Kasih Bagi Mereka Yang Tersesat (Yudas 1:22-23)

Posted on 17/12/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Kasih-Bagi-Mereka-Yang-Tersesat.jpg Kasih Bagi Mereka Yang Tersesat (Yudas 1:22-23)

Surat Yudas ditulis sebagai respons terhadap sebuah persoalan genting di jemaat, yaitu ajaran sesat. Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri (1:4). Dalam istilah theologi, ajaran mereka disebut “antinomianisme” (anti hukum). Kelompok antinomian memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Tidak di bawah tuntutan Taurat diidentikkan dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.

Di tengah situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke para rasul sampai orang-orang Kristen generasi ke-2 atau ke-3 (1:3). Apa yang sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata (1:11). Selain itu, sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para penyesat dan pengejek kebenaran (1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan.

Walaupun demikian, Yudas tidak hanya berusaha menguatkan jemaat yang masih setia pada iman yang benar. Dia juga mendorong mereka untuk menunjukkan kasih kepada orang lain yang mungkin sudah tergiur dengan kesesatan yang ada. Orang-orang ini membutuhkan uluran tangan yang tulus. Yudas ingin mengajarkan bahwa kasih yang benar selalu mencari orang yang tidak benar.

Sebelum meneliti ayat 22-23 secara detil, kita perlu mengetahui bahwa persoalan tekstual di bagian ini sangat rumit. Salinan-salinan kuno memberikan bacaan yang berlainan. Kesulitan ini tercermin dari perbedaan yang cukup mencolok di berbagai terjemahan Alkitab. Dalam khotbah ini saya mengikuti pilihan para editor UBS4 dan NA27. Pilihan ini tidak jauh berbeda dengan yang kita temukan dalam terjemahan LAI:TB.  

Mereka yang tersesat

Ayat 22-23 berbicara tentang orang-orang yang sudah terpengaruh dengan ajaran sesat. Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa tingkat pengaruh yang ada cukup bervariasi. Paling tidak, ada tiga tahapan atau tingkatan yang tersirat.

Yang pertama adalah mereka yang ragu-ragu (diakrinomenous, ayat 22). Kata dasar diakrinō memiliki cakupan arti yang cukup luas. Kata ini bisa berarti berdebat (1:9), menghakimi/membedakan (Mat. 16:3; 1Kor. 6:5; 11:29; 14:29; lihat KJV), atau ragu-ragu (Kis. 10:20; 11:13; Rm. 14:23; Yak. 1:6). Arti mana yang benar sangat ditentukan oleh konteks dan sintaks. Diakrinō di Yudas 1:22 sebaiknya diterjemahkan “ragu-ragu”. Jika Yudas memaksudkan diakrinō di sini sebagai “berdebat”, dia mungkin akan menambahkan dengan siapa orang-orang ini berdebat, seperti yang kita temukan di ayat 9. Demikian pula dengan opsi lainnya. Jika diakrinō berarti “membedakan”, seharusnya ada objek yang dibedakan. Di Yudas 1:22 kata diakrinō muncul sendirian. Dengan demikian pilihan yang paling tepat adalah “ragu-ragu”.

Orang-orang ini belum mengadopsi ajaran sesat. Mereka baru pada tahap meragukan kebenaran dari ajaran yang lama. Jika tidak segera ditolong, keraguan bisa menjadi ketidakpercayaan. Ini tidak boleh dibiarkan.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang sudah dekat dengan penghukuman (ayat 23a). Gambaran yang digunakan di ayat 23 sangat mungkin bersumber dari Zakaria 3:1-5. Ada tiga kesejajaran antara dua teks ini: (a) konteks penghakiman/penghukuman; (b) ditarik dari api; (c) pakaian kotor. Sama seperti para imam (diwakili oleh Yosua) oleh belas-kasihan Tuhan dilepaskan dari penghukuman ilahi, demikian pula penerima surat Yudas dinasihati untuk menjadi saluran keselamatan bagi orang lain yang tersesat.

Metafora api dalam Alkitab seringkali memang muncul dalam konteks penghakiman (Mat. 3:10; 5:22; 13:40-42 dll). Bukan berarti orang-orang di Yudas 1:23a sudah berada di neraka atau pasti dibinasakan. Mereka baru ada di tepi lautan api. Dalam konteks pemikiran eskhatologis gereja mula-mula yang mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus terjadi segera pada zaman mereka, kesesatan orang-orang ini dipandang sudah sangat dekat dengan penghakiman terakhir.

Yang terakhir adalah mereka yang sudah sangat terikat dengan kesesatan (ayat 23b). Pakaian mereka sudah tercemar oleh keinginan-keinginan dosa. Dalam teks Yunani, kata “pakaian” (chitōn) di sini merujuk pada jubah dalam yang langsung bersentuhan dengan kulit. Seperti kita ketahui, orang-orang pada zaman itu biasa mengenakan dua helai baju: dalam dan luar. Yang dimaksud di ayat ini adalah yang pertama. Jubah dalam ini tercemar oleh kedagingan (sarx, LAI:TB “keinginan-keinginan dosa”).

Pemilihan kata chitōn (pakaian dalam) dan sarx (daging) menyiratkan kedekatan yang begitu lekat. Dengan kata lain, kebobrokan mereka sudah “mendarah-daging”. Bukan sekadar perilaku. Bukan sekadar ikut-ikutan. Mereka sudah sedemikian terhisap di dalam kesesatan dan kepuasan daging yang begitu dalam. Orang-orang ini mungkin sudah menjadi sama dengan para pengajar yang menyesatkan mereka (1:8 “mencemarkan tubuh mereka”).

Wujud kasih kepada mereka yang tersesat

Di tengah situasi yang sarat dengan bahaya kesesatan, sebagian orang mungkin tergoda untuk mengambil tindakan-tindakan yang sangat tegas. Tidak jarang, ketegasan ini dengan mudah berubah menjadi kekasaran dan kekerasan. Mengatasnamakan kecintaan terhadap kebenaran, sebagian orang justru terjebak pada sikap-sikap yang tidak benar. Apa yang diperjuangkan tidak selaras dengan cara mereka memperjuangkan. Kasih kepada kebenaran tidak diimbangi dengan kasih kepada orang lain.

Yudas bukan tipikal orang semacam itu. Dia sangat mencintai kebenaran. Dia juga mencintai orang lain yang tidak benar.

Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang tersesat? Wujud kasih seperti apa yang kita patut tunjukkan?

Yang pertama, berbelas-kasihan (eleaō, ayat 22, 23b). Kehidupan Kristiani sudah dipisahkan dari belas kasihan. Dalam salamnya, Yudas tidak lupa mengharapkan belas-kasihan untuk penerima surat (eleos, 1:2; LAI:TB “rahmat”). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kelak, kita menantikan belas-kasihan-Nya (eleos, 1:21; LAI:TB “rahmat”). Hanya oleh belas-kasihan-Nya kita dapat menghadap Dia kelak dalam keyakinan dan keberanian.

Sebagaimana Allah sudah berbelas-kasihan kepada kita yang dahulu tersesat dalam dosa, demikian pula kita sepatutnya memperlakukan orang lain demikian. Orang yang berbelas-kasihan (eleēmōn) akan menerima belas-kasihan (Mat. 5:7). Bagaimana kita menghakimi orang lain akan menentukan bagaimana kita nanti dihakimi. Penghakiman yang tidak berbelas-kasihan akan menimpa orang yang tidak berbelas-kasihan (Yak. 2:13).

Yang kedua, menyelamatkan (ayat 23a). Kita dapat menyelamatkan orang lain yang tersesat dengan cara merampas mereka dari api. Kata “merampas” (harpazō) bukan sekadar tindakan asal-asalan. Filipus dilarikan oleh Roh Kudus di Asdod (Kis. 8:39). Paulus pernah diambil secara paksa oleh pasukan Romawi tatkala terjadi kerusuhan yang membahayakan nyawanya (Kis. 23:10). Paulus juga pernah diangkat ke surga (2Kor. 12:2, 4). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, orang-orang percaya yang masih hidup akan diangkat ke awan-awan (1Tes. 4:17). Semua kata kerja yang berhuruf miring di atas menggunakan kata kerja harpazō. Dengan kata lain, kata ini merujuk pada tindakan mengambil sesuatu dengan disertai kekuatan atau paksaan. Ada upaya yang lebih keras yang harus dilakukan. Jika tidak demikian, daya tarik kesesatan akan lebih kuat menjerumuskan mereka ke dalam penghukuman.

Wujud kasih yang terkahir adalah berbelas-kasihan tetapi disertai ketakutan (ayat 23b). Kita perlu menunjukkan belas-kasihan kepada semua orang. Namun, khusus untuk mereka yang memang sudah sedemikian terhisap dalam keberdosaan, kita juga harus menambahkan sesuatu yang lain pada belas-kasihan. Tidak cukup hanya berbelas-kasihan. Kita harus menyertainya dengan ketakutan.

Apa maksud dari “disertai ketakutan” di ayat ini? Mengapa dalam kasus ini belas-kasihan patut ditambahi ketakutan?

Walaupun kata “ketakutan” (phobos) dapat memiliki beragam arti dan ditujukan pada pihak-pihak yang berbeda, tetapi dalam konteks Yudas 1:23 kita lebih baik menafsirkannya dalam arti ketakutan terhadap pengaruh dosa. Takut terjebak pada dosa yang sama.

Penafsiran di atas didukung oleh bagian terakhir dari ayat 23: “membenci pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa”. Dalam teks Yunani, frasa ini berbentuk anak kalimat (partisip) yang menerangkan “tunjukkanlah belas-kasihan yang disertai dengan ketakutan”. Dengan kata lain, kita dinasihati untuk mengasihi orangnya, tetapi membenci perbuatannya.

Nasihat ini sangat bijaksana. Berbelas-kasihan kepada mereka yang berdosa mengandung sebuah resiko. Tidak mungkin seorang berbelas-kasihan kepada orang lain tanpa memiliki kedekatan personal dengan orang itu. Belas-kasihan melampaui slogan dan ukspresi perasaan. Belas-kasihan mencakup tindakan. Pada saat yang sama, kedekatan dengan orang tersebut juga bisa menjadi bumerang. Orang yang berupaya menyelamatkan orang lain yang sedang berada di tepi jurang juga ikut jatuh ke dalamnya. Perlu kewaspadaan.

Sebagai aplikasi dari khotbah hari ini, kita perlu mengingat bahwa ada banyak orang yang tersesat di sekitar kita. Jika hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri saja, kita lebih baik menjauhi mereka. Membenci mereka bahkan dapat memberi pencitraan positif bagi kita. Persoalannya, semua tindakan ini tidak mengandung kasih di dalamnya. Allah menuntut kita untuk memperlakukan orang lain seperti kita sendiri telah diperlakukan oleh Allah. Apa jadinya jika Allah dahulu memilih untuk menjauhi dan membenci kita? Puji Tuhan! Di dalam Yesus Kristus Bapa di surga telah berbelas-kasihan kepada kita. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community