Hidup Yang Berpadanan Dengan Injil (Filipi 1:27-30)

Posted on 13/03/2016 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Hidup-Yang-Berpadanan-Dengan-Injil-Filipi-1-27-30.jpg Hidup Yang Berpadanan Dengan Injil (Filipi 1:27-30)

Surat kepada jemaat di Filipi ditulis oleh Paulus pada saat ia berada di dalam penjara (1:12-13). Bukan hanya itu, Paulus juga tidak tahu secara persis bagaimana akhir dari perkaranya, entah ia akan dihukum mati atau dibebaskan (1:20-26). Di tengah situasi yang serba tidak menentu seperti ini, ia menasihati jemaat Filipi untuk hidup berpadanan dengan injil. Nasihat yang diberikan di dalam situasi semacam ini jelas tidak boleh disepelekan, apalagi 1:27-30 merupakan bagian pertama dari serangkaian nasihat di 1:27-4:9.

Dalam teks Yunani, Filipi 1:27-30 merupakan kalimat tunggal yang terdiri dari satu induk kalimat di ayat 27a dan dilengkapi dengan beberapa anak kalimat di ayat 27b-30. Penerjemah LAI:TB terpaksa memecah bagian ini menjadi beberapa kalimat untuk memuluskan terjemahan, tetapi upaya yang baik ini kadangkala bisa mengaburkan alur pemikiran Paulus. Beberapa kalimat yang tidak sejajar (subordinatif) terpaksa diletakkan secara sejajar (koordinatif).

Hidup yang berpadanan dengan injil (ayat 27a)

Nasihat untuk hidup berpadanan dengan injil merupakan inti dari ayat 27-30. Nasihat ini merupakan induk kalimatnya. Nasihat ini juga diletakkan di awal. Secara khusus, kata “berpadanan” (axiōs) diletakkan paling depan, sesudah kata “hanya saja” (monon), untuk memberikan penekanan.

Kata axiōs mengandung arti yang lebih mendalam daripada “berpadanan.” Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “layak” (ASV/RSV/NASB/NIV/ESV “worthy”). Orang yang sudah dihidupkan melalui injil sudah sepatutnya menghidupi injil. Perbuatan mereka seharusnya mencerminkan injil. Injil yang mulia terwujud dalam kehidupan yang mulia pula.

Kebalikan dari “hidup yang layak bagi injil” (1:27a) adalah “hidup sebagai seteru salib Kristus” (3:18). Sayangnya, inilah yang seringkali terjadi dengan sebagian orang yang mengaku diri Kristen. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, bukan perluasan pekerjaan injil. Mereka terfokus pada hal-hal yang jasmaniah (3:19).

Kata “hidup” di sini juga bukan kata yang biasa digunakan Paulus. Kata kerja politeuomai hanya muncul dua kali di seluruh Perjanjian Baru (Kis 23:1; Flp 1:27). Makna di dalamnya lebih mengarah pada sebuah pola hidup menurut tatanan tertentu. Di tempat lain kata ini dipakai untuk kehidupan yang seturut dengan Hukum Taurat (2 Makabe 6:1; 11:25; 3 Makabe 3:4; 4 Makabe 4:23). Dalam berbagai literatur Yunani kuno kata politeuomai dapat merujuk pada kehidupan seorang warga negara atau keikutsertaannya dalam pemerintahan dengan segala peraturan dan kebijakan yang perlu dibuat.

Berdasarkan kontras dengan “hidup sebagai seteru salib Kristus” (3:18) yang muncul dalam konteks kewarganegaraan surgawi (3:19-20), kita sebaiknya memahami politeuomai sebagai rujukan pada kehidupan yang pantas sebagai warga negara surgawi. Sebagaimana gaya hidup seorang warga negara Romawi terlihat begitu beda dengan gaya hidup seorang budak, demikian pula gaya hidup penerima injil harus berlainan dengan gaya hidup orang lain yang menolak injil. Orang Kristen harus hidup layak dengan injil yang ia percayai.

Wujud kehidupan yang layak bagi injil (ayat 27b-28a)

Dalam banyak kasus kita dapat mengenali kewarganegaraan atau identitas seseorang yang belum kita kenal. Bahasa yang digunakan, anatomi wajah, warna kulit, pakaian yang dikenakan, atau kebiasaan tertentu seringkali menjadi petunjuk yang dapat diandalkan. Nah, bagaimana mengenali seseorang sudah hidup secara berpadanan (layak) dengan injil?

Paulus hanya memberikan satu ciri di bagian ini, yaitu “berdiri teguh dalam satu roh” (stēkete en heni pneumati). Terjemahan LAI:TB sangat tepat di sini. Kata stēkō bukan hanya asal berdiri, tetapi berdiri dengan teguh atau kuat (Rm 14:4; 1 Kor 16:13; Gal 5:1; Flp 4:1; 1 Tes 3:8; 2 Tes 2:15). Bukan hanya keteguhan yang mendapat penekanan di sini, tetapi juga kesatuan. Ide tentang kesatuan muncul dua kali di ayat 27 (“satu roh” dan “sehati sejiwa”).

Satu dalam hal apa? Kesatuan memang bisa terlihat di berbagai konteks, tetapi di ayat 27b-28a Paulus memfokuskan pada satu hal: kesatuan dalam perjuangan demi injil. Dua anak kalimat (partisip) muncul di ayat 27c dan 28a untuk menerangkan kesatuan ini.

Pertama,  sehati sejiwa berjuang demi iman yang muncul dari injil (ayat 27c). Kata “berjuang” (synathleō) berarti “bersama-sama berjuang.” Penggunaan kata “sehati sejiwa” (lit. “satu jiwa”) dan “bersama-sama berjuang” secara jelas menunjukkan bahwa Paulus sedang memikirkan jemaat Filipi secara keseluruhan. Ini tentang gaya hidup gereja, bukan hanya perorangan. Perjuangan demi injil adalah tanggung-jawab seluruh jemaat, bukan hanya hamba Tuhan atau tim misi.

Pada saat berjuang bersama-sama, kesatuan harus ditekankan. Seringkali kebersamaan tidak disertai kesatuan. Semakin banyak orang kadangkala identik dengan semakin banyak persoalan. Tidak demikian seharusnya. Kesatuan harus mengikat kebersamaan. Motivasi dalam pemberitaan injil harus seragam; jangan ada yang mencoba mencari keuntungan pribadi dari pemberitaan tersebut (1:15-17). Sikap dalam pelayanan juga perlu diperhatikan; jangan melayani sambil berbantah-bantah dan bersungut-sungut, sehingga tidak menjadi kesaksian bagi orang-orang luar (2:14-16).      

Kedua, tidak digentarkan oleh lawan (ayat 28a). Perjuangan demi injil tidak selalu mulus. Begitu pula yang terjadi dengan Paulus dan jemaat Filipi. Ayat 30 menyiratkan bahwa penganiayaan sudah terjadi dan terus-menerus menimpa jemaat Filipi sejak Paulus pertama kali merintis pelayanan di sana (bdk. Kis 16:11-40). Sampai surat ini ditulis pun keduanya tetap menghadapi masalah yang sama. Paulus sedang dipenjarakan karena injil. Jemaat Filipi mendapat tekanan dari lawan-lawan mereka. Dibutuhkan keberanian yang besar untuk tetap berjuang demi injil.

Menariknya, di tengah tantangan semacam ini, Paulus hanya menasihati jemaat untuk tidak gentar. Tidak ada nasihat untuk mengancam, melawan, atau membalas. Tidak ada nasihat untuk berpura-pura baik demi mendapatkan respon yang menyenangkan, misalnya mulut tersenyum tetapi hati mengutuk. Di dalam kekristenan, keberanian tidak identik dengan kekasaran, kesetiaan tidak berkaitan dengan kekerasan, loyalitas tidak berujung pada kriminalitas.

Alasan untuk perjuangan bagi injil (ayat 28b-30)

Dari sisi sintaks, kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang dimaksud dengan “semuanya itu” (hētis) di ayat 28b. Apakah Paulus sedang merujuk pada “iman” di ayat 27b (pistis dan hētis sama-sama berjenis kelamin feminin)? Apakah ia memikirkan keseluruhan ayat 27b-28a (lihat LAI:TB)? Ataukah ia hanya memaksudkan keberanian di ayat 28a? Berdasarkan pertimbangan konteks, kita sebaiknya mengikuti LAI:TB. Bukan hanya keberanian jemaat, namun juga penganiayaan yang mereka hadapi. Bukan hanya iman mereka, tetapi juga bagaimana mereka mewujudkan iman itu. Dengan kata lain, Paulus membicarakan tentang penganiayaan yang terjadi sekaligus dengan keberanian jemaat dalam meresponi hal itu.

Mengapa jemaat di Filipi perlu mempertahankan sikap mereka yang bersemangat demi injil dan tidak gentar sedikit pun dengan para lawan?

Pertama, apa yang terlihat hanyalah sebuah tanda (ayat 28b). Kata “tanda” (endeixis) dalam tulisan Paulus mengarah pada “bukti” (Rm 3:25-26; 2 Kor 8:24). Melalui apa yang terjadi, Allah sedang membuktikan sesuatu. Ia bukan Allah yang pasif dan bisu. Ia selalu berintervensi dan menyampaikan pesan tertentu. Hanya saja, kita sendiri yang seringkali buta dan kurang peka. 

Di satu sisi, penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok penduduk Filipi secara terus-menerus merupakan tanda kebinasaan. Dalam upaya mereka yang gigih untuk menghancurkan injil ternyata justru akan berbuntut kehancuran bagi jiwa mereka sendiri. Semakin bersemangat perlawanan mereka, semakin dekat kebinasaan mereka.

Di sisi lain, semangat dan keberanian jemaat demi injil merupakan tanda keselamatan. Untuk memberi penegasan, Paulus menutup ayat 28 dengan tambahan: “Ini datangnya dari Allah.” Orang-orang yang sudah diselamatkan melalui injil dapat dikenali melalui perjuangan dan keberanian mereka demi injil. Hanya mereka yang sudah mengalami kekuatan injil yang akan kuat membayar harga demi injil. Hanya mereka yang sudah merasakan keindahan injil yang akan merasakan gairah demi keindahan tersebut.

Kedua, penderitaan demi injil adalah kasih karunia (ayat 29-30). Ayat 29 (“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”) mengajarkan sebuah kebenaran penting: iman dan penderitaan adalah sama-sama kasih karunia Allah. Banyak orang Kristen langsung berani dan siap mengamini bahwa iman adalah pemberian Allah (bdk. Ef 2:8-9), tetapi apakah mereka menunjukkan kesiapan dan keberanian yang sama untuk menyatakan bahwa penderitaan demi kebenaran pun adalah pemberian Allah (bdk. 1 Pet 2:19-20)?

Di tengah zaman yang sangat humanis dan anthroposentris, manusia telah menjadikan diri sendiri sebagai allah. Semua dianggap berfokus pada diri sendiri. Kemandirian tanpa Tuhan dipandang sebagai sebuah kebanggaan. Dalam situasi seperti ini, manusia sulit menyadari ketergantungan mereka pada Allah dan bersyukur atas pemberian-pemberian-Nya. Apapun yang kita miliki (terutama kehidupan kekal), situasi apapun yang kita hadapi (terutama penderitaan karena injil), semua adalah kasih karunia Allah.

Di tengah zaman yang sangat hedonis, kesenangan dan kenyamaman manusia diletakkan di barisan paling depan. Segala sesuatu yang tidak menghasilkan perasaan bahagia serta-merta ditolak. Apa yang substansial diganti dengan apa yang superfisial. Nilai (value) digantikan dengan harga (price). Penderitaan karena kebenaran dihindari. Kemakmuran dan kesuksesan jasmani dikejar secara membabi-buta. Allah pun diperalat demi kepuasan dan kenikmatan hidup.

Biarlah khotbah hari ini menjadi tamparan kuat di wajah kita. Kesejatian iman bukan diukur berdasarkan kekayaan dan kesuksesan, melainkan kesediaan untuk berjuang dan berkorban bagi kebenaran. Keyakinan kepada Tuhan tidak diukur dari berbagai klaim verbal dan pernyataan iman yang murahan, tetapi dari penyerahan diri kepada Dia yang memanggil kita untuk menderita. Soli Deo Gloria.    

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community