Kasih Bukan Sekadar Perkataan (1 Yohanes 3:16-19)

Posted on 07/03/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Kasih Bukan Sekadar Perkataan (1 Yohanes 3:16-19)

Kata “cinta” atau “kasih sayang” pasti tidak asing di telinga kita. Semua orang juga sangat membutuhkannya. Namun, tidak semua orang memahami apa maknanya. Lebih sedikit lagi yang mampu mewujudkan cinta yang sesungguhnya.

Kekacauan konsep tentang cinta/kasih dapat ditemukan dengan mudah. Ada yang hanya bisa mengucapkan tetapi tidak melakukan. Ini disebut kemunafikan. Ada yang bisa mengatakan dan melakukan, tetapi dimotivasi oleh maksud yang tidak tulus dan untuk kepentingan diri sendiri. Ini namanya manipulasi. Ada lagi yang sampai kehilangan kontrol dan mengabaikan kebenaran. Dalam istilah sekarang ini disebut budak cinta (bucin). Ada pula yang pandai mengungkapkan dengan kata-kata puitis dan seks yang menggebu-gebu, tetapi tanpa komitmen. Ini adalah romantisme picisan.

Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk memahami dan mewujudkan cinta selain belajar langsung dari firman Allah. Di tengah kultur kontemporer yang sarat dengan makna cinta yang keliru dan manifestasi cinta yang semu orang-orang percaya memiliki landasan yang teguh, yaitu Alkitab yang tidak mungkin keliru. Tanpa kembali pada kebenaran ilahi, kita hanya akan menambah parah kekacauan yang ada.

Kekacauan yang sama juga muncul pada abad ke-1 Masehi. Para guru sesat mencoba memengaruhi penerima surat 1 Yohanes dengan berbagai konsep teologis maupun perilaku praktis yang keliru. Salah satunya adalah tentang kasih. Itulah sebabnya Rasul Yohanes merasa perlu untuk menjelaskan tentang kasih yang sejati di beberapa bagian suratnya.

Sehubungan dengan teks kita hari ini secara khusus, penjelasan tentang kasih di 3:16-18 didahului dengan peringatan bahwa dunia membenci orang-orang percaya (3:13). Kebencian ini bisa jadi hanya dipicu gara-gara kita berbuat benar. Ya, kebenaran (kita) memicu kebencian (dunia). Di tengah situasi seperti ini, komunitas orang percaya perlu untuk menguatkan barisan. Mereka harus saling mengasihi, bukannya malah membenci satu sama lain (3:15). Perbedaan yang ada seharusnya tidak menghancurkan kasih. Jika ada suatu ajaran yang malah menebarkan kebencian, ajaran itu pasti keliru. Itulah yang sedang diterangkan di 3:16-18.

Inti yang ingin disampaikan di bagian ini sudah dirangkum dengan sangat jelas di bagian akhirnya: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (ayat 18). Kasih yang sejati pasti berhubungan dengan perbuatan dan kebenaran. Tanpa perbuatan, cinta hanyalah sugesti perasaan. Tanpa kebenaran, cinta hanyalah penipuan perasaan. Dua tanda kasih yang sejati ini masing-masing diuraikan di 3:16 dan 3:17.



Cinta yang benar (ayat 16)

Banyak orang pada masa sekarang yang menilai cinta hanya secara personal dan emosional. Personal, dalam arti terserah masing-masing individual untuk mendefinisikan dan menilainya. Emosional, karena yang dijadikan patokan adalah perasaan masing-masing individual. Selama sesuatu membawa kenyamanan dan kebahagiaan, itulah yang disebut cinta. Bahkan tidak sedikit orang yang mengamini bahwa cinta tidak pernah salah atau perasaan tidak pernah menipu.

Benarkah demikian? Tentu saja tidak! Ada koherensi antara pengetahuan dan kasih sayang. Cinta yang benar dicirikan dengan pengetahuan dan pengenalan yang benar. Berbeda dengan budaya postmodern yang cenderung membatasi kasih pada tingkatan perasaan belaka, Yohanes berkata: “Demikian kita ketahui kasih Kristus” (ayat 16a). Kata “mengetahui” (ginōskō) muncul sekitar 25 kali dalam surat ini. Pemunculannya seringkali dalam konteks tanggapan terhadap ajaran sesat.  Yang menarik, dalam bagian ini kata tersebut dikaitkan dengan kasih. Ketika banyak orang hanya menghubungkan kasih dengan perasaan, Yohanes mengaitkannya terutama dengan pengetahuan (baca: kebenaran). Cinta bukan cuma masalah merasa, tetapi melihat fakta.

Lebih jauh, ayat 16a dalam teks Yunani sebenarnya tidak ada memuat kata “Kristus” (lihat mayoritas versi Inggris; kontra LAI:TB/KJV). Maksudnya, Yohanes sebenarnya sedang membicarakan tentang kasih secara umum: kasih yang sejati. Apa yang dia ajarkan relevan untuk semua diskusi tentang kasih.

Di ayat 16b Yohanes memang menyinggung tentang pengurbanan Kristus, tetapi hal itu disampaikan hanya sebagai contoh manifestasi kasih. Lebih tepatnya, manifestasi kasih yang tertinggi. Secara lebih spesifik, Yohanes ingin mengajarkan bahwa cinta yang benar memiliki standar yang mutlak, yaitu Injil. Apa yang dilakukan oleh Kristus menjadi patokan kasih sayang.

Kebenaran ini perlu lebih sering didengungkan sekarang. Ada kerancuan epistemologis (bagaimana mengetahui kebenaran atau fakta) dan aksiologis (bagaimana membedakan suatu tindakan itu baik dan jahat). Tidak menyetujui suatu tindakan dianggap tidak mengasihi. Menilai suatu tindakan keliru disamakan dengan menghakimi. Meyakini suatu pandangan dinilai arogan dan berpikiran sempit. Benar atau salah ditentukan oleh perasaan masing-masing orang (yang penting “feeling good”). Atas nama kebebasan dan cinta, orang merasa berhak mencintai siapapun dan dengan cara apapun. Orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus seyogyanya memahami kasih Kristus di kayu salib bukan hanya sebagai teladan kasih tertinggi tetapi sekaligus patokan kasih yang sejati. Apa saja yang bertentangan dengan nilai-nilai Injil adalah keliru, tidak peduli semua itu diatasnamakan cinta.

Menilai cinta dengan akal budi adalah satu hal. Memiliki patokan cinta – yaitu Injil - adalah hal yang lain lagi. Lebih jauh, kita juga perlu memahami bahwa cinta yang benar melibatkan tanggung-jawab yang besar. Di bagian akhir ayat 16 Yohanes melanjutkan: “jadi kitapun wajib [opheilō] menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Kata opheilō seringkali dikaitkan dengan hutang. Jadi, meneladani Kristus bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.

Apakah itu berarti bahwa dengan kematian-Nya Kristus sedang memberi kita hutang? Tidak! Karya penebusan Kristus adalah pemberian, bukan pinjaman. Kita tidak perlu membayar atau mengembalikan. Walaupun demikian, pemberian yang berharga itu mengandung tanggung-jawab yang besar atas kita bagi orang-orang lain. Kita wajib mengasihi mereka sebagaimana Kristus telah mengasihi kita.



Cinta yang nyata (ayat 17)

Kasih yang benar tidak terpisahkan dari kebenaran (pengetahuan). Kita harus mengetahui kasih yang benar dengan ukuran firman Tuhan. Namun, tugas kita tidak berhenti sampai di situ saja. Cinta bukan hanya harus benar, tetapi juga nyata. Cinta sejati melibatkan kebenaran dan tindakan.

Di ayat ini Yohanes memberikan sebuah situasi di mana kasih orang Kristen diuji. Dia berkata: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan” (ayat 17a). Kata “barangsiapa” menyiratkan aplikasinya yang mengikat untuk semua orang yang akan diterangkan di bagian selanjutnya. Semua orang di sini adalah yang melihat saudaranya menderita kekurangan. Situasi yang dicontohkan di sini menyiratkan adanya kesempatan (“melihat”), kedekatan (“saudaranya”) dan alasan untuk pertolongan (“menderita kekurangan”). Jika semua variabel ini ada pada diri kita, perintah ini berlaku atas kita. Dengan kata lain, ketika kita memiliki kemampuan dan kesempatan, kita tidak memiliki pilihan selain memberikan pertolongan.

Yohanes tidak sedang menyoal bantuan untuk orang asing yang tidak dikenal. Dia bahkan tidak sedang membicarakan tentang manifestasi kasih yang tertinggi, yaitu menyerahkan nyawa bagi orang lain. Jika dia menyoal dua hal ini mungkin sebagian orang akan menggunakan itu sebagai dalih untuk tidak mengasihi. Ujian kasih seringkali tidak terlalu mengejutkan. Siapa orang-orang yang Tuhan taruh di sekitar kita? Apakah kita selama ini peduli dengan mereka sehingga bisa mengetahui kebutuhan mereka yang sebenarnya? Apakah kita bersemangat untuk menolong mereka? Jika untuk ujian sederhana ini saja kita gagal, bagaimana kita bisa mengasihi orang asing (bahkan musuh kita) dan menyerahkan nyawa kita untuk orang lain? Jadi, Yohanes bukan bermaksud melarang kita untuk mengasihi orang asing. Dia sedang menguji ketulusan hati dan kasih kita.

Ternyata, tidak semua orang Kristen lolos dalam ujian ini. Ada sebagian orang yang tetap hidup untuk diri sendiri dan tidak peduli dengan orang-orang lain yang membutuhkan uluran tangannya. Hal ini bisa terjadi karena dua halangan. Sebagian orang memiliki perspektif yang keliru tentang harta secara jasmaniah. Yohanes dengan teliti menggunakan ungkapan “harta duniawi” (LAI:TB; ho bios tou kosmou = kehidupan dari dunia). Para pembaca surat pasti menangkap kesan negatif pada kata “dunia” di sini. Dunia akan membenci kita (3:13) dan tidak mengenal kita (3:1). Kita tidak boleh mengingini apa yang ada di dalam dunia -  yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (2:15-16) - karena dunia ini  sedang lenyap dengan segala keinginannya (2:17). Harta duniawi pasti salah satu yang akan segera lenyap. Jika harta ini pasti lenyap, mengapa kita tidak memaksimalkannya selama masih ada di dalam genggaman? Memaksimalkannya dengan cara membagikannya. Apa yang sementara akan menghasilkan nilai-nilai kekal.

Tidak ada yang salah dengan uang. Namun, kita perlu berhati-hati jangan sampai hati kita tertambat di sana. Yesus sudah memberikan peringatan bahwa di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada (Mat. 6:21). Jika harta semakin melimpah, semakin susah bagi kita untuk tidak mengandalkannya. Sebelum semua itu terjadi, kita sebaiknya belajar untuk membagikannya. Dengan banyak memberi kepada orang lain, kita sebenarnya sedang menyelamatkan diri sendiri. Kita terhindarkan dari bahaya penyembahan kepada Mamon (harta).

Halangan lain dalam memberi adalah hati yang kurang berbelaskasihan. Kata “pintu hatinya” di ayat 17c (LAI:TB; “menutup pintu hatinya terhadap saudaranya”) sebenarnya bukan sekadar merujuk pada “hati secara umum” (kardia), tetapi lebih ke arah “hati sebagai bejana belas kasihan” (KJV “his bowels of compassion). Kata Yunani splanchna memang sering mengandung arti belas kasihan. Pilihan kata “menutup” menyiratkan tindakan aktif yang disengaja. Secara normal seharusnya setiap orang akan memberikan pertolongan apabila dia melihat orang yang dekat dengan dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Jika ada orang Kristen yang memiliki kesempatan (“melihat”) orang yang dekat dengannya (“saudaranya”) yang benar-benar membutuhkan (“menderita kekurangan”) tetapi tetap tidak mau mengulurkan tangan, hal itu karena karena dia secara sengaja menutup pintu belas kasihannya. Orang seperti ini telah hidup bertabrakan dengan Injil Yesus Kristus.

Semua yang sudah memahami dan mengalami kasih Kristus yang sempurna di atas kayu salib seharusnya suka menolong orang lain. Bukankah ketika kita dulu berada di dalam kebutuhan yang paling mendesak dan serius – yaitu pengampunan dan penerimaan Allah – Kristus berinisiatif untuk berkurban bagi kita? Bukankah kasih-Nya sangat berlimpah bagi kita? Lalu mengapa kita sukar untuk membagikannya? Sekali lagi, mereka yang sudah dihidupkan oleh Injil seharusnya siap hidup untuk orang lain. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community