Injil Merobohkan Tembok Pemisah (Kisah Para Rasul 10)

Posted on 04/04/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Injil Merobohkan Tembok Pemisah (Kisah Para Rasul 10)

Kata “Injil” atau “keselamatan” sangat lekat dengan perdamaian. Ada dua pihak yang dulu berjauhan atau bermusuhan sekarang diperdamaikan. Konsep semacam ini memang tidak keliru. Hanya saja, pengertiannya seringkali terlalu dibatasi pada relasi secara vertikal: melalui penebusan Kristus Allah mendamaikan orang berdosa dengan diri-Nya sendiri.

Jika kita menyelidiki Alkitab secara seksama, dimensi perdamaian yang dihasilkan oleh Kristus sebenarnya jauh lebih menyeluruh. Sebagaimana dosa telah merusak seluruh aspek kehidupan manusia (dan ciptaan), demikian pula dengan jangkauan penebusan Kristus yang memulihkan. Dia mendamaikan Allah dengan manusia yang berdosa (2Kor. 5:18-21), antar golongan dan status sosial (Gal. 3:27-28; Ef. 2:16) dan bahkan seluruh ciptaan (Rm. 8:20-22; Kol. 1:20).

Teks kita hari ini merupakan salah satu contoh konkrit bagaimana Allah memakai Injil untuk memulihkan relasi horizontal antara bangsa Yahudi dan bangsa lain. Secara lebih khusus, bagaimana Petrus dan rombongan bersunat yang menyertai dia (Kis. 10:45-48) didekatkan dan dilekatkan ke dalam persekutuan dengan Kornelius dan seluruh kerabatnya (Kis. 10:25-27, 33). Keselamatan dari Allah melalui Injil juga turun atas keluarga besar Kornelius yang bukan dari etnis Yahudi.

Dari sisi pergerakan Injil secara keseluruhan di Kisah Para Rasul (berdasarkan 1:8 “dari Yerusalem, Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi”), kisah pertobatan Kornelius (10:1-11:18) memegang peranan yang sangat penting. Peristiwa ini merupakan transisi yang sempurna bagi perluasan Injil ke diaspora (Kis. 11:19-20). Kornelius tidak sepenuhnya “asing.” Walaupun dia bukan dari etnis Yahudi, tetapi dia penganut agama Yahudi (10:1-2). Mulai pasal 11:19 kita akan melihat bagaimana Injil mulai menyebar benar-benar di kalangan bangsa-bangsa non-Yahudi yang sebelumnya tidak memeluk agama Yahudi. Mereka benar-benar asing menurut perspektif Yahudi pada waktu itu.

 

Tembok pemisah kultural

Studi sosiologi dan antropologi semakin mengungkapkan pengaruh sentral budaya dalam diri seseorang. Hampir segala sesuatu dalam dirinya merupakan produk budaya. Tidak ada orang yang berada dan bertumbuh dalam kekosongan. Begitu alamiahnya semua elemen budaya, sampai-sampai kita tidak merasa bahwa kita telah dibentuk oleh budaya. Kita bahkan seringkali menerima tanpa tahu mengapa. Jangankan untuk mengetahui mengapa, kita acapkali justru tidak menyadarinya. Kita telah dibentuk dan dibelenggu oleh budaya. Kita tidak memberi ruang dan kemungkinan untuk melihat jauh di luar tembok kultural.

Apa yang kita baca pada kisah pertobatan Kornelius merupakan salah satu contohnya. Pertemuan di rumah Kornelius merupakan perjumpaan dua kelompok budaya: Yahudi (10:45-48) dan Yunani (10:25-27, 33). Perjumpaan seperti ini jelas hal yang luar biasa. Di awal khotbahnya Petrus menjelaskan: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka” (10:28). Ketika orang-orang Yahudi yang menyertai Petrus melihat bagaimana Roh Kudus turun atas bangsa lain, respons spontan mereka adalah “tercengang-cengang” (10:45). Bahkan ketika berita pertobatan Kornelius didengar oleh jemaat di Yerusalem dan Petrus juga telah kembali ke sana, golongan Kristen Yahudi langsung menyalahkan Petrus (11:1-3). Mereka lebih berfokus pada apa yang dilakukan oleh Petrus daripada apa yang dilakukan oleh Allah (11:3 “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka”).

Dari perspektif kultural Yahudi pada masa itu, semua penjelasan di atas sangat masuk akal. Bangsa Yahudi terbiasa dengan berbagai aturan religius - kultural yang begitu detil dan mengikat. Ketaatan pada semua aturan ini tidak akan memungkinkan bagi mereka untuk bergaul dengan bangsa-bangsa lain, terutama dalam hal makan bersama, apalagi di rumah orang non-Yahudi. Entah berapa banyak poin aturan yang “telah dilanggar” oleh Petrus dan rombongannya ketika mereka memutuskan untuk masuk ke rumah Kornelius (10:28), makan bersama mereka dan bahkan tinggal beberapa hari bersama mereka (10:48). Jika kita tidak memahami situasi kultural seperti ini, kita mungkin akan menganggap semua peristiwa di pasal 10 biasa saja. Ternyata tidak demikian. Ada tembok kultural tebal yang harus dikalahkan.

 

Keruntuhan tembok kultural

Bagaimana tembok kultural yang selama ini memisahkan dapat diruntuhkan? Ini merupakan pertanyaan yang penting dan genting. Kita telah dan sedang menyaksikan rasisme di mana-mana. Ada sentimen ras di Indonesia, Amerika dan belahan dunia lain. Superioritas kultur telah memakan korban yang tidak sedikit (misalnya kekejaman Nazi Jerman atas bangsa Yahudi). Masihkah tersisa harapan bagi kita?

Kisah Para Rasul 10 menyediakan jawaban positif. Kita memiliki harapan. Harapan kita terletak pada Allah dan Injil-Nya.

Rentetan kisah yang membawa pertobatan Kornelius dan kerabatnya ternyata membutuhkan campur-tangan Allah secara ajaib dan nyata. Tanpa inisiatif dan intervensi Allah kita sulit membayangkan bagaimana pertobatan bisa terjadi pada keluarga Kornelius melalui kedatangan dan khotbah Petrus di rumah mereka. Allah adalah aktor utama.

Allah sendiri yang mengambil inisiatif untuk menemui Kornelius (10:3-6) dan Petrus (10:11-16) secara terpisah. Jika tanpa pimpinan ilahi yang spesifik, Kornelius tidak akan berani mengundang Petrus ke rumahnya. Hal yang sama berlaku pada Petrus. Jika dia tidak mendapatkan penglihatan, dia tidak akan berani mengiyakan undangan Kornelius. Bahkan ketika Petrus masih bingung dengan arti penglihatan tersebut, kedatangan utusan Kornelius pada saat yang tepat dan perintah Allah secara langsung kepadanya menjadi penjelasan yang menyirnakan kebingungan itu (10:17-20). Dia sendiri secara terbuka mengatakan: “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (10:28b).

Intervensi ilahi terlihat kentara lagi di akhir khotbah Petrus. Ayat 44 membeirkan penjelasan: “Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.” Cara penerimaan Roh Kudus ini sedikit berbeda dengan yang terjadi pada penduduk Samaria. Di sana Petrus dan Yohanes perlu mendoakan dan menumpangkan tangan atas mereka (8:15-17). Dalam kasus Kornelius, Petrus hanya berkhotbah saja. Dia bahkan belum menyelesaikan khotbahnya atau sempat berbicara tentang janji pemberian Roh Kudus kepada orang-orang yang percaya. Turunnya Roh Kudus atas Kornelius dan kerabatnya terjadi begitu saja. Allah yang langsung mengambil inisiatif dan kendali.

Keruntuhan tembok kultural juga terjadi karena pemberitaan Injil yang utuh. Khotbah Petrus sarat dengan elemen-elemen Injil. Dia berbicara tentang “firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus” (10:36). Kematian dan kebangkitan Yesus diberitakan disampaikan secara jelas dan lugas (10:39-41). Di akhir khotbahnya Petrus tidak lupa mengajarkan tentang iman sebagai sarana menerima pengampunan dosa (10:43 “barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya”).

Mengamati semua elemen Injil yang sudah dipaparkan sedemikian jelas dan utuh dalam khotbah Petrus ini, sukar dimengerti mengapa sebagian orang masih menganggap bahwa Kornelius sebenarnya bisa diselamatkan tanpa Injil. Kesalehan Kornelius yang sangat menonjol (10:2, 4, 22) dianggap sudah memenuhi “persyaratan keselamatan” di ayat 35: “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”

Penafsiran seperti ini tidak sesuai dengan konteks keseluruhan kisah. Ayat 35 tidak bioleh dipisahkan dari berita Injil di ayat 36. Secara tata bahasa, awal ayat 36 merujuk balik pada ayat 35 (10:36a “Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus”). Jika doa dan sedekah Kornelius (10:4, 31) sudah memadai untuk keselamatannya, mengapa Allah perlu bersusah-payah mengatur pertemuannya dengan Petrus? Mengapa pula Petrus masih perlu memberitakan Injil kepadanya?

Keutuhan Injil yang disampaikan oleh Petrus tidak hanya masalah elemen-elemen penting di dalamnya. Petrus juga menjelaskan siapakah Kristus secara utuh. Kristus yang diberitakan di dalam Injil adalah “Tuhan dari semua orang” (10:36) dan “Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati” (10:42). Dua sebutan ini seringkali diabaikan dalam pemberitaan Injil. Sebagian orang terlalu asyik dengan sebutan “Juruselamat” saja. Hasilnya? Orang-orang Kristen hanya menggunakan Kristus sebagai jaket keselamatan dari murka Allah! Kita seharusnya lebih sering mendengungkan bahwa percaya kepada Injil tidak terpisahkan dari memercayakan diri kepada Kristus sebagai Tuhan dan Hakim. Keyakinan dan ketaatan tidak terpisahkan. Kalimat ini tentu saja tidak dimaksudkan sebagai bantahan terhadap keselamatan berdasarkan iman saja. Kalimat tadi justru ingin memerjelas iman seperti apa yang menyelamatkan. Kita diselamatkan oleh iman saja, tetapi iman yang menyelamatkan tidak pernah sendirian saja. Iman selalu disertai dengan ketaatan.

Ketaatan yang diinginkan tentu saja melampaui semua ikatan kultural dan semua komtimen lain dalam kehidupan. Memercayakan diri kepada Kristus berarti memberi diri untuk diperdamaikan dengan sesama dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kristus menjadi pemberi identitas dan pengikat kultural yang baru. Di dalam Dia kita memerangi berbagai bentuk rasisme: superioritas etnis, kebencian rasial, stigma negatif tentang suku tertentu, dsb. Injil yang menyelamatkan kita dari dosa juga akan menyelamatkan kita dari ikatan kultural yang berdosa. Soli Deo Gloria.

Photo by K. Mitch Hodge on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community