Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu

Posted on 18/10/2015 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Bagaikan-belahan-buah-delima-pelipismu-di-balik-telekungmu.jpg Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu

Kidung Agung 4:3 dan 6:7 menggambarkan pujian kecantikan pelipis seorang wanita seperti belahan buah delima. Pada jaman kuno dulu, buah delima merupakan simbol kesuburan sehubungan dengan banyaknya biji buah merah yang terkandung dalam satu buah delima. Karena banyaknya jumlah biji buah delima, buah ini juga diidentikkan dengan harapan dan kepenuhan (bdg. Bil. 13:23 buah delima merupakan salah satu jenis buah yang dibawa balik dari tanah perjanjian selain buah anggur dan buah ara). Di dunia Asia timur kuno, buah delima juga dilambangkan sebagai zat perangsang birahi dan dipakai dalam ibadah sebagai lambang kesuburan. Dalam lagu-lagu cinta orang Mesir, dikutip sebuah gambaran tentang buah delima “biji-bijiku ibarat gigimu, sedangkan buahku sepeti buah dadamu.” Hingga sekarang, pada acara perkawinan, petani-petani Palestina dan orang-orang Bedouin meremukkan buah delima di pintu masuk rumah atau tenda sebagai lambang harapan untuk memiliki keluarga besar (keluarga dengan banyak anak). Di Mesopotamia, pohon kehidupan dilambangkan dengan buah delima.jika disimpulkan, buah delima adalah lambang dari semua bentuk kehidupan yang baik.

Lebih dari semuanya itu, buah delima adalah buah yang identik dengan tanah Israel, buah nasional bangsa Israel (bdg. Bil. 13:23; 20:5; Ul. 8:8 dan Yoel 1:12). Buah delima juga dipakai sebagai elemen dekorasi dari jubah imam besar (Kel. 28:33-34) dan untuk keperluan Bait Suci (1 Raja 7:18,20; 2 Raja 25:17; 2 Taw 4:13). Dalam kitab Kidung Agung sendiri, selain dalam 6:7, gambaran tentang buah delima juga muncul di  4:13; 6:11; 7:12; 8:2. Kali ini yang diibaratkan dengan pelipis adalah buah delima itu sendiri dan baru kali ini juga dalam kitab Kidung Agung ‘pelipis’ mendapat bagian yang dipuji (karena pada umumnya ‘pelipis’ bukan merupakan bagian yang dipuji dalam bagian tubuh seorang wanita).

Jika membandingkan pemahaman tentang lambang buah delima di atas dengan pujian terhadap wanita ini, sulit membayangkan sebuah pelipis yang diibaratkan dengan biji buah delima. Salah satu kunci untuk memahaminya adalah dengan memahami kata sebelum ‘pelipis’, yaitu ‘belahan’ (LAI). Kata yang dipakai untuk ‘belahan’ dalam bahasa Ibrani-nya memakai kata yang sama untuk kata yang dalam bahasa Indonesia  (LAI) diterjemahkan ‘batu kilangan’ (Hakim 9:53; 2 Sam. 11:21; Ayub 41:24) atau ‘sepotong kue’ (1 Sam. 30:12). Akar kata kerja dari kata ‘belahan’ dapat berarti ‘menggali (parit)’ atau ‘membajak’ atau ‘membelah’. Kenyataannya,  cara membuka buah delima bukan dengan dipotong atau dibelah menjadi beberapa bagian. Namun dari gambar-gambar orang Mesir tentang buah delima, karakteristik buah delima selalu disajikan dalam gambar dalam bentuk terbelah. Dalam bentuk belahannya, buah delima akan menampilkan 2 warnanya, yaitu warna bijinya yang merah terang (atau merah gelap) dan bagian buahnya yang berwarna merah muda. Belahan buah delima yang dimaksud pada 4:3 lebih menekankan pada warna, bukan pada bentuk buah delima (Lihat pada pembahasan minggu lalu tentang kontras warna yang juga ditekankan pada rambut (hitam) dan gigi (putih)).

Tidak berhenti sampai di sana, gambaran ‘belahan’ buah delima didukung oleh kata berikutnya ‘di balik telekungmu’. Kata ‘di balik telekungmu’ juga muncul di 4:1. ‘Telekung’ yang dimaksud pasti bukanlah telekung biasa yang dipakai wanita pada jaman itu sebagai bagian dari pakaian sehari-hari mereka; telekung itu pastilah tembus pandang sehingga mata dan pelipis bisa terlihat (4:1, 3; 6:7). Telekung yang tembus pandang itu mampu melihat secara samar pelipis yang diibaratkan seperti warna belahan buah delima. Warna buah delima akan kelihatan semakin samar jika dilihat di telekung : warna merah atau merah muda pada belahan delima yang dilihat dari telekung akan nampak seperti kemerah-merahan (tidak merah terang pastinya). Hal ini akan juga membuat kontras dengan gambaran di bagian sebelumnya ‘Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu’, yaitu gambaran bibir yang berwarna merah sangat terang seperti kirmizi. Kali ini merah terang (pada bibir atau mulut) dikontraskan dengan warna merah yang muda (pelipis).

Gambaran warna pelipis wanita yang samar-samar berwarna kemerahan merupakan sesuatu yang indah, apalagi merah samarnya dilambangkan dengan sensualitas buah delima yang memang sangat terkenal di era itu.

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community