Kebersamaan Yang Indah dan Membawa Berkah (Mazmur 133)

Posted on 06/01/2019 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/kebersamaan-yang-indah-dan-membawa-berkah-mazmur-133.jpg Kebersamaan Yang Indah dan Membawa Berkah (Mazmur 133)

Berada di tempat yang sama belum tentu memiliki kebersamaan. Mengerjakan sesuatu bersama-sama juga tidak selalu berarti menunjukkan kebersamaan. Kebersamaan yang dibatasi oleh tempat dan pekerjaan bahkan seringkali malah sering menimbulkan masalah yang bisa memecah kebersamaan. Jadi, yang paling penting bukan di mana kita bersama, melainkan bagaimana kita bersama. Bukan tentang bagaimana kita mengerjakan sesuatu bersama-sama, melainkan bagaimana kita meletakkan hati kita bersama-sama.

Bagaimana Tuhan memandang kebersamaan? Seperti apakah kebersamaan yang sejati itu? Bagaimana menciptakan kebersamaan seperti ini?

Sesuai dengan tema REC 2019, yaitu Building A Strong Community (Membangun Sebuah Komunitas Yang Kuat), kita memulai tahun 2019 dengan mengangkat sebuah tema: “Kebersamaan Yang Indah dan Membawa Berkah”. Teks yang menjadi landasan khotbah hari ini merupakan salah satu mazmur terkenal (Mzm. 133). Terkenal karena keindahannya. Terkenal karena keringkasannya. Terkenal karena makna teologis di dalamnya.

 

Konteks penggunaan mazmur

Istilah “saudara-saudara” (’aḥîm) bisa digunakan dalam konteks keluarga. Jika digunakan dalam konteks seperti ini, kata ’aḥîm merujuk pada saudara-saudara dalam keluarga inti maupun keluarga besar. Apa yang dituliskan dalam mazmur ini juga sangat cocok dengan konteks keluarga. Siapa yang tidak menginginkan kebersamaan dalam sebuah keluarga? Bagi yang sudah memilikinya pasti tahu betapa indahnya kebersamaan semacam itu.

Walaupun Mazmur 133 bisa diterapkan dalam konteks keluarga, penggunaannya di masa lampau mungkin bukan seperti itu. Mazmur ini dipakai dalam konteks yang lebih luas, yaitu seluruh umat Tuhan (Bangsa Israel). Mazmur 133 merupakan salah satu mazmur ziarah. Dalam budaya Indonesia terjemahan “ziarah” bisa disalahpahami dan dikaitkan dengan kuburan.

Dalam teks Ibrani ini disebut šîr hamma‘ălôt, yang secara hurufiah berarti “Nyanyian Pendakian”. Maksudnya, nyanyian ini seringkali digunakan untuk ibadah di Yerusalem pada saat bangsa Israel dari berbagai tempat naik ke pegunungan Yudea di mana bait Allah berada. Posisinya di antara dua mazmur ziarah yang lain (Mzm. 132 dan 134) semakin menegaskan poin di atas. Jika benar demikian, istilah ’aḥîm di ayat 1 sebaiknya dipahami sebagai “saudara-saudara sebangsa atau seiman” (baca: seluruh umat TUHAN).

Kita tidak mengetahui dengan pasti ibadah seperti apa yang dimaksud di mazmur ini. Ada beberapa hari raya yang wajib diikuti oleh orang-orang Israel di berbagai tempat (Ul. 16:16). Isi mazmur ini juga terlalu singkat dan umum untuk merekonstruksi ibadah seperti apa yang dimaksudkan.

Terlepas dari ketidakjelasan ini, kita tidak terhalang untuk memahami nilai penting Mazmur 133 dalam ziarah ke Yerusalem. Pada saat begitu banyak orang Israel berkumpul di Yerusalem, kebersamaan merupakan sebuah isu yang relevan. Semua orang diingatkan bahwa mereka bersaudara, tidak peduli suku dan dari mana mereka berasal. Semua perbedaan dileburkan dalam kebersamaan. Mereka sama-sama umat TUHAN.

Selain itu, Mazmur 133 juga berfungsi sebagai pengingat untuk menunjukkan kebersamaan secara konkrit. Saat peringatan hari raya tertentu, kota Yerusalem menjadi kota yang paling sibuk. Di tambah dengan iklim yang panas di momen-momen tertentu, kemarahan dan perselisihan seringkali sukar untuk dikekang. Orang saling berebut tempat yang lebih nyaman. Masing-masing mementingkan dirinya sendiri. Di tengah situasi seperti inilah Daud mengingatkan mereka tentang betapa indahnya kebersamaan di antara umat TUHAN.

 

Kebersamaan yang indah

Mazmur ini tidak hanya berbicara tentang kebersamaan secara spasial (tempat). Yang disinggung di sini bukan cuma tinggal bersama, namun tinggal bersama “dengan rukun” (LAI:TB, ayat 1 gam-yāḥaḍ). Hampir semua versi Inggris memilih terjemahan “dalam kesatuan”.

Mereka yang tidak memiliki kesatuan paling tahu betapa menyiksanya sebuah kebersamaan secara tempat. Kebersamaan menjadi ajang sindiran. Kalau bukan karena keharusan, mereka mungkin akan memilih untuk berada di tempat lain.

Jika sebuah kebersamaan diwarnai dengan kesatuan, Alkitab menyebut itu sebagai sesuatu yang baik dan indah (LAI:TB; mah-ţţôḅ ûmah-nnā’îm). Pemunculan dua kata ini secara sekaligus menyiratkan sebuah penekanan. Ditambah dengan kata seruan hinnēh (lit. “lihatlah”), penekanan tersebut menjadi semakin kentara. Penerjemah LAI:TB secara tepat menangkap dan mengungkapkan penekanan ini melalui terjemahan “Sungguh, alangkah…”. 

Pemunculan kata “baik” dan “menyenangkan” cukup menarik untuk diperhatikan. Kata kedua sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “menyenangkan”, bukan sekadar “indah” (lihat semua versi Inggris). Bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi menyenangkan untuk dirasakan.

Tidak banyak hal yang baik sekaligus menyenanhgkan. Kita biasanya hanya memperoleh hal yang baik tetapi tidak menyenangkan (misalnya disiplin atau hukuman, bdk. Ibr. 12:5-11). Sebaliknya, ada yang menyenangkan tetapi tidak baik (misalnya dosa atau harta yang terlalu banyak, bdk. Pkt. 2:8). Dalam kebersamaan yang dinafasi kesatuan kita mendapatkan keduanya: baik dan menyenangkan!

Seberapa indah dan menyenangkan hal itu? Pemazmur menerangkannya dengan dua gambaran. Gambaran-gambaran ini sekilas memang terlihat asing dan membingungkan bagi kita, tetapi bagi umat TUHAN yang mengenal budaya dan geografi Israel pada jaman itu, gambaran-gambaran ini benar-benar relevan dan berkesan.

Gambaran ke-1 berkaitan dengan minyak (ayat 2). Dalam budaya Yahudi, minyak menjadi elemen penting dalam sebuah pesta. Minyak melambangkan sukacita (Mzm. 23:5; Pkt. 9:7-8). Namun, yang dibicarakan dalam Mazmur 133 ini bukan sembarang minyak. Ini lebih daripada sekadar minyak pesta biasa.

Minyak ini disebut minyak yang “baik”. Kata yang sama sudah muncul di ayat 1. Sesuai konteks, pemazmur tampaknya sedang memikirkan minyak khusus untuk para imam (Kel. 30:22). Minyak ini begitu spesial sehingga tidak boleh dibuat dan digunakan untuk keperluan yang lain (Kel. 30:32-33). Tidak salah jika banyak versi menerjemahkan “baik” di sini dengan “berharga” (KJV/NASV/RSV/NIV/ESV “precious”). Seperti itulah keberhargaan sebuah kebersamaan!      

Keberhargaan minyak bukanlah poin satu-satunya. Pemazmur juga menekankan jumlah minyak tersebut. Minyak ini sangat berlimpah, sehingga pada saat dicurahkan ke atas kepala Harun dapat membasahi janggut dan jubahnya. Orang-orang Israel pada waktu itu pasti dapat membayangkan betapa semerbak bau harum yang ditimbulkan dari minyak yang begitu banyak (bdk. Yoh. 12:3). Begitu pula dengan kesenangan yang muncul dari kebersamaan!

Gambaran ke-2 berkaitan dengan embun (ayat 3a). Gambaran ini tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah, seolah-olah embun dari Gunung Hermon bisa turun ke bukit-bukit Sion. Jarak antara keduanya sekitar 400 km.

“Embun Gunung Hermon” merupakan sebuah istilah populer yang menunjukkan kelimpahan uap airnya. Hal ini berhubungan dengan kondisi gunung tersebut yang terletak sekitar 9000 kaki dari permukaan laut. Di sana selalu ada salju. Embunnya begitu tebal. Daerah itu selalu hijau dengan pepohonan dan tanaman.

Yang lebih penting bukan bagaimana keadaan Gunung Hermon, melainkan apa yang dihasilkan dari sana. Lelehan air dari salju di puncak gunung ini menjadi sumber air yang tidak pernah surut bagi Sungai Yordan. Sungai Yordan sendiri merupakan penopang kehidupan bagi bangsa Israel. Mereka sangat bergantung pada Gunung Hermon (dan Sungai Yordan). Kebergantungan ini menjadi semakin besar selama musim kemarau.

Dari perspektif Israel waktu itu, embun seringkali dijadikan simbol berkat TUHAN (Kej. 27:28; bdk. Ul. 33:13, 28) atau kehadiran TUHAN (Hos. 14:6). Embun sangat menentukan hasil panen (Zak. 8:12). Tidak ada embun sama dengan tidak ada hujan (2Sam. 1:21; 1Raj. 17:1). Begitu berharganya embun sampai-sampai disamakan dengan perkenanan seorang raja (Ams. 19:12).   

 

Kebersamaan yang membawa berkah (ayat 3b)

Bagian terakhir dari mazmur ini mungkin cukup mengagetkan. Ternyata berkat tidak terletak pada kebersamaan. TUHAN memerintahkan berkat di Sion. Berkat ada di dalam perjumpaan dengan TUHAN, bukan dalam kesatuan umat. Dengan kata lain, berkat selalu berasal dari atas.

Hal ini sesuai dengan dua gambaran di ayat 2-3a. Minyak mengalir dari atas ke bawah. Embun turun dari Gunung Hermon yang tinggi ke pegunungan Sion yang lebih rendah. Berkat turun dari TUHAN kepada umat-Nya.

Poin ini tidak mengurangi nilai penting kebersamaan. Kebersamaan umat merupakan salah satu pintu menuju berkat ilahi. TUHAN tidak hanya memerintahkan kita untuk beribadah, tetapi juga beribadah dalam kebersamaan dan kesatuan. Ibadah yang benar hanya untuk TUHAN, tetapi bukan berarti hanya tertuju pada TUHAN. Relasi sesama umat perjanjian harus pula menjadi perhatian. Pendeknya, ibadah yang benar bersifat vertikal (kita dengan Allah) dan horizontal (kita dengan suadara seiman).

Dalam konteks Perjanjian Baru, kesatuan umat Allah digenapi di dalam Kristus Yesus. Dia adalah kepala gereja di mana seluruh anggota tubuh tersusun rapi dan mengarah kepada-Nya (Ef. 4:16). Karya penebusan Kristus memungkinkan semua orang percaya dari berbagai tempat dan abad untuk menjadi satu (Yoh. 17:20-23).

Apa yang dilakukan oleh Kristus harus dihargai dan disyukuri. Segala bentuk perselisihan merupakan pengabaian terhadap karya penebusan. Ingatlah bahwa kesatuan kita di dalam Kristus jauh lebih fundamental daripada perbedaan-perbedaan yang superfisial. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community