Apakah Perbedaan Antara Penatua dan Diaken?

Posted on 25/10/2015 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Perbedaan-Antara-Penatua-dan-Diaken.jpg Apakah Perbedaan Antara Penatua dan Diaken?

Alkitab memberikan petunjuk yang memadai tentang peranan penting para penatua dan diaken. Keduanya adalah para pemimpin rohani di dalam gereja lokal (Filipi 1:1b “kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken”). Karena itu, mereka tidak boleh orang yang sembarangan. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi penatua (1 Tim 3:1-7; Tit 1:5-9) maupun diaken (1 Tim 3:8-13; Kis 6:3-5). Jabatan mereka disebut sebagai “pekerjaan yang indah” (1 Tim 3:1) atau “kedudukan yang baik” (1 Tim 3:13).

Walaupun kedua jabatan ini sama-sama penting dan saling berkaitan, Alkitab menunjukkan bahwa keduanya juga memiliki perbedaan. Para penatua adalah pimpinan rohani tertinggi dalam sebuah gereja lokal. Pada saat Paulus akan meninggalkan jemaat Efesus untuk selamanya, ia hanya mengundang para penatua untuk menemui dia di Miletus (Kis 20:16-17). Tidak ada diaken yang diundang. Dalam pidatonya Paulus juga menandaskan bahwa para penatua bertugas menilik jemaat dan menjaga mereka (Kis 20:28). Tugas ini dapat disamakan dengan tugas penggembalaan (1 Pet 5:1-4).

Sebagai penilik dan gembala jemaat, para penatua harus berpegang pada kebenaran dan mampu mengajarkannya kepada jemaat (1 Tim 3:2; 2 Tim 2:24; Tit 1:9). Mereka harus menjaga gereja dari kesesatan (Kis 20:29-30). Jikalau ada kebingungan tentang suatu ajaran, para penatua harus memberikan solusi buat persoalan ini (Kis 15:1-4; 16:4). Bahkan tatkala ada dosa terselubung yang menyebabkan hukuman Allah atas diri seseorang, para penatua perlu dipanggil untuk memberikan konseling dan mendoakan (Yak 5:14-15). 

Jika para penatua merupakan pimpinan rohani tertinggi, para diaken sebaiknya dipandang sebagai asisten dari para penatua untuk mengurusi jemaat. Contoh yang jelas adalah relasi antara para rasul (yang dapat disamakan dengan para penatua atau pimpinan jemaat) dan diaken di Kisah Para Rasul 6:1-7. Para diaken diberi mandat untuk melayani kebutuhan jasmani jemaat (Kis 6:1, 3) supaya para rasul dapat fokus pada doa dan pemberitaan firman Allah (Kis 6:2, 4). Ini adalah perbedaan yang penting. Para penatua pada pengajaran dan pertumbuhan rohani jemaat, diaken pada kebutuhan-kebutuhan lain yang menunjang. Itulah sebabnya kecakapan dalam hal pengajaran dituntut dari para penatua, tetapi tidak dituntut dari para diaken. Walaupun demikian, ini hanyalah masalah fokus pelayanan; prioritas, bukan eksklusivitas. Beberapa diaken tetap terlibat dalam pemberitaan firman, misalnya Stefanus (Kis 7) dan Filipus (Kis 8).

Dalam konteks gereja-gereja sekarang, aplikasi dari perbedaan di atas sedikit sulit untuk diterapkan. Biasanya tidak semua penatua terlibat dalam pengajaran. Hanya mereka yang memiliki latar belakang studi teologi atau yang menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu yang menangani pengajaran di dalam gereja. Di beberapa gereja, para penatua bahkan hanya menangani hal-hal administratif dan bantuan sosial kepada jemaat. Jika ini yang terjadi, perbedaan antara penatua dan diaken telah dikaburkan.

Untuk mempertahankan perbedaan yang ada, kita sebaiknya melibatkan semua penatua dalam pengajaran dan pembinaan rohani jemaat. Tentu saja pengajaran di sini tidak harus berada di belakang mimbar (pengajaran publik). Pengajaran secara non-formal melalui kelompok-kelompok pembinaan maupun konseling pribadi seharusnya juga menjadi tugas para penatua, bukan hanya mereka yang pernah menempuh studi di sekolah teologi. Dengan demikian, para penatua memerlukan persiapan dan pelatihan yang lebih baik.

Para diaken membantu para penatua dengan cara menangani hal-hal lain di luar pengajaran dan pembinaan rohani jemaat. Mereka bisa memainkan peranan dalam hal bantuan sosial bagi jemaat yang membutuhkan. Mereka juga mengambil bagian dalam memberikan perhatian kepada jemaat, terutama melalui visitasi. Di beberapa gereja, tugas-tugas administratif yang rutin dan tidak berkaitan dengan keputusan-keputusan strategis untuk arah gereja ke depan ditangani oleh para diaken, misalnya masalah rumah tangga. Para diaken juga seringkali berpartisipasi secara aktif dan khusus dalam pengembangan fisik gereja. Pendeknya, segala tugas di luar pengajaran dan pembinaan kerohanian sebaiknya diemban oleh para diaken, sehingga dengan demikian para penatua dapat berfokus pada tugas mereka.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community