Eksposisi 1 Korintus 12:21-26

Posted on 27/04/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Eksposisi-1-Korintus-12-21-26.jpg Eksposisi 1 Korintus 12:21-26

Kata sambung ‘jadi’ di awal ayat 21 (LAI:TB) menimbulkan kesan bahwa bagian ini adalah penutup atau kesimpulan dari bagian sebelumnya. Hal ini tidak tepat. Beberapa versi Inggris secara tepat memilih untuk menerjemahkan kata sambung de dengan ‘dan’ (KJV/ASV/NASB, kontra NIV/RSV/ESV yang tidak menerjemahkan kata ini sama sekali). Berdasarkan penggunaan kata de secara umum dan pertimbangan konteks, kita memang sebaiknya memilih ‘dan’. Jika ini menjadi pilihan kita, maka ayat 21-26 dapat dipahami sebagai kelanjutan dari ayat 16-20.

Kalau di bagian sebelumnya (ayat 16-20) Paulus lebih menyoroti metafora tubuh dari perspektif anggota yang lemah (mereka merasa kurang berharga dan tidak menjadi bagian integral dari tubuh), sekarang di ayat 21-26 ia lebih memandang dari sisi anggota yang kuat (mereka merasa penting dan tidak membutuhkan anggota yang lain). Paulus menjelaskan mengapa sikap ini salah (ayat 22-24a). Ia juga menerangkan tujuan ilahi di balik keragaman anggota tubuh (ayat 24b-26).

Perasaan superior (ayat 21)

‘Mata’ dan ‘kepala’ di ayat ini dikontraskan dengan ‘tangan’ dan ‘kaki’. Sebagian besar penafsir meyakini bahwa arah pembicaraan dari mata ke tangan dan dari kepala ke tangan menyiratkan perspektif dari atas. Mata dan kepala menyiratkan posisi kepemimpinan (tuan atau orang kaya), sedangkan tangan dan kaki merujuk pada jemaat dalam kelompok pekerja (buruh atau budak). Ini merupakan contoh bagaimana perasaan superior telah membuat sebagian jemaat merasa tidak membutuhkan orang lain.

Sekilas kita mungkin bingung dengan arah pembicaraan Paulus di sini, karena konteks pasal 12-14 adalah persoalan seputar keragaman karunia roh, bukan keragaman status sosial. Kesan ini ternyata salah. Paulus juga menggunakan metafora tubuh dalam konteks keragaman secara sosial (12:13 Yahudi-Yunani, orang bebas-budak). Jadi, aplikasi metafora ini cukup luas, karena sumber perpecahan dalam jemaat Korintus memang cukup kompleks.

Dalam bagian sebelumnya (11:17-34) kita sudah melihat bagaimana jemaat-jemaat yang kaya merendahkan jemaat lain yang miskin. Dalam perjamuan Tuhan, jemaat yang kaya merasa tidak memerlukan yang lain. Mereka makan dan minum sampai mabuk tanpa merasa perlu untuk menunggu orang lain. Para penerima surat 1 Korintus yang sudah membaca pasal 11 dan 12 pasti tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan sebuah ironi dalam sikap diskriminatif tersebut: jemaat yang kaya tidak menyadari bahwa dalam perjamuan Tuhan mereka harus mengakui ‘tubuh Tuhan’ (11:29), sedangkan seluruh jemaat adalah ‘tubuh Kristus’ (12:12, 27).

Kesalahan dalam sikap superior (ayat 22-24a)

Paulus memulai ayat 22 dengan negasi yang ditekankan (alla, KJV/ASV ‘nay’; RSV/NASB/NIV/ESV ‘on the contrary’). Penerjemah LAI:TB berusaha mengekspresikan ini melalui terjemahan ‘malahan’ (bukan hanya ‘tetapi’). Bukan hanya itu, sesudah kata sambung alla, Paulus langsung meletakkan pollō mallon (lit. ‘tetapi jauh lebih...’). Struktur kalimat seperti ini menyiratkan bahwa sikap di ayat 21 bukan hanya salah, tetapi benar-benar salah. Mengapa?

Pertama, bagian tubuh yang terlihat paling lemah justru jauh lebih dibutuhkan (ayat 22). Di ayat ini Paulus sengaja menambahkan kata ‘yang nampaknya’ (ta dokounta, dari kata kerja dokeō). Kata yang muncul di ayat 22 dan 23 ini merujuk pada apa yang tampak atau dipahami oleh orang lain, namun apa yang dipahami itu tidak selalu sesuai dengan yang sebenarnya. Jadi, anggota-anggota yang ‘lemah’ sebenarnya tidak selemah penampilan mereka.

Anggota-anggota itu justru ‘dibutuhkan’ (anankaia). Jika kata anankaia digabungkan dengan pollō mallon yang muncul di bagian awal (pollō mallon...anakaia), maka kita mendapatkan terjemahan ‘jauh lebih dibutuhkan’. Menariknya, pada saat menegaskan nilai dari anggota-anggota yang ‘lemah’ ini, Paulus tidak lagi menambahkan kata ‘nampaknya’ (dokeō). Dengan kata lain, Paulus sedang mengajarkan bahwa penampilan yang lemah tidak memiliki keterkaitan dengan nilai yang sesungguhnya dari anggota-anggota tubuh itu. Peribahasa populer menasihatkan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’.

Beberapa penafsir berbeda pendapat tentang anggota tubuh yang tampaknya lemah. Sebagian memikirkan organ-organ dalam (ginjal, hati, dsb.). Sebagian mengusulkan organ seksual. Apabila kita mengasumsikan bahwa anggota tubuh yang dipikirkan Paulus di ayat 22 dan 23-24 adalah sama, maka kemungkinan besar anggota-anggota yang tampak lemah di ayat 22 merujuk pada organ seksual. Di samping itu, beberapa tulisan Yunani kuno di luar Alkitab juga menggunakan istilah ‘anggota tubuh yang diperlukan’ sebagai rujukan pada organ seksual laki-laki (bdk. ‘alat vital’ = organ seksual).

Kedua, bagian tubuh yang tidak elok dan kurang terhormat justru paling diperhatikan (ayat 23-24a). Kali ini Paulus memakai sebutan ‘kurang terhormat’ (atimos) dan ‘kurang elok’ (aschēmōn). Berdasarkan pemunculan kata aschēmōn dalam konteks persetubuhan (misalnya LXX Kej 34:7; Ul 24:1), kita meyakini bahwa Paulus sedang membicarakan tentang organ-organ seksual. Sesuai dengan hal ini, kata aschēmōn sebaiknya jangan diterjemahkan ‘tidak elok’ (LAI:TB), tetapi ‘tidak diperlihatkan’ (RSV/NIV/ESV ‘unpresentable’ atau NASB ‘unseemly’).

Dalam teks Yunani, ayat 23-24 dipenuhi dengan permainan kata yang tidak mungkin dimunculkan dalam terjemahan. Perhatikan bagian yang diberi huruf tebal berikut ini. Terhadap anggota tubuh yang ‘tidak terhormat’ (atimos), kita memberikan penghormatan (timē). Terhadap anggota yang tidak terlihat (aschēmōn), kita berikan perhatian (euschēmosynē).

Kata perissoteran (LAI:TB/NIV ‘khusus’) sebaiknya diterjemahkan ‘berlebihan’ (NRSV/ESV ‘greater’; KJV/ASV/NASB ‘abundant’). Poin yang ingin disampaikan Paulus adalah kualitas perhatian, bukan eksklusivitas perhatian. Fakta bahwa organ-organ seksual selalu kita tutupi dan lindungi menyiratkan betapa berharganya anggota tubuh itu. Bagian tubuh yang lain tidak memerlukan perlakuan semacam ini. Sama seperti organ seksual yang tidak terlihat di depan publik tetapi keberadaannya sangat penting bagi keberlangsungan umat manusia di bumi, demikian pula kontribusi sebagian jemaat bagi perkembangan tubuh Kristus. Kita tidak boleh menilai berdasarkan apa yang tampak, karena apa yang tidak tampak seringkali justru lebih menentukan.

Paulus juga menambahkan bahwa penghormatan dan perhatian seperti itu tidak diperlukan oleh anggota lain yang terhormat (ayat 24a, euschēmōn). Mereka yang berada dalam status sosial yang tinggi di masyarakat secara otomatis sudah mendapatkan perhatian. Dunia menghormati orang-orang yang kaya dan berkuasa. Banyak orang bahkan menggantungkan hidupnya kepada mereka. Dalam konteks komunitas umat Allah, orang-orang yang memiliki status sosial tinggi seharusnya tidak lagi mencari hal-hal yang mereka sudah dapatkan dari dunia.      

Prinsip di atas sesuai dengan pola kerja Allah secara umum, baik dalam hal salib Kristus maupun pemilihan-Nya atas kita. Menurut ukuran dunia, salib adalah kebodohan dan batu sandungan (1:18, 22-23), tetapi salib sebenarnya adalah hikmat dan kekuataan Allah (1:24). Demikian pula dengan sebagian besar jemaat Korintus, Menurut ukuran dunia, mereka termasuk tidak terpandang, namun Allah tetap berkenan memilih mereka (1:26-31; Yak 2:5). Karena itu, sudah sepantasnya bagi mereka untuk memperhatikan orang lain yang menurut pandangan dunia atau manusia adalah kurang berarti.

Tujuan ilahi di balik keragaman (ayat 24b-26)

Sama seperti di bagian sebelumnya (12:4-6, 7, 11, 18), di ayat 24b Paulus menegaskan peranan Allah yang sentral dalam keragaman jemaat. Allah telah menyusun (synkerannymi) tubuh secara khusus. Kata synkerannymi menyiratkan pertalian antar anggota yang berbeda (NIV ‘combined’).

Kali ini Paulus tidak menyinggung tentang anggota tubuh yang lemah, kurang terhormat, atau tidak terlihat. Ia menggunakan ungkapan yang lebih luas: ‘sehingga penghormatan yang melimpah diberikan kepada anggota yang membutuhkannya’ (kontra LAI:TB ‘anggota-anggota yang tidak mulia’). Dalam teks Yunani memang tidak disebutkan anggota mana yang membutuhkan penghormatan ini (tō hysteroumenō = lit. ‘kepada yang membutuhkan’). Bagian selanjutnya menunjukkan bahwa semua jemaat perlu saling memperhatikan (ayat 25-26). Jadi, semua membutuhkan perhatian, bukan hanya mereka yang terlihat kurang penting. Bagaimanapun, anggota yang terlihat kurang penting perlu diperhatikan lebih khusus daripada yang memiliki kedudukan penting dan secara otomatis mendapatkan perhatian dari orang lain.

Ayat 25-26 menerangkan tujuan dari pengaturan ilahi di ayat 24b. Secara negatif, tujuannya adalah untuk menghindari perpecahan (ayat 25a ‘supaya jangan ada perpecahan di antara kamu’). Pernyataan ini sangat relevan dengan jemaat Korintus. Mereka terjebak pada pengultusan para pemimpin rohani (1:10). Dalam pertemuan ibadah mereka pun terjadi perpecahan (11:18). 

Secara positif, tujuan dari pengaturan ilahi di ayat 24b adalah untuk menciptakan solidaritas (ayat 25b-26). Poin ini cukup menarik. Ketidakadaan perpecahan (ayat 25a) tidaklah cukup bagi tubuh Kristus. Ketidakadaan penghinaan terhadap anggota yang rendah tidaklah memadai bagi sebuah gereja. Kita perlu melangkah lebih jauh daripada sekadar menghindari perpecahan maupun penghinaan.

Setiap anggota perlu mendapatkan perhatian yang sama (ayat 25b). Kata to auto (‘yang sama’) dan allēlōn (‘saling’) menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan. Semua orang harus terlibat dalam memperhatikan (‘saling’), dan, sebagai gantinya, semua mendapatkan perhatian yang sama. Perbedaan status sosial tidak boleh menghasilkan perbedaan perhatian.

Untuk mendapatkan poin di atas Paulus menambahkan konklusi di ayat 26 (‘karena itu’). Penderitaan dan kehormatan seorang anggota adalah penderitaan dan kehormatan bersama seluruh tubuh. Solidaritas dalam penderitaan tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Jika kita menderita sakit gigi, maka seluruh aktivitas tubuh menjadi terganggu. Demikian pula kita secara umum tidak menghadapi kesulitan untuk berdukacita bersama orang lain yang menderita. Jika sebuah anggota terhina, seluruh tubuh akan merasa terhina.

Solidaritas dalam kehormatan jelas lebih sulit untuk dilakukan. Pujian untuk sebuah anggota bisa menimbulkan keirihatian bagi anggota yang lain. Dengan menyadari bahwa sebuah tubuh tidak mungkin dapat berfungsi tanpa keragaman dan ketergantungan antar bagian kita akan dimampukan untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama mereka yang berduka (Rom 12:15). Dukunglah orang lain supaya keberhasilan orang itu menjadi keberhasilan kita juga. Soli Deo Gloria.  

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community