Covenant atau Testament (Bagian 3)

Posted on 25/08/2019 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/covenant-atau-testament.jpg Covenant atau Testament (Bagian 3)

(Lanjutan tgl 18 Agustus 2019)

Di tengah berbagai kontroversi tersebut, tren pemakaian istilah ‘covenant’ menggantikan ‘testament’ terus berlanjut hingga sekarang. Bahkan New King James Version (NKJV) dan terjemahan Roma Katolik, yaitu The Jerusalem Bible, juga mengikuti tren ini walaupun pada beberapa bagian Alkitab, misalnya 2 Kor. 3:14; Gal. 3:15 dan Ibrani 9:16-17, istilah ‘will’ dan ‘testament’ tetap dipertahankan. 

Pada tahun 1988, God’s Word to the Nations Bible Society menerbitkan The New Testament God’s Word to the Nations (GWN). GWN ini merupakan terjemahan PB kaum Lutheran yang berisi serangkaian besar lampiran tentang informasi-informasi terjemahan. Salah satunya adalah tentang terjemahan kata Yunani diatheke yang diterjemahkan berbeda oleh penerjemah modern. Jika penerjemah modern menggunakan istilah ‘covenant’ untuk diatheke, maka GWN mempertahankan terjemahan ‘last will and testament’ untuk beberapa konteks. Menurut GWN, istilah ini sangat penting utamanya jika dihubungkan dengan pemahaman kaum Lutheran tentang Lord’s Supper.  

 

Problem Bahasa Inggris Untuk Membedakan Testament dan Covenant

Penerjemahan kata diatheke dalam bahasa Inggrisnya (yang diterjemahkan covenant atau testament) menimbulkan lebih banyak masalah daripada pengertian yang ada dalam bahasa Yunaninya. Dalam bahasa Inggris ada semacam istilah paten yang menggunakan salah satu istilah, baik covenant atau testament, yang apabila digunakan secara bergantian akan terlihat sebagai istilah yang aneh, misalnya istilah ‘baptismal covenant’ dan ‘last will and testament.’ Kedua istilah di atas jika diganti menjadi ‘baptismal testament’ atau ‘last will and covenant’ merupakan istilah yang sangat jarang (atau malahan tidak pernah) dipergunakan dan aneh. Ternyata bahasa Latin dan bahasa Jerman juga tidak mempergunakan kedua istilah di atas secara bergantian. Jerome, yang mempergunakan kata ‘pactum, foedus atau testament’ secara bergantian dalam PL, ternyata tidak memakai kata-kata tersebut secara bergantian dalam PB. Demikian pula dengan Luther yang lebih memilih memakai kata Testaments daripada Bund dalam terjemahan PB-nya.

Jika diamati antara kata testament dan covenant terjadi perbedaan mencolok. Dalam bahasa Inggris kata testament berarti ‘surat wasiat terakhiryang dibuat oleh seseorang sebelum kematiannya dan bersifat mengikat orang yang namanya tertera di dalamnya.

Sedangkan kata covenant lebih cenderung berarti ‘perjanjian yang mengikat antara 2 orang/kelompok.’ Dalam bahasa Latin (terlepas dari Alkitab dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengannya), kata testamentum juga memiliki ide tentang surat wasiat.  Dalam bahasa Yunani di luar Alkitab, kata diatheke juga berarti dapat surat wasiat. Namun dalam Yunani PL, kata diatheke dipakai untuk menerjemahkan kata Ibrani berit yang tidak pernah berarti surat wasiat.

Luther, mengutip perkataan Jerome, mengatakan, “Jerome menyebutkan, bahwa dalam bahasa Ibrani, orang seringkali memekai kata ‘covenant’ daripada ‘testament’.” Oleh sebab itu Luther menengahinya dengan menjelaskan “He who stays alive makes a covenant; he who is about to die makes a testament. Thus Jesus Christ, the immortal God, made a covenant. At the same time He made a testament, because He was going to become mortal. Just as He is both God and man, so He made both a covenant and a testament.”

Terlepas dari perdebatan tentang ke-eksklusif-an kata ‘covenant’ terutama dalam PL (misalnya dengan kemunculan istilah “Abrahamic covenant , Mosaic covenant atau Davidic covenant’) atau ke-eksklusif-an kata ‘testament’ dalam PB (terutama dalam kisah kematian Kristus),  maka perlu disimpulkan beberapa hal berikut:

Penggunaan istilah “Old Testament” dan “New Testament” untuk merujuk pada kitab suci Kristen lebih cenderung didasarkan pada pengadopsian tradisi penggunaan Vulgata yang hampir mempengaruhi banyak terjemahan Alkitab daripada berdasarkan pemilihan ketepatan kata dan artinya.

Masing-masing perdebatan yang menyelidiki eksklusifitas arti kata “testament dan covenant” tidak bersifat final, artinya tidak ada kesepakatan universal yang ditetapkan untuk membatasi arti masing-masing kata.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community