Apakah Sodom dan Gomora Dihukum Karena Dosa Homoseksualitas?

Posted on 14/03/2021 | In QnA | Leave a comment

 Apakah Sodom dan Gomora Dihukum Karena Dosa Homoseksualitas?

Pertanyaan ini kerap kali muncul dalam diskusi seputar homoseksualitas dari kacamata Alkitab. Sebagian orang dari kalangan kontra-LGBTQ dengan cepat memberikan jawaban afirmatif terhadap pertanyaan tersebut. “Dari namanya saja sudah jelas,” begitu kira-kira di benak mereka. Bukankah tindakan sodomi berasal dari nama salah kota itu? Bukankah keterkaitan ini membuktikan bahwa dosa penduduk Sodom (dan Gomora) adalah homoseksualitas?

Jika jawaban dari pihak kontra-LGBTQ hanya sebatas itu, mereka yang pro-LGBTQ dengan mudah akan mematahkannya. Dosa Sodom dan Gomora disebutkan berkali-kali dalam Alkitab. Banyak komunitas fasik yang disamakan dengan penduduk Sodom dan Gomora, misalnya bangsa Yehuda (Yes. 1:9-10; Rat. 4:6) atau nabi di Yerusalem (Yer. 23:14). Dari sekian banyak perbandingan seperti ini, tidak ada satupun yang berbicara tentang dosa homoseksualitas. Jika penyebab utama (atau satu-satunya) kehancuran Sodom dan Gomora dalah homoseksualitas, bukankah hal itu setidaknya akan disebutkan dalam salah satu teks perbandingan itu?

Bagi kelompok pro-LGBTQ, dosa penduduk Sodom dan Gomora adalah pemerkosaan massal dan ketidakramahan terhadap orang asing. Untuk mendukung pandangan ini mereka menyamakan upaya pemerkosaan massal ini dengan peristiwa yang mirip di Hakim-hakim 19:22-28. Dalam teks itu penduduk Gibea juga hendak memerkosa tamu pria, tetapi mereka akhirnya mau diberi ganti gundik dari tamu itu. Jadi, yang dipersoalkan di sana adalah ketidakramahan terhadap orang asing dan pemerkosaan massal, tidak peduli jenis kelamin dari yang diperkosa.

Bagaimana kita menyikapi argumen seperti di atas?

Kita perlu menegaskan bahwa homoseksualitas memang bukan dosa utama atau satu-satunya yang menjadi alasan bagi penghukuman. Sebelum para malaikat Allah pergi ke dua kota itu, Allah sudah memberitahukan bahwa dosa penduduk Sodom dan Gomora sangat berat (Kej. 18:20-21). Dalam 2 Petrus 2:8 disebutkan bahwa dosa mereka banyak (“perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu”). Jadi, Allah memang sudah merencanakan hukuman itu sebelum peristiwa di Kejadian 19.

Jika demikian, bagaimana kita memahami peristiwa di Kejadian 19?

Kita sebaiknya melihat peristiwa ini sebagai pembuktian terhadap apa yang didengar oleh Allah di 18:20-21 (ayat 21 “Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya”). Dengan kata lain, kejahatan di pasal 19 bisa dianggap sebagai puncak dari kefasikan mereka, terlepas dari bagaimana kita memahami esensi dari kefasikan tersebut.

Jika diselidiki secara lebih cermat, sangat sukar bagi kita untuk tidak menemukan dosa seksual di Kejadian 19. Penduduk Sodom dan Gomora pasti mengetahui bahwa tamu-tamu Lot itu laki-laki. Dalam teks Ibrani ucapan penduduk kota jelas menyiratkan hal ini (ayat 5, 9). Jadi, walaupun mereka tidak sempat menuntaskan maksud mereka, hal itu tetap menunjukkan bahwa mereka tidak segan-segan untuk melakukan dosa homoseksual. Apakah nafsu homoseksual ini menjadi dosa utama mereka atau tidak, hal itu tidak seberapa penting. Yang penting, upaya pemerkosaan itu menyiratkan ketidakjijikan terhadap homoseksualitas. Mereka merasa sah-sah saja untuk meluapkan kemarahan dan ketidakramahan terhadap orang asing melalui pemerkosaan secara homoseksual dan massal.

Kitab-kitab kuno Yahudi juga memberikan rujukan ke arah sana. Kebijaksanaan Salomo 14:26 mengaitkan dosa Sodom dan Gomora dengan seksualitas yang membingungkan. 2 Henokh 10:4-5 menyamakan dosa sodomi tehadap anak kecil dengan tindakan penduduk Sodom. Kitab lain menggunakan ungkapan “penyimpangan terhadap hukum alam” (Perjanjian Naftali 3:4-5; 4:1). Filo (penafsir kitab suci) dan Josefus (penulis sejarah) juga memberikan rujukan yang bernada sama.

Yang paling penting, Perjanjian Baru juga menyediakan informasi serupa. Yudas 1:7 menyebutkan bahwa dosa penduduk Sodom dan Gomora adalah menginginkan “daging yang lain” (sarkos heteras; LAI:TB “kepuasan-kepuasan yang tidak wajar”). Istilah ini memang bisa merujuk pada tubuh malaikat atau tubuh laki-laki. Alternatif kedua tampaknya lebih tepat. Penduduk kota itu tidak tahu bahwa yang datang adalah para malaikat. Jika mereka tahu, mereka tentu tidak akan berani untuk bertindak sembarangan terhadap para tamu itu. Jika mereka memang tidak tahu, bagaimana mereka bisa disalahkan untuk sesuatu yang mereka tidak ketahui? Lebih masuk akal jika sarkos heteras di sini dipahami sebagai tubuh laki-laki. Jadi, keinginan untuk bersetubuh dengan sesama laki-laki inilah yang menjadi salah satu dosa (salah satu pembuktian dosa-dosa) Sodom dan Gomora.

Akhirnya, kita perlu menegaskan ulang bahwa upaya pihak pro-LGBTQ untuk membedakan dosa ketidakramahan terhadap orang asing, pemerkosaan massal dan dorongan homoseksual merupakan pemisahan yang semu. Tiga kesalahan ini bergabung menjadi satu dan itu merupakan pembuktian terhadap semua kefasikan penduduk Sodom dan Gomora. Jika ini adalah pembutian final, bukankah sangat masuk akal untuk melihat dosa-dosa ini sebagai klimaks dari semua kejahatan mereka? Jika ini memang dosa-dosa klimaks, bukankah homoseksualitas (yang termasuk di dalamnya) juga dipaparkan sebagai dosa yang sangat serius di mata Tuhan? Jadi, alasan di balik hukuman atas Sodom dan Gomora memang bukan dosa homoseksuali, tetapi dosa ini menjadi salah satu bukti kefasikan mereka. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community