan garam dan pelita (baca: orang-orang Kristen), dunia seharusnya tertarik dengan kekristenan. Nilai-nilai yang kita bawa seharusnya tidak terelakkan, bukan hanya sebuah pilihan. Pengaruh kita dalam dunia seharusnya jauh lebih luas daripada sekarang. Hanya kebodohan dari pihak kita yang bisa mengaburkan pengaruh kita.

Ketiga, Allah sudah menyiapkan berkat rohani. Perikop tentang garam dan terang dunia (5:13-16) tidak dapat dipisahkan dari perikop tentang ucapan bahagia (5:1-12). Para pengikut Yesus memiliki cara pandang yang berbeda dari dunia. Allah sudah menyiapkan beragam janji yang indah bagi mereka. Semua janji itu dapat dirangkum dalam satu kata: “berbahagialah” (makarioi). Dalam teks Yunani, arti kata ini lebih ke arah “diberkatilah” (mayoritas versi Inggris “blessed”). Jika Allah memang sudah menyiapkan berkat rohani yang beragam seperti itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya.

 

Tujuan akhir: kemuliaan Allah (ayat 16)

Perintah “hendaklah terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik” tidak boleh dipahami sebagai sebuah ajang pameran kebaikan. Konteksnya adalah antisipasi terhadap kepasifan orang-orang Kristen. Perintah ini harus dipahami sebagai kontras terhadap garam yang menjadi tawar atau pelita yang ditutupi gantang.  

Tuhan Yesus tidak mungkin memerintahkan para pengikut-Nya untuk memamerkan kebaikan. Di pasal selanjutnya Dia justru sangat menentang orang-orang Farisi yang berusaha memertontonkan kesalehan di depan banyak orang: memberikan sedekah, berdoa dan berpuasa (bdk. 6:1, 5, 16). Lalu apa bedanya perintah di ayat 16a dengan kebiasaan orang-orang Farisi?

Perintah di ayat 16a lebih berkaitan dengan tampil apa adanya di depan orang. Bukan pencitraan. Bukan kemunafikan. Garam ya memberi rasa asin. Pelita ya menerangi kegelapan. Garam dan terang tidak bisa melakukan yang lain. Hal ini berbeda dengan kemunafikan orang-orang Farisi.

Tujuan perintah di ayat 16a dan pencitraan Farisi juga berbeda. Tujuan Farisi sangat anthroposentris, yaitu mendapatkan pujian dari orang lain bagi mereka. Tujuan perintah di ayat 16a sangat theosentris, yaitu kemuliaan Allah.

Poin di atas perlu digarisbawahi. Berkat-berkat rohani yang dijanjikan di 5:1-12 memang menjadi dorongan yang besar untuk menggarami dan menerangi dunia. Walaupun demikian, sangat salah apabila kita menjadikan itu sebagai fokus. Itu hanyalah bonus. Fokus kita adalah kemuliaan Allah.

Dengan kata lain, kebaikan Kristiani tidak berhenti pada orang Kristen itu sendiri. Kita hanyalah sarana belaka. Dari kita, kepada orang lain, untuk Allah. Kira-kira begitulah cara kita memandangnya.

Dalam konteks pernikahan dan keluarga, firman Tuhan hari ini sangat tepat untuk direnungkan dan dilakukan. Berbagai riset menunjukkan tingginya angka permasalahan dalam keluarga. Perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan perceraian menjadi isu yang semakin biasa. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan non-Kristen. Berbagai riset mengungkapkan bahwa keadaan dalam kekristenan tidak lebih baik.

Keluarga yang harmonis sangat diperlukan. Dunia membutuhkan teladan. Keberadaan keluarga Kristen yang memuliakan Tuhan akan memberi dorongan dan harapan bagi banyak orang. Keluarga harmonis bukanlah sebuah impian. Di dalam Tuhan ada pemulihan. Di dalam Tuhan ada kesaksian.

Banyak orang akan lebih mudah melihat kesaksian tersebut apabila setiap anggota keluarga dan setiap keluarga Kristen memainkan peranan sebagai garam dan menyalakan pelita masing-masing. Maukah kita menggarami dan menerangi dunia? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community