Eksposisi Filipi 2:19-24

Posted on 24/01/2021 | In Teaching | Leave a comment

 Eksposisi Filipi 2:19-24

Orang yang bisa dipercaya itu langka. Mereka bukan sekadar rekan kerja. Bukan pula sekadar pelaksana. Dia selalu meletakkan kepentingan orang lain di atas dirinya. Jadi, bisa dipercaya dimulai dari hati yang peduli, bukan kepandaian dan ketrampilan yang tinggi.

Orang yang bisa dipercaya dibutuhkan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Di mana saja, karena orang yang bisa dipercaya tetap bisa berkarya di berbagai keadaan yang berbeda. Kapan saja, karena orang yang bisa dipercaya selalu siap sedia memberikan dirinya. Siapa saja, karena orang yang bisa dipercaya benar-benar bisa memberi ketenangan jiwa.

Apa saja ciri khas orang yang bisa dipercaya? Mengapa orang yang dipercaya sangat diperlukan dalam pelayanan? Teks hari ini adalah jawabannya.

Sebagian penafsir Alkitab mempertanyakan posisi 2:19-24 (juga 4:25-30 tentang Epafroditus). Rencana pengutusan orang-orang tertentu kepada suatu jemaat – seperti dalam kasus Timotius dan Epafroditus yang akan diutus oleh Paulus ke Filipi – biasanya muncul di akhir surat-surat Paulus, bukan di tengah-tengah. Namun, hal ini seharusnya tidak terlalu dipersoalkan. Di beberapa suratnya yang lain Paulus juga menginformasikan pengutusan di tengah pembahasan (1Kor. 4:14-21; 1Tes. 2:17-3:13).

Pemunculan Timotius dan Epafroditus di akhir pasal 2 sangat mungkin berhubungan erat dengan apa yang sudah disampaikan di awal pasal 2. Di 2:1-4 Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk bersatu dan mendahulukan kepentingan orang lain. Timotius dan Epafroditus merupakan teladan konkrit dari penggenapan perintah ini. Jadi, selain Yesus Kristus (2:5-11) dan dirinya sendiri (2:17-18), Paulus menambahkan Timotius (2:19-24) dan Epafroditus (2:25-30) sebagai contoh.

Pemaparan teladan ini sekaligus sebagai teguran halus terhadap jemaat Filipi. Ada bahaya yang mengancam keharmonisan di antara mereka. Ketaatan mereka tidak dilakukan dengan ucapan syukur dan sukacita (2:12-13), tetapi dengan bersungut-sungut dan berbantah-bantah (2:14-16). Masing-masing tidak mau meletakkan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. Itulah sebabnya mereka perlu diingatkan tentang kerelaan Paulus untuk menjadi korban curahan bagi iman mereka (2:17), sikap hati Timotius yang bersungguh-sungguh memperhatikan kepentingan mereka (2:20) dan Epafroditus yang hampir mati demi melayani Paulus dalam penjara (2:30).

Perhatian Paulus terhadap kepentingan jemaat Filipi juga ditunjukkan melalui rencana pengutusan Timotius ke sana (2:19). Walaupun Paulus sedang mengalami pelbagai keterbatasan dalam penjara, dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk menunjukkan perhatian kepada jemaat Filipi. Walaupun dia sendiri membutuhkan lebih banyak orang untuk melayani dia dalam penjara, dia mendahulukan kepentingan jemaat. Dia bukan pribadi yang narsis. Orang-orang narsis selalu menimbulkan krisis bagi relasi yang harmonis.

Pengutusan ini akan dilakukan segera (ayat 19, 23). Segera sesudah jelas bagaimana jalannya perkara Paulus (ayat 23). Kata “jalannya perkaraku” (peri eme exautēs) secara hurufiah berarti “hal-hal tentang aku.” Apa yang dimaksud tidak terlalu jelas (mayoritas versi Inggris “how things go with me”). Mungkin itu merujuk pada akhir dari perkara hukumnya (LAI:TB) atau situasi pastoral lain di Roma. Pokoknya, setelah semua itu jelas (belum tentu beres), Timotius akan segera diutus. Paulus tidak mau menunda lebih lama.

Paulus ingin segera mengetahui keadaan jemaat Filipi. Dia berharap mereka berada dalam keadaan baik-baik saja, sehingga kabar itu bisa membuat dia tenang (ayat 19b). Kata “tenang” (eupsycheō) bisa berarti gembira (RSV/NIV/ESV), terhibur (KJV) atau dikuatkan (NASB). Sangat sulit untuk memastikan arti mana yang dimaksud oleh Paulus karena kata eupsycheō cuma muncul sekali di seluruh Alkitab dan konteks 2:19-24 juga cocok untuk semua jangkauan arti itu. Manapun yang benar, pesan Paulus tetap sama. Dia ingin mendengar kabar baik tentang jemaat Filipi supaya dia memiliki perasaan yang baik (entah gembira, terhibur atau dikuatkan).

Alasan pengutusan Timotius akan dijelaskan di ayat 20-24. Bukan sekadar karena dia ikut merintis pekerjaan Tuhan di kota Filipi (lihat Kis. 16). Alasan Paulus lebih dikaitkan dengan integritas Timotius. Lama dalam pelayanan bukanlah jaminan. Yang lebih penting adalah “bisa dipercaya” dalam pelayanan.

Apa saja ciri khas orang yang bisa dipercaya?

Pertama, dia memikirkan kepentingan orang lain demi Kristus (ayat 20-21). Paulus dan Timotius begitu “sehati dan sepikir” (isopsychos, lit. “kesamaan jiwa”). Kata ini mengingatkan kembali tentang nasihat Paulus supaya jemaat Filipi “satu jiwa” (sympsychos, 2:2). Kesatuan jiwa antara Paulus dan Timotius dinyatakan dalam konteks perhatian terhadap jemaat Filipi (ayat 20b “yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu”).

Untuk menegaskan kesehatian itu Paulus berkata: “Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia” (ayat 20a). Ucapan ini tidak berarti bahwa Timotius sedang dibandingkan dengan semua orang dalam pelayanan Paulus (misalnya dengan Barnabas atau Silas). Konteksnya adalah situasi Paulus di Roma (“tak ada seorang padaku” = lit. “aku tidak memiliki seorang pun”). Pada waktu pemenjaraan Paulus memang tidak banyak orang yang menemani dia, apalagi yang memikirkan jemaat Filipi. Di antara semua orang percaya yang bersama Paulus di Roma pada waktu itu, tidak ada yang mempedulikan jemaat Filipi selain Timotius.

Yang lain hanya mencari kepentingan mereka sendiri (ayat 21a). Kata “mencari” (zēteō) seringkali merujuk pada orientasi hati, kehendak, atau hidup seseorang (Rm. 2:7; 10:13; 1Kor. 1:22; Kol. 3:1). Ini bukan tentang sebuah aktivitas, tetapi kerangka pikir atau gaya hidup.

Dari orientasi internal inilah muncul berbagai tindakan aktual. Paulus sangat mungkin sedang memikirkan orang-orang Kristen yang memberitakan Injil dengan maksud-maksud yang tidak baik (1:15-17). Mereka terlihat aktif melayani orang lain, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang aktif dalam pelayanan ternyata seringkali asyik melayani diri sendiri.

Yang mereka cari bukanlah kepentingan Kristus (ayat 21b). Keterangan ini cukup menarik. Kontras yang ada bukan hanya antara “mencari kepentingan diri sendiri” versus “kepentingan orang lain.” Kepentingan diri sendiri dibandingkan dengan kepentingan Kristus. Hal ini menjelaskan bahwa apapun yang dicari seseorang, sejauh itu bukan untuk kepentingan Kristus, tergolong kepentingan diri sendiri.

Kontras ini sekaligus menerangkan bahwa perhatian Timotius kepada jemaat Filipi (ayat 20) merupakan wujud perhatiannya terhadap kepentingan Kristus (ayat 21). Kristuslah yang menjadi dorongan, bukan sekadar kedekatan personal dengan jemaat Filipi. Kecintaan kepada Kristus menjadi landasan bagi kecintaan terhadap tubuh Kristus. Sangat aneh jika seseorang mengaku mencintai Kristus tetapi tidak mempedulikan tubuh Kristus.

Kedua, dia memiliki integritas yang sudah teruji (ayat 22). Terjemahan LAI:TB “kesetiaannya yang teruji” (dokimē) mengandung tambahan penafsiran. Kata dokimē hanya merujuk pada sesuatu yang teruji. Jika yang dimaksud dengan “kesetiaan” di LAI:TB hanya masalah durasi waktu yang panjang, terjemahan ini pasti keliru. Ayat 22b lebih mengarah pada “bagaimana” daripada “berapa lama” Timotius melayani (dia seperti anak bagi Paulus, bapa rohaninya). Bagaimana selalu lebih penting daripada berapa lama. Hidup Yesus adalah buktinya. Singkat tapi hebat.

Jadi, apa yang teruji dalam diri Timotius? Bisa apa saja. Kata dokimē bisa merujuk pada karakter seseorang yang terbentuk sesudah dia tahan dalam penderitaan (Rm. 5:4, LAI:TB “tahan uji”). Kata ini juga bisa dikaitkan dengan ketaatan dalam sesuatu (2Kor. 9:2). Di tempat lain kata ini digunakan untuk kesetiaan sekaligus kemurahhatian (2Kor. 9:13; LAI:TB “tahan uji”). Secara umum istilah “integritas” mungkin cukup luas dan tepat untuk mengungkapkan makna dokimē.

Tentang integritas Timotius ini jemaat Filipi sudah mengetahuinya (ayat 22a “kamu tahu bahwa…”). Mereka sudah saling mengenal sejak perintisan gereja dari awal. Sampai sekarang hal itu tidak berubah dalam diri Timotius. Situasi dan tempat pelayanan boleh berbeda, tetapi integritas diri harus tetap sama. Integritas diri harus dibarengi dengan konsistensi.

Timotius ibarat seorang anak bagi Paulus. Ada beragam makna di balik relasi bapa – anak. Makna mana yang dimaksud harus ditentukan dari konteks. Berdasarkan ayat 22b kita sebaiknya melihat relasi ini dalam kaitan dengan kedekatan dan keteladanan. Paulus dan Timotius memiliki kesatuan jiwa (ayat 20). Mereka juga terlibat dalam pelayanan Injil bersama (ayat 22).

Terjemahan LAI:TB “ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya” (ayat 22b) kurang sempurna mengungkapkan arti sesuai kalimat Yunani. Terjemahan ini menimbulkan kesan bahwa Timotius hanyalah asisten atau penolong Paulus.

Secara hurufiah bagian ini seharusnya diterjemahkan: “seperti seorang anak bersama ayah, dia telah melayani Injil.” Kata “ayah” (patri) di sini bukan sebagai objek, tetapi agen penyerta (anak bersama dengan ayahnya). Yang ditekankan di sini bukan Timotius melayani Paulus (walaupun dalam banyak konteks hal itu secara praktis memang benar demikian), tetapi melayani Injil (dia dan Paulus bersama-sama melayani Injil).

Poin di atas juga sesuai dengan pendahuluan surat (1:1). Paulus menyebut dirinya dan Timotius sebagai hamba-hamba Allah. Bukan rasul dan asistennya.

Berdasarkan terjemahan hurufiah tersebut, sekarang kita bisa memahami relasi bapa – anak di ayat 22b dengan lebih jelas. Relasi ini berbicara tentang kedekatan dan keteladanan. Timotius bukan hanya bersama, tetapi menjadi sama, dengan Paulus. Kebersamaan (bersama-sama) dimaksudkan untuk keteladanan (menjadi sama).

Dengan kesatuan jiwa yang peduli terhadap kepentingan jemaat Filipi dan konsistensi integritas yang seperti Paulus, Timotius benar-benar menjadi utusan yang tepat bagi jemaat Filipi. Kebutuhan dan kerinduan jemaat terhadap sosok Paulus akan sedikit terobati dengan kehadiran Timotius.

Walaupun demikian, Paulus tetap mengupayakan untuk bisa hadir sendiri (ayat 24). Tambahan kata “sendiripun” (autos) menegaskan pernyataan tersebut. Namun, ini bukan sekadar kerinduan, tetapi keyakinan. Paulus meyakini bahwa di dalam Tuhan dia akan dibebaskan dan beroleh kesempatan untuk mengunjungi jemaat Filipi. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community