Bagaimana Menyikapi Kegagalan Anak?

Posted on 14/02/2021 | In QnA | Leave a comment

 Bagaimana Menyikapi Kegagalan Anak?

Kegagalan terasa menyesakkan dan menyakitkan. Bagi sebagian orang kegagalan bahkan bisa memalukan. Tidak heran semua orang berusaha menghindari kegagalan.

Demikian pula dengan orang tua. Mereka cenderung mengupayakan agar anak mereka sebisa mungkin tidak mengalami kegagalan. Ada banyak yang dilakukan, dari memberikan perlindungan yang berlebihan sampai mengancam dengan hukuman yang menakutkan. Walaupun ada orang tua tertentu yang lebih siap menerima kegagalan anak, yang lain mengalami kesulitan untuk berdamai dengan keadaan itu.

Bagaimana orang tua menyikapi kegagalan secara tepat? Apa yang harus dilakukan?

Hal pertama dan terutama yang perlu dilakukan adalah menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang wajar. Semua orang pasti mengalami pelbagai kegagalan. Bahkan semua tokoh iman dalam Alkitab - kecuali Yesus Kristus - pernah gagal. Beberapa bahkan gagal secara fatal dan mengenaskan. Dengan kesadaran tentang hal ini orang tua akan ditolong untuk tidak memberikan respons berlebihan, entah secara positif (menghibur dan menguatkan secara berlebihan) maupun negatif (menyalahkan dan memarahi secara berlebihan). Respons berlebihan akan semakin menenggelamkan anak seolah-olah kegagalannya begitu serius dan dalam. Jangan sampai anak menangkap kesan bahwa kegagalan mereka adalah akhir dari alam semesta.

Hal kedua adalah menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Poin ini mirip dan masih berkaitan dengan poin sebelumnya, hanya saja penekanannya berbeda. Dengam menyadari bahwa kegagalan memang sebuah keniscayaan, orang tua tidak akan memberikan perlindungan dan bantuan yang berlebihan kepada anak-anak mereka. Tidak peduli seberapa besar perhatian kita kepada mereka, anak-anak tetap akan menghadapi kegagalan. Tugas utama kita bukan menghindarkan mereka dari kegagalan, melainkan melatih mereka untuk meresponi kegagalan dengan benar. Seorang anak yang dituntut untuk berhasil dan dilindungi secara berlebihan justru akan mudah gagal dalam menghadapi kegagalan. Mereka cenderung akan menutupi kegagalan, memberikan pembelaan atau mencari kambing hitam, entah orang lain, Tuhan atau keadaan.

Contoh yang baik tentang ini adalah Saul dan Daud. Keduanya pernah beberapa kali gagal menaati firman Tuhan. Saul berusaha membela diri dan melemparkan kesalahan pada orang lain (1Sam. 15). Daud langsung mengakui dosa dan menerima konsekuensinya (2Sam. 12, 24). Jatuh beberapa kali bukan hanya wajar tetapi kadangkala tidak terhindarkan. Yang penting adalah bangun kembali (Ams. 24:16a).

Orang tua juga perlu untuk memberikan dukungan seperlunya kepada anak-anak. Walaupun pemberian penghiburan dan penguatan secara berlebihan adalah kontraproduktif, namun bukan berarti orang tua tidak memberikan dukungan apa-apa. Sebuah pelukan  seringkali memberi kekuatan yang melebihi berjuta-juta perkataan. Memberikan beberapa kalimat dorongan yang tepat juga membuat anak tidak patah semangat. Mengungkapkan apresiasi atas usaha anak-anak akan memberikan pelajaran penting bahwa proses lebih penting daripada hasil. Jika anak belum siap mendiskusikan kegagalannya, orang tua tidak perlu memaksa. Anak-anak kadangkala membutuhkan waktu sendirian untuk berduka dan introspeksi diri. Katakan kepada mereka bahwa kita siap menjadi pendengar yang baik kapanpun mereka membutuhkannya.

Apabila waktu yang tepat telah tiba, orang tua bisa membimbing anak-anak untuk menarik pelajaran spiritual dan moral dari kegagalan mereka. Bimbinglah mereka untuk berani merengkuh kegagalan tanpa menyalahkan apapun maupun siapapun. Ajarkan kepada mereka bahwa setiap pelajaran adalah berharga, jauh melebihi semua kerugian dan kesakitan dalam kegagalan. Kegagalan sesungguhnya adalah orang yang tidak mau belajar dari kegagalan. Apakah anak terlalu terburu-buru dan kurang berhikmat dalam mengambil keputusan? Apakah anak kurang berusaha dengan sungguh-sungguh? Apakah anak terlalu menggampangkan tantangan? Deretan pertanyaan ini tentu saja masih dapat diperpanjang. Pelajaran akan lebih lengkap apabila orang tua juga mau belajar dari kegagalan anak-anak. Mungkin orang tua kurang memberi arahan dan dukungan? Mungkin orang tua terlalu berlebihan memberikan tuntutan dan tekanan pada anak-anak? Deretan pertanyaan ini juga masih bisa diperpanjang.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan dari pemberian konsekuensi. Poin ini sekilas bertentangan dengan semua nasihat positif sebelumnya. Namun, dalam kenyataannya tidak demikian. Seandainya kegagalan disebabkan oleh kesalahan anak-anak, orang tua perlu menolong mereka untuk berani bertanggung-jawab. Belajar dari kesalahan adalah satu hal. Menanggung akibat dari kesalahan itu adalah hal yang berbeda. Dua-duanya penting bagi kedewasaan anak-anak.

Yang terakhir, orang tua juga harus menunjukkan kasih tanpa syarat kepada anak-anak. Keberhasilan maupun kegagalan anak-anak tidak seharusnya mendefinisikan siapa mereka di hadapan orang tua. Kasih orang tua tidak ditentukan oleh prestasi anak-anak. Sama seperti Allah Tritunggal mau menerima kita apa adanya dengan semua kegagalan dan kehancuran kita, demikian pula orang tua harus menerima setiap anak dengan penuh cinta tidak peduli seberapa besar pencapaian mereka. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community