Kasih Menggenapi Hukum Taurat (Roma 13:8-10)

Posted on 31/01/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Kasih Menggenapi Hukum Taurat (Roma 13:8-10)

Bagi sebagian orang judul di atas mungkin sedikit membingungkan, bahkan mengagetkan. Kasih disandingkan dengan Hukum Taurat? Yang satu sering dilekatkan dengan kebebasan, sedangkan yang lain dengan keterikatan.

Kesan seperti ini muncul karena kita sering diletakkan dalam sebuah polarisasi antara cinta yang tanpa aturan dan aturan yang tanpa cinta. Di satu sisi, dengan mengatasnamakan cinta, semua objek cinta dianggap sah-sah saja. Para pelaku dan pendukung cinta romantisme sesama jenis adalah salah satu contohnya. Cinta dipandang tidak pernah salah. Di sisi lain, dengan mengatasnamakan aturan, para pelanggar kebenaran dijadikan objek cemoohan dan kebencian. Kelompok konservatif yang merendahkan kaum LGBTQ adalah contohnya. Orang “saleh” dianggap pasti lebih benar.

Dua kutub di atas telah melakukan kekeliruan yang fatal. Cinta tanpa aturan adalah sentimentalisme. Sebaliknya, aturan tanpa cinta adalah legalisme. Kita tidak ingin berada dalam ketegangan yang tidak diperlukan ini. Cinta berkali-kali salah. Aturan berkali-kali melukai. Hanya ketika cinta melandasi aturan, kita mendapatkan komunitas yang menyenangkan dan menggenapkan. Itulah yang ingin disampaikan oleh Paulus kepada kita hari ini.

Sebelum kita memasuki bagian inti dari khotbah hari ini, kita perlu memperjelas terlebih dahulu cakupan kasih yang dimaksud di bagian ini. Apakah perintah ini ditujukan kepada sesama orang Kristen atau semua orang? Pembacaan yang normal tampaknya mengarahkan kita pada opsi pertama. Dari semua pemunculan perintah untuk saling mengasihi di Alkitab hampir semuanya merujuk pada kasih antar sesama orang percaya. Pengutipan perintah-perintah Taurat juga mengasumsikan penerima surat sudah memahaminya dengan cukup baik. Jika cakupan perintah ini adalah semua orang, Paulus mungkin akan mengutip nasihat-nasihat bijak dari para filosof Yunani-Romawi kuno. Lagipula, sulit dibayangkan bahwa Paulus mendorong semua orang untuk saling mengasihi. Dia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menasihati semua orang.

Walaupun demikian, teks hari ini tidak meniadakan orang-orang lain di luar kekristenan. Kata “siapapun juga” di ayat 8 menyiratkan cakupan yang lebih luas. Di samping itu, apa yang disampaikan di teks ini secara prinsip dapat diterapkan pada relasi dengan semua orang. Jadi, cakupan perintah ini hanya masalah prioritas saja.

Mengapa kita harus saling mengasihi? Bukankah tidak semua orang di sekitar kita “layak” untuk dikasihi? Ada tiga alasan objektif untuk hal ini; alasan yang tidak ditentukan oleh keadaan atau sikap orang.



Karena kasih adalah hutang kepada sesama (ayat 8a)

Paulus mengawali teks hari ini dengan kalimat: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi” (ayat 8a). Kata sambung “tetapi” (ei mē) lebih tepat diterjemahkan “kecuali,” sebagaimana tersirat dalam mayoritas versi Inggris. Melalui kata sambung ini Paulus mengingatkan bahwa kasih kepada sesama akan selalu menjadi hutang kita, tidak peduli seberapa banyak kita sudah membayarnya.

Ada beberapa klarifikasi penting yang perlu disebutkan berkaitan dengan ayat 8a. Teks ini tidak boleh dijadikan alasan untuk melarang semua bentuk hutang (kecuali hutang dengan motivasi dan alasan yang salah). Yang ditekankan Paulus di sini bukan “tidak boleh berhutang” (opheilō)  tetapi “kalau berhutang harus segera bayar” (ayat 7 “Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar”). Bagian Alkitab lainnya mencatat tentang aturan hutang-piutang (Kel. 22:25; Ul. 15:1-2). Orang yang berbelas-kasihan kepada orang yang lemah dikatakan telah memiutangi TUHAN (Ams. 19:17). Paulus sendiri tidak membatalkan, tetapi akan membayar hutang Onesimus kepada Filemon (Flm. 18-19).

Roma 13:8a juga tidak mengajarkan bahwa hutang kita hanyalah kasih kepada sesama. Kita berhutang banyak hal kepada banyak orang. Sebagai contoh, kita berhutang “penghormatan” (ayat 7). Tidak peduli seberapa sering kita memberikan penghormatan kepada orang lain, kita tetap harus terus melakukan hal itu. Itu hutang kita. Paulus sendiri di awal surat telah menyinggung bahwa dia berhutang Injil kepada semua orang (1:14).

Jika hutang kita banyak, mengapa Paulus menggunakan kata “kecuali” di ayat 8a seolah-olah hutang kita hanya kasih kepada sesama? Jawabannya terletak pada posisi kasih sebagai fondasi bagi semua tindakan ketaatan kita. Kita memberikan penghormatan karena kasih. Kita mengabarkan Injil karena kasih. Jadi, hutang kasih kepada sesama bukan hanya sekadar sebuah hutang, tetapi hutang yang melahirkan hutang-hutang yang lain. Pendeknya, kita harus membayar semua hutang kita dengan dilandasi oleh kasih, bukan keterpaksaan.

Kita berhutang kepada sesama bukan karena mereka telah memberikan sesuatu kepada kita. Kita berhutang karena Allah telah memberikan kasih-Nya kepada kita (1Yoh. 3:16 “jadi kitapun wajib (opheilō) menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”; 1Yoh. 4:11 “maka haruslah (opheilō) kita juga saling mengasihi”).

Apakah hal ini berarti bahwa kita berhutang kepada Allah? Tidak juga. Kasih Tuhan kepada kita bukanlah hutang kita kepada-nya. Dia tidak minta dibayar. Dia tidak butuh dibayar. Kalaupun kita diminta membayar, tidak ada satupun di antara kita yang sanggup membayarnya. Jadi, Allah memberikan semua itu sebagai pemberian cuma-cuma. Bagaimanapun, pemberian ini disertai kewajiban: mengasihi sesama.



Karena kasih adalah inti Hukum Taurat (ayat 9)

Paulus mengajarkan bahwa inti dari segala perintah dan larangan dalam Alkitab adalah kasih. Poin ini diungkapkan melalui kata “tersimpul” (anakephaleiouta), yang di surat Paulus lainnya berarti “menyatukan” (Ef. 1:10). Inti berarti apa yang menyatukan semua aturan Alkitab. Dalam ungkapan lain, apa yang menjadi esensi atau inti dari semua perintah dan larangan dalam Alkitab.

Fakta bahwa Paulus hanya menyinggung tentang perintah untuk mengasihi sesama manusia sebagai inti Hukum Taurat tidak boleh dibentrokkan dengan Tuhan Yesus (bdk. Mat. 22:35-40). Paulus memang sedang membicarakan tentang relasi horizontal. Dia merasa tidak perlu menyinggung tentang relasi vertikal dengan Allah karena memang kurang relevan dengan fokus pembahasan. Itulah sebabnya dia juga hanya mengutip dari Imamat 19:18 (mengasihi sesama), tanpa menyertakan Ulangan 6:5 (mengasihi Allah).

Cara Paulus mengutip di sini juga tidak seberapa detil. Perintah ke-5 (menghormati orang tua) dan ke-9 (jangan bersaksi dusta) tidak disebutkan. Perintah ke-10 (jangan mengingini) dikutip tetapi tidak diberi objek atau keterangan apapun. Selain tidak mengutip semua perintah horizontal, dia bahkan menambahkan: “dan firman lain manapun juga” (ayat 9). Semua ini dimaksudkan untuk memberi sorotan lebih pada bagian: “sudah tersimpul dalam firman ini: kasihilah sesamamu manusia” (ayat 9b).

Esensi ini - yaitu kasih – menegaskan bahwa kekristenan adalah agama relasional, bukan sekadar ritual dan legal. Ritual dan berbagai aturan bukanlah esensi, melainkan ekspresi; kemasan, bukan subtansi. Kasihlah yang membuat keduanya menjadi bermakna.

Kasih juga memberikan keseimbangan yang diperlukan. Tanpa dilandasi cinta, ketaatan menjadi aturan yang memberatkan & membingungkan bagi kita. Kita merasa terpaksa dalam melakukannya. Tanpa dibatasi aturan, cinta akan menjadi perasaan yang liar & membingungkan bagi setiap orang. Apa yang kita rasa belum tentu sesuai dengan fakta.



Karena kasih adalah kegenapan Hukum Taurat (ayat 8b, 10)

Kata “memenuhi” (LAI:TB, plēroō) mengandung arti “menaati dengan memadai,” bukan sekadar asal melakukan. Pemunculan kata kerja aktif peplērōken di ayat ini sangat penting. Menggenapi Taurat bukan hanya sekadar pasif (ayat 10 “kasih tidak berbuat jahat kepada kepada sesamanya”), tetapi juga aktif (ayat 8b “ia sudah memenuhi Hukum Taurat”). Tidak cukup bagi kita untuk menjauhi larangan. Kita juga harus menjalankan perintah.

Poin ini sekilas agak membingungkan. Paulus sudah menyatakan bahwa kita sudah tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat (6:1-7:6). Kita juga tidak mungkin menaati Hukum Taurat (7:7-25). Bagaimana mungkin dia memerintahkan orang Kristen untuk menggenapi Hukum Taurat?

Untuk memahami ini, kita tidak boleh melupakan apa yang sudah disampaikan di 8:3-4. Di sana Paulus menegaskan bahwa ketidakmampuan kita dalam menaati Hukum Taurat sudah dilakukan oleh Yesus Kristus dan dikalahkan melalui pimpinan Roh Kudus. Paulus berkata: “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (8:3-4). Maksudnya, ketaatan kita kepada Hukum Taurat bukan untuk keselamatan maupun pembenaran di hadapan Allah. Kehidupan Kristus yang sempurna sudah memenuhi semua tuntutan Taurat dan kematian-Nya yang sempurna sudah menanggung kutukan Taurat. Kita melakukan perintah-perintah Allah sebagai ungkapan syukur dan kasih kita pada Kristus.

Dalam proses ketaatan ini kita juga tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Roh Kudus sudah diberikan bagi kita, bukan hanya untuk menghangatkan hati kita dengan kasih di Golgota (5:5) tetapi sekaligus memampukan kita untuk hidup bagi kebenaran (8:10). Persandaran pada karya penebusan Kristus dan pimpinan Roh Kudus inilah yang menjadi kunci keberhasilan dalam proses ketaatan.

Tentu saja kita sudah tidak terikat oleh berbagai aturan detil Taurat. Sebagian sudah tidak relevan dengan keadaan sekarang. Sebagian sudah digenapi dalam pengurbanan Kristus. Namun, esensi dari setiap perintah masih mengikat kita, yaitu kasih. Allah lebih dahulu mengasihi kita supaya kita bisa mengasihi Dia dan sesama. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community