Apakah Orang-orang di Sorga Memiliki Ingatan Tentang Dunia?

Posted on 24/01/2021 | In QnA | Leave a comment

 Apakah Orang-orang di Sorga Memiliki Ingatan Tentang Dunia?

Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa setiap orang percaya yang meninggal dunia akan langsung bertemu dan bersekutu dengan Tuhan di sorga. Tidak ada tempat penantian sementara. Paulus menggambarkan kematian sebagai “pergi dan diam bersama dengan Tuhan” (Flp. 1:23). Kepada salah satu penyamun di sebelahnya, Yesus Kristus berjanji: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Istilah “Firdaus” di sini merupakan sinonim untuk sorga (2Kor. 12:2, 4).

Yang tidak terlalu jelas adalah keadaan mereka di sorga. Ada banyak pertanyaan dan spekulasi tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan kekal di sorga. Salah satunya adalah tentang ingatan. Apakah mereka masih mengingat segala sesuatu yang telah terjadi di dunia pada waktu mereka masih hidup?

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa orang-orang percaya di sorga tidak akan mengingat apapun yang telah terjadi di bumi. Beberapa orang membatasi jangkauan kelupaan ini pada hal-hal yang buruk saja. Beberapa alasan dipaparkan sebagai dukungan.

Pertama, sorga sebagai tempat kebahagiaan yang sempurna dan kekal. Mengingat hal-hal buruk dan jahat akan mengurangi sukacita. Bagaimana seseorang bisa tetap bahagia jika dia mengingat pengkhianatan yang dia terima dari sahabat atau perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya? Mengingat semua itu pasti akan menimbulkan kesedihan, padahal di sorga tidak ada penderitaan atau air mata lagi (Why. 21:4).

Kedua, sorga sebagai tempat yang suci. Mirip dengan poin sebelumnya, mengingat kejahatan orang lain dianggap bisa menimbulkan kemarahan atau kebencian bagi orang-orang di sorga. Bagaimana seorang wanita bisa tidak membenci laki-laki yang memperkosa dia? Kemarahan dan kebencian tidak cocok dengan situasi sorga yang kudus (Why. 21:8; 22:3).

Ketiga, teks Alkitab secara eksplisit mengajarkannya. Alkitab bukan hanya mengatakan akan ada yang baru, tetapi sekaligus juga yang lama akan dilupakan. Salah satu teks yang paling sering dikutip adalah Yesaya 65:17 “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.”

Sekilas alasan-alasan di atas cukup meyakinkan. Ada ayat yang dikutip. Dua poin pertama bahkan memberi sentuhan emosi yang terlihat masuk akal.

Walaupun demikian, data Alkitab yang lebih memadai mengarahkan kita pada pandangan sebaliknya. Kita memiliki alasan yang cukup untuk meyakini bahwa orang-orang kudus di sorga masih mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya di sorga.

Pertama, perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (Luk. 16:19-31). Walaupun jenis sastra bagian ini adalah sebuah perumpamaan dan kita perlu berhati-hati dalam menarik poin doktrinal dari dalamnya, sukar untuk dibantah bahwa perumpamaan ini mengasumsikan Lazarus dan orang kaya masih mengingat hubungan mereka. Orang kaya yang berada di neraka bahkan masih mengingat keadaan keluarganya yang belum bertobat.

Kedua, tuntutan keadilan dari para martir di sorga. Kitab Wahyu memberi gambaran tentang orang-orang percaya yang mati karena iman mereka sedang meminta Allah yang adil untuk menjalankan keadilan-Nya di bumi: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” (6:10). Ucapan ini tidak mungkin keluar dari mulut mereka jika mereka lupa tentang penyebab kematian mereka.

Ketiga, keadilan Allah merupakan salah satu topik pujian di sorga. Wahyu 18:20 mengatakan: “Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu.” Penghakiman ini selanjutnya dijadikan salah satu alasan untuk memuji Allah: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu” (Why. 19:12).

Keempat, pujian kepada Anak Domba. Sebutan untuk Yesus Kristus ini muncul 36 kali di Kitab Wahyu. Beberapa sebutan itu diberi tambahan “yang disembelih” (5:6, 12; 13:8). Dalam beberapa pemunculan ini Anak Domba dijadikan objek pujian dan penyembahan (5:12-13; 7:10; 15:3). Sebutan dan pujian ini paling tidak membuktikan bahwa ada yang masih diingat oleh orang-orang kudus di sorga, yaitu kematian Yesus di atas kayu salib. Jika mereka mampu mengingat pokok keselamatan mereka, sukar dipahami jika mereka melupakan proses keselamatan mereka. Jika mereka mengingat prosesnya, mereka juga akan mengingat semua orang dan peristiwa yang telah terjadi dan membawa mereka kepada keselamatan.

Kelima, penghiburan berkaitan dengan kerabat dan sahabat yang meninggalkan kita. Di 1 Tesalonika 4:13 Paulus melarang jemaat untuk berduka seperti orang-orang dunia yang tidak memiliki pengharapan. Lalu dia menegaskan bahwa kelak yang sudah mendahului atau yang mati kemudian akan bersama-sama Tuhan (4:16-17). Jika mereka tidak saling kenal di sorga, bagaimana perkataan Paulus di sini bisa menghibur mereka (4:18)? Bukankah kesedihan mereka disebabkan oleh perpisahan sementara di bumi dan bukan ketakutan bahwa kerabat dan sahabat mereka akan masuk neraka?

Setelah mengetahui alasan-alasan yang lebih kuat bahwa orang-orang kudus di sorga masih memiliki ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya di bumi, kita sekarang akan menanggapi alasan-alasan dari pihak yang bersebarangan yang sudah disinggung di awal artikel ini.

Sehubungan dengan kesedihan dan dosa yang dikuatirkan bisa muncul di sorga jika masih ada ingatan tentang peristiwa buruk di bumi, tuntutan keadilan dari para martir di sorga (6:9-11) bisa menjadi jawaban yang tepat. Tuntutan ini tidak muncul dari kebencian atau kemarahan. Yang diperjuangkan di sini adalah kekudusan dan keadilan Allah: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” (6:10). Tidak heran, pujian kepada Allah atas penghakiman orang-orang dunia dilandaskan pada satu hal: “sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya” (19:12). Tidak ada pembalasan pribadi atau pemenuhan ambisi personal lainnya. Mengingat peristiwa yang buruk atau jahat tidak membuat orang-orang kudus berdosa.

Kunci untuk memahami ini mungkin adalah perspektif penebusan yang lebih jelas dan luas. Mereka yang sudah berada di sorga pasti memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang cara kerja Allah dalam segala sesuatu. Mereka semakin memahami bagaimana segala sesuatu dikendalikan dan diarahkan untuk kemuliaan-Nya. Mereka semakin bisa meyakini bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka (Rm. 8:28). Mereka dimampukan untuk berpikir secara teosentris (berpusat pada Allah). Pendeknya, mereka memiliki pembaruan akal budi yang lebih sempurna daripada kita yang masih berada di dunia. Dengan tingkat pembaruan seperti itu, mereka lebih mudah memahami kehendak Allah (Rm. 12:2).

Sehubungan dengan Yesaya 65:17, kita sebaiknya tidak memahami ini secara hurufiah. Jika dipaksakan secara hurufiah, kita akan mengalami kesulitan untuk memahami ayat 16b yang mengaitkan kelupaan ini dengan diri Allah: “sebab kesesakan-kesesakan yang dahulu sudah terlupa, dan sudah tersembunyi dari mata-Ku.” Allah jelas tidak mungkin melupakan sesuatu (secara hurufiah).

Yang dimaksud di sini adalah kontras yang begitu besar antara keadaan sekarang dan nanti. Begitu besarnya kontras tersebut sampai-sampai kita “lupa” dengan apa yang telah terjadi pada kita. Sama seperti seorang anak kecil di siang hari yang asyik bermain dengan teman-teman tanpa mengingat mimpi buruknya atau ketakutannya di malam hari, demikian pula dengan keadaan kita kelak. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community