Keindahan Kebersamaan (Pengkhotbah 4:7-12)

Posted on 22/11/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Keindahan-Kebersamaan_(Pengkhotbah_4_7_12).jpg Keindahan Kebersamaan (Pengkhotbah 4:7-12)

Manusia modern cenderung menjadi semakin individualistik. Sebagian orang asyik hidup di dalam dunia mereka sendiri. Nilai kebersamaan pun menjadi luntur. Hal semacam ini tidak boleh terjadi di dalam gereja. 

Teks yang akan kita bahas minggu ini merupakan salah satu teks favorit dalam kebaktian pemberkatan pernikahan. Konsep “berdua lebih baik daripada sendirian” sekilas memang mengarah pada pernikahan. Walaupun demikian, teks ini lebih berbicara tentang komunitas daripada pernikahan. Ada beberapa alasan yang mendukung gagasan ini. Orang yang sendirian di ayat 7-8 disebutkan tidak memiliki saudara dan anak laki-laki, bukan tidak memiliki suami atau isteri. Konteks berduaan di ayat 9-12a pun lebih mengarah pada konteks perjalanan bisnis, bukan pernikahan. Pemunculan angka 3 di ayat 12b (“Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan”) jelas janggal untuk konteks pernikahan.

Berdasarkan pemunculan angka yang beragam di teks ini, kita dengan mudah menangkap alur berpikir pengkhotbah. Di ayat 7-8 ia membicarakan tentang kesia-siaan kesendirian. Di ayat 9-12a ia membahas tentang keuntungan memiliki seorang rekan. Ayat 12b merupakan klimak yang mengajarkan bahwa kalau dua lebih baik daripada satu, apalagi tiga. 

Kesendirian adalah kesia-siaan (ayat 7-9)

Kata “melihat” (LAI:TB) di ayat 7 mengandung makna “mengamati”. Kata “lagi” menunjukkan bahwa ini bukan aktivitas pertama yang dilakukan oleh pengkhotbah. Sebelumnya ia memang sudah mengamati beberapa hal (2:13; 3:22). Berbeda dengan sebagian orang yang mengamati kehidupan orang lain untuk mencari bahan gosip, pengkhotbah justru mendapatkan perenungan hidup yang mendalam.

Walaupun pengkhotbah mungkin mengenal orang yang ia bicarakan di ayat 7-8, ia sengaja tidak mencantumkan nama orang tersebut. Pilihan ini memang tidak sulit untuk dipahami. Yang dipentingkan dalam teks ini adalah keadaan dan perasaan orang yang sendirian itu, bukan namanya atau identitas dia yang lain. Selain itu, dengan tidak menyebutkan nama, pembaca lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang itu. Penyebutan nama seringkali menimbulkan tembok pemisah antara tokoh di dalam teks dan pembaca.

Orang yang diamati oleh pengkhotbah adalah “seorang yang sendirian” (LAI:TB). Beberapa versi Inggris dengan tepat menerjemahkan “there was one but not a second” (lit. “ada satu orang tetapi tidak yang kedua”). Ungkapan Ibrani yang agak janggal di telinga kita ini dimaksudkan sebagai sebuah penekanan: orang ini benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Menariknya, walaupun ia tidak memiliki siapa pun juga, namun pengkhotbah hanya menyebutkan bahwa ia tidak memiliki saudara laki-laki dan anak laki-laki. Mengapa pengkhotbah hanya membatasi pada dua relasi ini? Jawabannya berhubungan dengan persoalan warisan. Orang yang sendirian ini memiliki begitu banyak harta sebagai hasil kerja kerasnya. Pada saat ia memikirkan kematiannya, ia menguatirkan siapa yang akan menikmati semua harta tersebut. Dalam budaya waktu itu, jika seseorang tidak memiliki keturunan, maka saudaranya laki-laki yang akan mewarisi hartanya. Jika ia memiliki keturunan, maka keturunan yang laki-laki akan mendapatkan warisan tersebut. Tatkala pengkhotbah menyebutkan ketidakadaan saudara dan anak laki-laki, ia ingin menunjukkan bahwa orang yang kesepian di ayat 7-8 tidak memiliki calon ahli waris.

Bukan hanya itu. Penyebutan ini juga berfungsi untuk menekankan kualitas kesepian yang dialami orang kaya di ayat 7-8. Ia merasakan kesendirian antar generasi! Ia tidak memiliki orang yang dekat dengan dia pada generasinya (saudara laki-laki) maupun pada generasi berikutnya (anak laki-laki).

Lalu apa keterkaitan antara kesendirian dan kekayaan? Pembacaan sekilas mungkin akan memberikan kesan bahwa orang ini hidup sendiri, karena itu ia memiliki waktu yang banyak untuk  bekerja keras. Hal ini tampaknya tidak sesuai dengan konteks. Sebagian penafsir secara tepat menjelaskan bahwa orang yang menderita kesepian ini berusaha mencari kesenangan dalam kelimpahan harta. Ia berpikir bahwa harta yang banyak (sebagai hasil dari kerja keras) akan mampu mengatasi kepedihan yang ia alami dalam kesendiriannya. Kenyataannya, harta yang melimpah justru hanya menambah kepedihan tersebut. Sebagai orang yang hidup sendirian, ia tidak memiliki banyak kebutuhan. Hartanya yang melimpah jauh lebih daripada cukup untuk sekadar memenuhi semua yang ia inginkan. Kalau demikian, siapa yang akan menikmati sisa hartanya yang melimpah apabila ia mati? Jadi, kelimpahan materi bukan hanya tidak bisa menggantikan nilai kebersamaan, tetapi juga menambahkan kesedihan akibat kesendirian. 

Berdua adalah lebih baik daripada sendirian (ayat 9-12a) 

Inti dari ayat 9-12a terletak pada ayat 9. Ayat 10-12a hanyalah contoh atau ilustrasi dari dunia perdagangan yang menjelaskan poin di ayat 9. Ayat ini mengingatkan kita pada penilaian Tuhan terhadap kesendirian Adam: “Tidak baik manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberikan seorang yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18).

Di ayat 9b Pengkhotbah menjelaskan alasan mengapa berdua lebih baik daripada seorang diri: “karena mereka akan menerima upah yang baik dalam jerih-payah mereka”. Yang menarik dari alasan ini adalah ungkapan “upah yang baik”. Pengkhotbah tidak membahas tentang upah yang (lebih) banyak. Ini bukan masalah jumlah harta yang bisa didapat dengan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Ada hal lain yang sedang dimaksud pengkhotbah dengan “upah yang baik”.

Berdasarkan kontras dengan ayat 7-8 dan contoh-contoh di ayat 10-12a, upah yang baik tampaknya merujuk pada kontribusi yang diberikan untuk orang lain. Ini tentang membagikan hidup bagi orang. Dengan kata lain, ayat ini berbicara tentang hidup yang berarti bagi orang lain. Tidak seperti orang kaya yang kesepian di ayat 7-8 yang hanya mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, orang yang berdua di ayat 9 saling berbagi hidup dalam suka dan duka.

Konsep seperti ini sangat berbeda dengan sebagian besar orang (bahkan orang Kristen sekalipun!) yang menganggap upah yang baik selalu identik dengan upah yang banyak. Tidak heran para orang tua memaksa anak mereka kuliah di jurusan yang dianggap akan menghasilkan banyak uang, padahal belum tentu Tuhan memanggil anak tersebut ke bidang yang diinginkan orang tua. Orang tua Kristen seharusnya mengarahkan anak untuk memiliki hidup yang berarti bagi orang lain. Tujuan hidup bukanlah sekadar untuk mengumpulkan harta, namun menginspirasi orang lain, membagikan hidup kepada orang, menolong orang lain menemukan arti hidupnya di dalam Tuhan.

Pengkhotbah selanjutnya memberikan beberapa contoh konkrit tentang upah yang baik (ayat 10-12a). Yang pertama adalah memberikan pertolongan (ayat 10). Perjalanan bisnis pada jaman dahulu seringkali memakan waktu yang sangat lama dan melewati perjalanan yang kurang aman. Daerah pegunungan selalu menjadi rute tidak terelakkan sekaligus mengundang banyak bahaya. Salah satunya adalah jurang dan lubang yang dalam. Ketika seseorang bepergian seorang diri dan jatuh pada jurang/lubang, maka sangat sulit bagi orang itu untuk mendapatkan pertolongan dalam waktu yang cepat. Dengan memiliki teman perjalanan, yang seorang akan membantu orang lain yang sedang jatuh. Itulah upah yang baik: menjadi penolong bagi orang lain!

Yang kedua adalah memberi kehangatan (ayat 11). Gambaran di ayat 11 sekilas terlihat aneh bagi orang modern. Tidak jarang sebagian orang menafsirkan dua orang di ayat ini sebagai suami-isteri. Bagaimanapun, tafsiran seperti ini kurang cocok dengan konteks yang ada. Tafsiran ini lebih ditentukan oleh pemahaman kita tentang kultur modern daripada konteks perdagangan kuno. Bagi orang kuno di daerah Timur Dekat, kontak fisik antar laki-laki bukanlah hal yang aneh seperti sekarang. Para pria bahkan selalu memberikan cium kudus apabila mereka saling menyapa. Demikian pula dengan praktek tidur bersama untuk menghangatkan diri. Para pedagang waktu itu tidak jarang harus bermalam di tengah gurun atau hutan dengan udara yang sangat dingin. Sangat wajar apabila mereka mengatasi problem ini dengan cara tidur bersama supaya menjadi hangat. Itulah upah yang baik: memberi kehangatan pada orang lain!

Yang ketiga adalah memberikan perlindungan (ayat 12a). Bahaya lain yang sering dihadapi oleh orang yang bepergian pada jaman dulu datang dari para penyamun. Pedagang yang bepergian sendirian akan menjadi mangsa yang empuk bagi para perampok. Dengan bepergian bersama, paling tidak mereka akan lebih sulit untuk dikalahkan para penyamun tersebut. Mereka bisa saling melindungi satu sama lain. Itulah upah yang baik: memberi perlindungan bagi orang lain!

Bertiga adalah lebih baik daripada berdua (ayat 12b)

Pengkhotbah menutup pembahasan di ayat 7-12 dengan cara yang sedikit mengagetkan. Walaupun ia memfokuskan pembahasan pada “berdua” (ayat 9-12a), namun ia mengakhiri perenungannya dengan angka “tiga” (ayat 12b). Dua alasan berikut ini memberikan dukungan bahwa pengkhotbah sedang memaksudkan ayat 12b sebagai sebuah klimaks (penekanan). Di Amos 1-2 TUHAN berkali-kali mengulang ungkapan “karena tiga perbuatan bangsa X, bahkan empat...” Dengan cara yang hampir sama, pengkhotbah ingin menekankan bahwa kalau berdua saja sudah lebih baik daripada sendirian, apalagi jika bertiga. Di samping itu, perubahan angka dari “satu” (ayat 7-8) ke “dua” (ayat 9-12a) lalu ke “tiga” (ayat 12b) secara jelas mengarah pada ide tentang peningkatan.

Berdasarkan kemiripan dengan tulisan kuno lain di luar Alkitab (Gilgamesh dan Muwawa), hampir semua penafsir setuju bahwa ayat 12b merupakan peribahasa yang sangat umum. Pengutipan dari tradisi lisan atau tertulis di luar Alkitab seharusnya tidak perlu merisaukan kita. Paulus pun tanpa ragu mengutip pandangan filsafat Yunani dalam khotbahnya (Kis 17:28). Yudas mengambil dari salah satu kitab Yahudi kuno yang tidak termasuk Alkitab, yaitu 1 Henokh (Yud 1:14-15). Kita perlu menegaskan ulang bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Selama sesuatu adalah benar, maka hal itu pasti bersumber dari Allah sendiri. Tidak ada kebenaran apa pun yang terlepas dari Allah. 

Penutup

Sejak awal Allah sudah menetapkan manusia sebagai makhluk sosial. Sejak semula kesendirian bukanlah ide yang baik. Manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan menjaga. Kebersamaan semacam ini seharusnya lebih kuat dan esensial dalam relasi antar orang Kristen, karena yang mempersatukan kita adalah kasih Kristus sendiri. Kita harus mengasihi orang lain seperti Allah dan Kristus sudah mengasihi kita (Yoh 13:34; 15:12; 1 Yoh 4:7-12). Jika kebersamaan secara umum saja sudah sangat indah, apalagi kebersamaan di dalam darah Kristus! Pertanyaannya: Apakah kita mau meninggalkan “daerah kenyamanan” (comfort zone) kita dan mulai belajar mengenal orang lain yang Allah tempatkan di sekitar kita? Maukah kita membuang sikap individualistik ala dunia dan mulai belajar berbagi hidup dengan sesama? Kiranya Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita untuk mematikan egoisme dan keacuhan dalam diri kita serta menggantinya dengan kepedulian dan kasih. Amin. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community