Eksposisi 1 Korintus 14:1

Posted on 26/07/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Spiritual_gift.jpg Eksposisi 1 Korintus 14:1

Salah satu ciri khas pembahasan dalam surat-surat Paulus – terutama di Surat 1 Korintus – adalah strategi dari umum ke khusus. Maksudnya, Paulus mula-mula memaparkan prinsip teologis yang umum tanpa menyinggung inti persoalan secara khusus dan eksplisit (bdk. pasal 8-10). Sesudah ia menjabarkan prinsip-prinsip tersebut, ia baru menguraikan inti persoalan yang sebenarnya dan memberikan jawaban praktis terhadap persoalan tersebut. Itulah yang ia lakukan di pasal 12-14. Pasal 12 dan 13 memberi landasan teologis secara umum, pasal 14 langsung mengupas persoalan yang terjadi.

Inti persoalan

Pasal 14 menerangkan inti persoalan yang sedang terjadi di jemaat Korintus dalam kaitan dengan karunia-karunia rohani. Walaupun semua penafsir setuju bahwa sumber persoalan adalah penggunaan bahasa roh yang tidak tepat, mereka belum sepakat tentang detil-detil yang lain. Apakah Paulus anti terhadap bahasa roh? Mengapa bahasa roh dikontraskan dengan nubuat?

Beberapa penafsir menduga perselisihan seputar karunia-karunia rohani melibatkan dua kubu: penggemar bahasa roh dan penggemar nubuat. Itulah sebabnya Paulus di pasal 14 hanya membandingkan dua karunia tersebut. Menurut mereka, uraian Paulus dapat dipahami sebagai dukungan bagi kubu yang terakhir.

Dugaan di atas sebaiknya ditolak. Jika karunia bahasa roh dan nubuat telah memicu konflik dalam jemaat, Paulus pasti sudah menyatakan hal itu dengan cara yang lebih eksplisit, seperti yang ia lakukan tatakala meresponi perselisihan jemaat seputar hikmat dan pemimpin di pasal 1-3. Lagipula, memihak pada salah satu kubu bukanlah strategi Paulus dalam mengatasi sebuah konflik. Ia biasanya menegur semua pihak yang bertikai, dan mengarahkan mereka pada Allah.

Karunia nubuat di pasal ini hanya ditampilkan sebagai salah satu perwakilan dari karunia-karunia rohani yang Paulus anggap lebih utama (12:31 “berusahalah memperoleh karunia-karunia rohani yang lebih utama”). Kontras yang ingin dimunculkan bukan antara “bahasa roh versus nubuat”, melainkan “karunia perkataan yang tidak terpahami oleh orang lain versus karunia perkataan yang dapat dipahami orang lain”. Paulus bisa saja menyinggung karunia-karunia perkataan yang lain (karunia pengetahuan, hikmat, dsb), tetapi ia memilih karunia nubuat sebagai sebuah contoh.

Jadi, apakah sebenarnya yang sedang terjadi di jemaat Korintus? Pembacaan yang cermat menunjukkan bahwa inti persoalan terletak pada penghargaan yang berlebihan terhadap karunia bahasa roh sampai-sampai mengabaikan karunia-karunia lain yang justru lebih bermanfaat secara langsung bagi seluruh jemaat (bdk. 14:26). Jika tidak diluruskan, hal ini dapat mengakibatkan beberapa dampak buruk - kesombongan rohani pada mereka yang berbahasa roh, elitisme, kekacauan ibadah, dan kebingungan pada orang-orang lain – karena orang lain yang tidak memiliki karunia menafsirkan bahasa roh pasti tidak mungkin mengerti dan diberkati melalui bahasa roh.

Satu hal lagi yang perlu diperjelas di awal adalah konteks teguran di pasal 14. Paulus tidak anti bahasa roh. Ia bahkan berbahasa roh lebih daripada yang lain (14:18). Ia pun menganggap bahasa roh sebagai salah satu karunia rohani (12:7-10). Mereka yang berbahasa roh ia gambarkan sebagai berikut: “oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia” (14:2b). Yang Paulus tentang adalah penyalahgunaan bahasa roh dalam konteks ibadah bersama (14:19, 23, 27-28). Seandainya bahasa roh digunakan secara tertib dan membangun di dalam ibadah (14:27-28), Paulus sangat mendukung hal tersebut (14:39). Jadi, ajaran Paulus di pasal 14 tidak bermaksud menyurutkan penggunaan bahasa roh dalam ibadah pribadi. Natur bahasa roh memang lebih individualistik dibandingkan karunia-karunia yang lain. Bahasa roh baru menjadi berkat bagi yang lain secara tidak langsung, misalnya sesudah ditafsirkan.

Jadi, yang dipentingkan Paulus di pasal 14 bukan hanya karunia bernubuat, melainkan semua karunia lain yang membawa manfaat lebih besar dan lebih langsung bagi orang lain dalam konteks ibadah bersama. Karunia bernubuat hanyalah perwakilan yang tepat dari semua karunia tersebut. Dari sisi manfaat untuk orang lain, karunia bernubuat memang lebih utama daripada karunia bahasa roh.

Keutamaan kasih dalam penggunaan karunia rohani (ayat 1a)

Karunia bernubuat di ayat 1 jelas mendapat penekanan. Ada tambahan kata mallon (LAI:TB “terutama”) di depan karunia ini. Walaupun Paulus ingin menyoroti nilai penting nubuat, tetapi ia tidak melupakan satu poin penting yang sebelumnya ia sudah sampaikan, yaitu keutamaan kasih.

Keutamaan kasih ini ditunjukkan Paulus melalui dua hal. Nasihat “kejarlah kasih itu” tidak lupa dimunculkan di awal kalimat sebagai upaya untuk mengingatkan kembali bahwa karunia-karunia rohani yang tidak disertai dengan kasih adalah kesia-siaan (13:1-3). Kata “kasih” juga dilekatkan dengan kata perintah diōkete (LAI:TB “mengejar”) yang sangat kuat, sedangkan kata “karunia-karunia rohani” dikaitkan dengan kata zēloute (LAI:TB “berusaha”). Dari strategi ini terlihat bahwa Paulus ingin menekankan sebuah kebenaran penting: mengejar kasih seharusnya mendahului usaha untuk memperoleh suatu karunia rohani.

Seperti sudah disinggung sekilas di bagian atas, kata “mengejar” mengandung konotasi yang sangat kuat. Kata ini seringkali digunakan oleh Paulus sebagai metafora untuk sebuah upaya rohani (Rom 9:30-31; 12:13; 14:19; Flp 3:12, 14; 1 Tes 5:15; 1 Tim 6:11; 2 Tim 2:22). Yang menarik adalah pemunculan kata dasar diōkō di Filipi 3:6, 12, 14. Paulus menggunakan kata yang sama untuk menganiaya jemaat (3:6) dan mengejar kesempurnaan di dalam Kristus (3:12, 14). Sebagaimana Paulus dahulu begitu bersemangat untuk mengejar, menangkap, dan memenjarakan orang-orang Kristen, demikian pula sekarang ia menyimpan kegairahan yang sama untuk menjadi sempurna seperti Kristus. Dengan kata lain, “mengejar” di sini melibatkan hasrat dan upaya yang sungguh-sungguh.

Bagi sebagian orang, nasihat Paulus ini terdengar aneh dan sulit dilakukan. Mereka mungkin beranggapan bahwa kasih hanya berhubungan dengan perasaan belaka. Perasaan tersebut juga sering dipandang sebagai hasil dari suatu proses yang tidak bisa diterangkan: perasaan itu muncul begitu saja. Pendeknya, ketertarikan dan kecocokan mendahului kasih, sehingga mengasihi bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan. Nasihat untuk “mengejar kasih” dianggap terlalu berlebihan dan tidak diperlukan. Kasih akan muncul dengan sendirinya. Begitu kira-kira anggapan mereka.

Ternyata, kasih perlu dikejar. Kasih harus diupayakan secara sungguh-sungguh. Ini berarti usaha untuk mengalahkan ketidaksukaan dan ketidakcocokan. Ini berarti usaha untuk mematikan egoisme dan individualisme. Kasih sejati butuh disirami.

Penghargaan terhadap karunia-karunia yang lain (ayat 1b)

Walaupun pasal 14 menyoroti kelebihan karunia nubuat, Paulus tidak ingin jemaat Korintus menangkap kesan bahwa karunia-karunia lain tidak seberapa penting. Nasihat “usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh” (LAI:TB) di ayat 1b menyiratkan penghargaan terhadap karunia-karunia yang lain juga. Setiap jemaat lokal ditantang untuk mengupayakan karunia rohani yang beragam sehingga semua orang akan dibangun secara lebih efektif.

Kata dasar zēloō (LAI:TB “usahakanlah”) sudah muncul beberapa kali di surat ini. Paulus mendorong jemaat Korintus untuk berusaha (zēloō) memperoleh karunia-karunia yang lebih utama (12:31). Di 13:4 Paulus menerangkan bahwa kasih sejati tidak iri hati (zēloō). Melalui dua pemunculan tersebut terlihat bahwa poin yang ingin ditekankan pada kata zēloō bukanlah tindakan (kontra LAI:TB “usahakanlah”; NRSV “strive”; YLT “seek”), melainkan hasrat. Bukan apa yang dilakukan, tetapi apa yang dirindukan. Jadi, walaupun keinginan seyogyanya terwujud dalam tindakan, namun makna yang lebih dominan pada kata zēloō terletak pada isi hati seseorang.

Lebih jauh, zēloō bukanlah tentang perasaan yang biasa-biasa saja (kontra KJV “desire”). Kata ini sebaiknya diterjemahkan “sungguh-sungguh menginginkan” (ASV/NASB/RSV/ESV “earnestly desire”; NIV “eagerly desire”). Sebagaimana seseorang yang dikuasai iri hati (bdk. 13:4) akan terus-menerus terbakar oleh perasaan tersebut, demikian pula dengan orang yang sungguh-sungguh mendambakan karunia rohani. Perasaan dan perhatiannya akan ditumpahkan untuk hal itu.

Hasrat yang besar terhadap karunia-karunia rohani hanya akan muncul apabila hati seseorang dikuasai oleh kasih yang sejati. Kasih mendorong seseorang untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain, salah satunya melalui penggunaan karunia rohani untuk kepentingan bersama (12:7). Kasih membuat seseorang rindu melihat orang lain dibangun kerohaniannya. Ironisnya, sebagian orang Kristen yang begitu antusias terhadap karunia rohani ternyata tidak memiliki antusiasme yang sama dalam mengasihi. Antusiasme semacam ini bersifat menipu.

Hasrat yang besar juga pasti akan tewujud dalam tindakan nyata. Seorang yang berhasrat besar terhadap sesuatu akan berusaha merealisasikan hasrat itu. Dalam kasus karunia-karunia rohani, upaya yang bisa dilakukan adalah melalui doa (14:13). Roh Kudus memang akan memberikan karunia-Nya seturut dengan kehendak-Nya sendiri (12:7-11), tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berdoa. Allah seringkali bekerja melalui doa kita. Dalam kedaulatan-Nya yang tidak terbatas dan tidak terpahami Ia telah menetapkan untuk menjadikan doa-doa kita yang terbatas sebagai salah satu sarana realisasi rencana-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community