Apakah Perbuatan Kita Bisa Menambah Atau Mengurangi Kasih Allah?

Posted on 11/02/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Perbuatan-Kita-Bisa-Menambah-Atau-Mengurangi-Kasih-Allah.jpg Apakah Perbuatan Kita Bisa Menambah Atau Mengurangi Kasih Allah?

Sebagai seorang yang percaya kepada Allah, kita setiap hari bergumul dengan kesalehan, entah kita berhasil atau gagal melakukannya, entah kita melakukannya dengan konsep dan motivasi yang benar atau salah. Kita menyadari bahwa kesalehan memegang peranan vital dalam hubungan dengan Tuhan.

Walaupun demikian, tidak semua orang memiliki pemahaman yang benar tentang kesalehan. Tidak sukar untuk mendapatkan pembenaran bagi pengamatan ini. Tidak sedikit orang Kristen yang menjadikan kesalehan sebagai pancingan untuk mendapatkan perkenanan Tuhan. Perbuatan baik diperlakukan sebagai alat manipulasi rohani. Sebagian yang lain menganggap bahwa kesalehan sama sekali tidak penting. Apapun yang kita lakukan tidak mempengaruhi relasi kita dengan Allah.

Nah, salah satu kebingungan seputar pergumulan kita dengan kesalehan diungkapkan melalui pertanyaan di atas. Apakah perbuatan kita bisa menambah atau mengurangi kasih Allah kepada kita? Apakah dosa kita berpotensi mengurangi kasih Allah kepada kita? Sebaliknya, apakah perbuatan baik kita bisa menambah kasih Allah kepada kita?

Untuk memahami persoalan ini dengan benar dan seimbang, kita perlu membedakan antara “kasih” dan “wujud kasih”. Dalam kaitan dengan kasih Allah, Alkitab secara jelas dan konsisten mengajarkan bahwa perbuatan kita tidak akan mempengaruhi kasih Allah kepada kita. Allah bahkan sudah mengasihi kita pada waktu kita masih lemah dan berdosa (Rm. 5:6, 8). Kita bisa mengasihi Allah karena Dia lebih dahulu mengasihi kita (1Yoh. 4:10). Kita bisa menemukan Allah karena Dia lebih dahulu mencari dan menemukan kita (Luk. 19:10). Kita bisa memilih Dia karena Dia lebih dahulu memilih kita (Yoh. 15:16; Ef. 1:4-5).

Jika kita meyakini bahwa kasih itu diberikan secara sempurna bagi kita, maka kita seyogyanya tidak boleh berpikir bahwa kasih itu bisa ditambah atau dikurangi oleh apapun juga. Jika kasih Allah telah diberikan kepada kita tanpa syarat (unconditional), maka tidak ada satu pun dalam diri kita yang dapat menyebabkan atau membatalkan kasih itu. Dosa-dosa kita, bahkan yang paling serius sekalipun, tidak akan mampu mengubah kasih Allah kepada kita. Ini adalah logika yang Alkitabiah. Roma 5:10 mengajarkan: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”. Jadi, sekali anak, kita tetap akan menjadi anak. Allah tidak mungkin membuang kita.

Penjelasan di atas tentu saja tidak boleh ditafsirkan sebagai izin untuk berbuat dosa semau kita. Allah yang mengasihi kita adalah Allah yang kudus. Dia tidak berkompromi dengan dosa. Walaupun kasih-Nya sama sekali tidak dipengaruhi oleh perbuatan kita, tetapi wujud kasih-Nya dipengaruhi oleh perbuatan kita. Bukan berarti Allah dibatasi oleh atau bergantung pada manusia. Dalam kedaulatan dan hikmat-Nya, Allah sudah menetapkan sebuah hukum atau pola rohani: kasih tidak meniadakan keadilan (Kel. 34:6-7). Kesalahan akan diperhitungkan.

Kasih Allah yang tidak berubah kepada kita justru mendorong Dia untuk menghukum kita apabila kita berbuat dosa. Ini adalah sebuah disiplin yang penuh kasih dari seorang Bapa kepada anak-anak yang dikasihi-Nya (Ibr. 12:5-7). Jika Dia tidak mendisiplin kita, Dia tidak serius mengasihi kita. Dengan cara yang sama, status kita sebagai anak-anak Bapa di surga seharusnya mendorong kita untuk lebih menghargai kekudusan-Nya (1Pet. 1:17).

Yang paling penting adalah kita tidak membangun dikotomi (pemisahan) antara kebaikan dan hukuman Allah. Keduanya bukan musuh bebuyutan, sehingga perlu dipisahkan. Hukuman adalah bukti kasih-Nya kepada kita. Lagipula, Dia tidak selalu menuntut maupun menghukum setimpal dengan kesalahan-kesalahan kita (Mzm. 103:10). Bahkan hukuman terberat untuk dosa-dosa kita, yaitu neraka (dalam arti dijauhkan dari hadirat Allah, 2Tes. 1:9), sudah ditanggung oleh Kristus di atas kayu salib tatkala Dia berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34).

Jadi, perbuatan kita tidak dapat menambah atau mengurangi kasih Allah kepada kita. Hanya saja, kasih itu akan diwujudkan dan ditunjukkan kepada kita dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan perbuatan kita. Itu adalah pola rohani yang Allah tetapkan dalam firman-Nya.

Marilah kita menghargai kasih Allah dengan cara mengasihi apa saja yang Dia kasihi dan membenci apa saja yang Dia benci. Kita menjaga kesalehan bukan karena kita ingin menghindari hukuman. Kita melakukan kebenaran karena kita sudah dibenarkan di dalam Kristus Yesus secara cuma-cuma. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community