Empat Wujud Ujian Kasih (Roma 12:13-16)

Posted on 21/03/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Empat Wujud Ujian Kasih (Roma 12:13-16)

Kalimat “I love you” sangat mudah untuk diucapkan. Sayangnya, makna di balik kalimat ini sangat beragam dan tidak selalu keliru. Orang yang berbeda memberikan definisi yang berbeda tentang cinta.

Ironisnya lagi, banyak yang tidak bisa membuktikannya. Kalaupun dibuktikan, ternyata pembuktiannya keliru. Cinta memang memberi, tetapi tidak selalu memberi segalanya. Yang diberikan hanyalah apa yang baik dan membangun orang lain. Pemberian yang menghancurkan jelas bukan ungkapan cinta yang sesungguhnya. Di tengah kerancuan situasi ini, kita perlu bertanya: Bagaimana kita menguji kasih atau cinta seseorang? Secara khusus dalam konteks berkomunitas sebagai umat Allah, kita perlu menanyakan apa saja wujud ujian kasih yang sejati. Pertanyaan ini tentu saja dapat dijawab melalui beragam cara. Dalam khotbah kali ini kita hanya menjawabnya dari Roma 12:13-16.

Sebelum kita menjawabnya, kita perlu menjelaskan lebih dahulu bahwa teks ini merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya tentang kasih yang tulus (ayat 9). Dari ayat 9b-21 Paulus sedang menerangkan apa saja wujud kasih yang tulus. Jadi, empat wujud ujian kasih di ayat 13-16 hanyalah sebagian keterangan tentang kasih tersebut. Dengan kata lain, wujud ujian kasih di teks hari ini tidak lengkap.



Memberikan bantuan (ayat 13)

Alkitab secara jelas dan konsisten mengajarkan bahwa kasih bersifat aktif (dalam 1Kor. 13:4-7 semua kata yang menerangkan kasih berbentuk kata kerja). Tanpa bermaksud mengerdilkan nilai penting dari semua diskusi konseptual tentang kasih, kita memang perlu menekankan wujud konkrit kasih. Tidak peduli seberapa sering kita membicarakan atau seberapa dalam kita mendiskusikannya, orang lain lebih mengharapkan tindakan nyata.

Salah satu wujud nyata kasih adalah memberikan bantuan. Bentuk bantuan di sini diterangkan dengan frasa “bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus” (LAI:TB). Terjemahan “bantu” di sini masih kurang sempurna dalam mengekspresikan teks aslinya. Dalam teks Yunani kata yang dipakai adalah koinōneō, yang secara hurufiah berarti “mengambil bagian atau memiliki persekutuan.” Kata ini dalam PB sering merujuk pada bantuan secara keuangan atau material (Kis. 2:44; 4:32; Rm. 15:26-27; 2Kor. 8:4; 9:13; Gal. 6:6).

Yang lebih disorot melalui pemilihan kata ini sebenarnya bukan objek yang diberikan, melainkan sikap yang mau mengambil bagian dalam kehidupan atau kesusahan orang lain. Sebagai contoh, dalam ucapan syukurnya terhadap bantuan material dari jemaat Filipi (jemaat telah mengambil bagian dalam pekabaran Injil, Flp. 1:5; 4:14), Paulus lebih menyoroti konsistensi jemaat dalam melakukan hal itu (Flp. 4:15-17). Secara berhati-hati dia menegaskan bahwa yang diutamakan bukanlah pemberian itu (Flp. 4:17), tetapi perhatian mereka (Flp. 4:10). Maksudnya, setiap pemberian bantuan seyogyanya muncul dari hati yang penuh kasih dan perhatian. Ada kebersamaan di sana.

Bentuk bantuan yang lain adalah pemberian tumpangan (LAI:TB). Terjemahan ini sudah cukup baik. Istilah “keramahtamahan” (philoxenia, versi Inggris “hospitality”) memang merujuk pada kasih yang ditujukan pada orang asing. Dalam konteks kuno dulu, bentuknya adalah pemberian tumpangan, makanan, dan perlindungan (Ibr. 13:2; 1Pet. 4:9).

Menariknya, Paulus tidak hanya menasihati jemaat untuk bersiap sedia menyediakan tumpangan. Dia mendorong jemaat untuk melakukan lebih jauh. Mereka diperintahkan untuk “mengupayakan untuk memberikan” (LAI:TB). Dalam teks Yunani, kata kerja yang digunakan jauh lebih tegas, yaitu mengejar (diōkō). Kata ini menunjukkan gerakan yang cepat atau semangat dalam melakukan sesuatu (NLT “always be eager to practice”). Kata ini bahkan kadangkala digunakan untuk orang yang sedang menganiaya orang lain.

Dalam konteks budaya kuno dulu, para pengkhotbah atau saudara seiman yang berpergian untuk memberitakan Injil/firman Tuhan biasanya tidak memiliki dana yang besar. Mereka “bergantung” pada kebaikan hati dari jemaat yang dikunjungi. Jika ayat ini berkaitan dengan orang-orang Kristen Yahudi yang pulang kembali ke kota Roma setelah pengusiran oleh Kaisar Klaudius (Kis. 18:2), nasihat ini memiliki jangkauan aplikasi yang lebih besar (tidak hanya ditujukan pada para pengkhotbah). Orang-orang Kristen yang kembali ini tentu saja tidak langsung bisa memulai kehidupan mereka dengan mudah,. Mereka membutuhkan bantuan dari komunitas orang percaya (yang bukan Yahudi?) yang tinggal di Roma.



Memberkati musuh (ayat 14)

Penganiayaan merupakan bahaya laten bagi gereja sejak awal. Entah berapa banyak nyawa yang melayang dan harta yang dirampas selama terjadinya penganiayaan (bdk. Ibr. 10:32-34). Kehilangan adalah konsekuensi yang tidak terelakkan. Penganiayaan bisa menimbulkan luka atau trauma emosional. Sebagian orang sangat mungkin menyikapi penganiayaan secara personal.

Objek penganiayaan seringkali tidak memiliki kekuatan dan kesempatan untuk membalas dendam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa mereka yang teraniaya tidak melakukan apapun. Mereka bisa saja mengutuki atau membenci para musuh yang sudah menyulitkan hidup mereka. Celakanya, sikap ini seringkali merupakan respons alamiah terhadap penganiayaan.

Kepada para objek penganiayaan inilah Paulus memberikan nasihat untuk memberkati musuh-musuh mereka. Kata kerja ini bahkan diulang dua kali di ayat ini untuk memberikan penekanan (“berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah…”). Di samping itu, Paulus juga masih menambahkan larangan: “Jangan mengutuk” (ayat 14b). Tidak cukup bagi orang Kristen hanya untuk bersikap pasif (tidak mengutuk). Kita harus lebih aktif mengasihi para musuh kita, yaitu dengan cara memberkati mereka. Dari kosa kata dan sintaks, bagian ini tampaknya menyiratkan pengaruh dari ajaran Yesus (Mat. 5:44 dan Luk. 6:27-28). Jika benar demikian, kita mendapatkan informasi lebih jauh tentang cakupan memberkati musuh di sini. Memberkati berarti mendoakan mereka (Mat. 5:44). Memberkati berarti berbuat baik dan mendoakan mereka (Luk. 6:27-28). Jadi, memberkati bukan sekadar mengharapkan yang baik, melainkan dengan sungguh-sungguh mendoakan yang baik dan mencari segala cara untuk melakukan kebaikan kepada para penganiaya. Ini adalah ujian kasih yang sebenarnya.



Menunjukkan solidaritas (ayat 15)

Sebagai kelompok minoritas orang-orang Kristen di Roma perlu mengembangkan solidaritas. Situasi bisa berubah sewaktu-waktu, tetapi kebersamaan tetap tidak boleh berubah. Ada waktu untuk bersukacita, ada waktu untuk berdukacita. Di tengah situasi apapun kita harus menunjukkan solidaritas.

Paulus memulai ayat ini dengan nasihat untuk “bersukacita dengan orang yang bersukacita” (ayat 15a). Bapa gereja John Chrysostom berpendapat penempatan posisi nasihat seperti ini menyiratkan bahwa nasihat di ayat 15a lebih sukar untuk dilakukan daripada di ayat 15b. Bergembira atas keberhasilan dan nasih mujur orang lain tidak selalu mudah untuk dilakukan. Ada kompetisi. Ada arogansi. Bagi sebagian orang, melihat orang sukses sudah menimbulkan rasa sakit dan iri hati, apalagi untuk bersukacita bersama dengan orang yang sukses tersebut.

Nasihat untuk “menangislah dengan orang yang menangis” secara umum lebih populer dan lebih mudah untuk dilakukan. Nasihat ini juga dapat ditemukan di luar Alkitab, misalnya dalam Sirakh 7:34 (“Janganlah mengecewakan orang yang meratap, tetapi merataplah bersama orang yang meratap”). Banyak orang mudah berempati dengan keadaan orang lain. Hal ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa yang turut meratap biasanya merasa diri atau keadaannya lebih baik atau lebih beruntung daripada orang yang sedang dihibur. Dengan menghibur orang yang sedang menderita, seseorang juga mungkin merasa lebih superior atau lebih kuat daripada yang dihibur.



Memiliki kesatuan (ayat 16)

Terjemahan LAI:TB “sehati sepikir” terkesan lebih umum (RSV/NIV/ESV “live in harmony”). Dalam teks Yunani terlihat penekanannya lebih spesifik mengarah pada pikiran (KJV/NASB “be of the same mind”). Konteks keseluruhan ayat juga memberi dukungan yang sama. Kata dasar phroneō atau phronimos muncul 3x di ayat ini: hendaklah kalian kesatuan pikiran, jangan memikirkan perkara-perkara yang tinggi, jangan menganggap dirimu pandai.

Melalui penekanan seperti ini Paulus ingin mengajarkan bahwa kesatuan dimulai dari pikiran. Akal budi mendahului hati. Teologi mengontrol perasaan. Dengan cara yang sama kita dapat mengatakan bahwa musuh utama keharmonisan adalah mudah terbawa perasaan. Orang lebih mengedepankan apa yang mereka rasa daripada mengoreksi apa yang mereka kira.

Secara konseptual, ayat 16a merupakan pokok pikiran, sementara ayat 16b-c merupakan penjelasannya. Maksudnya, kesatuan pikiran (ayat 16a) diwujudkan melalui kerendahhatian (ayat 16b-c). Dalam teks Yunani, objek di ayat 16b (tois tapeinois) bisa benda (LAI:TB “perkara-perkara yang sederhana”) atau orang. Mayoritas versi Inggris mengambil opsi ke-2. Karena itu, bagian selanjutnya dari ayat 16b ini diterjemahkan “tetapi bergaullah dengan orang-orang yang sederhana atau rendah” (KJV/RSV/NASB/NIV/ESV/NLT). Wujud kerendahhatian yang lain adalah “tidak menganggap diri bijaksana” (ayat 16c). Menganggap diri superior seringkali menghalangi seseorang untuk bergaul dengan orang lain yang dianggap lebih rendah atau sederhana.

Penangkal kesombongan adalah Injil. Melalui Injil kita melihat betapa berdosa dan hinanya kita semua. Tidak ada sesuatu yang perlu dibanggakan dalam diri kita. Penerimaan Allah atas hidup kita didasarkan pada kurban penebusan Kristus yang sempurna. Melalui Injil kita juga mendapatkan teladan kerendahhatian yang sempurna: Allah menjadi manusia untuk mendapatkan orang-orang berdosa. Soli Deo Gloria.

Photo by Jack Sharp on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community