Eksposisi Filipi 3:12-14

Posted on 25/07/2021 | In Teaching | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/07/Eksposisi-Filipi-3-12-14.jpg Eksposisi Filipi 3:12-14

Halangan terbesar untuk menjadi lebih baik adalah menganggap diri sudah cukup baik. Anggapan ini melemahkan keinginan untuk belajar, baik dari kesalahan maupun nasihat orang. Orang yang menganggap diri demikian merasa diri sudah dekat dengan tujuan.

Anggapan ini biasanya muncul apabila seseorang membandingkan diri dengan orang lain, terutama yang dipandang ada di bawahnya. Merasa diri sudah cukup sabar dan mengalah. Merasa diri sudah banyak berkurban.

Anggapan ini akan sirna apabila seseorang menilai diri berdasarkan tujuan yang ada di depan. Kita semua belum menjadi versi terbaik kita masing-masing. Kita belum mencapai tujuan. Kita masih bergumul dengan kesalahan dan kegagalan.

Dalam teks hari ini Paulus mengajarkan kepada kita untuk terus berlari ke depan. Tujuan di depan masih panjang. Usaha keras perlu dilakukan, tapi dengan persandaran pada anugerah Tuhan.

Sebelum kita membahas ayat 12-14 secara lebih detail, kita perlu mengetahui struktur bagian ini lebih dahulu. Secara gramatikal bagian ini cukup rumit. Namun, secara konseptual kita mudah menemukan pemikiran Paulus. Ayat 12-14 ditulis dalam bentuk paralelisme (kesejajaran). Pola yang ada adalah ABCA’B’C’. Bagian A dan A’ merupakan pernyataan penyangkalan dari Paulus bahwa dia belum memperoleh/sempurna (ayat 12a) atau menangkapnya (ayat 13a). Bagian B dan B’ merupakan pernyataan positif tentang apa yang dia lakukan: terus mengejar (ayat 12b) dengan cara melupakan yang di belakang dan mengarahkan diri ke depan (ayat 13b). Bagian C dan C’ menerangkan tujuan dari semua usaha ini, yaitu menangkap sesuatu (ayat 12c) atau memperoleh hadiah berupa panggilan sorgawi dalam Kristus Yesus (ayat 14).

Paralelisme ini sangat berguna dalam menafsirkan ayat 12-14. Ungkapan di masing-masing bagian diterangkan oleh bagian paralelnya. Begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, paralelisme seperti ini sudah menyediakan konteks penafsiran tersendiri.


Apa yang seharusnya kita kejar dalam hidup ini (ayat 12c dan 14)?

Dalam teks Yunani kata kerja “menangkap” (katalabō) di ayat 12c tidak memiliki objek yang eksplisit (LAI:TB “menangkapnya”). Hal ini tensu saja menimbulkan perbedaan pendapat di antara para penafsir Alkitab. Apa yang sedang dibicarakan di sini?

Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dari konteks. Frasa “kalau-kalau aku dapat menangkapnya” diterangkan dengan frasa selanjutnya: “karena akupun telah ditangkap oleh Kristus.” Dari keterangan ini tersirat bahwa apa yang ditangkap juga berkaitan dengan Kristus.

Dugaan di atas didukung oleh pembahasan di bagian sebelumnya. Ayat 8b “Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Di bagian ini kata kerja “memperoleh” juga dikaitkan dengan Kristus (seperti di ayat 12). Lebih jauh, “memperoleh Kristus” di ayat 8b merujuk balik pada “pengenalan akan Kristus Yesus” (ayat 8a). Pengenalan di sini bersifat personal yang mencakup persekutuan (partisipasi) ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus (ayat 10-11).

Penafsiran ini juga sesuai dengan bagian paralel dari ayat 12c, yaitu ayat 14. Berdasarkan kesejajaran ini, yang coba ditangkap oleh Paulus adalah hadiah rohani berupa panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Panggilan ini bukan hanya merujuk pada fase awal keselamatan ketika Allah memberikan panggilan internal dalam diri seseorang melalui Roh Kudus sehingga orang itu dimampukan untuk bertobat. Panggilan ini mengarah pada keseluruhan proses keselamatan, terutama tujuannya, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Rm. 8:29; 2Kor. 3:18; Kol. 3:10). Proses menjadi serupa dengan Kristus ini diperoleh melalui persekutuan dengan kematian dan kebangkitan-Nya (Flp. 3:10-11).


Bagaimana kita dapat mengejar hal tersebut?

Kita telah tahu apa yang kita mau tuju, yaitu keserupaan dengan Kristus. Kita juga sudah tahu jalan menuju ke sana, yaitu melalui partisipasi dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Sekarang kita perlu membahas tentang sikap yang diperlukan untuk sampai ke sana.

Paulus mengajarkan tiga hal penting. Pertama, menganggap diri masih belum mencapainya (ayat 12a, 13a). Paulus mengungkapkan hal ini dengan tiga cara yang berbeda: (a) “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini”; (b) “atau telah sempurna”; (c) “aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya.” Mengapa dia perlu menegaskan kebenaran ini berkali-kali? Para penafsir umumnya memunculkan dua dugaan: menghindari kesalahpahaman sekaligus mengkritik para pengajar sesat. Paulus tidak ingin dianggap sombong dengan ucapannya di ayat 10-11, padahal dia sama sekali tidak bermaksud memegahkan diri (3:3-4). Dia memang masih terus-menerus berada dalam proses mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

Paulus juga sangat mungkin sedang menyindir para guru sesat dari kalangan Yudaisme yang menganggap diri sudah sempurna. Mereka memegahkan kelebihan-kelebihan mereka secara jasmaniah sebagai orang Yahudi (3:1-4). Kebanggaan inilah yang membuat mereka merasa diri lebih saleh daripada orang lain.

Kedua, berusaha sekeras mungkin untuk lebih maju. Kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan usaha Paulus di ayat 12-14 menyiratkan semangat dan kerja keras. Kata “mengejar” (diōkō) muncul dua kali (3:12, 14). Kata ini sebelumnya sudah digunakan di 3:6 untuk penganiayaan yang dilakukan oleh Paulus dengan penuh semangat (3:6). Metafora pertandingan olah raga di ayat 13-14 juga menggambarkan fokus dan upaya maksimal.

Kebenaran ini perlu untuk didengungkan lebih keras. Mengakui kekurangan adalah satu hal. Berusaha menjadi lebih baik adalah hal yang berbeda. Tidak sedikit orang yang berhenti pada pengakuan terhadap kelemahan. Mereka bahkan menjadikan kelemahan itu sebagai alasan untuk tetap seadanya dan menuntut orang lain menerima mereka apa adanya.

Paulus sangat menentang hal ini. Dia menyadari bahwa pertumbuhan rohani tidak terjadi dalam sehari, apalagi tanpa usaha yang sepenuh hati. Pertumbuhan rohani membutuhkan disiplin rohani. Sama seperti seorang atlet tidak mungkin mendapatkan hadiah jika dia tidak berlomba dengan sungguh-sungguh, demikian pula kita tidak akan bertumbuh jika kita tidak sungguh-sungguh.

Secara lebih spesifik, Paulus menerangkan bagaimana cara berlari yang baik. Dia menggunakan dua partisip untuk menjelaskan hal ini: melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri ke depan (ayat 13b). Dua-duanya penting. Dua-duanya diambil dari metafora pertandingan atletik kuno.

Dalam pertandingan atletik sangat penting untuk tidak mengecek seberapa jarak yang sudah ditempuh atau pelari lain yang ada di belakang. Selain tidak ada gunanya, sikap tersebut justru bisa mendatangkan kerugian. Tiap detik sangat berharga. Menoleh bisa mengurangi kecepatan. Menoleh bisa membuat seorang pelari jatuh.

Dalam pergumulan rohani kita juga perlu melupakan apa yang di belakang. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kita benar-benar tidak mengingat apapun di masa lalu. Paulus sendiri masih mengingat jelas masa lalunya (3:4-6). Melupakan yang di belakang artinya menjaga apapun di masa lalu kita yang bisa menghindari tujuan di depan. Masa lalu yang baik dengan segala kelebihannya bisa saja menjadi sampah yang merugikan (3:7-8). Begitu pula dengan masa lalu yang buruk. Orang bisa terjebak pada kepahitan dan kekecewaan yang menghancurkan. Intinya, apapun masa lalu kita tidak boleh mendefinisikan siapa kita.

Di samping melupakan apa yang di belakang, kita juga sekaligus mengarahkan diri ke depan. Kata “mengarahkan diri” (epekteinomai) secara hurufiah berarti merentangkan atau mengulurkan tubuh. Dalam perlombaan atletik kata ini merujuk pada usaha pelari untuk mendorong tubuh mereka ke depan sesaat sebelum mencapai garis akhir.

Penting bagi kita untuk selalu melihat ke depan dan melakukan apapun untuk segera sampai ke tujuan. Usaha ini mungkin menuntut kita untuk berani keluar dari zona nyaman. Kita mungkin harus melangkah extra miles atau melebihi batasan normal. Kalau tidak ada kemajuan, jangan menyalahkan keadaan. Berlari lebih kencang, rentangkan badan.

Ketiga, menyandarkan diri pada anugerah. Penekanan pada usaha keras di poin sebelumnya mungkin bisa menimbulkan kesan bersandar pada kekuatan manusia. Tidak ada ruang untuk kasih karunia. Kesan ini tentu saja keliru. Bagian C dan C’ menyoroti aspek anugerah ini.

Dalam upaya kita untuk menangkap Kristus, kita diingatkan bahwa Kristus lebih dulu menangkap kita (ayat 12b “kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus”). Kita berada di dalam Kristus bukan karena kebenaran kita, melainkan karena kebenaran-Nya yang diperhitungkan sebagai kebenaran kita (3:9). Kebaikan apapun yang kita lakukan bagi Kristus selalu didahului oleh kebaikan yang dilakukan Krisus bagi kita.

Lebih jauh, jika paralelisme C dan C’ diperhitungkan secara serius, frasa “dalam Kristus Yesus” di akhir ayat 14 sangat mungkin menerangkan usaha Paulus (ayat 14a “berlari-lari kepada tujuan”), bukan hadiahnya (“panggilan sorgawi dari Allah”). Maksudnya, Paulus terus-menerus berlari di dalam Kristus Yesus. Tidak peduli dia berhasil atau gagal, dia tetap berada dalam cengkeram kasih karunia. Kalaupun dia sempat jatuh, dia tetap jatuh di atas tangan Kristus yang berdaulat. Kristus bukan hanya yang memulai perjalanan rohani kita, Dia juga yang terus menjaga kita berada di jalan-Nya. Soli Deo Gloria.

Photo by Steven Lelham on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community