Injil dan Nilai Hidup (1 Petrus 1:18-21)

Posted on 12/08/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Injil-dan-Nilai-Hidup-1-Petrus-1-18-21.jpg Injil dan Nilai Hidup (1 Petrus 1:18-21)

Injil Yesus Kristus bukan hanya sebagai sesuatu yang paling penting dalam kehidupan, melainkan juga memampukan kita untuk mengetahui apa yang paling penting dalam kehidupan. Objek, sekaligus perspektif. Melalui Injil kita memaknai apa saja dalam hidup ini. Salah satunya adalah nilai hidup atau nilai diri.

Mereka yang berada di dalam Injil Yesus Kristus akan terhindari dari dua wujud citra diri yang rusak: positif (sombong) dan negatif (minder). Mereka akan dimampukan untuk mensyukuri kehormatan sekaligus merengkuh kehinaan diri sendiri. Citra diri mereka akan menjadi utuh.

Itulah yang disampaikan oleh Petrus dalam teks kita hari ini. Orang-orang Kristen yang berada di perantauan (1:1) seringkali mengalami krisis identitas. Mereka merupakan kelompok minoritas (2:12 “di tengah-bangsa-bangsa bukan Yahudi”), bahkan yang marjinal (2:18 “hai kamu, hamba-hamba”). Tidak ada kelebihan atau hak istimewa duniawi yang mereka miliki. Dianggap hina oleh dunia sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Berkali-kali mereka difitnah dan dinista (2:12; 3:16). Ketidakadilan pun tidak terelakkan telah menimpa mereka (2:18-19; 4:14-16). Di tengah tekanan semacam ini mereka perlu mengenal siapa diri mereka yang sebenarnya.

 

Kerancuan identitas dan aktivitas

Kata sambung “sebab kamu tahu” (LAI:TB) di awal ayat 18 menyiratkan bahwa bagian ini tidak berdiri sendiri. Dalam teks Yunani ayat ini dimulai dengan sebuah partisip (eidotes), yang menerangkan sebuah alasan bagi pernyataan sebelumnya (ayat 17). Dengan demikian, penjelasan di ayat 18 berkaitan erat dengan status kita sebagai anak-anak Allah di ayat 17.

Sejak awal surat ini Petrus sudah beberapa kali menyinggung tentang Allah sebagai Bapa. Kita dipilih sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita (1:2). Dia telah melahirkan kita kembali melalui kebangkitan Kristus (1:3).

Status mengandung tanggung-jawab. Identitas menentukan aktivitas. Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar informasi yang penting atau sebuah konsep teologis yang kering. Ada tuntutan praktis di dalamnya. Kita adalah anak-anak yang taat (2:14) yang ingin menjadi seperti Bapa kita (2:15-16). Kita ingin bersikap yang tepat sebagai anak terhadap Bapa kita (2:17). Intinya, aktivitas sepatutnya selaras dengan identitas.

Keselarasan ini tampaknya sering diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Kristen. Di satu sisi kita mendapati mereka yang sangat mengagungkan status sebagai anak-anak Allah, tetapi dengan konsep yang keliru. Mereka mengajarkan bahwa menjadi anak-anak Allah berarti menjadi anak-anak Raja; menjadi anak-anak Raja berarti menjadi kaya raya. Ketaatan – yang seharusnya menjadi elemen penting – justru kurang ditekankan. Ini berseberangan dengan ayat 17. Status sebagai anak-anak Allah menyiratkan tuntutan untuk meneladani dan menaati Bapa.

Di sisi lain ada orang-orang tertentu yang menaati Allah, tetapi dengan konsep dan motivasi yang keliru pula. Ketaatan mereka dilandaskan pada ketakutan terhadap hukum, bukan rasa hormat kepada Dia. Di mata mereka, Allah hanyalah figur Hakim yang mengerikan. Ketaatan disamakan dengan keterpaksaan. Hal ini jelas bertabrakan dengan ayat 18. Ketaatan seyogyanya muncul dari hati yang bersyukur kepada Allah karena kebaikan-kebaikan-Nya yang tak terkatakan dalam kehidupan kita.

 

Injil dan nilai hidup (ayat 18-21)

Status kita sebagai anak-anak Allah bukan dihasilkan melalui ketaatan. Sebaliknya, ketaatan merupakan wujud dari status tersebut. Allah yang menjadi inisiator dan eksekutor penebusan, sehingga kita dapat memperoleh status yang membuat kita berharga, walaupun dunia menghina dan menista kita. Dengan kata lain, Injil Yesus Kristus merupakan landasan yang kokoh bagi identitas kita.

Pertama, Yesus Kristus menebus kita dengan harga yang sangat mahal (ayat 18-19). Praktek penebusan bukanlah hal yang asing, baik dalam budaya Yunani maupun Yahudi. Banyak hal bisa ditebus, misalnya budak, tawanan perang, atau benda tertentu. Inti dari penebusan adalah kelepasan (dari yang lama) dan kepemilikan (oleh yang baru).   

Penekanan dalam bagian ini tampaknya diletakkan pada keberhargaan tebusan. Frasa “bukan dengan barang fana, emas, atau perak” diletakkan tepat sesudah kata “bahwa” dan sebelum kata kerja “ditebus”. Ayat selanjutnya menerangkan keberhargaan darah Kristus yang sempurna sebagai tebusan bagi kita.

Penebusan tersebut terlihat menjadi begitu berharga ketika dikontraskan dengan apa yang ditebus. Tebusan yang mahal biasanya hanya diperuntukkan bagi barang yang mahal pula. Tidak ada orang yang mau membayar mahal untuk mendapatkan sesuatu yang kurang berharga (Yes. 52:3). Tidak demikian dengan Allah. Kita ditebus dari cara hidup kita dahulu yang sia-sia (mataios). Kata sifat ini bisa berarti sia-sia, tidak berguna, atau tidak berharga. Sesuai dengan pemunculan di Alkitab yang sering dikaitkan dengan penyembahan berhala (Im. 17:7; 1Raj. 16:13, 26), kita sebaiknya menafsirkan “dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu” di 1 Petrus 1:18 sebagai rujukan pada penyembahan berhala pula. Ini merupakan sebuah kesia-siaan.

Tebusan yang diberikan oleh Kristus untuk mendapatkan kita bersifat kekal, mulia, dan sempurna. Kekal, karena dikontraskan dengan barang yang fana. Mulia, karena dibandingkan dengan emas dan perak. Sempurna, karena merujuk pada darah Anak Domba yang tak bercacat dan bercela. Ide di 1:18 sangat mirip dengan 1:7 “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya”.

Kedua, penebusan oleh Yesus Kristus sudah direncanakan sejak kekekalan (ayat 20). Kata “yang telah dipilih” (proegnōsmenou) berasal dari kata proginōskō. Walaupun sebagian versi Inggris menawarkan terjemahan hurufiah “yang telah diketahui sebelumnya” (ASV/NASB/ESV), tetapi makna di balik kata ini sebenarnya bukan sekadar pra-pengetahuan ilahi. Ada kehendak dan ketetapan Allah yang kreatif dan berdaulat di sana. Itulah sebabnya sebagian besar versi Inggris mengadopsi makna ini: “ditetapkan sebelumnya” (KJV), “dipilih” (NIV), atau “ditentukan” (RSV/NRSV).

Rencana di atas sudah ada sejak kekekalan. Sebagaimana orang-orang percaya dipilih sebelum dunia dijadikan (Rm. 8:29-30; 2Tim. 1:9), demikian pula Kristus sebagai pokok keselamatan kita (1Pet. 1:20; Kis. 4:27-28). Dosa manusia tidak mengagetkan Allah. Tidak ada kepanikan dalam diri-Nya. Sejak kekekalan Dia sudah memikirkan misi penyelamatan.

Walaupun sudah ditetapkan sejak kekekalan, realisasi dari rencana itu dilakukan secara bertahap. Yesus Kristus baru menyatakan diri di akhir zaman (ayat 20 “baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir”). Keterangan waktu “zaman akhir” di sini bukan merujuk pada zaman sekarang. Dalam Alkitab istilah “zaman akhir” mengacu balik pada abad ke-1 Masehi, yaitu  pada inkarnasi Kristus di dunia: kehidupan dan kematian-Nya (Ibr. 9:26b “Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya”).

Bagi penerima surat 1 Petrus yang sedang menghadapi penderitaan dan hinaan, 1:20 memberikan penghiburan yang besar. Sama seperti kematian Kristus bukanlah sebuah kecelakaan – melainkan realisasi dari rencana ilahi yang kekal – demikian pula dengan penderitaan yang mereka sedang pikul. Tidak ada yang mengagetkan Allah.

Lebih dari itu, Petrus sengaja menambahkan “tetapi karena kamu” (ayat 20b) untuk menegaskan nuansa personal di dalamnya. Jemaat yang sedang terjepit oleh dunia perlu diberi keyakinan dan kekuatan. Berita Injil bukanlah informasi kuno yang abstrak dan kering. Kematian Kristus di kayu salib bukan sekadar demonstrasi kasih yang objektif (tidak peduli seberapa heroik pertunjukan itu), melainkan sarana bagi kita untuk mengalami kasih Allah yang subjektif.  

Ketiga, Allah memberikan dasar bagi iman dan pengharapan kita (ayat 21). Apa yang dilakukan oleh Kristus tidak berhenti pada kematian-Nya. Tidak peduli seberapa sempurnanya darah yang Dia curahkan di kayu salib (ayat 19), jika Dia tidak bangkit dari antara orang mati (ayat 22), penebusan itu akan menjadi percuma. Kekristenan tidak berhenti pada kayu salib, namun kubur yang kosong dan surga yang mulia (ayat 21 “yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya”).

Sekali lagi, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga bukan sekadar pertunjukan kuasa yang hebat (fakta objektif). Semua itu juga ditujukan untuk kepentingan kita secara personal (ayat 21b “sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah”). Allah yang sudah membangkitkan dan memuliakan Kristus adalah Allah yang sama yang akan menguatkan kita dalam menghadapi segala fitnahan, hinaan, penganiayaan, bahkan kematian. Apa pun keadaan kita di dunia ini tidak boleh menghalangi kita untuk bersikap optimis. Allah sudah menyediakan dasar yang kokoh bagi iman dan pengharapan kita.

Apakah Anda selama ini sudah menilai hidup dari perspektif Allah ataukah Anda justru membiarkan dunia yang mendefinisikan Anda? Apakah selama ini Anda bersusah-payah mengejar banyak hal yang dibanggakan oleh dunia supaya Anda bisa diterima, diakui, dan dihormati oleh orang lain atau Anda memilih untuk mensyukuri semua yang dilakukan Allah bagi Anda? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community