Apakah Teologi (Doktrin) Menyebabkan Perpecahan?

Posted on 14/11/2021 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/12/Apakah-Teologi-Doktrin-Menyebabkan-Perpecahan.jpg Apakah Teologi (Doktrin) Menyebabkan Perpecahan?

Perpecahan gereja terjadi di mana-mana. Ada begitu ragam penyebabnya. Salah satunya adalah perbedaan ajaran. Perdebatan teologis seringkali menggerus kesatuan gereja.

Walaupun demikian, apakah teologi sendiri patut untuk selalu dipersalahkan? Jawabannya adalah tidak.

Pertama, teologi dasar yang benar justru menjadi indikator utama pertumbuhan suatu gereja. Ketika mengajarkan pertumbuhan tubuh Kristus, Paulus menempatkan “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah” di barisan pertama (Ef. 4:13). Ada dua kata penting di ayat ini: kesatuan dan benar. Ajaran yang kita yakini harus benar. Dengan dasar kebenaran itulah semua jemaat meletakkan diri mereka dalam kesatuan.

Kedua, teologi dasar yang benar membedakan gereja dengan bidat. Sejak zaman para rasul ajaran-ajaran sesat sudah bermunculan. Bagaimana mengenali suatu bidat? Teologi dasar yang benar! Rasul Yohanes mengajarkan bahwa siapa saja yang tidak mengakui Yesus Kristus datang sebagai manusia (inkarnasi) bukan berasal dari Roh Allah (1Yoh. 4:2-3). Alih-alih memecah gereja, teologi yang benar justru memurnikan gereja.

Ketiga, perdebatan doktrinal kadangkala diperlukan. Bagi sebagian orang istilah “perdebatan” mengandung kesan yang negatif: kasar, sombong, mau menang sendiri, dan sebagainya. Pandangan umum ini tentu saja kurang benar. Pada dirinya sendiri perdebatan tidak selalu salah, tergantung pada bagaimana perdebatan itu dilakukan. Dalam nasihatnya tentang persyaratan menjadi penatua Paulus berkata: “Dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya (Tit. 1:9). Para penentang di sini tidak akan dengan mudah menerima nasihat para penatua begitu saja. Tapi justru di situlah peranan seorang penatua diperlukan.

Keempat, yang dilarang oleh Alkitab adalah perdebatan yang tidak diperlukan. Tidak semua isu layak mendapatkan perhatian, apalagi sampai menimbulkan perdebatan yang panas. Paulus menasihati Timotius demikian: “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran (2Tim. 2:23).” Jika perbedaan menyangkut hal-hal yang tidak penting, saling menerima adalah respons terbaik. Namun, hal ini akan berbeda jika menyangkut hal-hal yang serius. Paulus dinasihati oleh Paulus untuk membimbing orang-orang yang sudah masuk ke dalam jerat Iblis sehingga suka melawan kebenaran (2Tim. 2:24-26). Dalam proses pembimbingan ini perdebatan sangat mungkin tidak terelakkan. Yang penting perdebatan itu dilakukan dengan ramah dan penuh kasih.

Terakhir, yang perlu diwaspadai adalah sikap menghakimi. Pertengkaran yang muncul dari perdebatan teologis lebih banyak disebabkan oleh sikap hati. Masing-masing merasa diri lebih benar daripada yang lain. Masing-masing ingin terlihat lebih pintar. Tentang perbedaan pandangan seputar makanan – yang dipandang tidak seberapa penting – Paulus berkata kepada jemaat di Roma: “Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu” (Rm. 14:3).

Beda pendapat sah-sah saja. Perdebatan juga tidak selalu buruk. Dalam kasus-kasus tertentu malah bermanfaat untuk menajamkan pandangan seseorang. Hanya saja, sikap dan cara berdebat tetap perlu diperhatikan. Sebelum kita memutuskan untuk berdebat, renungkanlah beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah Anda mengasihi lawan diskusi?
  • Apakah perdebatan itu didorong oleh kasih?
  • Apakah isu yang dipersoalkan benar-benar layak diperdebatkan?
  • Sejauh mana tujuan diskusi yang diharapkan: sekadar memahami satu sama lain atau harus ada sebuah keputusan penting yang diambil?
  • Apakah Anda berkomitmen untuk berdebat dengan cara yang benar: rasional, rendah hati, sopan, dan sebaginya?
  • Seandainya perdebatan berubah menjadi panas, apakah Anda bersedia menahan diri?

Apakah Anda siap tetap menjadi teman, terlepas apapun hasil perdebatan yang ada?

Photo by Nycholas Benaia on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community