Bukan Sekadar Semangat Bagi Allah (Roma 10:1-4)

Posted on 15/04/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Bukan-Sekadar-Semangat-Bagi-Allah-Roma-10-1-4.jpg Bukan Sekadar Semangat Bagi Allah (Roma 10:1-4)

Istilah "agama" telah dipahami secara beragam oleh banyak orang. Ada yang menyamakannya dengan spiritualitas yang pragmatis, tidak peduli apakah konsep di baliknya tepat. Ada pula yang bersemangat mengambil nyawa orang lain atas nama agama tertentu. Tidak sedikit pula yang alergi dengan istilah ini, dan memilih untuk tidak dikotak-kotakkan ke dalam aliran tertentu. Yang penting bagi mereka adalah ketaatan dan kesalehan, bukan pengetahuan dan pemahaman.

Melalui khotbah hari ini kita akan belajar bahwa kesalehan yang tepat membutuhkan lebih daripada sekadar semangat. Pemahaman yang tepat dan semangat yang kuat harus bersentuhan secara erat. Hasrat yang besar harus disertai dengan pengetahuan yang benar.

Teks hari ini sebaiknya dipahami secara linear progresif. Maksudnya, ayat 1 diterangkan oleh ayat 2, ayat 2 diterangkan oleh ayat 3, begitu seterusnya. Dengan kata lain, masing-masing ayat dalam bagian ini tidak berdiri secara sejajar. Yang satu subordinatif terhadap yang lain.

Hasrat supaya bangsa Yahudi beroleh selamat (ayat 1)

Penjelasan di pasal 9 mungkin bisa memberi kesan bahwa Paulus terlalu teologis dan rasional dalam menyikapi penolakan sebagian besar bangsa Yahudi terhadap Yesus sebagai Mesias. Semua hanya diterangkan dan dikaitkan dengan pilihan Allah yang berdaulat (9:6-21). Paulus juga mungkin terkesan kurang bersimpati terhadap nasib orang-orang sebangsanya. Ulasannya terlihat kering dan kurang berpihak pada bangsa Yahudi.

Semua kesan di atas ternyata keliru. Roma 10:1 mengungkapkan apa yang selama ini ada dalam hati dan doa Paulus. Walaupun dia mengajarkan doktrin predestinasi dengan begitu ketat disertai dengan argumen yang sangat kuat, hal itu tidak menghalangi dia untuk memandang penolakan bangsa Yahudi secara lebih personal. Dia tetap mendambakan pertobatan mereka. Itu adalah keinginan (eudokia) dalam hatinya. Kata ini merujuk pada sesuatu yang menyenangkan atau memperkenankan hati seseorang (Mat. 11:26; Luk. 10:21; Ef. 1:5, 9).

Paulus bukan hanya mempunyai hasrat kuat supaya bangsa Yahudi selamat. Dia juga mewujudkan hasrat itu dalam doa syafaat. Bukan sekadar perasaan, melainkan kedisiplinan di hadapan Tuhan. Jika seseorang benar-benar menginginkan keselamatan orang lain, bukankah hal terkecil yang bisa dia lakukan adalah berdoa bagi orang tersebut? Keengganan dalam berdoa menunjukkan posisi hati kita ada di mana.

Apa yang diungkapkan oleh Paulus di sini cukup menarik untuk diperhatikan. Doktrin pemilihan bukanlah halangan bagi penginjilan. Predestinasi seyogyanya tidak melemahkan disiplin rohani. Kita tidak tahu secara persis siapa saja yang dipilih untuk diselamatkan. Sebaliknya, kita sadar bahwa pemilihan kekal akan direalisasikan oleh Allah melalui cara-cara tertentu (10:14-15). Doa dan penginjilan merupakan sarana-sarana ilahi bagi pertobatan seseorang.

Semangat belaka tidaklah cukup (ayat 2-4)

Tidak semua pandangan Paulus terhadap bangsa Yahudi adalah negatif. Sebelumnya dia mengakui kelebihan-kelebihan bangsa Yahudi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain (9:4-5). Di sini dia mengakui satu kelebihan lagi, yaitu semangat mereka bagi Allah (10:2a, zēlon theou echousin). Secara umum mereka sangat ketat dalam menaati Taurat. Berbagai ritual dan aturan relijius dipegang dengan serius (bahkan cenderung kaku). Di kalangan orang-orang Yahudi yang berkiblat pada golongan Farisi, semangat ini semakin terlihat jelas.

Memiliki semangat bagi Allah tentu saja bukan sesuatu yang keliru. Tuhan Yesus pun memiliki semangat seperti itu. Bahkan karena semangat itulah Dia harus mengalami pertentangan, penganiayaan, dan penyaliban. Dia menggenapi sebuah nubuat: “Cinta (ho zēlos) untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh. 2:17).

Yang menjadi persoalan adalah jika semangat bagi Allah tidak dibarengi dengan pengetahuan yang tepat (Rm. 10:2b). Situasi yang sama dahulu terjadi pada diri Paulus. Dia sangat bersemangat (zēlos) dalam menganiaya jemaat (Flp. 3:6a). Karena semangat yang tidak tepat inilah Paulus menjadi seorang penganiaya yang ganas (1Tim. 1:13). Dia dahulu menganggap orang-orang Kristen sebagai penghujat Allah. Kenyataannya, justru dia sendiri yang menjadi seorang penghujat (1Tim. 1:13).

Inti kesalahan bangsa Yahudi terletak pada ini: "mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah" (10:3c). Sikap ini disebabkan oleh dua hal: "mereka tidak mengenal kebenaran Allah" dan “mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri”. Hati yang tidak takluk kepada Allah disebabkan oleh pikiran yang tidak tunduk pada firman Allah.

Tentu saja bangsa Yahudi mengenal istilah "kebenaran Allah". Semua aktivitas relijius yang mereka lakukan bahkan ditujukan untuk memperoleh kebenaran dari Allah. Mereka berupaya sedemikian rupa supaya layak diperhitungkan sebagai orang yang benar di hadapan Allah. Permasalahannya, kebenaran seperti ini bukanlah "kebenaran Allah" (hē dikaiosynē tou theou). Kebenaran dari Allah diterima melalui iman (1:16-17). Dari sejak zaman Abraham, Allah sudah menetapkan bahwa pembenaran dari Allah didasarkan pada iman (3:27-4:5).

Jika "kebenaran Allah" diperoleh melalui iman, hal itu bukan merupakan hasil usaha manusia (4:4-5). Pembenaran melalui iman adalah anugerah, sedangkan pembenaran melalui kesalehan adalah upah. Keduanya bersifat eksklusif. Karena itu, usaha bangsa Yahudi untuk “mendirikan kebenaran mereka sendiri” (10:3) berkontradiksi dengan pembenaran melalui iman. Ini tidak takluk pada kebenaran Allah. Jadi, semangat dan hasrat untuk dibenarkan di hadapan Allah tidaklah memadai, bahkan seringkali merupakan bentuk penipuan diri sendiri. Orang merasa diri aman padahal tidak demikian.

Mengapa mereka sampai tidak mengenal kebenaran Allah dan ingin mendirikan kebenaran mereka sendiri? Akar persoalan diterangkan di 10:4. Mereka tidak mengerti maupun meyakini bahwa "Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya".

Apakah yang dimaksud dengan "kegenapan hukum Taurat" (telos nomou)? Para penafsir Alkitab memberikan pendapat yang berlainan. Keragaman pandangan ini sangat bisa dipahami. Baik kata telos (LAI:TB “kegenapan”) maupun nomos (LAI:TB "Hukum Taurat") memiliki jangkauan arti yang beragam. Lebih jauh, bagaimana kita menafsirkan yang satu akan mempengaruhi penafsiran kita terhadap yang lain.

 Kata telos bisa berarti kegenapan akhir, atau tujuan. Mayoritas penerjemah Alkitab mengambil arti yang kedua. Pilihan mayoritas ini tampaknya memang didukung oleh konteks. Di ayat 2-3 Paulus sudah menyinggung kekeliruan bangsa Yahudi yang menggunakan Taurat untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri. Di ayat 4 Paulus menyatakan bahwa mereka yang percaya kepada Kristus berhenti menggunakan Taurat untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri". Iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mengakhiri usaha sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang berdosa guna meraih kebenaran di hadapan Allah.

Tidak lupa di akhir ayat 4 Paulus mempertentangkan antara pembenaran melalui Taurat dan iman ("sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya"). Keduanya memang tidak dapat berjalan beriringan.

Dengan demikian, di mata Paulus, upaya bangsa Yahudi bukan sekadar tidak sempurna atau tidak lengkap, sehingga perlu ditambahkan iman kepada Kristus. Upaya mereka benar-benar salah, tidak peduli betapa bersemangat mereka melakukan hal tersebut. Tidak peduli seberapa besar kesungguhan mereka. Ketulusan dan kesungguhan harus disertai dengan kebenaran. Kesalahan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh berarti sungguh-sungguh salah.

Kekeliruan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi pada zaman Paulus bisa saja terjadi pada orang-orang Kristen sekarang. Sebagian orang rutin beribadah dan menganggap kerajinan itulah yang menjamin keselamatan mereka. Sebagian lagi mengukur kerohanian berdasarkan keaktifan dalam pelayanan. Ada pula yang baru merasa layak di hadapan Allah jika menjalani kehidupan yang saleh. Yang lain meyakini bahwa kasih Allah bisa berkurang atau bertambah, tergantung sikap kita kepada-Nya. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa korban Kristus di kayu salib baru sempurna jika ditambahi kesalehan kita.

Semua sikap merupakan penghinaan terhadap penebusan Kristus. Apa yang Dia lakukan sudah genap. Sempurna. Tidak perlu ditambah apa-apa. Semua kebaikan dan kesalehan kita sama sekali tidak akan mempengaruhi kesempurnaan kebenaran di dalam Kristus bagi kita. Semua itu hanyalah perwujudan, bukan persyaratan bagi kebenaran di hadapan Tuhan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community