HUKUMAN BUAT ULAR, PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI

Posted on 11/06/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/HUKUMAN-BUAT-ULAR-PEREMPUAN-DAN-LAKI-LAKI.jpg HUKUMAN BUAT ULAR, PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI

Dalam beberapa rangkaian artikel DYK ke depan, kita akan membahas tentang hukuman Allah dalam Kej. 3. Hukuman Allah atas kejatuhan manusia dalam dosa mencakup hukuman terhadap ular (ay. 14-15), perempuan (ay. 16) dan laki-laki (ay. 17-19).

HUKUMAN UNTUK ULAR (KEJ. 3:14-15)

Ular menjadi obyek hukuman pertama Allah. Dan untuk itu Allah memperlakukan ular secara berbeda. Ia tidak memberikan pertanyaan, melainkan langsung pada pernyataan kesalahan dan hukuman (bdk. Kej. 3:11-13). Ia memulai perkataan di ayat ini dengan “karena engkau berbuat demikian” (3:14a). Penempatan frase ini di awal kalimat menyiratkan penekanan, karena biasanya frase kausal (anak kalimat penyebab) muncul setelah induk kalimat.

Mengapa Allah tidak bertanya kepada ular? Ada beragam alasan yang dapat diberikan. Yang terutama harus dipahami adalah bahwa sikap ini bukan didorong oleh kekuatiran kalau-kalau ular akan menyalahkan Allah sebagai Pencipta (bdk. 3:1). Sebelumnya Allah sudah bertanya kepada perempuan dan ia tidak menyalahkan Allah. Sikap Allah ini harus dipahami dalam dua cara: (1) Allah ingin menunjukkan bahwa Ia memperhatikan manusia lebih daripada ular (iblis). Makna ini akan semakin terlihat dalam bagian selanjutnya, misalnya kata “kutuk” hanya dikenakan pada ular (3:14) dan tanah (3:17), bukan kepada manusia; (2) pertanyaan kepada ular akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Sebagai binatang, ular tidak memiliki dosa dalam dirinya sendiri (dia bukanlah makhluk moral). Sebagai simbol, iblis tidak memiliki harapan pengampunan (Ibr 2:16).

 Salah satu pertanyaan yang sering diajukan orang berkenaan dengan posisi ular dalam hukuman di 3:14-15. Apakah ular di sini berposisi sebagai simbol dari iblis atau ia secara hurufiah juga menerima hukuman dari Tuhan? Beberapa penafsir meyakini bahwa teks ini harus dipahami secara hurufiah sebagai penjelasan terhadap alkisah mengapa ular tidak lagi berjalan dengan kaki. Pandangan ini dipegang oleh sebagian penafsir Yahudi kuno maupun para penafsir Alkitab modern. Argumen yang sering digunakan sebagai dukungan adalah kemampuan sebagian besar ular untuk mengangat tubuhnya dan pemunculan ular di mitologi kuno dalam posisi berdiri.

Pandangan ini tampaknya sulit untuk diterima. Kelemahan utama terletak pada konsistensi. Mereka yang memegang pandangan tersebut umumnya menafsirkan “berjalan dengan perut” secara hurufiah, sedangkan “makan debu” secara figuratif. Cara seperti ini jelas tidak bisa dipertahankan. Seandainya “berjalan dengan perut” berarti perubahan cara berjalan, maka “makan debu” juga harus dipahami sebagai perubahan pola makan. Hal ini jelas sulit diterima, karena ular tidak makan debu.

Sehubungan dengan penggunaan gambaran ular dalam mitologi kuno, tidak banyak yang bisa kita tarik secara pasti, karena ular dalam mitologi kuno mengandung pemaknaan yang sangat beragam, kadangkala bahkan kontradiktif. Ular kadangkala sebagai simbol yang positif (kebijaksanaan dan kekuatan masa muda), kadangkala negatif (kekacauan dan kematian). Ular kadangkala sangat dihormati, tetapi juga dipandang rendah.

Kita lebih baik memandang ular sebagai simbol dari iblis. Apa yang kita lihat pada ular merupakan gambaran yang tepat untuk mengungkapkan hukuman bagi iblis. Sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya, hukuman di 3:14-15 berbicara tentang kehinaan dan kekalahan. Dua hal ini sangat cocok digambarkan oleh ular sebagai binatang yang melata dan secara tidak terelakkan akan memakan debu setiap kali ia berada di tanah.

Hukuman untuk ular diungkapkan melalui beberapa ironi. Kalau sebelumnya ular adalah binatang yang paling cerdik (‘ārûm, 3:1), sekarang ia justru terkutuk (’ārûr, 3:14). Pemilihan kata ’ārûr di sini jelas disengaja, karena bahasa Ibrani juga mengenal beberapa kata lain untuk kutuk. Kalau sebelumnya ular memiliki kelebihan dibandingkan semua binatang di darat (3:1), sekarang ia menjadi yang paling rendah (3:14). Kalau sebelumnya ia berhasil menggoda perempuan untuk memakan buah (3:2-6), kini ia sendiri harus makan debu tanah (3:14).

Kata "kutuk" dalam Alkitab, terutama dalam tulisan Musa, merupakan lawan kata dari “berkat” (bdk. 9:25-26; 12:3; Ul 28, 30). Dalam Alkitab tindakan “mengutuk” berarti mengucapkan hukuman ilahi atas seseorang/sesuatu sebagai respon terhadap pelanggaran yang dilakukan (Ul 27:15-26; 28:16-20). Jadi, walaupun kutuk diucapkan oleh manusia, hal itu pasti akan terjadi, misalnya kutukan Nuh atas Kanaan (9:25). Hal ini membuat orang-orang Israel sangat gentar terhadap kutukan (Hak 21:18). Walaupun demikian, tidak setiap kutukan pasti akan efektif. Seandainya itu bertentangan dengan ketetapan Tuhan, maka sebuah kutukan tidak akan efektif (Bil 22), bahkan akan menimpa orang yang mengucapkan kutukan (Kej 12:3).

Kejadian 3:14 menyatakan bahwa ular akan terkutuk di antara (min) semua binatang lain (LAI:TB/NRSV). Sebagian versi lain menerjemahkan kata Ibrani min dengan “di atas” (ASV/KJV/NIV/RSV “above”) atau “lebih dari” (NASB/NLT “more than”). Apa pun makna yang terkandung dalam kata ini, artinya pasti sama dengan kata min di 3:1. Maksudnya, perkataan di 3:14 bukan berarti bahwa semua binatang terkutuk tetapi yang paling parah adalah  ular, sama seperti ungkapan “lebih cerdik daripada semua binatang” (3:1) tidak berarti bahwa semua binatang adalah cerdik tetapi ular yang paling cerdik. Terjemahan yang paling tepat untuk min di 3:1 dan 14 mungkin adalah “dari”, sehingga dengan demikian menunjukkan keterpisahan (keunikan) ular dari binatang lain.

Dua macam hukuman untuk ular – berjalan dengan perut dan makan debu – sebaiknya dimengerti sebagai sebuah kesatuan. Keduanya menggambarkan kehinaan dan kekalahan. Abraham mengungkapkan kehinaannya di hadapan Tuhan dengan menyatakan bahwa ia hanyalah debu (18:27). Bintang yang menjalar dengan perutnya termasuk salah satu binatang haram yang tidak boleh dimakan (Im 11:42). Dalam Alkitab kekalahan telak kepada musuh seringkali dinyatakan melalui ungkapan “memakan atau menjilat debu” (Mzm 72:9; Yes 49:23; Mik 7:17).

Hukuman ini berlaku seumur hidup (3:14b). "Seumur hidup" dalam teks ini menyiratkan permanensi, sebagaimana perseteruan antara ular dan perempuan juga akan terus berlangsung sampai pada keturunan-keturunan mereka (3:15). Begitu kuatnya ide tentang permanensi ini sampai-sampai pada saat nabi Yesaya menggambarkan pemulihan segala sesuatu ia mencantumkan bahwa ular tetap akan makan debu (Yes 65:25). 

Selanjutnya, hukuman berupa permusuhan antara ular dan perempuan serta masing-masing keturunan merupakan dampak buruk yang ironis. Sebelumnya dua pihak ini berseteru tetapi kemudian sama-sama sepakat untuk melawan Allah (3:2-6). Kini mereka harus saling memusuhi lagi. Ternyata upaya ular untuk mendatangkan malapetaka bagi perempuan akan menjadi fenomena yang tak kunjung habis. Permanensi permusuhan ini bukan hanya terlihat dari pemunculan kata "seumur hidup" (3:14), tetapi juga beberapa petunjuk lain di 3:15. Kata permusuhan (‘êbâ) seringkali berhubungan dengan perseteruan yang sudah lama dan melibatkan balas dendam (Bil 35:21-22; Yeh 25:15; 35:5). Selain itu, kata kerja "meremukkan" di 3:15 memakai tense imperfek iteratif yang merujuk pada serangan yang diupayakan terus-menerus.

Di tengah hukuman berupa perseteruan kita menemukan sebuah janji kemenangan yang indah. Pertempuran akan terus berlangsung, tetapi hasil akhir sudah ditetapkan sebelumnya. Keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular, sedangkan ular hanya mampu meremukkan tumitnya.

Ayat ini termasuk salah satu yang terkenal dalam Alkitab. Sejak abad ke-2 M teks ini mulai popular disebut sebagai “protevangelium” (kabar baik pertama). Walaupun secara tradisional ayat ini dipahami sebagai teks mesianis yang digenapi di dalam Tuhan Yesus, tetapi bukan berarti pandangan ini tanpa pertentangan. Sebagian penafsir menganggap penafsiran mesianis terlalu memaksakan arti ke dalam teks.

Sebelum memutuskan pandangan mana yang benar, kita sebaiknya menyelesaikan beberapa persoalan terlebih dahulu, antara lain: (1) arti kata “meremukkan” (šûp); (2) identitas "keturunan" (zera‘); (3) identitas "ia" yang akan meremukkan kepala ular (, LAI:TB “keturunannya”).

Pertama, arti kata "meremukkan" (šûp). Beberapa versi Inggris mencoba memberikan dua terjemahan berbeda untuk kata di teks ini (NIV/JB "strike" dan "crush"). Tujuan dari pembedaan ini mudah untuk ditebak, yaitu membedakan kualitas dari akibat negatif yang diberikan masing-masing pihak (keturunan perempuan akan membawa kehancuran yang jauh lebih besar bagi keturunan ular). Cara penerjemahan yang berbeda ini dapat ditelusuri sampai pada versi Latin Vulgata, walaupun terjemahan yang digunakan sedikit berbeda (conterero = meremukkan dan insidior = menunggu untuk menyergap).

Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti terjemahan Septuaginta (LXX), mayoritas versi Inggris dan LAI:TB yang menggunakan terjemahan yang sama. Kata kerja Ibrani di balik kata "meremukkan" memang sama (šûp). Tidak ada salinan apa pun yang membedakan kata ini. Pemunculan kata yang sama dalam satu ayat seharusnya mendorong kita untuk menafsirkannya secara sama pula, kecuali ada petunjuk eksplisit dari teks untuk berpikir sebaliknya.

Sikap di atas tidak akan mengurangi perbedaan kehancuran yang dialami oleh masing-masing keturunan. Obyek dari kata kerja šûp jelas berbeda: satu tumit, yang lain kepala. Inilah yang membedakan tingkat kerugian yang terjadi.

Seandainya kita sepakat untuk memberikan terjemahan yang sama untuk šûp, kita tetap harus memutuskan terjemahan mana yang paling benar, karena versi Inggris memberikan usulan yang berbeda. Sebagian besar memilih "meremukkan" (KJV/ASV/NASB/RSV), yang lain memilih "menyerang/memukul" (NRSV/NLT). Seorang penafsir mengusulkan asal-usul kata šûp dari bahasa Arab šâfa yang berarti "mengamati". Beberapa penafsir menduga kata šûp berasal dari bahasa Akadian šâpu yang berarti “menghancurkan dengan cara menginjak-injak”.

Usulan terakhir dapat dengan mudah disingkirkan karena ular tidak mungkin menghancurkan keturunan perempuan dengan cara menginjak-injak. Dugaan ke-3 terlihat terlalu lunak untuk sebuah permusuhan. Dalam sebuah pertempuran tindakan “mengamati” (musuh) pasti akan diikuti oleh tindakan lain. Terjemahan ke-2 tidak disertai bukti apa pun. Pilihan terbaik jatuh pada usulan ke-1. Kata šûp hanya muncul tiga kali dalam seluruh Alkitab (Kej 3:15; Ay 9:17; Mzm 139:11). Di Ayub 9:17 kata šûp jelas berarti “meremukkan”. Arti šûp di Mazmur 139:11 adalah "melingkupi", tetapi arti ini tidak sesuai dengan konteks Kejadian 3:15. Arti “meremukkan” juga cocok dengan nuansa perseteruan yang serius di 3:15. Baik keturunan perempuan maupun ular akan saling meremukkan, namun akibat yang ditimbulkan tetap berbeda. Ular akan mengalami kehancuran yang fatal dan mematikan. Dari sini kita dapat menemukan gaya bahasa ironis lain dalam bagian ini. Kemenangan ular dalam menjatuhkan perempuan (3:2-6) bukanlah akhir dari peperangan. Sebaliknya, titik akhir terjadi pada saat keturunan perempuan meremukkan kepala ular (3:15).

Siapakah yang dimaksud dengan "keturunan" (zera) di 3:15? Apakah kata ini selalu menunjuk pada keturunan langsung (dekat) atau bisa beberapa generasi sesudahnya? Apakah bentuk tunggal dari kata ini bermakna individual atau kolektif? Menimbang dari pemunculan kata ini dalam Alkitab kita dapat metarik kesimpulan bahwa kata zera bisa merujuk pada keturunan secara langsung (4:25; 15:3; 19:32, 34; 21:13; 38:8-9; 1 Sam 1:11; 2:20; 2 Sam 7:21) maupun antar generasi (9:9; 12:7; 13:16; 15:5, 13, 18; 16:10; 17:7-20, 12; 21:12; 22:17-18). Deretan teks ini sekaligus menunjukkan bahwa kata zera‘ dapat bermakna individual atau kolektif. Kata “keturunan” dalam teks-teks tersebut hampir semua berbentuk tunggal, namun makna yang dikandung kadangkala secara eksplisit merujuk pada suatu kumpulan umat manusia dari garis keturunan tertentu. Jadi, bentuk tunggal kata zera‘ tidak dapat dipakai sebagai argument konklusif untuk mendukung maupun menentang makna mesianis dalam Kejadian 3:15.

 Siapakah keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular? Teks Ibrani hanya memakai kata ("ia") yang berjenis kelamin maskulin (lihat semua versi Inggris), karena menerangkan zera yang juga maskulin. Penerjemah LXX terlihat memahami kata ini secara mesianis. Dari 100 kali lebih pemunculan kata dalam PL, LXX hanya menerjemahkan dalam jenis kelamin maskulin autos di teks ini saja. Pilihan ini layak untuk dicermati, karena dalam terjemahan LXX kata benda yang diterangkan oleh autos berjenis kelamin neuter (sperma = "keturunannya"). Pemahaman mesianis ini juga dapat ditemukan dalam beberapa targum Yahudi. Tradisi di atas tidak mewakili seluruh pemikiran Yahudi. Tradisi Yahudi lain yang tercermin dalam tulisan psedepigrafa, targum, dan tafsiran para rabi mengarah pada konklusi yang berbeda.

Jika kita menengok pada pandangan bapa-bapa gereja kita juga akan menemukan kesan bahwa mereka pun tidak sepakat tentang makna mesianis dalam teks ini. Beberapa tidak melihat nuansa mesianis apa pun dalam teks ini. Sebagian mengakui makna mesianis tetapi tetap memberi ruang untuk arti "keturunan" yang lebih luas (bentuk tunggal secara kolektif). Yang lain secara eksplisit dan spesifik mengaitkan teks ini dengan kelahiran Tuhan Yesus dari perawan Maria.

Cara terbaik untuk mengetahui hal ini adalah dengan melihat pergerakan konsep keturunan dalam tulisan Musa. Pendekatan seperti ini akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa di antara 59 kali pemunculan kata keturunan dalam kitab Kejadian, 48 di antaranya merujuk pada keturunan dari umat pilihan (Set – Enos – Nuh - Abraham – Ishak – Yakub, dsb). Hal ini seharusnya tidak mengagetkan, karena sejak awal tema tentang keturunan memang menjadi salah satu isu sentral. Tujuan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan adalah supaya Ia memberkati mereka dengan banyak keturunan sehingga mereka dapat memenuhi dan menguasai bumi (1:28). Walaupun dosa telah menambahi kesusahan dalam berkat ini (3:16) dan iblis terus memerangi keturunan orang benar (4:8), Allah tetap konsisten menjaga berkat (1:28) dan janji-Nya (3:15). Ia membangkitkan Set (4:26) dan keturunannya (5:1-32). Tatkala semua keturunan mulai melawan TUHAN secara hebat (6:1-6) Ia menghapuskan mereka semua dari muka bumi dengan air bah (6:7; pasal 7-8), namun Ia tetap memulai garis keturunan yang baru dari Nuh (9:1, 7), bahkan meneguhkan perjanjian lagi dengan keturunannya (9:9), terutama dari garis keturunan Sem (9:26-27; 5:21-31). Selanjutnya janji tentang keturunan ini terus diberikan pada para patriakh, baik Abraham (12:1-3, 7; 13:15-16; 13:3, 5, 13, 18; 16:10; 17:7-12, 19; 21:12-13; 22:17-18; 24:7), Ishak (26:3-4), maupun Yakub (28:4, 13-14; 32:12; 35:12; 48:4). Janji di atas pada periode selanjutnya diteruskan pada seluruh bangsa Israel. Beberapa teks dalam tulisan Musa memberikan petunjuk eksplisit bahwa bangsa Israel merupakan keturunan yang dimaksud di kitab Kejadian (Kel 32:11-14; Ul 11:8-12).

Meskipun tulisan Musa terbatas dalam menelusuri pergerakan janji ini setelah jaman Musa, tetapi kitab-kitab PL lain secara jelas mengarahkan pada kehadiran Mesias sebagai penggenapan sempurna dari Kejadian 3:15. Di antara semua keturunan Yakub, Allah memilih Yehuda untuk dihormati di antara semuanya dan memegang tampuk kekuasaan yang kekal (49:8-12), sekalipun sebelumnya Yehuda melakukan kesalahan yang fatal (38:12-30). Dari keturunan Yehuda ini Allah lalu mempersiapkan Daud (Rt 4:17-22) dan berfirman bahwa keturunannya akan terus ada sebagai pemimpin Israel (2 Sam 7:12-16). TUHAN bahkan berjanji bahwa salah satu keturunan Daud akan duduk di sebelah kanan TUHAN sambil menjadikan semua musuh sebagai tumpuan kaki (Mzm 110:1).           

 Dalam PB semua janji di atas semakin jelas mengarah kepada Yesus Kristus. Kelahiran-Nya di Betlehem tanah Yehuda merupakan penggenapan janji ilahi tentang kemunculan seorang pemimpin Israel seperti Daud (Mat 1:20 "anak Daud", 2:5-6). Ia adalah keturunan perempuan itu (Gal 4:4), keturunan Abraham (Gal 3:16), yang akan menghancurkan ular tua (Ibr 2:14). Ia adalah penggenapan sempurna dari "Israel" sebagai anak Allah (Mat 2:14-15). Pada akhirnya nanti Ia akan menjadi Raja dan semua musuh-Nya akan menjadi tumpuan kaki (1 Kor 15:25).

Penjelasan yang bersifat individual di atas tidak meniadakan aspek kolektif yang ada. Pertarungan antara keturunan ular dan perempuan secara kolektif tetap berlangsung. Ular tua bukan hanya memerangi Mesias (Why 12:1-9), tetapi juga seluruh keturunan yang lain (Why 12:13-17; 20:9). Hal ini konsisten dengan ajaran Alkitab di tempat lain. Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa semua orang yang beriman adalah keturunan Abraham (Rom 4:13, 16-18). Siapa yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus bukanlah keturunan Abraham (Yoh 8:39-40) atau keturunan Allah (Yoh 8:41-42, 47), melainkan keturunan iblis (Yoh 8:44). Siapa saja yang menyukai dosa berarti tergolong keturunan iblis yang memang suka berdosa sejak mulanya (1 Yoh 3:7-10). Mereka adalah sama seperti Kain yang berasal dari si jahat (1 Yoh 3:12). Sebagaimana janji awal di Kejadian 3:15, si ular tua akhirnya akan dikalahkan secara telak (Rom 16:20; Why 20:2, 7-10).

Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa gaya penulisan protevangelium (Kej 3:15) terkesan sangat ambigu. Di satu sisi keturunan yang dimaksud bisa kolektif bisa individual. Keturunan ini bisa merupakan keturunan dekat maupun antar generasi. Dalam pengilhaman Roh Kudus (2 Tim 3:15), kesan yang bias ini memang disengaja. Orang-orang pada jaman Musa memahami hal ini secara terbatas, tetapi di kemudian hari – seiring dengan wahyu Allah yang semakin progresif – umat Allah semakin memahami siapa yang dimaksud dengan keturunan.

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community