Hukuman Untuk Perempuan (KEJ. 3:16)

Posted on 09/07/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Hukuman-untuk-perempuan.jpg Hukuman Untuk Perempuan (KEJ. 3:16)

Ada beberapa hal menarik dalam hukuman Tuhan atas perempuan. Pertama, seperti sudah sempat disinggung sebelumnya, tidak ada “kutuk” yang ditujukan pada manusia. Kutuk hanya berlaku atas ular (3:14) dan tanah (3:17). Hal ini bukan berarti bahwa manusia tidak mungkin kena kutukan ilahi. Kain pun dikutuk oleh Allah (4:11). Bagian Alkitab yang lain berkali-kali membicarakan tentang kutukan ilahi atas manusia sebagai respon terhadap ketidaktaatan mereka. Ketidakadaan kutuk yang diarahkan pada manusia di Kejadian 3 harus dilihat sebagai strategi sastra untuk menegaskan bahwa cara Allah meresponi dosa manusia memang berbeda dengan cara-Nya berhadapan dengan dosa ciptaan yang lain. Seperti akan dijelaskan selanjutnya, hukuman Allah atas manusia tetap mengandung banyak anugerah.

Kedua, hukuman untuk perempuan disampaikan dalam cara yang lebih positif daripada hukuman untuk ular dan laki-laki: (a) kalimat untuk perempuan lebih pendek (bdk. 3:14-15, 16, 17-19); (2) tidak ada alasan eksplisit di balik penghukuman kepada perempuan (bdk. 3:14 “karena engkau berbuat demikian”, 3:17 “karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan buah”); (3) hukuman atas perempuan tidak meniadakan peranannya sebagai sarana berkat bagi umat manusia dalam melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala ular (3:15; bdk. 1 Tim 2:15). Ini jelas berbeda dengan laki-laki yang hanya memberikan masalah kepada keturunannya (3:17-19).

Tidak ada alasan yang jelas di balik perbedaan tersebut. Apakah ini berkaitan dengan pengakuan perempuan yang lebih positif daripada laki-laki (3:13)? Kita tidak dapat menentukan secara pasti. Ular yang tidak diberi kesempatan berbicara pun tetap menerima hukuman yang lebih berat (3:14-15).

Hukuman untuk perempuan terdiri dari dua bagian: kesakitan pada waktu melahirkan (3:16a) dan dikuasai oleh suaminya (3:16b). Kesakitan waktu melahirkan sengaja diletakkan di bagian awal karena berkaitan dengan keturunan di 3:15. Selain itu, hukuman ini paling berkaitan dengan berkat pertama yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu melahirkan keturunan (1:28 “Allah memberkati”). Kalau sebelumnya melahirkan anak adalah murni berkat Tuhan dan tidak ada kesakitan apapun yang menyertai, sekarang berkat itu tidak lagi dinikmati sepenuhnya.

Ini merupakan hukuman yang sepadan dan serius bagi perempuan, karena melahirkan anak pada jaman kuno dipandang sebagai sukacita dan kesuksesan tersendiri bagi perempuan. Sebaliknya, kemandulan adalah aib dan pertanda bagi kutukan ilahi. Sara rela memberikan Hagar kepada Abraham, hanya supaya ia bisa mendapatkan anak secara hukum dari hambanya itu (15:1-3). Hukuman TUHAN atas Abimelekh yang mengambil Sara sebagai isterinya adalah kemandulan bagi semua perempuan di istananya (20:17-18). Dua isteri Yakub berlomba-lomba memberikan keturunan kepadanya (29:31-30:24). Keturunan Israel terus bertambah banyak di Mesir sebagai bukti pemeliharaan Allah atas hidup mereka (Kel 1:7, 12). Berkat TUHAN atas dua bidan Mesir yang membantu kelahiran anak-anak Israel adalah kemampuan untuk memiliki keturunan (Kel 1:21). Dalam periode selanjutnya memiliki banyak anak dianggap sebagai pertanda bahwa seseorang diberkati oleh Tuhan (Mzm 127, 128). 

Keseriusan hukuman ini juga tampak dari struktur kalimat Ibrani yang digunakan. Frase “Aku akan meningkatkan secara luar biasa” (LAI:TB “Kubuat sangat banyak”) memakai bentuk yang tidak biasa, yaitu infinitif mutlak (harbâ ’arbeh). Bentuk ini biasanya dipakai digunakan seorang penulis apabila ia ingin menegaskan sesuatu. Menariknya, bentuk yang sama juga muncul dua kali di kitab Kejadian untuk berkat TUHAN yang berhubungan dengan kelahiran (16:10; 22:17).

Beberapa versi Inggris menerjemahkan bagian awal 3:15 secara berbeda. Sebagian membedakan antara kesusahan dan kandungan (KJV/ASV/YLT “thy pain/sorrow and thy conception”). Mayoritas versi lain memandang dua hal tersebut sebagai kesatuan (LAI:TB “susah-payah waktu mengandung”, NIV/RSV/NRSV/NASB/NLT). Pilihan terakhir terlihat lebih tepat jika dipandang dari sisi kesejajaran yang ada: “susah-payahmu dalam mengandung//dalam kesusahan engkau akan melahirkan anakmu”.

Hukuman ini dalam taraf tertentu sama dengan hukuman Adam. Keduanya sama-sama harus merasakan kesusahan (3:16, 17). Begitu besarnya kesusahan ini sampai-sampai di bagian lain Alkitab sakit bersalin sudah dianggap sebagai ungkapan umum untuk sebuah penderitaan yang hebat (Mik 4:9-10; Yes 13:8; 21:3; Yer 4:31; Rom 8:22; 1 Tes 5:3).

Dalam hukuman ini kita tetap harus melihat anugerah Allah. Melalui kelahiran Allah akan memberikan keturunan yang akan menghancurkan kepala ular (3:14). Fakta bahwa Allah tidak membuat perempuan mandul sudah merupakan anugerah tersendiri. Allah bisa saja membuat dia mandul (bdk. 20:17-18), sehingga generasi manusia tidak bisa berlanjut di bumi ini. Allah pun bisa langsung membunuh mereka (bdk. 2:17), namun Ia tetap memberikan umur panjang kepada manusia. Jadi, melahirkan anak dengan penuh kesakitan merupakan hukuman dan anugerah bagi perempuan (1 Kor 11:12; 1 Tim 2:15)

Hukuman kedua yang harus dialami perempuan adalah dikuasai oleh suaminya (3:16b). Terjemahan LAI:TB “birahi” didasarkan pada kesalahpahaman umum yang sudah berlangsung lama. Hal ini bukan tanpa alasan. Pemunculan kata Ibrani těšûqâ (lit. “menginginkan”) dalam konteks melahirkan anak (3:16a) mendorong para penafsir sejak dulu untuk memahami “keinginan” ini sebagai keinginan secara seksual. Hal ini semakin diperkuat dengan pemunculan kata těšûqâ di tempat lain yang digunakan dalam konteks hubungan asmara suami-isteri (Kid 7:11 “kepadaku gairahnya tertuju”).

Sebagian besar penafsir sekarang mengadopsi pandangan yang berbeda. Apa yang diinginkan perempuan di 3:16b bukanlah secara seksual, tetapi relasional. Ia menginginkan kekuasaan (NLT “and you will desire to control your husband”). Dukungan paling kuat bagi pandangan ini adalah pemunculan kata těšûqâ di 4:7. Dalam teks ini dijelaskan bahwa dosa sangat menggoda Kain (LAI:TB). Kata ini secara hurufiah seharusnya diterjemahkan “mengingini” (mayoritas versi Inggris). Godaan ini jelas tidak mungkin dipahami secara seksual. Yang menarik adalah kata těšûqâ di 3:16 maupun 4:7 sama-sama dikaitkan dengan kekuasaan. Sama seperti perempuan mengingini suaminya tetapi suaminya yang akan berkuasa atasnya, demikian pula dosa sedang mengingi Kain dan ia seharusnya berkuasa atas dosa itu.

Hukuman kepada perempuan ini tidak boleh dipahami sebagai sebuah perintah ilahi kepada laki-laki untuk menguasai perempuan secara semena-mena. Ucapan ini tidak ditujukan kepada laki-laki. Lagipula Allah tidak mungkin memberi ruang kepada kesewenang-wenangan terhadap kaum yang lebih lemah (Ul 24:1-4; Ef 5:22-23; Kol 3:19). Yang dipentingkan di sini terutama bukanlah bagaimana laki-laki akan menguasai perempuan, melainkan kegagalan perempuan dalam upayanya untuk mencapai kesetaraan dengan atau kebebasan dari laki-laki.

Di samping itu, kata “berkuasa” (māshal) yang muncul 7 kali dalam kitab Kejadian pada dirinya sendiri memang tidak mengandung makna kekuasaan yang bersifat tirani (1:16, 18; 24:2; 37:8; 45:8, 26). Pemunculan kata ini di tempat lain pun memberikan gambaran yang sangat variatif tergantung pada konteks pemakaian. Kata ini bisa bermakna positif (Mzm 89:10; Ams 16:32) atau negatif (Hak 14:4; 15:11; Ams 22:7; Yes 19:4).

Dari sini terlihat bahwa makna kata māshal di Kejadian 3:16b harus ditentukan sesuai dengan konteksnya. Mempertimbangkan pengaruh dosa dalam kehidupan manusia, bentuk kekuasaan yang terjadi tampaknya mengarah pada makna yang negatif. Kepemimpinan laki-laki sebagai kepala cenderung berubah menjadi penguasa. Kalau kepemimpinan sebagai kepala merupakan rencana awal Allah, kepemimpinan dengan kuasa merupakan akibat dosa.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community