Bagaimana Menolong Anak dalam Penggunaan Gadget?

Posted on 19/02/2017 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Bagaimana-Menolong-Anak-dalam-Penggunaan-Gadget.jpg Bagaimana Menolong Anak dalam Penggunaan Gadget?

Dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai penemuan teknologi yang luar biasa ini, gadget sudah menjadi kebutuhan pokok bagi anak-anak. Hampir semua anak remaja memiliki dan menggunakannya. Tidak sedikit yang salah menggunakannya. Sebagian anak telah menjadi pencandu permainan. Yang lain tidak bisa melepaskan diri dari media sosial (FB, instagram, Twitter, dsb). Riset di berbagai tempat menunjukkan bahwa persoalan ini merupakan salah satu yang paling meresahkan orang tua.

Bagaimana orang tua seharusnya menyikapi situasi seperti ini? Bagaimana pandangan Alkitab tentang teknologi dan penggunaannya? Apa saja tips praktis yang perlu segera dilakukan oleh orang tua?

Orang tua perlu memiliki dan mengajarkan konsep theologis yang benar tentang teknologi

Banyak orang tua melihat  penyalahgunaan gadget hanya sebatas persoalan kultural atau sosial. Mereka tidak mampu menangkap persoalan theologis di baliknya. Tidak heran, pendekatan yang mereka lakukan juga tidak bersangkut-paut dengan theologi. Mereka hanya melarang dan menentang, tanpa memberikan pemahaman theologis yang benar. 

Alkitab menandaskan sejak awal bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi (Kejadian 1:26-27). Sebagai gambar Allah (Imago Dei), manusia dibekali dengan segala kemampuan untuk menguasai bumi. Dengan semua kelebihan itu, manusia mampu menciptakan kebudayaan. Berbagai penemuan baru telah dihasilkan, baik teknik konstruksi kota, peternakan, maupun musik (Kejadian 4:17-21).

Inovasi mutakhir dalam bidang teknologi merupakan penegasan tentang status manusia sebagai Imago Dei. Pada dirinya sendiri, teknologi tidaklah salah. Dalam taraf tertentu hal itu justru merupakan bukti positif tentang keunikan manusia. Yang menjadi persoalan bukanlah teknologi, melainkan manusianya.

Dengan pemahaman theologis seperti ini, orang tua seyogyanya mengajarkan anak-anak untuk bersyukur atas berbagai inovasi yang ada. Jika mereka begitu mengagumi hasil penemuan itu, mereka seharusnya lebih mengagumi Allah yang sudah membekali manusia dengan kapasitas itu. Jika mereka begitu mengharapkan penemuan yang baru, mereka juga sepatutnya lebih mengharapkan Allah dalam kehidupan mereka.

Orang tua perlu memahami hakikat manusia dan mengenal anak-anak mereka

Penggunaan (atau penyalahgunaan) gadget mengungkapkan banyak hal tentang manusia secara umum maupun keadaan anak-anak kita secara khusus. Yang pertama, manusia adalah makhluk sosial. Hampir semua anak mengakui bahwa bermain game secara kolektif jauh lebih mengasyikkan daripada bermain melawan komputer. Berbagai game online sudah menjadi favorit anak-anak. Begitu pula dalam hal media sosial. Anak-anak seringkali menampilkan berbagai foto dan info kegiatan mereka dengan harapan akan mendapat perhatian dan respons positif dari orang lain. Semua ini membuktikan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Mereka tidak bisa hidup menyendiri.

Itulah yang diajarkan oleh Alkitab sejak awal. Tatkala Allah melihat kesendirian Adam, Ia menilai hal itu sebagai sesuatu yang tidak baik (Kejadian 2:18). Allah lantas memberikan Hawa sebagai pendamping (Kejadian 2:21-25). Tanpa kehadiran orang lain, manusia tidak akan merasa sempurna.

Anak-anak yang kecanduan game dan media sosial seringkali (tidak selalu) berasal dari keluarga yang kurang perhatian. Komunikasi konkrit dalam suatu keluarga tidak berjalan dengan baik, sehingga anak-anak mengambil pelampiasan pada gadget. Jika orang tua kurang memiliki waktu berinteraksi dengan anak-anak, tidak mengherankan jika anak-anak beralih pada gadget sebagai pengisi kekosongan.

Berangkat dari poin ini, orang tua seyogyanya memberikan waktu yang lebih banyak untuk anak-anak. Komunikasi perlu dibangun lebih intens. Perhatian perlu ditingkatkan. Dengan menjadi sahabat bagi anak-anak, orang tua sudah memberikan apa yang selama ini dicari begitu rupa oleh anak-anak dalam dunia sosial: perhatian!

Yang kedua, manusia adalah makhluk berdosa. Sesudah Adam jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), seluruh keturunanya mewarisi status dan natur yang berdosa. Segala kecenderungan manusia adalah pada kejahatan (Kejadian 6:5). Apa yang baik menjadi tidak baik di tangan manusia yang berdosa. Sebagai contoh, kemampuan manusia dalam hal konstruksi bangunan telah digunakan untuk melawan rencana Allah (Kejadian 11:1-9). Mereka berusaha mendirikan menara yang menjulang tinggi supaya semua manusia tidak usah terserak dan memenuhi bumi (Kejadian 11:4), padahal dari awal Allah sudah memerintahkan manusia untuk memenuhi dan menguasai bumi (Kejadian 1:26, 28).

Penyalahgunaan teknologi merupakan bukti lain dari poin di atas. Apa yang baik telah menjadi tidak baik. Teknologi yang seharusnya bisa digunakan untuk memuliakan Allah, sekarang justru dimanfaatkan sebaliknya. Ini semua terjadi karena dosa dalam diri manusia.

Persoalan dosa ini jelas berada di luar kontrol anak maupun orang tua. Hanya Allah yang mampu membereskannya melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Tugas orang tua hanyalah mengajak anak-anak untuk mempercayai injil dan membimbing mereka hidup selaras dengan injil (Efesus 4:1; Filipi 1:27). Injil dijadikan perspektif dalam melihat segala sesuatu, termasuk penggunaan gadget dan medsos.

Secara khusus orang tua perlu menerangkan kepada anak-anak tentang bagaimana injil menyediakan segala sesuatu yang dicari mereka melalui gadget dan medsos: penerimaan, penghargaan, persahabatan, dan perhatian.

  • Penerimaan tanpa syarat (Roma 5:5-8). Kristus mengasihi kita pada saat kita masih lemah dan berdosa. Ia tidak menuntut kesucian dan kehebatan dari kita sebagai syarat penebusan. Ia menerima kita apa adanya.
  • Penghargaan yang mahal (1 Petrus 1:18-19). Demi kebaikan kita, Kristus rela mengorbankan diri-Nya. Darah yang mahal dan sempurna dicurahkan bagi dosa-dosa kita. Darah ini jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia.
  • Persahabatan sejati (Yohanes 15:13-15). Banyak orang mendambakan sahabat yang bisa memperhatikan dan berkurban bagi mereka. Pertanyaannya, sejauh mana sahabat itu mau berkurban? Kristus memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya.
  • Perhatian yang tulus (Filipi 2:6-8). Sedikit komentar positif dari orang lain pada status di medsos seseorang seringkali sudah membawa kelegaan dan kesenangan. Komentar itu menunjukkan bahwa ada orang lain yang memperhatikan. Bagaimanapun, perhatian seperti itu terlihat begitu remeh apabila dibandingkan dengan perhatian yang ditunjukkan oleh Kristus. Ia meninggalkan surga yang mulia untuk menjadi manusia dan melayani kita.

Di samping itu, orang tua juga patut menerapkan aturan yang jelas dan pengawasan yang konsisten. Kecenderungan manusia berdosa selalu pada yang jahat, sehingga perlu dikekang melalui disiplin. Walaupun tidak bisa menyelesaikan persoalan dosa, tetapi disiplin bisa mengurangi dampak negatifnya.

Orang tua perlu memberi teladan hidup

Alkitab mengajarkan berkali-kali tentang nilai penting keteladanan hidup. Timotius diberi nasihat oleh Paulus untuk menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam segala hal (1 Timotius 4:12). Paulus sendiri mengajak jemaat Korintus untuk mengikuti teladannya, sebagaimana ia telah meneladani Kristus (1 Korintus 11:1).

Sayangnya, kebenaran di atas tampaknya tidak ditanggapi serius oleh sebagian orang tua. Mereka menerapkan aturan yang tidak konsisten bagi diri mereka dan anak-anak dalam hal penggunaan gadget dan medsos. Orang tua bebas menggunakannya, sedangkan anak-anak dikekang begitu rupa. Alasan yang diberikan bermacam-macam, misalnya anak-anak harus berfokus pada studi.

Sikap di atas jelas tidak tepat. Pembatasan penggunaan gadget dan medsos terutama bukan ditujukan untuk meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah. Pembatasan ini lebih berhubungan dengan tanggung-jawab dalam mengisi kehidupan, penguasaan diri, dan kedewasaan karakter. Hal-hal ini tentu saja tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak. Orang tua juga perlu mengejar semuanya ini. Apakah mereka sudah menjalankan tanggung-jawab untuk meluangkan waktu bersama anak-anak, mengenal dunia mereka, dan memperhatikan kesusahan mereka sudah dilakukan oleh orang tua? Jika para orang tua selalu menyibukkan diri dengan gadget dan medsos, bagaimana semua tanggung-jawab ini dapat dipenuhi? Apakah orang tua sudah memberi bukti nyata bahwa pengendalian diri bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan?

Bagi anak-anak yang benar-benar bergumul dengan kecanduan, mereka ingin diberi dorongan yang nyata melalui keteladanan hidup orang-orang di sekitarnya bahwa kecanduan dapat dipatahkan. Godaan untuk terus memegang gadget dapat dikalahkan. Jikalau orang tua sendiri terlihat sulit memisahkan diri dari gadget, bagaimana anak-anak mendapatkan suntikan semangat yang mereka perlukan?

Keteladanan hidup bukan hanya diperlukan sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sangat efektif. Pada umumnya anak-anak tidak suka diberi teguran atau ceramah. Mereka rata-rata sudah mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan dengan gadget mereka adalah sesuatu yang keliru. Persoalannya, mereka memerlukan bimbingan dan bantuan untuk mengubahnya. Terlalu banyak bicara tidak banyak berguna. Nasihat secara verbal berupa teguran perlu dikurangi. Sebaliknya, pemberian semangat untuk perubahan perlu ditingkatkan, baik dorongan secara verbal (kata-kata yang menguatkan dan inspiratif) maupun non-verbal (keteladanan hidup)

Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community