Eksposisi Amos 1:13-15

Posted on 14/07/2019 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/eksposisi-amos-1-13-15.jpg Eksposisi Amos 1:13-15

Dewasa ini banyak orang menganggap dosa bukan sebagai persoalan yang serius. Istilah “dosa” bahkan sebisa mungkin dihindari supaya tidak menyinggung orang lain. Sebagai contoh, homoseksualitas disebut preferensi (pilihan), bukan penyimpangan, apalagi kesalahan. Murid yang sudah jelas-jelas nakal dan kurang ajar masih diberi label “kreatif” dan “unik”.

Jika kita mencermati apa yang ada dalam dunia, kita akan dipaksa untuk mengakui keseriusan dosa. Ada begitu banyak kejahatan yang sukar dipahami oleh pikiran. Nazi Jerman di bawah pimpinan Hitler yang membinasakan jutaan orang Yahudi (minimal 11 juta orang). Pembunuhan kejam dan massal selama kekuasaan komunis di Rusia di bawah Joseph Stalin (minimal 20 juta orang). Serangan teroris ke gedung WTC New York (peristiwa 9/11) yang menewaskan sedikitnya 3000 orang.

Pada tingkatan yang lebih kecil kita dengan mudah mendapatkan kabar tentang kejahatan yang tak terpikirkan. Seorang ibu membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang anak membakar orang tuanya hidup-hidup. Seorang pelanggar seksual memutilasi korbannya.

Daftar ini tentu saja masih bisa diperpanjang. Inti yang ingin disampaikan adalah ini: dosa jauh lebih serius daripada yang kita pikirkan. Adalah naif untuk meremehkan dosa. Dari dahulu sampai sekarang dosa telah mengambil wujud yang benar-benar meresahkan dan mengerikan.

Itulah yang juga dilakukan oleh bangsa Amon. Sama seperti pelanggaran bangsa-bangsa lain di pasal 1-2, bangsa Amon juga tidak luput dari hukuman Allah. Kesalahan mereka sudah melampaui batas (ayat 13a “tiga…bahkan empat”). Bukan hanya dari sisi kuantitas (jumlah) tapi juga kualitas (tingkatan). Semua ini mengundang murka Allah atas mereka. Hukuman sudah dikumandangkan dan tidak akan dibatalkan (ayat 13b “Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku”).

 

Dosa bangsa Amon (ayat 13c)

Bangsa Amon tinggal di sebelah timur Sungai Yordan (kurang lebih sama dengan kota Aman, Yordania). Letaknya berdekatan sekali dengan wilayah Gilead (bersebelahan dengan sisi timur dan selatan Gilead). Jika mereka ingin meluaskan daerah kekuasaan, sangat masuk akal jika mereka berusaha menginvasi Gilead. Posisinya bersebelahan. Waktu peperangan tidak terlalu lama. Biaya peperangan lebih murah.

Para penafsir Alkitab berbeda pendapat tentang rujukan historis yang dimaksud oleh Amos. Sebagian berpendapat bahwa invasi Amon ke Gilead terjadi pada jaman Amos, yatu pada saat kerajaan Israel sudah dilemahkan oleh Hazael dari Damaskus. Sebagian yang lain berpendapat bahwa Amos sedang memikirkan peristiwa yang terjadi jauh sebelum jamannya.

Perdebatan ini bisa dimaklumi. Pada jaman Amos bangsa Amon tampaknya berada di bawah kekuasaan Israel (2Raj. 14:25). Tidak mungkin bangsa Amon berani meluaskan kekuasaan sampai ke Gilead, apalagi dengan cara-cara yang sangat kejam.

Di antara dua opsi di atas, yang terakhir tampaknya lebih tepat. Tidak ada cacatan Alkitab tentang invasi Amon ke Israel pada saat Hazael mengontrol Israel. Tidak peristiwa bengis seperti yang dicatat oleh Amos. Opsi pertama hanyalah dugaan semata-mata.

Menjatuhkan pilihan pada opsi kedua tidak langsung menuntaskan semua kesulitan. Peperangan antara Israel dan Amon sendiri sudah berlangsung sejak lama. Pada jaman hakim-hakim, beberapa pertempuran sudah meletus (Hak. 3:12-14; 10:7-9, 17; 11:4-33). Peperangan masih berlanjut pada jaman kerajaan (1Sam. 11:1-11; 14:47; 2Sam. 8:12; 10:1-11:1; 2Taw. 20:1-30; 24:26). Di antara semua catatan peperangan ini, peristiwa manakah yang secara khusus sedang dipikirkan oleh Amos? Sulit untuk memastikan. Atau mungkin peristiwa yang dimaksud memang terjadi beberapa kali pada jaman yang berbeda? Bisa saja.

Amos tampaknya lebih berfokus pada “apa” daripada “kapan”. Dia menyoroti apa yang dilakukan oleh bangsa Amon, tidak peduli kapan peristiwa tersebut terjadi. Kapanpun itu terjadi, pembelahan perut wanita hamil tetap sangat mengerikan.

Kebengisan bangsa Amon sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Pada saat bangsa Israel ingin tinggal di Yabesh-Gilead, bangsa Amon hanya mau mengizinkan itu dengan sebuah persyaratan yang berat: setiap mata kanan bangsa Israel akan dicungkil (1Sam. 11:1-2). Kita memang tidak memiliki catatan tentang pembelahan perut yang dilakukan oleh bangsa Amon terhadap penduduk Gilead. Walaupun demikian, kita perlu mengetahui bahwa kekejaman semacam itu bukan sesuatu yang tidak biasa. Apa yang dilakukan oleh bangsa Amon ini sama dengan yang dilakukan oleh bangsa Asyur di bawah Tiglat Pileser III. Bangsa Asyur mencungkil mata bayi, membelah perut wanita hamil, dan menggorok tenggorokan para tentara musuh. Tidak berlebihan apabila kita beranggapan bahwa kekejaman yang sama bisa saja (dan telah) dilakukan oleh bangsa Amon terhadap orang-orang Gilead.

Dari sisi hukum peperangan kuno pun apa yang dilakukan oleh bangsa Amon tetap terbilang sadis. Para wanita hamil sama sekali tidak membahayakan posisi mereka. Mereka lemah dan tak berdaya. Mereka juga tidak memiliki “nilai jual” (dibandingkan harta rampasan dan perempuan-perempuan muda). Apa yang dilakukan terhadap mereka benar-benar sebuah kekejaman yang tidak terpikirkan.

Ada dua motivasi yang mungkin mendorong mereka melakukan kekejian ini. Pertama, menebar teror. Dengan melakukan kekejaman ini diharapkan penduduk Gilead yang lain mengalami ketakutan dan segera meninggalkan daerah mereka, sehingga bangsa Amon dengan mudah menguasai Gilead. Kedua, membinasakan suku bangsa. Pembasmian wanita hamil dan bayi mereka seringkali menjadi simbol pemusnahan suatu suku bangsa. Mereka benar-benar ingin melenyapkan semua keturunan yang mungkin masih tersisa. Di antara dua kemungkinan di atas, yang pertama terlihat lebih sesuai dengan konteks. Tujuan pembelahan perut wanita hamil ini adalah untuk meluaskan daerah kekuasaan (ayat 13c “dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri”).

 

Hukuman TUHAN atas bangsa Amon (ayat 14-15)

TUHAN yang mahakudus tidak akan membiarkan dosa begitu saja. Keadilan-Nya menuntut setiap pelanggaran diberi ganjaran. Itulah yang Dia beritakan melalui Amos.

Cara Amos mengungkapkan hukuman atas bangsa Amon sedikit berbeda dengan berita-berita penghukuman sebelumnya. Ada penekanan di ayat 14-15. TUHAN tidak hanya akan “melepaskan api” (1:4, 7, 10, 12). Kali ini Dia sendiri akan “menyalakan api” (1:14). Kota Raba, satu-satunya kota besar Amon yang terletak di sekitar Sungai Yabok, akan diluluh-lantakkan. Bukan hanya itu. Ketika TUHAN melakukan itu, peristiwa tersebut akan “diiringi sorak-sorai pada waktu pertempuran, diiringi angin badai pada waktu puting beliung” (ayat 14b).

Banyak elemen dalam gambaran di atas berhubungan dengan penampakan TUHAN untuk menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik. Ada api, angin badai  dan putting beliung (Mzm. 83:16; Yes. 29:6; Yer. 23:19). Ada kata “hari” (yom) di ayat 14: hari pertempuran dan hari puting-beliung (LAI:TB “waktu”). Kata ini merujuk ada momen khusus yang TUHAN sudah tetapkan dan Dia sendiri akan bertindak. Akan ada kegentaran yang hebat pada hari Dia menjatuhkan hukuman.

Kehancuran kota Raba bukanlah akhir dari hukuman. Bangsa Amon juga harus menghadapi pembuangan. Raja dan para pembesar akan dibuang ke negeri lain.

Hukuman ini dijalankan oleh TUHAN melalui bangsa Asyur dan Babel. Pada abad ke-7 Sebelum Masehi, bangsa Amon dikalahkan oleh Asyur dan harus membayar pajak yang sangat tinggi. Pada periode selanjutnya mereka diserang oleh Babel dan kehilangan kemerdekaan mereka sama sekali. Negeri mereka menjadi tandus dan tak berpenghuni lagi (Yer. 49:1-6; Yeh. 21:18; 25:1-7; Zef. 2:8-11).

Situasi ini sangat ironis. Bangsa yang begitu terobsesi dengan pelebaran daerah kekuasaan ternyata harus kehilangan daerah mereka sama sekali. Bangsa yang menggunakan teror untuk mengusir bangsa lain ternyata mengalami teror sehingga terusir. TUHAN sudah berfirman. TUHAN pasti bertindak.

Apa yang dilakukan oeh bangsa Amon sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh TUHAN. Untuk memberikan langit dan bumi yang baru bagi kita, Dia justru rela kehilangan Anak-Nya yang tunggal. Dia mendapatkan kita bukan melalui teror melainkan kasih. Dia mengejar kita, tetapi bukan untuk membinasakan. Dia mengejar untuk memiliki kita. Teror terbesar – yaitu kematian – bahkan dikalahkan melalui kebangkitan Yesus Kristus. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community