Beban Bagi Bangsa (Nehemia 2:1-20)

Posted on 15/02/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Beban Bagi Bangsa (Nehemia 2:1-20)

Pendahuluan:

Suatu hari, seorang anak kecil Hattie May Wiatt yang  berpenampilan lusuh datang ke sekolah minggu di dakat tempat tinggalnya. Dia sedih dan menangis ketika dia ditolak dengan alasan tidak cukup ruangan baginya. Kebingungan dengan kondisi yang ada, Hattie menangis di depan gereja. Pdt. Russell H. Conwell yang kebetulan lewat menanyakan mengapa ia menangis. “Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu” jawab Hattie. Melihat penampilan Hattie sang pendeta segera mengerti dan bisa menduga sebabnya ia tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya Hattie masuk ke ruangan Sekolah Minggu dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk Hattie. Si kecil Hattie ternyata berumur pendek, dua tahun kemudian Hattie meninggal. Setelah pemakamannya ibunya menyerahkan sebuah dompet yang sangat jelek dan lusuh kepada pendeta yang isinya adalah 57 cent dan sebuah catatan yang berbunyi, “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak bisa menghadiri Sekolah Minggu.” Rupanya sejak peristiwa itu Hattie menabung untuk pembangunan gereja. Sang pendeta menyaksikan kisah ini kepada sebanyak mungkin orang dan terkumpullah dana $ 250.000. Berawal dari 57 sen itu, kini di Philadelphia telah berdiri Gereja Baptist,  sebuah gereja dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang, sebuah Universitas  tempat ribuan mahasiswa belajar, Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan khusus untuk Sekolah Minggu dengan ratusan pengajar, semuanya itu untuk memastikan agar jangan sampai ada satu anak pun yang tidak mendapat tempat di Sekolah Minggu.

Orang yang memiliki relasi dengan Allah akan memiliki hati yang peka terhadap hati Allahnya, sehingga terbeban dengan pekerjaan Allah, memiliki rencana-rencana yang kudus bahkan mengambil langkah yang jelas.

Isi:

Alkitab menceritakan tentang seorang tokoh yang demikian. Keintimannya dengan Allah membuat dia peka dengan hati dan kehendak Allah. Dia adalah Nehemia.

Nehemia pada waktu itu adalah seorang kepercayaan raja Persia, ia berkedudukan sebagai juru minum raja. Artinya dia yang akan memastikan bahwa konsumsi minuman raja bebas dari unsur yang berbahaya. Posisi jabatan ini menunjukan bahwa Nehemia adalah orang yang dipercaya oleh raja.

Di tengah keberhasilan Nehemia ia tetap memiliki relasi yang intim dengan Allah. mengingat latar belakang Nehemia yang adalah orang Yahudi, dan juga posisi dia berada saat itu adalah di Persia, yaitu  sebuah negara yang tidak mengenal Allah, maka bisa disimpulkan Nehemia adalah orang yang tidak mudah terpengaruh dengan kondisi. Nehemia sukses menjadi orang kepercayaan raja Persia, ini adalah godaan yang dapat mempengaruhi kerohanian. Ditambah dengan kondisi kehidupan orang Persia menambah perjuangan Nehemia untuk hidup intim dengan Allah. Sekalipun demikian Nehemia tetap menjaga kehidupan rohaninya. Itulah alasan, ia peka dengan hati dan kehendak Tuhan.

Nehemia mendengar kabar tentang bahwa "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." (Neh 1:3 ITB).

 

Beban Nehemia bagi bangsanya terlihat dari dari beberapa 3 hal ini:

Nehemia  Terbeban dengan Pekerjaan Allah(Bangsanya)

Nehemia 1: 4 menceritakan reaksi Nehemia ketika mendengarkan kondisi bangsanya, bangsanya "Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit," (Neh 1:4 ITB) .  Berkabung, berpuasa dan berdoa adalah 3 kata kerja yang dipakai untuk  menggambarkan hati Nehemia. Beban adalah tempat di mana sesuatu yang besar dimulai. Nehemia menghampiri Allah dengan hati yang berbeban dan jujur menghadapi kehancuran,  tanpa menyalahkan orang lain atau  mencoba untuk melibatkan orang lain, ia hanya mengatakan semuanya itu kepada Tuhan.

Nehemia  2:4 berbunyi, Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit." Sejak awal Nehemia ditampilkan sebagai orang yang memiliki hati yang bergantung kepada Allah. Ayat 4 memberikan penekanan bahwa Nehemia menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Menghadapi pertanyaan raja yang mengharuskan ia cepat beresponpun, ia  menyempatkan diri untuk berdoa. Kebiasaan berdoa bahkan di tengah kondisi yang menuntut pengambilan keputusan yang spontan, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang menjadikan doa sebagai gaya hidup.

Kita perhatikan Nehemia 1:11, "Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini."  Beberapa penafsir meyakini bahwa doa ini adalah doa yang dinaikan Nehemia setiap hari hingga Tuhan membuka jalan bagi dia. Nehemia menunggu Sampai  saat yang tepat. Dia tidak  bertanya, "Tuhan, apakah ini waktu yang tepat untuk saya ngomong kepada raja?  Nehemia bersabar hingga waktu yang tepat, dan rajalah yang memulai dengan pertanyaan "jadi apa yang kau inginkan?".  Ini adalah puncak dari empat bulan doa. Nehemia menghadapi masalah ini dengan iman, ia melewati tahap ini dengan baik.

 Nehemia mendengarkan kabar tentang bangsanya pada bulan Kislew (1:1) mulai saat itu mulai berkabung dan berpuasa, berdoa kemudian baru Pada bulan Nisan, Tuhan membuka jalan komunikasi dengan raja Persia. Pentingnya apa ayat ini?  Kedua ayat ini menunjukan bahwa Nehemia berkabung, berpuasa dan berdoa selama 4 bulan.

Nehemia memiliki beban besar, ia sadar bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan. Kerohanian bangsanya sedang berada dalam masa krisis. Secara fisikpun Yehuda sedang dalam kondisi politik, sosial, ekonomi yang kritis.  Itu sebabnya ia berkabung, berpuasa dan berdoa. Namun, memiliki beban saja rupanya belum cukup, Nehemia harus bertekun selama 4 bulan hingga waktunya Tuhan. Tuhan sering bekerja dengan cara ini, membiarkan umat-Nya menunggu beberapa waktu. Ini bertentangan dengan kedagingan manusia yang cenderung menginginkan sesuatu yang cepat. Menunggu adalah pergumulan besar bagi banyak orang. Namun menunggu waktu Tuhan melatih manusia untuk bertekun, dan inilah yang dilakukan Nehemia. Hanya relasi yang intim dengan Tuhan yang memungkinkan kita dapat bertekun di dalam doa.

Nehemia menunjukkan kerendahan hati di dalam bagian ini, sekalipun ia yakin bahwa bebannya adalah kehendak Tuhan, namun ia tidak dengan serta merta mengambil langkah yang radikal dengan tidak menghormati raja, sebaliknya dia tetap mengakui otoritas raja Persia dan meyakini, jika ini adalah rencana Allah ia akan akan mencapainya melalui raja. Kehendak Allah tidak pernah bertentangan dengan kehendak-Nya yang lain.

Aplikasi:

Seberapa banyak Saudara memiliki beban untuk pekerjaan Tuhan. Seberapa jauh persoalan sesamamu, membebani hatimu, membuat saudara berkabung, berpuasa dan berdoa di hadapan Tuhan? Hanya orang yang hatinya sudah diubahkan akan memiliki hati yang peka dengan hati Tuhan. Hanya relasi yang intim dengan Tuhan yang membuat saudara bertekun di dalam doa.

 

Nehemia Menyusun Rencana Bagi Pekerjaan Tuhan/ Bangsanya

Setelah Nehemia berdoa, ia menjawab raja demikian, "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda.  Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. (Neh 2:5, 7-8 ITB

Nehemia bukan hanya memiliki beban dan berdoa saja, namun ia membuat perencanaan yang baik dan bersahabat.  Nehemia bisa memprediksi bahwa ia akan menghadapi oposisi di dalam mengerjakan misinya ini, sehingga ia meminta raja untuk membantunya. Ini menunjukan bahwa selama 4 bulan ia bergumul ia sudah menyusun rencananya. Itu sebabnya ketika kesempatan itu Tuhan berikan Nehemia dengan tidak ragu meminta hal ini kepada raja, karena keyakinannya di ayat 8, "karena tangan Allahku yang murah melindungi aku." Ia sangat menyadari bahwa Tuhan berdaulat penuh di dalam proses tersebut.

Setelah Nehemia tiba di Yerusalem, ia tidak terburu-buru  mengambil tindakan (perhatikan ayat 11,12). Nehemia adalah orang yang sangat bertanggung jawab di dalam mengambil tindakan. Begitu ia tiba di Yerusalem apa yang ia lakukan? ayat 11-12 mengatakan  "Sesudah tiga hari aku di sana, bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku...".  Sebelum  tiba di Yerusalem, Nehemia yakin dengan panggilan Tuhan untuk membangun tembok di Yerusalem, kita berharap setelah yakin dengan pimpinan Tuhan segeralah ambil tindakan. Ternyata Nehemia melewati 3 hari tanpa bertindak. Pada hari itu  kita berharap ia bertindak, ternyata yang ia lakukan adalah survei. Nehemia tetap  merasa perlu  untuk mendapatkan penilaian yang tepat dari situasi setelah ia ada di sana (ay.13-15). Bagi Nehemia pekerjaan Tuhan membutuhkan perencanaan yang matang bukan hanya berdoa.

 Di dalam masa-masa inilah, ia menyaksikan betapa parahnya kondisi tembok Yerusalem yang hancur dan terbakar.  Ia menyaksikan konsekuensi dari dosa menyebabkan mereka  "kehilangan tanah" yang telah dipercayakan Tuhan sebelumnya. Jika orang Israel bisa kehilangan "tanah" mereka  karena keberdosaan mereka, maka kitapun sama. Banyak hal yang sudah Tuhan percayakan kepada kita, namun kita perlu mengawasi bagaimana kita hidup. Ketidaksetiaan kita kepada Tuhan akan "memaksa Allah" untuk menyelamatkan kita dengan cara yang sama yaitu "kehilangan tanah".

Aplikasi:

Doa dan kebergantungan kepada Tuhan adalah hal yang mutlak bagi orang percaya, namun  perencanaan yang baik adalah tanggung jawab seorang pelayan. Apakah saudara memiliki beban tertentu untuk pekerjaan Tuhan? Apakah  sejauh ini masih tetap sebagai pokok doa?  Ketekunan di dalam berdoa dan menantikan Tuhan akan membuat kita bijaksana di dalam menyusun rencana yang baik dan bersahabat.

 

Nehemia Berani Mengambil Tindakan Sekaligus Resiko

Nehemia 2:19," Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan dan menghina kami. Kata mereka: "Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?"  Hal ini sudah diprediksi dan diantisipasi oleh Nehemia sebelumnya dengan meminta surat jaminan dari raja. Sekalipun dia dapat memprediksi serangan yang akan dia hadapi, ia tetap maju. Orang yang hatinya dijamah Tuhan, bukan hanya berdoa dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bukan hanya menyusun rencana-rencana tanpa tindakan, tetapi  berani mengambil tindakan dan resiko.

Nehemia 2:20 mencatat, Aku menjawab mereka, kataku: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!"  ini merupakan jawaban Nehemia ketika diintimidasi oleh para Tobia CS. Sekalipun Nehemia memegang surat jaminan dari raja Persia, tetap masih ada intimidasi. Sekalipun demikian Nehemia tidak menyerah di dalam menjalankan misinya. Di dalam surat balasnya, Nehemia sama sekali tidak mengandalkan surat raja Persia, tetapi dengan yakin ia mengatakan bahwa Allah semesta langitlah yang akan membuat mereka berhasil.

Dalam ayat 17-18, Nehemia melakukan prinsip yang penting lainnya yaitu menantang orang terlibat di dalam pelayanan Tuhan. Nehemia membuat empat pernyataan penting ketika ia bertemu dengan orang-orang Yahudi, para imam, para bangsawan, dia mengiidentifikasi  dirinya sama dengan mereka. Dia tidak mengatakan "ini adalah masalahmu," atau  "ini adalah pekerjaan yang harus kamu  lakukan untuk raja. tetapi dia Berkata,"kamu lihat, kita berada dalam masalah" (17a). Kedua, Nehemia menyemangati timnya untuk bertindak (17b). Ketiga, Nehemia menjelaskan fakta yang terjadi dan apa  yang harus dilakukan. keempat, Ia berbagi kesaksiannya. Dia berani Berbicara tentang kebaikan Tuhan yang ditunjukkan kepadanya, dan bagaimana ia mengandalkan  Tuhan. berbagi kesaksian dapat memberikan kekuatan bagi orang lain di dalam menanggung pergumulan  dan memberikan semangat bagi orang di dalam melayani Tuhan. Itu sebabnya Nehemia menularkan visi bagi orang lain untuk terlibat dalam pekerjaan Allah yang besar.

Ayat 18 mengatakan bahwa mereka dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu."  Apa pekerjaan baik yang Allah percayakan untuk saudara lakukan? Apa saudara sudah  "memperkuat tanganmu untuk pekerjaan yang baik?"

Aplikasi:

Nehemia ketika ia memiliki beban pelayanan, ia bergumul, menyusun rencana dan berani mengambil resiko, maka Tuhan melembutkan hati raja sehingga memberikan  dukungannya untuk rencana Nehemia, bahkan ia juga menyediakan  kuda, bahkan  para panglima perang dan prajurit supaya perjalanannya aman, maka hal yang sama akan Tuhan sediakan bagi kita. Allah akan menyediakan semua yang saudara butuhkan untuk terjun di dalam pelayanan apapun yang Ia sediakan.

 

Penutupan:

Sesederhana apapun Saudara, jika Allah sudah memberikan kepadamu hidup yang baru, maka saudara akan memiliki hati yang terbeban untuk pekerjaan Allah. Tidak ada orang yang terlalu lemah yang tidak bisa dipakai untuk pekerjaan Allah. Maukah Saudara mendoakan pekerjaan Allah dengan ketekunan dan menantikan waktu Tuhan? Maukah saudara memikirkan dengan serius dan menyusun rencana dengan bijaksana? Maukah saudara mengambil resiko dengan mengambil langkah konkrit di dalam melayani Tuhan? 

Soli Deo Gloria

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community