Eksposisi Filipi 1:12-14

Posted on 22/09/2019 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/eksposisi-filipi-1-12-14.jpg Eksposisi Filipi 1:12-14

Kita cenderung menilai suatu keadaan dalam kategori enak (nyaman) atau tidak enak (tidak nyaman). Yang menjadi pengukur adalah perasaan kita. Sangat jarang kita menilai berdasarkan kategori baik atau buruk. Yang menilai baik atau burukpun seringkali tidak memiliki ukuran yang jelas. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa suatu keadaan yang tidak menyenangkan justru merupakan keadaan yang baik? Apa ukurannya?

Melalui teks kita hari ini, kita akan belajar bahwa baik atau buruknya suatu situasi ditentukan oleh sejauh mana rencana Allah digenapi. Suatu situasi bisa terlihat buruk, tetapi sebetulnya baik. Begitu pula sebaliknya. Ukurannya adalah sejauh mana situasi itu berdampak positif bagi penggenapan rencana Allah.

 

Pemberita terbelenggu tetapi Injil tetap maju (ayat 12)

Pada saat Paulus menulis surat ini, dia sedang berada dalam penjara (1:13, 16-17). Dia sedang menunggu kepastian pengadilan, entah dia akan dihukum mati atau dibebaskan (1:21-22). Dia sendiri yakin bahwa dia akan dibebaskan (1:19, 25).

Tidak mudah menebak di mana Paulus dipenjara. Dia berkali-kali dijebloskan ke dalam penjara (lihat 2Kor. 11:23). Para penafsir Alkitab mengusulkan penjara di Roma, Kaisarea, atau Efesus. Pandangan mayoritas jatuh pada Roma.

Pandangan di atas bukan tanpa alasan. Ucapan Paulus bahwa pemenjaraannya telah membawa kemajuan bagi Injil lebih cocok dengan posisi Roma sebagai pusat kekaisaran dan ujung bumi. Injil telah menembus istana kaisar. Situasi menunggu keputusan hidup – mati juga lebih cocok jika dikaitkan dengan pengadilan kaisar. Beberapa pengadilan tidak memiliki kuasa ini. Seandainyapun Paulus dijatuhi hukuman mati di suatu pengadilan, dia tetap bisa mengajukan banding kepada kaisar. Jika dugaan ini tepat, maka istilah “istana” (praitōrion) merujuk pada istana kaisar, walaupun kata ini bisa merujuk pada istana-istana di tempat lain (misalnya Kis. 23:35). Jika dia benar dipenjara di Roma berarti pemenjaraan ini merupakan bagian dari rangkaian proses pengadilan yang dia jalani dari Yerusalem atas tuduhan orang-orang Yahudi (baca Kis. 21-28).

Terlepas dari bagaimana seseorang memahami lokasi penjara, poin yang ingin disampaikan oleh Paulus tetap sama. Dia menegaskan bahwa penjara mungkin bisa membelenggu dia, tetapi tidak bisa membelenggu kemajuan Injil. Nama Kristus tetap disuarakan di dalam penjara. Para penghuni istana dan orang-orang lain menjadi tahu tentang penyebab pemenjaraan Paulus, yaitu nama Kristus.

Situasi ini tidak dapat dipisahkan dari cara Paulus dipenjara pada waktu itu. Dia tidak dimasukkan ke dalam sel sepanjang waktu. Dia bebas melakukan aktivitasnya di suatu ruangan atau bangunan. Hanya saja, salah satu tangannya selalu dirantai (semacam borgol) dan disatukan dengan tangan tentara khusus yang menjaga dia (Kis. 28:16). Para penjaga yang sangat terlatih ini bergantian menjaga dia.

Situasi seperti inilah yang memungkinkan Paulus untuk menerima kunjungan dari banyak orang dengan leluasa (Kis. 28:30-31). Bahkan Epafroditus bisa dikirim oleh jemaat Filipi untuk melayani kebutuhan Paulus di dalam penjara (Flp. 2:25). Pemberitanya terbelenggu, tetapi Injil tetap maju.

 

Bentuk kemajuan Injil (ayat 13-14)

Menilai kemajuan Injil bukanlah suatu tugas yang mudah. Banyak orang telah salah menilanya. Sebagai contoh, banyak gereja enggan melakukan misi karena mereka tidak melihat hasilnya. Dalam pandangan mereka, hasil hanya dibatasi pada pertobatan. Jika indikator keberhasilan adalah pertobatan, kita mungkin akan menganggap banyak proyek misi sebagai kegagalan.

Persoalannya, apakah kemajuan Injil hanya dilihat dari sisi tersebut? Tentu saja tidak. Paulus menyediakan dua tanda kemajuan Injil di ayat 13-14.

Pertama, nama Kristus semakin dikenal (ayat 13). Di balik situasi Paulus yang tidak menyenangkan, Tuhan ternyata sedang menggenapi rencana-Nya yang besar. Melalui para penjaga yang bergantian mengawasi Paulus, Allah telah mengatur supaya seluruh penghuni istana mengenal nama Kristus. Entah berapa banyak penjaga yang mendengarkan Paulus mengajarkan firman Tuhan kepada orang-orang yang mengunjunginya. Entah berapa kali penjaga yang sama mendengarkan firman Tuhan itu.

Belum lagi mereka pasti akan mengagumi cara Paulus menghadapi pemenjaraannya. Tidak ada kesedihan. Dia malah menasihati jemaat Filipi untuk selalu bersukacita (kata dasar “sukacita” muncul belasan kali dalam surat yang pendek ini). Tidak ada gerutuan atau kecaman. Dia tidak menyalahkan siapa-siapa atas kasusnya, walaupun dia telah dituduh secara sembarangan oleh orang-orang Yahudi.

Pemberitaan verbal dan keteladanan hidup Paulus bisa saja membawa kesan yang mendalam bagi para penjaga. Bukankah kepala pasukan Romawi yang berada di dekat salib Kristus juga mengalami pertobatan sesudah melihat Dia berkata-kata dan menyikapi penyaliban (Mrk. 15:29)? Terlepas dari apakah ada pertobatan atau tidak, poin Paulus tidak di situ. Dia lebih menyoroti kemajuan Injil dari sisi jangkauan pemberitaan. Injil telah menembus dinding-dinding istana. Siapa yang membawa ke sana? Para penjaga! Tempat yang begitu sukar ternyata dijangkau oleh Tuhan melalui cara yang tidak terbayangkan sebelumnya. Injil telah diberitakan ke tempat yang sukar.

Kedua, banyak orang Kristen semakin termotivasi (ayat 14). Dampak positif pemenjaraan Paulus bukan hanya terjadi di dalam tembok istana. Di luar sana dampak itu juga begitu terasa. Bukan hanya dampak untuk orang-orang yang tidak percaya, tetapi juga untuk orang-orang yang sudah percaya. Allah sedang merancangkan kebaikan di balik situasi yang tidak menyenangkan.

Apa yang menimpa Paulus telah menumbuhkan keyakinan bagi orang-orang Kristen lain untuk memberitakan Injil. Kata “kepercayaan” (pepoithotas) di ayat 14 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “diyakinkan”. Penjara tidak menyurutkan asa.

Keyakinan ini sekaligus membuat mereka semakin berani memberitakan Injil tanpa takut. Paulus sengaja memberi penekanan pada poin ini. LAI:TB dengan tepat memberi terjemahan: “untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut”. Kata “berani” dan “takut” muncul bersamaan. Di depan kata “berani” ada kata keterangan “bertambah” (perissoterōs). Sebagai tambahan, kata perissoterōs ini secara hurufiah bukan hanya menunjukkan sesuatu yang bertambah, tetapi sesuatu yang melimpah. Jadi, keberanian orang-orang Kristen lain untuk memberitakan Injil telah bertambah luar biasa sampai menjadi melimpah.

Melalui pemenjaraan seorang pemberita Injil, Allah justru membangkitkan sebuah pasukan pemberita Injil. Dari sudut pandang manusia, pemenjaraan Paulus mungkin terlihat sebagai kendala bagi kemajuan Injil. Dari sudut pandang Allah, yang terjadi justru sebaliknya. Suatu pintu kadangkala sengaja ditutup oleh Tuhan supaya kita bisa menemukan pintu-pintu lain yang Dia sudah sediakan.

Hal ini sekilas tampak janggal. Bukankah pemenjaraan Paulus seharusnya menciutkan hati para pengikutnya? Bukankah situasi yang sama bisa menimpa mereka? Mengapa mereka justru bertindak sebaliknya?

Kuncinya terletak pada hidup yang diarahkan pada Injil Yesus Kristus. Fokus hidup kepada kematian dan kebangkitan Kristus akan memampukan seseorang untuk memberi penilaian yang tepat terhadap hidup (3:10-11). Apa yang dulu dianggap keuntungan dan berharga ternyata justru adalah kerugian dan sampah (3:7-8). Mereka yang berani berkata: “Bagiku hidup adalah Kristus” akan mampu untuk berkata: “mati adalah keuntungan” (1:21). Hidup atau mati hanyalah dua sisi tak terpisahkan dari kesatuan dengan Kristus. Mereka yang telah disatukan dengan Kristus tidak akan takut, baik terhadap kehidupan maupun kematian.

Sebaliknya, hidup yang mengejar kesenangan dan hal-hal material belaka akan menempatkan seseorang sebagai musuh Injil (3:18). Mereka bukan hanya tidak peduli, tetapi memusuhi. Tindakan mereka benar-benar bertolak belakang dengan nilai-nilai Injil. Paulus berkata tentang mereka: “Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (3:19).  

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah memakai Injil sebagai perspektif untuk menilai baik atau buruknya keadaan Anda? Bagaimana keadaan Anda – terlepas dari keadaan itu menyenangkan atau tidak menyenangkan - bisa berdampak baik bagi pekerjaan Tuhan? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community