Bagaimana dengan Mujizat-mujizat di Luar Kekristenan? (Bagian 2)

Posted on 23/06/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bagaimana-dengan-mujizat-mujizat-di-luar-kekristenan.jpg Bagaimana dengan Mujizat-mujizat di Luar Kekristenan? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 16 Juni 2019)

Hal ini berbeda dengan banyak agama yang lain. Keabsahan agama mereka tidak ditentukan oleh peristiwa mujizat tertentu yang mereka percayai. Sebagai contoh, bagi sebagian Muslim tidak masalah apabila Muhammad tidak melakukan mujizat satu pun (bdk. Sura 6:37; 10:20; 11:12; 13:7, 27), kecuali menyampaikan Alquran. Dalam tradisi Hindu dilaporkan beragam mujizat, tetapi hal itu tetap tidak berkaitan dengan keabsahan doktrin-doktrin utama mereka. Aliran tertentu dalam agama Budha, terutama yang ateistik, bahkan menganggap mujizat bukan sebagai kekuatan ilahi, melainkan hasil dari meditasi dan disiplin diri. Beberapa catatan dalam kitab mereka bahkan memberi peringatan tentang obsesi yang berlebihan terhadap mujizat. 

Mujizat-mujizat dalam Alkitab ditulis segera sesudah peristiwanya, bahkan sebagian oleh saksi mata. Kitab-kitab Injil ditulis sekitar tahun 60-an Masehi. Sebagian penulisnya menggunakan sumber-sumber lain yang sudah ada sebelumnya (bdk. Luk. 1:1-4). Ini berarti bahwa sumber tertulis tentang mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus hanya berjarak sekitar 30 tahun dari peristiwanya.

Kebenaran ini perlu untuk digarisbawahi. Mengapa? Karena semakin jauh dari peristiwanya semakin besar peluang untuk diubah dan ditambahkan. Itulah sebabnya mitos dan legenda biasanya muncul ratusan tahun sesudah peristiwa yang dirujuk.

Kedekatan jarak waktu antara peristiwa dan catatannya ini menambahkan keunikan mujizat menurut Alkitab. Berbagai mujizat yang mewarnai agama lain baru ditulis lebih dari satu abad sesudah peristiwa yang diceritakan. Sebagai contoh, beberapa hadits menceritakan begitu banyak mujizat yang dilakukan oleh Muhammad, tetapi tulisan-tulisan ini baru muncul sekitar 150 tahun sesudah peristiwa yang dimaksud. Sekali lagi, saya tidak sedang memberikan penilaian terhadap keabsahan dari tradisi-tradisi tersebut. Saya hanya menuturkan bahwa jarak waktu yang singkat antara peristiwa mujizat dan pencatatannya dalam Alkitab merupakan salah satu keunikan konsep Kristiani.

Mujizat-mujizat dalam Alkitab dapat dan telah diverifikasi oleh sumber-sumber non-Kristen. Berbagai mujizat di dalam Alkitab dikisahkan terjadi berkali-kali di depan banyak orang dan di berbagai tempat. Beberapa catatan tersebut bahkan memuat nama tempat, keterangan waktu, dan tokoh tertentu. Pencatatan seperti ini membuka ruang untuk verifikasi. Jika kisah-kisah itu tidak terjadi, orang luar dengan mudah akan menunjukkannya.

Bandingkan poin ini dengan, misalnya, mujizat di Mormonisme. Joseph Smith mengaku mendapatkan kitab suci tambahan secara supranatural. Yang diklaim sebagai saksi mata dari peristiwa ini adalah beberapa pengikut awal agama ini. Beberapa detil cerita bahkan menyiratkan ada beberapa bagian yang hanya bisa diketahui oleh Smith saja. Jika demikian, bagaimana orang luar dapat melakukan verifikasi?

 

Bersambung…

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community