Jangan Jemu Berbuat Baik (Galatia 6:9-10)

Posted on 18/04/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Jangan Jemu Berbuat Baik (Galatia 6:9-10)

Di tengah dunia yang penuh penderitaan dan kejahatan, berbuat baik tidaklah mudah. Apalagi berbuat baik secara aktif, konsisten, berdampak, dan sesuai dengan cara Kristus. Kita tergoda untuk kecil hati, hilang semangat, bersungut-sungut, bahkan menyerah. Tetapi menjadi Kristen bukan sekedar menikmati kebaikan Tuhan atau menyandang status anak Tuhan. Menjadi Kristen berarti hidup produktif untuk Tuhan melalui perbuatan baik yang nyata.

Dalam dua ayat ini, Paulus berusaha menghibur orang percaya di Galatia untuk terus bertahan menabur kebaikan. Godaan kita adalah menjadi jemu dan menjadi lemah. Kata “jemu” disitu artinya menjadi lelah, merasa habis, dan tawar hati. Sedangkan kata ”lemah”, lebih tepatnya, orang yang menyerah, berhenti, kehilangan harapan untuk melanjutkan apa yang telah dikerjakan.

Kondisi di Galatia tidaklah mudah. Ada ajaran-ajaran palsu yang menyusup, ada konflik internal, ada perpecahan. Paulus misalnya dituduh bukan seorang rasul sejati dari Tuhan. Paulus dinilai bertentangan dengan Petrus. Perpecahan di dalam gereja digambarkan di Galatia 5, dengan kalimat-kalimat seperti: saling menggigit, saling menelan, saling membinasakan, saling menantang, dan saling mendengki. Paulus sendiri bahkan sempat mengaku dia telah habis akal menghadapi kondisi jemaat di Galatia. Ditengah situasi yang demikian sulit, godaan untuk menyerah pasti sangat kuat. Buat apa terus berbuat baik jika diperlakukan seperti ini?

Hal yang sama mudah terjadi kepada kita, atau bahkan sudah sering terjadi. Awalnya kita penuh semangat memulai sesuatu yang baik. Namun dengan berjalannya waktu, kita menghadapi tantangan yang bertubi-tubi. Banyak harapan yang tidak terpenuhi. Ada orang-orang yang sulit disekitar kita. Apa yang dahulu efektif, tidak lagi berhasil. Kita mulai kecewa atau bosan karena melihat sedikit sekali hasil, kemajuan, dan perkembangan. Mungkin kita tidak sampai meninggalkan pekerjaan atau pelayanan kita, namun hati kita telah menjadi dingin dan semangat kita luntur. Kita tetap menjalankan peran kita, tetapi hanya sebagai rutinitas dan sekedar demi menyelesaikan tugas.

Tuhan ingin kita untuk tidak menyerah. Apa saja yang perlu kita ketahui agar tidak jemu berbuat baik?

 

PENGERTIAN PERBUATAN BAIK

Pertama, kita perlu mengerti apa yang dimaksud Paulus dengan berbuat baik. Sejauh ini Paulus telah memberikan berbagai macam instruksi kepada orang Kristen di Galatia. Mereka dinasihati untuk saling mengasihi, untuk hidup oleh Roh, untuk memimpin orang berdosa ke jalan yang benar, untuk bertolong-tolongan menanggung beban, untuk menguji pekerjaannya sendiri, dan untuk membagi kepada pengajar Firman. Bisa jadi perbuatan baik yang Paulus maksudkan adalah rangkuman dari segala kegiatan diatas.

Semua aksi kebaikan diatas jelas patut kita jalankan sebagai orang percaya. Namun saya merasa konteks lebih mendukung kepada kebaikan yang sifatnya memberi bantuan. Berbuat baik disini merujuk kepada membagi apa yang kita miliki untuk menjawab kebutuhan sekitar. Di Galatia 6:6 misalnya Paulus menyebutkan kebutuhan finansial bagi para pengajar Injil.

Maka berbuat baik artinya memberi bantuan untuk memenuhi kebutuhan yang ada, baik secara materi, sosial, maupun spiritual. Kita tidak asal-asalan berbuat baik. Kita tidak sembarangan baik demi menyenangkan diri sendiri. Namun, kita peka akan kebutuhan mereka yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Perbuatan baik yang relevan dan strategis akan membantu sang pemberi bantuan dan lebih menguntungkan sang penerima bantuan. Apakah saudara peka dengan kebutuhan di sekitar anda? Bagaimana respon standar saudara ketika mendengar orang lain tertimpa bencana, kesulitan, atau mengalami penderitaan?

 

PENDORONG PERBUATAN BAIK

Kedua, kita melihat cara Paulus mendorong jemaat Galatia agar tidak jemu berbuat baik. Paulus membandingkan perbuatan baik seperti menabur benih (ayat 7-9a). Proses menabur dan menuai selalu melibatkan waktu. Kelihatannya tidak menghasilkan apa-apa, bahkan ketika sudah ada progres, tidak langsung berbuah. Namun pada akhirnya, pasti akan memberikan hasil. Disinilah dibutuhkan iman, iman kepada Tuhan yang merancang dan menetapkan hukum tabur tuai. Dengan kata lain, jika kita bertahan menabur kebaikan, kita akan menuai kebaikan.

Maka jangan menyerah walaupun perbuatan baik kita terlihat kecil, remeh, atau lemah. Tuhan memperhitungkan setiap tindak kebaikan. Tidak hanya itu. Bersama Tuhan, kebaikan yang sepele bisa berdampak besar. Bersama Tuhan, perbuatan baik kita tidak akan dilupakan. Jangan kecil hati bila orang tidak menghargai kebaikan kita. Tidak perlu terintimidasi jika dunia menyepelekan cara hidup kita. Hasil tidak terlihat hari ini bukan berarti gagal seterusnya. Karena Tuhan melihat dan menyiapkan panen yang indah bagi mereka yang taat berbuat baik.

Paulus juga mengajak jemaat Galatia untuk melihat ke masa depan. Kata “sudah datang waktunya” adalah kata yang digunakan di Galatia 4:4 untuk menggambarkan waktu yang tepat atau genap. Yesus datang pada waktu yang tepat, sesuai dengan jadwal Tuhan. Kata yang sama juga digunakan untuk menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Dengan kata lain, Tuhan akan bertindak dengan adil sesuai dengan waktu Tuhan. Jika kita menabur kejahatan, kita akan menuai hukuman. Jika kita menabur kebaikan, kita akan menuai kehidupan, baik di bumi maupun di kekekalan.

Ada berkat yang Tuhan sediakan bagi mereka yang bertahan dalam kebaikan. Mengejar berkat tidak selalu membuat perbuatan baik menjadi kurang murni, kurang sejati, atau kurang rohani. Konsep berkat atau pahala mengingatkan kita bahwa apa yang kita perbuat itu penting. Ketaatan kita benar-benar membawa dampak. Dan Tuhan senang memberkati orang yang bertahan dalam ketaatan.

Perbuatan baik dapat membawa penghiburan dan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Perbuatan baik dapat membawa orang kepada pertobatan. Perbuatan baik dapat mendatangkan pemulihan bagi keluarga, komunitas, bahkan bangsa. Perbuatan baik juga bermanfaat bagi diri kita sendiri. Ada kepuasan yang dalam dan kekal melihat transformasi hidup karena partisipasi kita.

Paulus mengingatkan jemaat Galatia peluang berbuat baik tidak selalu ada. Ayat 10 berkata “selama masih ada kesempatan.” Kita tidak dipanggil untuk hidup asal-asalan, tetapi hidup dengan tujuan. Orang percaya hidup dengan mata terbuka lebar akan kesempatan yang Tuhan berikan. Tidak selamanya kita kuat, mampu, dan sehat untuk hidup menjadi berkat. “Selama masih ada” berarti kesempatan berbuat baik adalah anugrah dari Tuhan. Hal yang paling menakutkan adalah saat kita tidak lagi peduli dengan orang lain di sekitar kita. Karena hati kita sudah terlanjur keras. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan kepahitan. Sebaliknya, berbuat baik adalah kesegaran jiwa. Maka, jangan sia-siakan kesempatan yang ada.

 

PENERIMA PERBUATAN BAIK

Ketiga dan terakhir, kita paham kepada siapa kita harus berbuat baik. Paulus menjawab, “marilah kita berbuat baik kepada semua orang.” Sekali lagi kita diingatkan, hidup orang percaya adalah hidup yang membawa kesejahteraan bagi dunia. Tidak ada syarat dan ketentuan berlaku kepada siapa kita harus berbuat baik. Berbuat jahat bukanlah pilihan, meskipun kita diperlakukan dengan jahat. Mengapa? Karena kita adalah orang-orang jahat yang terus diperlakukan dengan penuh kebaikan oleh Tuhan. Maka, orang yang mengalami anugrah Tuhan akan menemukan alasan demi alasan untuk terus dapat mengasihi, melayani, dan mengampuni.

Tetapi agar kita tidak kewalahan dengan banyaknya kebutuhan, Paulus menambahkan prioritas. Kita juga adalah manusia yang terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Maka, orang percaya berbuat baik kepada semua orang, “tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Lebih tepatnya, kepada anggota keluarga Allah.

Berbuat baik dimulai untuk sesama orang percaya. Arena kebaikan terjadi di dalam tubuh Kristus. Itu berarti jangan sampai kita terlalu sibuk bahkan terlanjur mengorbankan sumber daya kita di semua tempat, kecuali di gereja. Jangan sampai kita menyediakan hanya yang tersisa untuk saudara-saudara kita seiman.

Hidup berbuat baik bukanlah tugas atau beban. Hidup berbuat baik adalah gaya hidup Yesus sendiri. Bahkan Yesus mati agar kita dapat mengalami kehidupan yang sesungguhnya. Kita patut dipenuhi dengan rasa syukur, bangga, dan sukacita dapat menjalani kehidupan penuh perbuatan baik.

Photo by Binit Sharma on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community