Apakah Tanggal 25 Desember Pasti Bukan Tanggal Kelahiran Yesus?

Posted on 06/12/2020 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/03/Apakah-Tanggal-25-Desember-Pasti-Bukan-Tanggal-Kelahiran-Yesus.jpg Apakah Tanggal 25 Desember Pasti Bukan Tanggal Kelahiran Yesus?

Setiap bulan Desember selalu muncul polemis tentang perayaan Natal. Sebagian gereja sangat menentang perayaan Natal. Alasan yang dikemukakan biasanya berkaitan dengan dua hal: ketidaksesuaian dengan catatan Alkitab dan peminjaman tradisi dari kultur Romawi yang bertabrakan dengan firman Allah.

Sehubungan dengan poin pertama, banyak orang mengacu pada catatan Alkitab di Lukas 2:8 tentang para gembala yang berjaga-jaga di padang pada waktu malam. Berdasarkan teks ini mereka beranggapan bahwa kelahiran Yesus tidak mungkin terjadi pada tanggal 25 Desember, karena pada waktu itu pasti sedang terjadi musim dingin di Israel. Selama musim dingin, para gembala tidak mungkin berada di luar. Udara di sana sangat dingin sekali.

Sehubungan dengan poin kedua, mereka yang menolak perayaan Natal biasanya mengaitkan perayaan ini dengan tradisi Saturnalia dan Dies Natalis Solis Invicti. Dua kebiasaan Romawi ini memang dirayakan pada akhir Desember. Kedekatan tanggal dianggap sebagai bukti bahwa perayaan Natal merupakan adopsi dari dua tradisi tersebut.

Benarkah anggapan-anggapan di atas?

Dalam artikel ini saya tidak bermaksud untuk membuktikan bahwa tanggal 25 Desember merupakan tanggal kelahiran Yesus. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa pemilihan tanggal ini tidak seperti yang dipikirkan oleh banyak orang dan opini-opini yang beredar perlu dikaji ulang.

Mari kita mulai dengan catatan Alkitab. Apakah Lukas 2:8 secara konklusif mematahkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus? Belum tentu. Musim dingin bukan berarti setiap hari selalu bersalju atau hawanya benar-benar tidak bisa ditahan oleh tubuh manusia. Siapa tahu pada waktu kelahiran Yesus kondisi cuaca di sekitar Betlehem masih bisa memungkinkan untuk menggembalakan domba di luar. Jangan lupa juga, manusia selalu memiliki cara untuk bertahan dalam banyak keadaan.

Sebagian sarjana juga mengemukakan kemungkinan bahwa para gembala selalu berada di luar sepanjang tahun. Hanya saja, posisi mereka selalu berubah-ubah tempat sesuai dengan kondisi padang rumput. Kemungkinan ini jelas tidak mengada-ada. Kebutuhan bangsa Israel terhadap domba sangat besar, baik untuk makanan maupun kurban. Binatang ternak ini pasti membutuhkan makanan setiap hari, tanpa peduli dengan musim yang berganti. Jadi, Lukas 2:8 tidak konklusif meniadakan kemungkinan bahwa tanggal 25 Desember merupakan tanggal kelahiran Yesus.

Sekarang kita membahas tentang tradisi-tradisi non-Alkitab dalam budaya Romawi kuno. Tuduhan bahwa perayaan Natal diadopsi dari Saturnalia dengan mudah kita kesampingkan. Tradisi ini dirayakan mulai tanggal 17 Desember dan berakhir pada tanggal 22 atau 23 Desember. Dari sisi waktu sudah tidak cocok. Detil perayaan Natal dan Saturnalia juga berbeda.

Jika memang perayaan Nata merupakan adaptasi dari budaya Romawi, perayaan Dies Natalis Solis Invicti mungkin yang paling layak dipertimbangkan. Dari sisi tanggal cocok (25 Desember). Tradisi ini sudah muncul sejak abad ke-3. Di kemudian hari tradisi ini sangat dikaitkan dengan Kaisar Aurelian yang berjasa mempopulerkannya secara lebih luas.

Apakah Natal merupakan imitasi dari perayaan ini? Mungkin saja, tetapi kemungkinannya kecil. Hippolitus, salah seorang pemikir Kristen pada paruh pertama abad ke-3, sudah mengajarkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus. Pada waktu itu kekristenan belum dijadikan agama resmi. Berpijak pada sikap para pemimpin Kristen pada abad ke-2 dan ke-3 yang cenderung sangat mewaspadai unsur-unsur duniawi (bahkan beberapa terlihat bersikap negatif), kemungkinannya kecil mereka mau mengadopsi ritual Romawi yang sarat dengan konsep-konsep mitologis yang bertabrakan dengan Alkitab.

Di samping itu, para pemimpin gereja di abad permulaan tampaknya sepakat bahwa kelahiran Yesus terjadi di akhir Desember (gereja Barat) atau awal Januari (gereja Timur). Rentang waktu yang mereka usulkan sangat berdekatan. Penentuan tanggal ini juga bukan tanpa alasan.

Titik awal penentuan adalah tanggal kematian Yesus. Tugas ini lebih mudah untuk dilakukan. Ada banyak rujukan historis tentang hal ini: perayaan Paskah, imam besar Kayafas, Pontius Pilatus, dsb. Berdasarkan perhitungan kalender Romawi gereja Barat menetapkan kematian Yesus pada tanggal 25 Maret. Gereja Timur yang menggunakan kalender Yunani memilih 6 April.

Sesuai dengan tradisi Yahudi kuno bahwa seorang nabi lahir dan mati pada tanggal yang sama, orang-orang Kristen selanjutnya mengusulkan tanggal 25 Maret bukan sebagai tanggal kelahiran tetapi awal Yesus dikandung oleh Maria. Kedatangan malaikat Gabriel ke rumah Maria dipercayai terjadi pada tanggal ini. Dari situ kemudian ditambah sekitar 9 bukan ke depan untuk menentukan kelahiran Yesus. Jadi, Yesus lahir sekitar akhir Desember (gereja Barat) atau awal Januari (gereja Timur).

Apakah penjelasan di atas membuktikan bahwa Yesus benar-benar lahir pada tanggal 25 Desember? Belum tentu saja. Walaupun demikian, kita tidak boleh secara sembarangan membuang kemungkinan ini, apalagi jika didasarkan pada opini-opini yang belum teruji. Akhir kata, apapun tanggalnya, yang penting adalah maknanya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community